[Ngibul #43] Mengenang Riyanto dan Para Pemimpin Bijak: Potret Cinta Kasih Islam-Kristen

Posted: 4 December 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Manakah diantara kedua jenis manusia ini yang apabila meninggal akan tercatat sebagai syuhada sekaligus namanya harum di sisi Tuhannya? Seorang yang mati bunuh diri dengan menggenggam bom di tubuhnya guna meledakkan sebuah gereja, pos polisi, hotel, kantor pemerintah yang kemungkinan  bom itu akan melukai anak yatim, orang muslim yang taat, seorang ayah yang sedang mencari nafkah ataukah seorang yang mengorbankan diri dengan memeluk bom demi menyelamatkan banyak orang?

Memasuki dekade 2000-an, tindak terorisme memang tengah melanda Indonesia. Aksi yang pertama kali terjadi adalah peledakan bom di Kedubes Filipina pada 1 Agustus 2000 dengan korban 2 orang tewas serta  20 orang luka-luka. Pascaperistiwa tersebut serangkaian tindakan terorisme terus saja terjadi, menelan banyak korban jiwa dan nyatanya sampai detik ini, ancaman tersebut masih saja ada. Aksi serampangan tersebut dilakukan oleh orang yang mengaku tengah melaksanakan Jihad Fi Sabilillah. Padahal, ajaran Islam yang konon dijadikan dasar sebagai landasan aksi tersebut tak pernah mengajarkan yang demikian.

Bisa dipastikan terorisme bukanlah sebuah tindakan heroik yang mengakibatkan Tuhan menjadi senang dan nama pelakunya akan harum di depan umat. Selama ini,  mereka yang menjadi pelaku terorisme (beberapa melakukan tindakan bom bunuh diri)  disebut sebagai pengantin surga. Konon mereka telah dijanjikan bidadari di surga nanti. Bagi saya, hal tersebut adalah omong kosong belaka.

Tindakan terorisme yang sering mengatasnamakan umat Islam justru malah mencoreng nama Islam. Bukan hanya di Indonesia, negara-negara yang mayoritas penduduknya non-muslim pun sempat ketakutan dengan mereka yang mengenakan atribut keislaman maupun memiliki nama yang “keislam-islaman”. Akibat ulah segelintir manusia yang salah memahami agama, umat Islam harus berjuang keras untuk kembali menghadirkan citra dirinya sebagai agama yang cinta damai. Terorisme sampai saat ini juga masih menjadi hantu yang mengancam hubungan harmonis antar-agama.

Entah mengapa pula, umat Nasrani juga menjadi salah satu target tindakan terorisme. Malam 24 Desember 2000, terjadi serangkaian aksi terorisme dengan target utama para jamaah yang sedang melaksanakan misa Natal. Setidaknya ada 12 gereja yang menjadi sasaran terorisme, tersebar di berbagai wilayah di Indonesia antara lain Batam, Pekan Baru, Jakarta, Bandung, Pangandaran, Mojokerto, dan Mataram. Serangkaian aksi terorisme tersebut tentu saja sempat mengoyak keharmonisan dan kerukunan umat beragama di Indonesia yang sudah terjalin ratusan tahun.

Di antara banyaknya peristiwa duka tersebut, ada seorang pemuda gagah berani bernama Riyanto. Riyanto hanyalah seorang pemuda biasa. Pada malam Natal tahun 2000, ia bersama rekan-rekan sesama anggota Banser (Barisan Ansor Serba Guna; Sebuah gerakan komando pemuda islam di bawah naungan Nahdlatul Ulama) bertugas untuk menjaga malam natal di sebuah gereja di Mojokerto. Entah sial ataukah justru merupakan anugerah bagi dirinya, gereja Eben Haezer menjadi salah satu target sasaran terorisme. Dengan sangat heroik, Riyanto kemudian mengambil bom aktif tersebut dan  menjauhkannya dari keramaian. Namun, Riyanto tak sempat menyelamatkan diri. Bom keburu meledak dan Riyanto meninggal tatkala memeluk bom tersebut.

Aksi heroik Riyanto adalah sebuah aksi kemanusiaan yang tidak hanya menyelamatkan nyawa manusia tetapi juga menyelamatkan citra umat Islam. Riyanto menjadi penanda bahwa Islam mengutuk tindakan biadab bernama terorisme yang sering dilekatkan sebagai stereotip negatif pada umat Islam. Aksi heroik ini sekaligus menunjukkan bahwa Islam sebagai agama mayoritas di Indonesia memiliki fungsi menjaga toleransi dan melindungi agama-agama minoritas.

Muslim dan Nasrani adalah dua umat beragama yang dalam sejarahnya sudah saling mengakrabkan diri dan saling menjaga satu sama lain. Jauh sebelum aksi heroik Riyanto, umat Nasrani juga memiliki andil dalam menjaga umat muslim. Tatkala Islam masih sangat muda, para penganut Islam generasi pertama tengah mendapatkan gangguan dan ancaman dari orang Quraisy di kota Makkah. Banyak dari umat Islam yang sebagian darinya adalah orang miskin dan lemah kemudian disiksa, membuat Nabi Muhammad S.A.W sedih akan hal tersebut. Seorang sahabat kemudian mewartakan bahwa di sebuah negeri nan jauh di sana terdapat seorang raja yang tak mengizinkan ketidakadilan terjadi di negerinya. Berita baik tersebut membuat Nabi memberikan perintah agar umat muslim Hijrah ke negeri tersebut. Peristiwa tersebut pun tercatat sebagai peristiwa hijrah pertama umat muslim.

Habasy, sebuah negeri di benua Afrika (kini dikenal dengan nama Ethiopia) saat itu dipimpin oleh seorang raja beragama Kristen bernama Najasyi. Negeri itu mayoritas penduduknya Nasrani. Tatkala umat Islam yang melarikan diri dari Makkah sampai ke negeri tersebut, mereka disambut hangat oleh raja dan rakyatnya. Mereka pun diberikan jaminan perlindungan sekaligus jaminan hidup. Peristiwa ini pula yang menjadi penanda hubungan indah umat Muslim dan Nasrani pada periode awal kelahiran Islam. Konon, Nabi dan sang Raja pun memiliki kedekatan yang sangat baik.

Dua peristiwa di atas menunjukkan pada kita bahwa umat Muslim dan Nasrani merupakan dua umat beragama yang sejak dulu bukan hanya saling menghormati tetapi juga saling melindungi. Memang dalam perkembangannya terdapat pula cerita pertikaian yang “seolah melibatkan keduanya.” Kita bisa berkaca pada peristiwa Perang Salib misalnya. Tetapi jika kita berpikir lebih bijak, maka kita akan melihat bahwa peristiwa tersebut bukanlah perang antar umat beragama melainkan perang dalam memperebutkan kekuasaan semata.

Di balik cerita pertikaian juga, sesungguhnya banyak catatan mengharukan yang bisa kita baca kembali dalam sejarah mengenai hubungan kedua umat beragama yang sesungguhnya begitu hangat dan dekat. Kita bisa melihat bagaimana kemesraan umat Muslim dan Nasrani di Yerusalem saat negeri tersebut dikuasai oleh Raja Baldwin IV. Sang raja tetap mengizinkan orang Muslim berziarah dan tinggal di Yerusalem. Jauh sebelumnya, Khalifah Amirul Mukmini Umar Ibn Kattab juga memerintahkan kepada tentara muslimin agar gereja, salib, pendeta dan umat Nasrani tak satupun diganggu. Mereka juga diberikan kebebasan memeluk agama dan keyakinannya, bahkan Umar Ibn Kattab memberikan jaminan akan hal tersebut.

Desember tahun ini menjadi begitu indah karena dirayakannya peringatan hari kelahiran dua manusia yang menjadi teladan bagi kedua agama. 1 Desember 2017 lalu, umat Islam merayakan Maulid Nabi sementara 25 Desember 2017 nanti akan dirayakan peringatan kelahiran Isa Al Masih. Kedua momentum ini hendaknya menjadi pengingat bagi kita bahwa kedua manusia itu sesungguhnya diturunkan ke dunia untuk menyebarkan cinta kasih, sebagai sebuah rahmat bagi semesta alam dan kita pun patut meneladani mereka. Mereka yang saya sebut di atas adalah cerminan manusia yang mengamalkan ajaran-ajaran indah kedua manusia teladan tersebut.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *