[Ngibul #4] Belajar dari Pengamen Siter Kantin UGM

Posted: 27 February 2017 by Olav Iban

. . .

Dalam hidup tak seorang pun dapat luput dari masa-masa sedih, berduka, kehilangan sukma, padam api semangatnya. Begitu pula saya pernah mengalaminya. John Steinbeck, sastrawan Amerika, dalam bukunya The Grapes of Wrath menulis, “If you’re in trouble or hurt or need, go to poor people. They’re the only ones that’ll help. The only ones.” Kalimat Steinbeck bukan riasan bedak penghias buku sastra. Kalimat itu adalah kebenaran. Lewat tulisan ini saya ingin membuktikan betapa orang-orang miskin adalah jelmaan Tuhan yang menolong setiap mereka yang berduka.

 

~

Ada seorang perempuan tua. Namanya Mbok Sri. Menurut KTP, ia lahir 17 Agustus 1940. Jelas ini angka tipu-tipu pegawai Dukcapil karena sebenarnya Mbok Sri tidak pernah ingat kapan ia dilahirkan. Hanya setahunya, ia lahir di sebuah desa kecil di Klaten, Jawa Tengah. Kemudian pindah ke Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, mengikuti program transmigrasi. Selepas remaja ia berlayar ke Jawa lewat Semarang sampai nasibnya berakhir di Yogyakarta menjadi pengamen siter keliling, menyanyikan tembang-tembang Jawa di kantin-kantin kampus UGM.

Sebagai pengamen suara Mbok Sri biasa-biasa saja, petikan siternya pun ala kadarnya, namun tekad hidupnya luar biasa. Tulisan ini didedikasikan untuknya sebagai pelajaran berharga tentang perjuangan seorang perempuan tua yang sepanjang hidup tidak pernah lebih kaya untuk sekadar membeli sandal baru, yang tidak punya saudara untuk mengelus pundaknya ketika bersedih, yang tidak pernah menikah untuk bersama-sama berjuang dalam cinta, yang tidak memiliki anak untuk dijadikan tujuan surganya, namun bisa bertahan hidup dalam segala kekurangannya.

Mbok Sri tinggal di sebuah perkampungan kumuh di daerah Badran, Yogyakarta. Rumahnya (atau lebih tepatnya kamar yang dikontraknya) berupa satu bilik berdinding triplek ukuran 1,5 x 5 meter. Hanya satu ruang memanjang tanpa ventilasi dan sanitasi. Mbok Sri harus ke kamar mandi umum bila ingin menyelesaikan hajat. Lantai kontrakannya bersemen pudar yang sudah lama rusak berpasir. Perabot di dalamnya hanya sebuah ranjang kecil, satu lemari pakaian, satu meja tempat menyimpan peralatan makan, satu rak buku gantung tempat ia menyimpan Alkitab, Kidung Jemaat, dan bumbu-bumbu masak. Lalu di dekat pintu masuk ada dua kursi pendek dan satu meja. Dulu ada kompor minyak tanah di sebelah ranjangnya, tapi dijualnya semenjak ia sering sakit-sakitan.

Setiap pagi di hari Senin sampai Jumat Mbok Sri bergegas mandi, memakai pakaian mengamennya yang itu-itu saja, kemudian memanggul alat siternya di punggung. Sekitar pukul 09.00 ia berjalan kaki menembus perkampungan sempit menuju jalan raya. Mencegat bus Kopata menuju UGM. Berhenti di dekat Bundaran UGM lalu berjalan lagi memasuki kampus-kampus untuk singgah mengamen di kantin-kantin. Setahu saya Mbok Sri hanya mengamen di kampus humaniora, tidak di kampus teknika —katanya satpam dan mahasiswa humaniora lebih bersahabat kepada orang-orang kecil seperti dia. Khusus hari Minggu Mbok Sri berangkat lebih pagi. Sekitar pukul 05.00 ia sudah di Lembah UGM untuk mengamen di Pasar Sunday Morning. Di pasar inilah kejutan intim pertama yang membuat hubungan saya dan Mbok Sri berlanjut hingga di tahun-tahun kemudian.

Ketika itu saya sedang mendongeng berkeliling satu tenda makan ke tenda lain mengais receh. Mbok Sri tiba-tiba menghampiri saya dengan wajah berang, saya pikir beliau marah karena ladangnya saya jajah, ternyata bukan. Secepat kilat saya berdalih tidak mengamen. Cuma mendongeng. Tapi buat Mbok Sri itu sama saja. “Kowe ki mahasiswa!,” tegurnya, “Tugasmu sinau! Ben dadi wong pinter! Ra ngamen! Nasibmu kudu luwih apik timbangane dadi pengamen koyok aku!” (terj. Kamu ini mahasiswa. Tugasmu belajar! Supaya jadi orang pintar! Bukannya mengamen! Nasibmu harus lebih baik daripada menjadi pengamen seperti aku!). Sejak saat itu Mbok Sri menjadi guru saya, dosen saya, profesor saya di bidang kehidupan.

Beruntung sebelum mengenal Mbok Sri, saya sudah banyak mengenal orang-orang kecil lain yang juga kerap beredar di kampus humaniora UGM. Ada Mbah Sumi, pengemis yang suka berteduh di gang antara Fakultas Ekonomi dan Fakultas Psikologi, yang suka memanggil saya dengan panggilan Raden. Ada Bu Fulan, pengais rejeki di bak-bak sampah kampus. Ada Pak Narto, pemain siter lain yang berbagi shift mengamen dengan Mbok Sri. Ada Mbah Sujud, pemain gendang yang super kuat membawa-bawa gendangnya ke mana-mana. Ada Embak Entah-Siapa-Namanya yang selalu saya marahi karena membawa anak bayi waktu mengemis tapi tetap saja besoknya datang lagi. Karena banyak kenal itu sehingga tiap saya berkunjung ke kontrakan Mbok Sri ada saja mutual friends kami yang bisa dijadikan bahan obrolan.

Mengenal Mbok Sri secara intim dalam hidup saya adalah suatu keberuntungan yang belum ada bandingannya. Dari seorang Mbok Sri saya belajar banyak tentang kehidupan. Dahulu ketika saya bosan kuliah, berkunjung ke kontrakan Mbok Sri adalah liburan yang seru. Saya masih ingat di siang panas saya numpang tidur di ranjangnya yang sejuk, sementara Mbok Sri mengomel terus menerus seperti cucakrowo karena saya tidak masuk kuliah. Memang rugi bolos satu-dua mata kuliah, tapi tidak membuat saya menyesal. Walau cerewetnya naudzubillah, namun Mbok Sri banyak memberi khotbah hebat tentang kehidupan. Terkadang ia menceritakan lakon Kresna dalam perwayangan sambil mengaitkannya dengan kemalasan saya yang tidak ksatria. Atau tentang Sengkuni yang buruk hati namun pandai membangun drama sehingga cocok kuliah di Fakultas Sastra.

Hubungan kami begitu lekat sampai tak terasa sudah mendekati 10 tahun. Ketika Tuhan memberi masa-masa susah di hidup saya, Mbok Sri dengan setia memberi pendampingan psikologis. Tak lupa setiap malam Mbok Sri melakukan ritual doa malam jam 00.00 sambil berlutut di depan pintu kamar kontrakannya, menatap langit gelap sambil mengucapkan nama saya dalam setiap permohonan doanya. Saya sendiri tidak menyangka Mbok Sri begitu sayangnya dengan anak kurang ajar seperti saya, yang gagap memakai bahasa kromo inggil padanya, yang seenaknya sendiri memeluknya di tengah keramaian kantin, yang sok-sok preman menarik duit ke teman-teman bila Mbok Sri datang mengamen.

Kalau dipikir-pikir, sungguh Tuhan memberkati saya dengan teman-teman yang rendah hati. Tak perlu saya sebutkan namanya karena mereka tahu sendiri bila membaca tulisan ini. Ada gadis ayu mahasiswi Fakultas Ekonomi yang rela membeli siter baru untuk Mbok Sri yang sudah rusak. Ada mantan santri pondok pesantren di Jalan Kaliurang yang mau memberi kelebihan uangnya untuk membayar harga sewa kamar kontrakan Mbok Sri. Ada teman yang membawakan kue-kue ketika Lebaran, ada pula yang membawa sekarung beras ketika musim paceklik, juga ada yang cukup main ke kontrakan Mbok Sri sekadar merokok, bersama berkisah untuk mengurangi rasa kesepian Mbok Sri. Dan masih banyak lagi teman-teman lain yang secara sembunyi-sembunyi memberi kebaikannya kepada Mbok Sri tanpa setahu saya.

Mbok Sri sendiri bukan seorang miskin yang sok berharga diri tinggi menolak pemberian orang. Ia dengan tangan terbuka dan mata berlinang menerima semuanya. Hanya yang disayangkannya adalah ia tidak bisa membalas kembali pemberian itu.

Mbok Sri sangat kekurangan uang, saya tahu betul itu. Di masa sehatnya, satu hari paling hanya 20-30 ribu saja, belum dipotong biaya transportasi pulang pergi Badran-UGM. Namun ajaibnya, tidak satu kalipun saya ke kontrakannya tanpa disuguhi makan berat, entah itu sate, bakso atau mie ayam, lengkap dengan roti dan kerupuk, juga kopi hitam. Saya tahu betul uang yang dipakainya untuk menjamu saya adalah uang-uang terakhirnya. Namun begitulah Mbok Sri. Ia memberi dari kekurangannya.

Karena sungkan, saya kerap menolak kalau disuruh makan, tetapi Mbok Sri pasti akan menjewer kuping saya dan memaksa makan. Kalau makanan saya tidak habis, Mbok Sri menghabiskannya. Sama sekali tidak ada rasa jijik di antara kami untuk saling membagi makanan. Ia memandang saya sebagai anak sulungnya, sementara saya menganggap dia sebagai reinkarnasi nenek saya sendiri.

Di suatu hari Minggu, Mbok Sri meminta saya menemaninya mengikuti perjamuan kudus. Bangunan gerejanya unik terbuat dari bambu, tapi jemaatnya lebih unik lagi. Ketika saya masuk, seluruh jemaat menoleh ke arah kami. Sebagian besar dari mereka saya kenal sebagai pengemis, pemulung, dan pengamen di sekitaran UGM. Geli rasanya ternyata banyak orang tidak mampu ini beragama Nasrani. Mbok Sri bangga sekali mengapit lengan saya masuk ke dalam gereja. Semua orang tersenyum.

Ketika sesi menyanyi, Mbok Sri menyodorkan Kidung Jemaatnya kepada saya. Saya membukanya sesuai halaman yang disebutkan pendeta, lalu menyodorkan kembali ke arah Mbok Sri untuk kami nyanyikan bersama. Anehnya, bola mata Mbok Sri tidak bergerak pada bait-bait yang dilantunkan namun mulutnya menyanyi dengan pas dan mantap. Sepulang kebaktian saya pun menanyakan kenapa? Sambil senyum-senyum malu, Mbok Sri mengaku tidak bisa baca-tulis. Ini membuat saya sangat tertegun, inilah ‘orang yang tidak melihat namun percaya’.

Sejak itu saya suka membacakan bagian-bagian Injil tentang perumpamaan yang dikhotbahkan Yesus. Mulanya Mbok Sri mendengar dengan serius, sampai lama-kelamaan sepertinya lidahnya gatal untuk berbicara. Saya ingat perkataannya, “Aku memang tidak pintar, tidak bisa membaca Firman Tuhan, tapi aku percaya Gusti Allah tidak tidur. Walau hidupku susah dari lahir, miskin dan kesepian, namun Tuhan mendatangkan kamu menjadi anakku. Memberiku kesempatan menjadi ibu yang harus menangis di malam hari merindukan anaknya, gelisah mencari solusi ketika kamu sedang dalam masalah.”

Memang demikianlah Mbok Sri yang sejujurnya. Ia tidak seperti seorang tante yang turut membantu permasalahan keponakanannya karena suka ikut campur dan bergunjing. Ia benar-benar tulus membantu. Bukan karena ingin ikut-ikutan, tapi karena merasa masalah hidup saya adalah masalahnya juga, dan kebahagiaan saya adalah sukacitanya juga. Dulu saya sempat salah mengira bahwa Mbok Sri terlalu ikut campur. Ketika saya mengalami masalah, Mbok Sri bahkan datang ke rumah dijemput adik saya untuk menemui ayah dan ibu saya. Ketika saya tak kunjung lulus kuliah, Mbok Sri dengan setia menghadiri setiap wisuda sambil berharap ada wajah saya di salah satu wisudawan.

Mbok Sri mengajarkan saya bertahan dalam kesesakan hidup, dalam kesedihan batin, dalam kekurangan material, dalam kemurungan hidupnya selama 76 tahun di bawah garis kemiskinan. Mbok Sri yang selalu kesepian, yang tidak kenal siapa ayah ibunya, yang tidak memiliki saudara untuk meraih sikunya ketika terjatuh.

Terakhir kali saya bertemu lagi dengan Mbok Sri sekitar setengah tahun yang lalu. Rambutnya beruban tidak terurus. Wajahnya keriput melembek. Tubuhnya ringkih ditopang tongkat kayu. Dari jauh saya melihat Mbok Sri sedang duduk di kursi seng sambil menatap kosong ke arah tembok-tembok sesak pemukiman. Itulah perempuan yang mengalami era Belanda, Jepang, Kemerdekaan, Soekarno, Soeharto, hingga era Reformasi, tapi masih saja terduduk diam di garis kemiskinan yang penuh derita perjuangan setiap jam hidupnya.

Saya memeluknya. Di pundak saya, Mbok Sri menangis. Air matanya membasahi pelukan. Terisak-isak Mbok Sri memanggil nama saya. Olam, Maulam, Ulan, entah apa lagi. Ia memang tidak pernah benar menyebut nama saya. Panjang sekali kami bercakap hari itu. Ia bercerita bahwa beberapa bulan kemarin ia masuk rumah sakit dan hampir mati. Namun ia berdoa, doanya sederhana: Tuhan, sebelum aku pergi meninggalkan dunia pertemukanku dengan anakku. Syahdu sekali kalau diingat. Kami berpisah dengan saling membalas pelukan. Melempar janji untuk bertemu kembali. Mendoakan rejeki dan kesehatan masing-masing. Mbok Sri membisik, kamu akan jadi orang besar, dan ketika itu terjadi jangan pernah melupakan orang-orang miskin. Orang-orang seperti Mbok Sri. Orang yang memberi pangkuan menopang tengkukmu yang layu ketika kamu jatuh.

Natal 2016 kemarin saya pulang ke Yogyakarta dan menyempatkan diri mengunjungi Mbok Sri bersama para penggagas kibul.in (mereka juga anak-anak Mbok Sri). Yang kami temui hanya kamar gelap tidak berpenghuni. “Mbok Sri sudah meninggal,” kata tetangganya. Saya ingat kami saling membalas pandang. Lama sekali. Tidak ada di antara kami yang membuka perkataan. Sepertinya masing-masing masih syok dengan kabar duka itu. Sebenarnya kunjungan itu —selain merayakan Natal— bertujuan mengantarkan janji seorang penggagas kibul.in yang mendapat giliran membayar sewa kontrakan Mbok Sri. Namun kini jadi sia-sia. Untuk siapa lagi kami membayar sewa. Mbok Sri sudah tiada. Tapi kami sama-sama sadar, semangat Mbok Sri masih hidup di sanubari kami. Itulah yang kami bayar. Mengontrak satu lubuk di dalam hati kami agar semangat Mbok Sri tetap berdiam di dalam kami, di dalam tindak-tanduk kami, di dalam budi kami, di dalam setiap usaha kami mencapai cita-cita kami. Tuhan memberkati.

 

Palangka Raya, 2017

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

4 Comments

  • Danu Saputra 3 March 2017 at 23:23

    Berbahagialah di surga Mbok Sri…

    Reply
  • Berlian Prestisia 15 March 2017 at 20:39

    Baca ini saya jd merasa bersalah.. Dua tahun di jogja, saya tidak pernah mengeluarkan sepeserpun utk pengemis pengamen.. Krn setau sy dr media, banyak ‘pengemis’ yg memang ngemis krn malas..

    Semoga org2 spt mbok sri ini dilapanglan rejekinya. Smg beliau tenang di sana.

    Reply
  • Sapta 27 April 2017 at 12:31

    Mas, saya lg cari pengamen siter, dimana saya bisa ketemu dengan bpk dan ibu pemain siter itu. Sering ada dimana, maksudnya..

    Reply
    • Redaksi Kibul 29 April 2017 at 10:55

      datang aja ke mirota batik (Hamzah Batik) Malioboro. Tiap malam minggu, biasanya ada pak Narto.
      Terima kasih 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *