[Ngibul #27] Tragedi Cinta Segi-46 Ratu Mas Malang

Posted: 14 August 2017 by Bagus Panuntun

1.

Cinta segitiga memang sudah merepotkan, tapi percayalah, ia tak ada apa-apanya dibanding cinta segi-46. Dan di bumi manusia tempat segala cerita terhampar ini, pernah hidup seorang tokoh yang kisah cintanya mirip nomor motor pembalap Valentino Rossi itu. Sebagaimana Valentino Rossi pula, kisah tokoh kita ini juga penuh dengan persoalan tiqung-meniqunge.

Siapakah dia sang tokoh kita?

Dia cantik, dia ayu! Bodinya seksi, suaranya aduhai. Seorang sinden wayang dan ratu cengkok asal Pleret, Bantul, Yogyakarta. Kita perkenalkan dia, siapa lagi kalau bukan: Ratu Mas Malang….

*masuk irama musik dangdut dengan lagu Syi’ir Tanpo Waton Gus Dur, dengan lirik yang diganti:

Ratu Mas Malang,

Sinden idaman,

Istri seorang Ki Dalang Panjang,

Dalang terkondang Bumi Mataram,

Cinta berdua, sungguh indahnya…

 

2.

Pleret, Ibukota Mataram, tahun 1650-an, hidup seorang perempuan ayu bernama Nyai Truntum. Ia adalah seorang sinden, pelantun langgam Jawa, yang senantiasa mengiringi pentas wayang Raden Panjang Mas, suaminya sendiri yang juga merupakan dalang paling kondang di bumi Mataram.

Alkisah perpaduan Nyai Truntum dan Raden Panjang Mas adalah kombinasi yang begitu rancak, apik dan cemerlang baik di dalam maupun di luar panggung. Di atas panggung mereka selalu menyajikan pertunjukkan yang pantang membuat ngantuk; suara cengkok nan merdu dari Nyai Truntum membuat siapapun segera bersyukur memiliki kuping yang masih waras, sementara eksplorasi Raden Panjang Mas terhadap suatu lakon bisa membuat semua penonton enggan untuk meninggalkan panggung barang untuk buang air. Di luar panggung? Jangan ditanya, mereka berdua adalah sejoli paling lengket lagi mesra. Orang-orang bahkan menyamakan mereka dengan Kamajaya-Kamaratih, pasangan dewa dan dewi cinta jagad pewayangan paling bahagia yang pernah ada.

Akan tetapi semua berubah sejak Amangkurat I (1611-1677) “menyerang”.

Amangkurat sendiri adalah Raja Mataram yang dikenal sebagai seorang Machiavellian yang kejam dan penuh nafsu. Selain itu, ia juga dikenal sebagai diktator sekaligus psikopat berdarah dingin. Sebagai seorang raja, tak terhitung berapa kebijakannya yang penuh kontroversi. Salah satunya adalah memindahkan secara sepihak Ibukota Mataram dari Kota Gede ke Pleret. Ingin tahu alasannya? Alasannya ya karena pingin saja. Barangkali ia adalah seorang raja yang menganut sebuah paham “sugih, bebas!” Tapi hal itu tak seberapa dibanding kekejamannya yang benar-benar minta ampun. Amangkurat pernah mengeksekusi mati 5.000 ulama di Alun-alun Pleret karena dianggap berusaha memberontak pada kekuasaannya. Ia bahkan tega membunuh adik kandungnya sendiri, Raden Mas Alit, yang ia anggap berkhianat padanya. Namun dari segala kekejaman yang pernah ia lakukan, barangkali kekejamannya yang paling biadab adalah kekejaman yang kelak akan ia lakukan pada 43 selirnya. Dan semua itu terjadi tak bisa lain karena seorang Nyai Mas Truntum yang kelak akan dijuluki Ratu Mas Malang.

Suatu hari, Amangkurat memerintah para prajuritnya untuk mencari seorang perempuan untuk menjadi selirnya yang ke-44. Entah bagaimana caranya, Amangkurat kemudian mengenal Nyai Truntum dan langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Maka, dengan segala kelicikannya ia pun mencoba membawa Nyai Truntum ke Istana Mataram tanpa peduli bahwa saat itu Nyai Truntum tengah mengandung usia dua bulan.

Siasat pun segera disusun. Mataram mengadakan pesta besar-besaran dengan pertunjukkan wayang sebagai suguhan puncaknya. Ia mengundang Raden Panjang Mas untuk menjadi dalang di malam meriah tersebut. Suatu ketika saat pertunjukkan wayang tengah begitu asyiknya dan penonton begitu tegang menanti kelanjutan cerita, tiba-tiba seorang prajurit memanah blencong atau lampu minyak yang digunakan untuk menerangi panggung. Seketika panggung pun mendadak jadi gulita. Ketika itulah para prajurit Amangkurat langsung menikam Raden Panjang Mas dan seluruh penabuh gamelan hingga hanya tersisa satu yang selamat, yaitu Nyai Truntum yang kemudian dibawa ke Istana untuk menjadi selir Amangkurat yang ke-44.

Dalam setiap pembahasan mengenai cinta segitiga, kita mengenal salah satu quote yang paling sering dikutip untuk membahas fenomena rumit tersebut. Quote ini diucapkan oleh seorang Johnny Depp dan berbunyi kurang lebih “Jika kamu jatuh cinta pada dua orang dalam waktu bersamaan. Pilih lah yang kedua. Sebab jika kamu benar mencintai yang pertama, kamu tidak akan jatuh pada yang kedua”.

Saya kira Amangkurat adalah seorang yang percaya betul pada kutipan tersebut. Sayangnya, Amangkurat tak berhenti pada cintanya yang kedua. Namun ia terus melanjutkan cintanya hingga orang yang ketiga, keempat, hingga tiba pada Nyai Truntum yang ke-44. Nyai Truntum pun mendapat tempat istimewa di Istana Mataram. Amangkurat begitu menyayangi Nyai Trantum hingga memberinya gelar Ratu Wetan atau Ratu Mas Malang.

Semenjak itu, ke-43 selir Amangkurat pun merasa cemburu dan mereka bersekongkol untuk membunuh Ratu Mas Malang. Pada zaman tersebut, salah satu cara membunuh yang paling efektif sekaligus susah diselidiki adalah memberi racun pada calon korban. Entah dengan sianida atau semacam bodrex yang dicampur dengan soda, ke-43 selir tersebut ternyata berhasil membuat Ratu Mas Malang meregang nyawa dengan racun buatannya.

Bumi Mataram pun gempar dengan kematian Ratu Mas Malang. Sementara itu, para Selir diam-diam justru bahagia sambil berharap bahwa Amangkurat akan peduli lagi pada mereka. Sayangnya, yang terjadi justru sebaliknya. Amangkurat justru begitu terpukul dan malah menjadi agak gila. Ia bahkan memilih tetap tidur bersama mayat Ratu Mas Malang hingga konon sampai sebulan lamanya. Namun bentuk kegilaannya yang paling puncak adalah kegilaan yang ia tunjukkan pada ke-43 selirnya yang ia percaya telah membunuh Ratu Mas Malang. Maka, dengan gelap mata Amangkurat memberi “hadiah” terakhir untuk ke-43 selirnya: ia memberi satu ruangan untuk 43 selir tersebut. Di dalam ruangan itulah, Amangkurat mengurung mereka tanpa sedikitpun memberi mereka makan hingga akhirnya mereka saling memakan daging teman sendiri.

 

3.

Pleret, 8 Agustus 2017, 352 tahun setelah peristiwa berdarah tersebut terjadi. Saya datang ke sana bersama tiga kawan saya untuk sekadar mengisi waktu libur kerja yang kepalang senggang. Salah satu kawan saya, Iqbal Rahardian, adalah pemuda setempat yang hari itu kami minta untuk menceritakan segala hal yang kemudian saya tuliskan di atas.

Hari ini Makam Ratu Mas Malang masih dapat kita kunjungi di situs pemakaman Gunung Kelir, Pleret, Bantul. Area makam yang luasnya setengah lapangan bola ini dikelilingi oleh tembok bata yang tebalnya hampir mencapai satu meter. Tebal sekali. Beberapa pohon kamboja tumbuh subur berbunga di area makam tersebut. Saya menaksir bahwa usia pohon itu telah mencapai ratusan tahun sebab ia mempunyai ukuran yang jauh lebih besar dibanding kebanyakan pohon kamboja pada umumnya. Barangkali tingginya sekitar setengah tinggi pohon kelapa. Sementara itu, di pojok barat area pemakaman, kita bisa melihat satu makam yang berada di depan sebuah pohon beringin besar dengan akar pohon yang saling tumpuk tunjang. Yang tak akan kita kira, makam yang terlihat paling angker dan keramat itu ternyata adalah makam Raden Panjang Mas.

Pemandangan tersebut tentu saja membuat saya bertanya-tanya, jika memang Amangkurat sungguh mencintai Ratu Mas Malang, mana mungkin ia rela memakamkan selir kesayangannya di dekat makam mantan suaminya?

Saya pun berusaha mencari jawaban tersebut. Konon, sebulan setelah kematian Ratu Mas Malang –ketika Amangkurat masih tidur di samping mayat selir kesayangannya—Amangkurat bermimpi melihat Ratu Mas Malang hidup berbahagia bersama Raden Panjang Mas. Sejak itulah Amangkurat akhirnya berkenan meninggalkan mayat tersebut dan menguburkannya di satu lokasi yang sama dengan mendiang suaminya–meskipun tak berdampingan. Amangkurat pun memutuskan untuk kembali ke istana dan melanjutkan kepemimpinannya yang ternyata masih kontroversial seperti sebelumnya.

Kisah tersebut saya kira tidak masuk akal. Selain menunjukkan adanya sifat Amangkurat yang kontradiktif, kisah tersebut juga cenderung menyajikan ending terlampau indah yang tidak masuk akal seperti pada banyak film Hollywood. Maka, saya pun memilih tidak percaya kisah tersebut sambil semakin mengamini ungkapan yang pernah dikatakan Amin Maalouf bahwa “sejarah selalu memberikan lebih banyak pertanyaan dibanding jawaban”.

Terlepas dari akhir kisah tersebut, yang jelas kisah cinta Ratu Mas Malang memberitahu kita bahwa jika cinta segitiga adalah cinta yang merepotkan, maka cinta segi-46 adalah cinta yang mematikan. Lalu, mengapa kita berharap pada cinta segi-72 yang ada di surga?

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

1 Comment

  • Drupadi 17 August 2017 at 18:50

    Selalu suka dengan tulisan yang berbau sejarah and romance. (Magis) dan terimakasih mas Panuntun sudah menangkap dan menuliskannya. #bighugkiss i’m ur Fan 😃

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *