[Ngibul #21] Mudik: Kembali ke (Tempat) Asal

Posted: 3 July 2017 by Andreas Nova

Mudik

Mudik tahun ini adalah mudik terakhir bagi saya. Tahun depan, ibu dan adik saya sudah pindah ke Yogyakarta, jadi bisa dipastikan lebaran tahun depan tidak perlu repot bermacet ria dan menempuh lebih dari dua jam untuk perjalanan antar kota yang berjarak 33 kilometer. Yogyakarta dan kota kelahiran saya, Klaten, memang cuma berjarak sak plinthengan. Karena jarak yang tidak terlalu jauh itulah, terkadang saya tidak merasakan sensasi mudik. Bayangkan saja 33 kilometer itu cuma jarak dari Tugu Jogja ke Pantai Parangtritis. Enteng. Sewaktu masih kuliah, saya setiap akhir pekan pulang ke Klaten. Bahkan ketika kuliah cuma tinggal bimbingan skripsi —hingga setahun bekerja, saya lebih memilih nglaju. Wajar jika saya tidak merasakan sensasi mudik.

Berbeda dengan rekan redaktur lain —kecuali Fitriawan Nur Indrianto yang lahir di Yogyakarta dan tinggal Sleman—  yang kampung halamannya jauh dari domisilinya. Asef Saeful Anwar yang ber-KTP Cirebon, Bagus Panuntun yang orang Wonosobo atau Olav Iban yang kelahiran Ngawi, besar di Madiun, kuliah di Yogyakarta dan bekerja di Palangkaraya. Ketika mereka kembali ke kampung halamannya dibilang mudik, ya wangun. Lha saya? Saya dibilang perantau ya saya iyakan, tapi mau mengaku perantau kok asalnya cuma dekat di situ aja. Konyolnya lagi, sewaktu KKN, saya berharap ditempatkan di lokasi yang paling tidak beda provinsi, lumayan untuk menambah pengalaman. Eh, kok apes, saya malah KKN di Kecamatan Bayat, Klaten. Alhasil, setiap akhir pekan jika tidak ada kunjungan Dosen Pembimbing KKN, saya pun pulang ke rumah orangtua.

Saya baru merasakan sensasi mudik setelah menikah dan punya anak. Kalau dulu pulang tinggal bawa badan dan pakaian secukupnya, sekarang harus benar-benar berkemas. Saya —lebih tepatnya istri saya— harus menghitung berapa baju yang dibawa, berapa popok yang akan dibawa, menyiapkan susu, botol susu dan perlengkapan lainnya. Beruntung, anak saya tidak suka bawa mainan, karena saking kreatifnya semua benda yang ada di tangannya bisa mendadak jadi mainan. Bayangkan saja kalau saya masih harus membawa boneka sapi kesayangan yang sering ditungganginya. Apa tidak makin ribet?

Saya jadi membayangkan, seandainya saja saya dulu merantau ke Jakarta, atau ke Surabaya, atau tempat yang lebih jauh, apakah saya akan mengalami hal ribet-ribet ini setiap tahunnya? Bayangan saja, keribetannya dimulai dari menembus birokrasi cuti (jika instansi tempat bekerja tidak mengikuti anjuran cuti bersama pemerintah), memesan tiket pergi-pulang (kalau tidak mau repot membawa kendaraan sendiri), hingga berkemas. Jika membawa kendaraan sendiri tentunya ditambah sabar dan tawakkal kepada Yang Maha Kuasa, karena mudik identik dengan macet. Lalu kenapa harus mudik kalau repot? Toh saya tidak merayakan Idul Fitri. Pada saat Natal pun, terkadang malah Ibu saya yang berkunjung ke Yogyakarta sekalian menengok cucunya. Lagipula seandainya kangen dengan orangtua juga tidak harus pulang pada musim mudik.

Dalam mudik tahun ini saya sadar. Kerepotan mempersiapkan mudik ini merupakan salah satu sensasi yang jarang saya rasakan. Kenapa saya rela repot-repot? Selain membawa keluarga, tentunya ada rasa rindu kepada tempat kelahiran saya. Setelah berkeluarga saya otomatis jarang pulang ke Klaten, paling hanya saat long weekend saja. Terasa ada jeda jarak dan waktu antara saya dan kampung halaman.

Hal itulah yang membuat saya menyadari bahwa hal yang terpisah jarak dan waktu, sekecil apapun, bisa menjadi ruang rindu. Maka tidak heran ketika saya tengah bekerja di kantor, teringat polah anak saya yang lucunya ngalahin Srimulat, membuat saya ingin segera menuntaskan pekerjaan dan pulang. Ada jarak di antara rumah dan kantor, saya dan anak saya. Ada jeda waktu pada saat rasa rindu muncul dan kesempatan untuk menuntaskan kerinduan itu. Kerinduan itu sesederhana dan (sekaligus) serumit itu.

Begitu pula dengan kampung halaman. Sedekat apapun kampung halaman, ketika ada jeda jarak dan waktu, selalu saja dapat menumbuhkan rindu. Lalu apa yang dirindukan dari kampung halaman? Biasanya justru hal-hal yang tidak terduga. Sama halnya ketika merindukan pasangan. Bukan kegantengan atau kecantikannya yang dirindukan, tapi sesuatu yang lebih personal yang mengikat memori satu sama lain. Kampung halaman saya, Klaten yang terletak di antara dua kota besar, Solo dan Yogyakarta. Apa istimewanya? Klaten tidak punya bioskop (dulu ada dua di pusat kota, namun sudah berubah menjadi ruko dan taman kota), hanya punya satu gerai waralaba ayam goreng amerika yang tutup jam sepuluh malam. Ada satu pusat perbelanjaan pertama, terbesar dan satu-satunya di Klaten, terdiri dari empat lantai, namun hanya tiga lantai yang beroperasi. Lantai empat masih menjadi sarang dedemit. Toko buku juga cuma satu, dan itu saja masih kalah lengkap dari @warungsastra. Tapi waralaba swalayan serba bisa semacem indo-maknyus masih ada walaupun tidak buka 24/7. Dengan segala kekurangannya itu apa yang membuat saya merindukan Klaten?

Justru hal-hal remeh yang seperti memesan soto garingan di Sop Ayam Sor Pelem —iya, bukan Sop Ayam Pak Min yang sudah buka waralaba sampai mana-mana. Soto aneh nan ajaib yang hanya ada di Klaten. Lalu bercengkrama dengan bakul angkringan yang sudah menjadi langganan saya dan adik saya sejak SMP. Percayalah, semodern dan seenak apapun angkringan di Yogyakarta, kalau angkringannya tidak menjerang air dan teh di tiga ceret seng yang nangkring di atas anglo yang tersembunyi di gerobaknya, maka ragukanlah penamaan angkringan tersebut. Terdengar konyol? Mungkin iya, tapi tidak pernah ada alasan konyol untuk rindu. Bahkan terkadang tidak perlu alasan untuk rindu.

Rindu yang tak dituntaskan hanya akan semakin membesar. Itulah alasan para pemudik rela merogoh kocek untuk pulang, menuntaskan kerinduan akan kampung halamannya. Walaupun mereka tahu, kerinduannya akan pulang tidak pernah bisa dituntaskan dalam sekali (bahkan berkali-kali) pulang. Meskipun dalam proses pulang harus melalui macet dan banyak halang rintang di jalan tetap saja tidak bisa mengalahkan bayangan akan kampung halaman, dan senyum sanak keluarga yang menanti di sana.

Bagi sebagian orang—termasuk saya, mudik adalah kesempatan menuntaskan kerinduan terhadap kampung halaman. Mudik adalah kembali ke kesempatan menuntaskan kerinduan dengan sanak keluarga, teman masa kecil, mantan, jajanan masa kecil, dan sebagainya. Walaupun tahun depan saya secara teknis tidak mudik, pasti sesekali saya tetap berkunjung ke Klaten dengan berbagai keperluan, dari yang serius seperti datang ke resepsi pernikahan, berziarah ke makam Ayah saya, hingga alasan remeh-temeh seperti jajan di warung-warung andalan saya tersebut, menengok seberapa jauh perkembangan kota kelahiran saya, atau juga melihat seberapa ambyar aspal jalan Klaten-Boyolali. Meminjam judul buku Eka Kurniawan, Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas. Mudiklah untuk membayar tuntas kerinduanmu akan tempat asalmu.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *