[Ngibul #20] Perut Lapar, Hasrat Lidah, dan Pikiran tentang Makan

Posted: 19 June 2017 by Asef Saeful Anwar

makan

Adam dan Hawa dikeluarkan dari surga selepas makan buah. Tidaklah saat itu lidah mereka sedang tergiur rona buah. Tidak pula perut mereka tengah lapar. Semata bisikan iblis yang membuat mereka berpikir tentang apa yang akan didapatkan setelah memakan buah terlarang hingga kemudian mereka melangkah mendekati pohonnya, memetik buahnya, menggigit, mengunyah, dan menelannya.

Tuhan telah melarang mendekati pohon itu, tapi mereka lebih jauh berbuat: memakan buahnya. Makan seolah menjadi simbol puncak dosa pertama yang dimulai dari langkah mendekati pohon terlarang, di sisi lain menyiratkan betapa Tuhan Maha Pemurah dengan tidak langsung menjatuhkan mereka seketika saat telah dekat dengan pohonnya, tapi memberi kesempatan mereka untuk berpikir sebelum kadung memakannya.

Perkara makan memang tidak sekadar urusan memenuhi perut, tapi persoalan yang lumayan pelik karena melibatkan pula fungsi lidah dan pikiran. Urusan perut justru yang paling sederhana, yang bahkan memiliki batas yang cukup tegas: kenyang. Silakan Anda makan sepuas-puasnya, menentang batas kenyang Anda, pasti akan langsung merasakan dampaknya: kemlakaran, rasa sakit perut karena terlampau banyak makan. Meski demikian, masih banyak orang yang percaya bahwa perut yang lapar dapat membuat manusia nekat berbuat jahat. Padahal, belum ada penelitian yang sahih mengenai seberapa banyak perbuatan kriminal, dalam hal ini pencurian, pencopetan, perampasan, atau perampokan, yang dilakukan karena kebutuhan perut (sehari-dua hari tidak makan) bila dibandingkan dengan yang dilakukan karena keinginan memenuhi hasrat lidah dan pikiran (menikmati makanan mewah dan berpesta pora). Bila kepercayaan bahwa perut yang lapar akan membuat manusia berbuat jahat terus dibatinkan, maka orang miskin, yang kesehariannya senantiasa bersama rasa lapar, akan senantiasa menjadi orang pertama yang dicurigai sebagai pelaku setiap kejahatan yang terjadi di sekitarnya. Tentu, ini anggapan yang keliru, sebab kita tahu sendiri betapa kini banyak pelaku kejahatan adalah orang-orang yang sebenarnya sudah tak perlu mengurusi masalah perut, semisal para koruptor, yang kebanyakan memang berbadan gemuk.

Hasrat lidah justru yang berbahaya kalau tak mampu dikendalikan. Setakat ini bahaya lidah lebih banyak digaungkan berkitar fungsinya sebagai pengucap kata daripada pengecap rasa. Si pahit lidah, lidah tak bertulang, lidah lebih tajam daripada pedang, lidah bercabang, bersilat lidah, dan segala idiom perlidahan lainnya mengacu pada bahaya perkataan, bukan bahaya hasratnya sebagai pengecap. Sebagai pengucap lidah berdampak buruk melalui perantara orang lain, sebagai pengecap lidah berdampak buruk langsung sesuai apa yang dikecapnya. Bila yang pertama membuat seseorang dicelakai oleh orang lain karena perkataannya, yang terakhir membuat seseorang terkena penyakit karena apa yang telah dikecapnya.

Hasrat lidah sungguh tak terbatas, bahkan bila Anda telah kenyang sekalipun ia masih menginginkan sesuatu. Penyakit-penyakit dalam tubuh manusia banyak yang berasal dari keinginan untuk memenuhi hasrat lidah. Misalnya, jeroan dan gorengan, keduanya dikonsumsi lebih karena keinginan lidah, bukan kebutuhan perut. Anda bisa saja makan sepiring nasi putih dengan rebusan sekepal daun singkong, tapi bila di meja makan ada sebiji gorengan atau jeroan, Anda pasti akan memakan salah satunya, atau bahkan melahap dua-duanya. Kita pun tahu bahwa jenis-jenis makanan yang sehat justru tidak enak di lidah, penaka menguji seberapa kuat kita memilih sehat dengan meninggalkan nikmat yang sesaat.

Nah, di sinilah pikiran mulai terlibat dalam hal “makan-memakan”. Ia berfungsi mempertimbangkan, memilah, dan memutuskan apa yang baik dan tidak baik untuk dimakan. Celakanya, pikiran kita seringnya dijajah hasrat lidah sehingga ketika memikirkan apa yang hendak dimakan terucaplah: “Enaknya makan apa ya…?”, bukan “Sebaiknya makan apa ya…?”. Pikiran semacam ini pastilah dimiliki oleh orang-orang yang telah berpenghasilan cukup sebab bila tidak, sebagaimana galibnya, bagi orang miskin kenyang saja sudah cukup, enak atau tidak enak bisa belakangan, yang penting makan. Orang miskin memandang makan sebagai cara menyambung hidup, atau paling banter sebagai pengisi tenaga untuk bekal kerja memenuhi kebutuhan.

Sementara golongan yang lebih berada melihat makan sesuai dengan tujuannya. Dengan tujuan menggunakan waktu lebih produktif, beberapa dari mereka, yang bekerja mengandalkan pikirannya daripada gerak tubuhnya, memilih menghindari perut yang kenyang dengan alasan akan membuat ngantuk dan berdampak pada waktu yang tidak produktif. Beberapa di antaranya, terutama perempuan, bahkan menjaga untuk tidak makan banyak karena takut gemuk, yang sering diasosiasikan bahwa orang gemuk cenderung rentan terkena penyakit. Bagi mereka makan kemudian menjadi gaya hidup, yang dikatakan sebagai gaya hidup sehat meskipun sedikit bias dengan gaya hidup mewah.

Maka ada berbagai macam jenis makan bagi mereka: makan untuk sosialisasi (menyejajarkan diri dengan kelas sosial yang tinggi pada acara-acara tertentu dengan nama-nama tertentu dan aturan makan tertentu), makan untuk diferensiasi (membedakan diri dengan kelas sosial yang rendah dengan jenis makanan tertentu dan tempat tertentu, seperti lebih memilih steak daripada tempe garit meskipun steak yang dimakannya lebih banyak tepungnya daripada dagingnya atau lebih memilih makan di restoran daripada makan di pinggir jalan meskipun yang dipesan sama-sama nasi goreng), makan untuk menjaga kecantikan (meskipun harus tersiksa dengan rasa makanannya), makan untuk PDKT, menyatakan cinta, atau melamar (sampai harus memasukkan cincin pada kerang yang dipesan), makan untuk transaksi bisnis atau korupsi, dan lain sebagainya sesuai dengan tujuan yang dipikirkannya, yang justru memposisikan makan sekadar media.

Tidaklah hasrat lidah itu buruk, tidak pula pikiran tentang makan itu buruk, maka tidak juga berarti sekadar memenuhi perut yang lapar itu baik. Apa jadinya bila manusia makan sekadar untuk memenuhi perutnya yang lapar? Kebudayaan, terutama perkulineran, pasti mandeg. Kita sekarang mungkin cuma makan dengan sesuatu yang dibakar tanpa garam. Kita tidak akan pernah mengenal rasa gurih dan asin sehingga kita tidak akan pernah tahu apakah seseorang yang memasak sedang ingin kawin atau tidak. Namun, berkat hasrat lidah, garam dan rempah-rempah ditemukan untuk dibaurkan dalam sebuah masakan. Berbagai jenis makanan pun dapat disajikan meskipun dari bahan baku yang sama. Ayam berubah wujud menjadi opor, kari, pepes, semur, sate, dendeng, dan berbagai nama lainnya sesuai dengan cara memasak dan komposisi bumbunya.

Hasrat lidah itu disokong dengan pikiran manusia yang mampu menemukan berbagai peralatan dan perlengkapan memasak serta cara memasak demi menghasilkan makanan yang tak sekadar sedap di lidah, tapi juga memenuhi apa yang diharapkan pikirannya. Misalnya, karena kondisi perang tak mungkin para pejuang dapat sesuka hati memasak sehingga mereka yang bekerja di bagian dapur menciptakan makanan portabel, yang bisa dibawa ke mana-mana dan dapat langsung dimakan, lalu dibikinlah lemper atau arem-arem atau jenis makanan lainnya yang bisa langsung dilahap. Begitupun untuk perjalanan panjang melalui sungai atau laut yang memerlukan bekal yang awet, maka dibikinlah rendang.

Mengapa kita makan tentu karena lapar, tapi untuk apa kita makan tidak bisa lantas dijawab agar kenyang. Ada berbagai tujuan saat kita makan, dan dapat berbeda-beda pula setiap kali makan. Pertanyaannya, seringnya kita makan untuk apa? Apakah demi hasrat lidah atau untuk tujuan-tujuan tertentu?

Adam dan Hawa memakan buah terlarang untuk meraih tujuan sebagaimana yang diimingkan iblis. Nyatanya mereka terkecoh. Kisah kejatuhan mereka mengajarkan agar sebelum dan ketika makan kita sebaiknya mengingat Tuhan. Tidak sekadar untuk mensyukuri makanan yang hendak dilahap, tapi untuk direnungkan pula sejatinya kita makan untuk apa.

Terkait Tuhan, maka makan yang paling baik adalah makan yang diniatkan agar bisa beribadah, baik ibadah ritual (sesuai dengan keyakinan Anda) maupun ibadah sosial (berbuat baik pada seluruh makhluk). Dan bulan ramadan menyediakan kesempatan untuk itu: makan sahur untuk beribadah puasa sepanjang siang dan makan saat berbuka untuk beribadah di malam hari.

 

Yogyakarta—Cirebon, 18 Juli 2017

 

 

*gambar adalah lukisan karya Mick Mcginty

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *