[Ngibul #15] Bertikai di dalam Kedai

Posted: 15 May 2017 by Asef Saeful Anwar

kedai

Seorang pendekar tidak akan dapat menemukan tempat pertarungan yang sedang dituju bila ia tidak singgah di sebuah kedai seperti halnya pendekar lain yang tidak akan menemukan seseorang yang telah membunuh keluarganya tanpa mampir di sana. Dan di kedai, seorang pendekar dapat unjuk kebolehan ketika ada penjahat yang macam-macam dengan pelayannya. Kedai memiliki posisi yang amat penting hingga kehadirannya seolah menjadi kewajiban bagi setiap film silat Indonesia. Setidaknya ini terlihat dari beberapa film seperti serial Tutur Tinular, Wiro Sableng, Si Buta dari Goa Hantu, Si Jampang, dan Jaka Sembung.

Sebagaimana musabab keberadaannya, kedai dibangun sebagai tempat makan dan/atau minum untuk istirahat barang sejenak. Ia hadir di tengah jalur perjalanan atau di tengah pasar. Posisinya yang ada di tengah mengindikasikan fungsinya sebagai pusat informasi bagi mereka yang tengah dalam perjalanan atau bagi mereka yang beristirahat dari pekerjaan. Bagi yang pertama, informasi yang diperlukan adalah tentang arah menuju daerah yang hendak dituju, sementara bagi yang terakhir informasi yang dipertukarkan adalah seputar peristiwa yang baru atau akan terjadi. Bercakap-cakap di kedai seolah menu pelengkap dalam sebuah laku istirahat.

Pemilik kedai umumnya orang awam dalam dunia persilatan. Artinya, mereka tak pandai ilmu silat, bahkan ber-silat lidah sekalipun mereka tiada cakap. Kalau pemiliknya lelaki, pastilah ia memiliki anak perempuan yang membantu melayani, yang terkadang digoda pendekar berangasan dan ditolong pendekar budiman. Kalau pemiliknya perempuan biasanya ia memiliki pelayan-pelayan yang sengaja menggoda pelanggan. Fungsi pemilik/pelayan kedai seringkali sebagai tempat bertanya orang yang singgah. Percakapan antara mereka dengan orang yang singgah di kedai senantiasa serius dan tidak ada basa-basi pertanyaan tentang kabar, apalagi bila yang singgah adalah para petualang atau pendekar yang akan menghadiri sebuah ajang adu raga.

Orang yang datang ke kedai tak pernah ditanyakan mau makan atau mau minum apa, seolah di setiap kedai hanya ada satu menu makanan dan minuman. Bahkan, dalam beberapa film terlihat orang yang datang ke kedai langsung disuguhi minuman dan dibiarkan memilih apa yang hendak dimakannya. Di sisi yang lain, para pengunjung juga tidak menanyakan menu apa yang ada di sebuah kedai. Mereka hanya memesan jika tak langsung disediakan oleh pemilik kedai.

Masyarakat masa kerajaan dulu digambarkan belum banyak mengenal menu makanan—kecuali di istana raja—hingga di setiap kedai menyediakan menu yang serupa. Para pengunjung kedai juga tidak pernah bertanya soal harga makanan, malah kadang setelah selesai makan dan minum mereka menaruh atau memberi beberapa kepeng uang lalu pergi seolah harganya serba pas dengan uang yang dikeluarkan dari kantong atau sela lengan baju (cara menyimpan uang dalam lengan baju ini adalah salah satu kesaktian para pendekar yang juga jarang dibahas!).

Para pengunjung kedai lebih sering bertanya daripada mengunyah makanan. Kalau pemilik atau pelayan kedai tak mengetahui informasi yang ditanyakan, biasanya pengunjung lain yang akan menjawab. Ia bisa seorang pendekar yang memiliki tujuan yang sama—dendam terhadap orang yang sama atau hendak berlaga di arena yang sama—atau orang awam yang kebetulan tahu tentang informasi yang ditanyakan.  

Mereka yang singgah di kedai dapat dibedakan menjadi tiga jenis, yakni warga awam (tentu dalam hal silat), para pendekar, dan pejabat kerajaan. Orang awam akan menjadi objek kekerasan yang dilakukan pendekar berangsan sekaligus dapat menjadi penyebar berita tentang kehebatan seorang pendekar budiman bila ia diselamatkan. Sementara itu, pejabat kerajaan amat jarang hadir di kedai. Kalau pun hadir dan menyaksikan pertarungan, mereka memilih tak ambil bagian. Mereka menunggu pertarungan selesai dan menawari pendekar yang menang untuk bergabung menjadi pasukan kerajaan.

Film silat Indonesia belum menunjukkan adanya penarikan pajak oleh istana kepada pedagang. Adegan-adegan penarikan pajak untuk kerajaan seringkali ditujukan untuk mereka yang memiliki tanah pertanian dan warga yang memiliki hewan ternak. Strata ekonomi yang ditunjukkan film silat Indonesia seolah menaruh pedagang dalam posisi yang lebih rendah daripada petani dan peternak karena tiadanya adegan pengambilan pajak atau upeti.

Secara garis besar, kedai dalam film-film silat Indonesia lebih banyak dihadirkan karena kebutuhan alur tanpa pendalaman mengenai bagaimana keadaannya bila dikaitkan dengan latar waktu yang digunakan oleh film terkait. Sebagaimana diketahui, dalam film-film silat Indonesia, baik yang menceritakan masa kerajaan Hindu-Budha, kerajaan Islam, maupun masa penjajahan, bangunan kedai dan makanan serta minuman yang disediakan di dalamnya hampir sama seluruhnya.

Bangunan kedai banyak digambarkan terdiri dari atap rumbia, bambu penyanggah, meja saji, kursi, pelita, dan meja makan. Adapun makanan yang tersaji di atas meja adalah; sayuran, ikan, ayam, nasi, gorengan, dan singkong rebus. Beberapa menyediakan nasi juga. Buah segar disajikan di atas meja saji—untuk pisang biasanya digantungkan di sebuah tiang. Tuak ada di wadah bambu sementara air putih ada di kendi. Gelasnya terbuat dari potongan bambu atau tanah liat. Sementara piringnya berupa cobek. Semua hal itu ditampilkan dalam setiap film silat Indonesia tanpa ada kekhasan zaman yang menjadi latarnya.

Dalam film-film silat Indonesia, kedai tidak sekadar menjadi tempat istirahat, tetapi lebih banyak dijadikan tempat perselisihan yang berujung perkelahian. Ia tak ubahnya arena unjuk kehebatan para pendekar. Sangat jarang kedai dimunculkan sekadar tempat makan dan istirahat. Hampir pasti kedai akan dihancurkan oleh pertarungan antar-pendekar. Kalaupun kedai itu tak hancur, maka barang-barang yang ada di sana, baik makanan maupun meja-kursi, akan dibuat berantakan, seolah menjadi penanda kerasnya dunia persilatan masa itu. Hanya dari apa yang tengah terjadi di kedai, kita dapat mengerti manakah pendekar gadungan dan pendekar sejati.

Sampai sekarang, sepengetahuan penulis belum ada film silat Indonesia yang memusatkan alur ceritanya pada keberadaan kedai di tengah lintasan para pendekar. Padahal, permasalahan sekitar kedai menarik untuk diangkat dalam sebuah alur cerita silat. Seberapa sering para pendekar berangasan mengancam nyawa pemilik kedai hanya untuk mendapatkan menu gratis? Bagaimana siasat pemilik kedai untuk menghadapi mereka? Apakah ada pemilik kedai yang pernah menaruh racun dalam minuman mereka? Masakah tidak ada satu pun pemilik kedai yang belajar ilmu silat untuk menjaga usahanya? Bagaimanakah sikap para pendekar ketika mendapati harga makanan yang naik dan bagaimana para pemilik kedai menjelaskan kenaikan harga? Atau jangan-jangan selama masa kerajaan memang tidak pernah ada kenaikan harga?

Semua itu dimungkinkan terjawab bila ada cerita mengenai seorang pendekar yang memutuskan keluar dari dunia persilatan dan memilih membuka kedai untuk menyembunyikan kepakarannya dalam ilmu silat. Sungguh, menarik bila kita menyaksikan seorang pendekar yang justru dibuat pusing oleh harga bahan makanan yang naik daripada ketika menghadapi naiknya kaki lawan yang siap menghantam mukanya.*   

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *