[Ngibul #10] Waktu dalam Akhiran

Posted: 10 April 2017 by Asef Saeful Anwar

Dari Sebuah Janji

Suatu waktu, teman saya berjanji untuk bertemu dengan mengatakan: “jam 11-an (sebelasan) ya”. Saya datang pukul 11.05 lalu menunggunya sampai pukul 11.30. Ia tidak kunjung datang, saya pun meninggalkan tempat pertemuan. Sekitar 5 menit setelah meninggalkan tempat pertemuan, ia mengirim pesan pendek bahwa ia baru sampai. Saya tak membalasnya. Sampai beberapa lama kemudian ia mengirim pesan pendek lagi dengan nada marah kalau ia telah lama menunggu, tetapi saya tak kunjung datang. Tentu, saya tidak membalas pesan itu karena kemarahan saya lebih besar darinya, yang tidak akan cukup ditampung sebuah pesan pendek.

Sampai kemudian kemarahan itu reda setelah sadar bahwa apa yang terjadi di antara kami hanyalah kesalahpahaman. Kesalahanpahaman terhadap akhiran “-an” dalam penentuan jam pertemuan. Bagi saya, akhiran “-an” dalam jam 11-an (sebelasan) adalah waktu antara pukul 11.00 sampai dengan 11.30. Selebihnya, penyebutan waktu harus menggunakan “jam 11.30 (setengah dua belas)” atau “jam 12 (dua belas) kurang”. Mungkin, di benak teman saya, “jam 11.30” masih dalam koridor “jam 11-an” sehingga dia merasa tak bersalah datang pada waktu sekitar itu. Lalu, siapakah yang benar di antara kami? Tidak ada. Tidak ada yang salah pula karena tidak ada konvensi waktu yang baku di negeri ini yang mengaturnya dalam akhiran “–an”.

Mari kita simak beberapa contoh akhiran “–an” yang menunjukkan waktu. Dalam kisaran jam ada “jam 11-an” atau “15 menitan”, di kitaran bulan ada “tanggal 10-an” atau “tanggal 20-an”, dan pada pusaran tahun ada “tahun 1990-an” atau “tahun 2000-an”. Untuk ukuran jam dan tanggal, kita kerap mendengar akhiran “–an” dalam percakapan, sedangkan untuk ukuran tahun akhiran “-an” sering didapati pada sejumlah tulisan (utamanya pada buku-buku yang tidak menggunakan jasa editor bahasa). Ketiganya digunakan untuk mengungkapkan waktu masa lalu dan masa mendatang dalam sebuah perjanjian.

Penentuan waktu dengan menyebut jam dengan akhiran “–an” sejatinya masih perlu dirumuskan. Misalnya, “jam 11-an”, apakah waktu itu adalah dari pukul 11.00 sampai 11.59? Bukankah, kita kerap menyebut “jam 11.55” dengan “jam 12 kurang”? Bahkan, kita sudah menyebut “jam setengah 12” ketika jarum jam menunjuk pukul 11.30. Lalu, sampai mana batasan waktu “jam 11-an”? Dalam hal menit, kerap kali kita menyebut “15 menitan lagi ya kita pergi” atau “kita tunggu 10 menitan lagi ya”. Apakah yang dimaksud dengan penyebutan keduanya? Kenapa tidak “15 menit” atau “10 menit” saja? Apakah “15 menitan” berarti mencakup menit ke-16 sampai ke-19 karena kita kesulitan menyebut “19 menit lagi ya” dengan standar batasan “15 menitan” itu adalah menit ke-20. Apakah benar menit ke-20 itu batas dari “15 menitan”? Apa batasannya?

 

Masih Manual

Barangkali batasan itu ada pada koridor waktu yang ditunjukkan angka dalam jam manual yang menggunakan jarum sebagai penunjuk waktu. Angka di dalam jam tersebut terdiri dari 1 hingga 12 dengan masing-masing jarak antara satu angka dengan angka lainnya dalam kisaran jarum menit berselisih 5 (lima), maka kerap kali kita mengucapkan angka dalam kelipatan lima tersebut seperti 10, 15, 20, dan seterusnya. Angka-angka di antara kelipatan itu tidak pernah ditampakkan atau disebutkan, dan seperti diganti dengan akhiran “–an”. Namun, apakah kita pernah sepakat akan hal itu?

Apalagi jika kita menyadari keadaan masa kini ketika jam manual yang masih menggunakan jarum—yang menjadi standar penentuan waktu itu—jumlahnya sudah lebih sedikit daripada penunjuk waktu yang ada di ponsel, gawai, arloji digital, dan perangkat-perangkat lainnya. Jika demikian, apakah tidak sebaiknya kita kini mulai menyesuaikan diri dengan menggunakan standar digital yang menitnya lebih detail? Namun, apakah kita akan berani meninggalkan kolega, kawan, istri, pacar, atau simpanan, ketika tidak tepat waktu dalam suatu pertemuan hanya dalam hitungan menit? Ah, bukan, sepertinya bukan itu pertanyaannya, tapi ini: apakah menit dalam setiap jam di negeri ini sudah disamakan? Apa patokannya? Dan siapkah kita selalu datang tepat waktu di tiap janji?

Rasanya, hal itu masih sulit untuk diwujudkan, dan saya pun masih bertanya-tanya apakah hal itu perlu diwujudkan? Mengingat di antara kita masih menggunakan standar waktu yang tidak pula bergantung jam. Bukankah masih banyak di antara kita menunggu sesuatu dengan patokan-patokan tertentu? Seperti standar kebiasaan: “satu batang rokok lagi ya kita pergi” atau standar instingtual: “tunggu nasinya turun ya”.

 

Memori yang Rapuh

Suatu kali, saya bertanya tentang jadwal sebuah acara kepada panitia terkait yang dijawab dengan: “acaranya sekitar tanggal 27-an”.  Tentu, saya kebingungan mendapati jawaban itu mengingat tanggal 27 hanya ada satu di kalender mana pun. Namun, kesalahan penyebutan seperti ini juga tampak dalam buku-buku yang menyebutkan angka tahun. Misalnya, “peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1991-an”. Padahal, tahun 1991 hanya ada satu (kecuali lain pedoman penanggalannya).  Kalau memang terjadi pada sebuah bulan di tahun tersebut, tak perlu menggunakan akhiran, cukup “peristiwa itu terjadi sekitar tahun 1991.”

Baik kasus pertama maupun yang kedua, kesalahan terjadi karena memori yang rapuh. Untuk kasus pertama penyebutan waktu acara tanpa melihat jadwal acara, sedangkan kasus kedua terjadi karena ketidaktekunan mendalami data. Mungkin apa yang dimaksud “tahun 1991-an” adalah suatu waktu yang terdapat dalam tahun 1991 di bulan, minggu, hari, dan jam tertentu. Tentu, kesalahan seperti ini sebaiknya dihindari dengan memastikan kapan waktu terjadinya peristiwa yang dimaksud karena keakuratan data selalu berbanding lurus terhadap kualitas suatu karya ilmiah.

Dibanding kedua contoh di atas, apa yang sering ditemui dalam buku-buku adalah penyebutan tahun dengan akhiran “-an” dalam kelipatan sepuluh. Misalnya, “tahun 1980-an”, “tahun 1990-an”, dan “2000-an”. Untuk angka tahun yang pertama dan yang kedua, mungkin dapat dipahami sebagai seluruh tahun berbatas angka puluhan yang ada di belakang ratusan. “Tahun 1980-an” berarti berlaku sampai tahun 1990, dan sejenisnya. Anehnya, kita sudah memiliki istilah untuk angka puluhan tahun, yakni “dekade”. Maka, patut dipertanyakan apakah jika ada suatu buku mengaku meneliti suatu peristiwa di “tahun 1980-an” apakah benar-benar satu dekade atau hanya tahun-tahun tertentu pada dekade tersebut. Barangkali, imbuhan “-an” ini menjadi kompromi penulisan agar peneliti tidak terbebani satu dekade penuh padahal ia hanya meneliti tahun-tahun tertentu saja.

Akan tetapi, kasus seperti ini akan menjadi berbeda pada angka tahun seperti “angkatan 2000-an” (dalam kasus lain, banyak pula yang menyebut “tahun 1800-an” atau tahun 1900-an”). Angka ini menunjukkan bilangan ribu yang rentangnya memiliki angka ratusan di belakangnya. Jika batas tahun 1980 adalah tahun 1990, apakah batas tahun 2000 adalah tahun 2010? Mungkinkah kita selama ini menyandarkan imbuhan “-an” untuk mewakili bilangan dalam kisaran puluhan karena di tiap kelipatannya mengandung angka dari 1 hingga 9? Sekali lagi, batasan dalam penyebutan waktu ini belum jelas.

 

Ketidakjelasan dan Ketidaktegasan

Ketidakjelasan tentang batasan waktu yang diwakili akhiran “-an” dalam suatu perjanjian atau penulisan tentang suatu masa tersebut setidaknya menunjukkan sejumlah hal. Pertama, dalam hal pengucapan janji, ada ketidaktegasan dalam menentukan waktu, yang dapat saja disebabkan oleh (1) tidak berminat untuk bertemu, karena (2) menganggap pertemuan itu tidak penting, sehingga (3) tidak penting apakah kedatangannya nanti tepat waktu atau tidak.

Kedua, dalam penyebutan angka tahun, ada keragu-raguan tentang waktu yang telah lampau karena menggampangkan masalah sehingga suatu peristiwa yang terjadi di jam, hari, minggu, dan bulan tertentu hanya disebut dengan angka tahun yang memuatnya saja dengan tambahan akhiran “-an”.

Barangkali kita memang masih gagap menentukan masa lalu sehingga gamang memutuskan masa depan. Demikiankah?

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *