[Ngibul #0] Segera Hadir

Posted: 19 January 2017 by Redaksi Kibul

Kibul.in dibentuk oleh lima manusia yang gagal mewujudkan cita-cita menjadi Power Rangers karena terus-menerus berebut peran ranger merah dan tidak ada yang mau menjadi ranger hitam. Pada akhirnya mereka sadar kalau tidak ada perempuan di antara mereka sehingga mustahil membentuk Power Rangers.

Oleh karena itu, mereka memutuskan membuat Kibul.in dengan tujuan yang jauh lebih baik—selain membela kebenaran, juga menyebarkan—dan lebih gentle—karena tidak memakai topeng.

Kibul.in digagas dengan niat mewadahi keresahan pada kehidupan masa kini yang dominan mengutamakan permukaan. Gambar lebih banyak dibuat dan dilihat daripada kata-kata yang ditulis untuk dibaca. Kalaupun ada, kata-kata tersebut hanyalah kilasan perasaan dan pikiran tanpa ada permenungan sebelumnya. Selain itu, kata-kata juga banyak yang mati, hanya hidup sebagai bahan promosi produk yang posisinya menerangkan gambar, bukan hadir sebagai dirinya sendiri.

Kibul.in diharapkan menjadi ruang bagi permenungan akan kehidupan masa kini melalui kata-kata. Apa saja boleh dituangkan di sini, syukur-syukur kamu bisa melihat sesuatu yang berbeda dari kehidupan ini.

Jika orang lain memotret buku yang baru mereka beli—dan kita tidak tahu apakah mereka kelak membacanya atau tidak—kamu bisa menceritakan pengalamanmu membaca sebuah buku, itu jauh lebih berharga daripada memotret buku yang semua orang bisa melakukannya dan keindahannya bergantung resolusi kameranya, bukan kecanggihan otak manusianya.

Jika kawanmu memotret kekasihnya dengan beragam gaya, atau berswafoto berduaan, dan disebarkan ke media sosial, kamu bisa mendeskripsikan kekasihmu dengan lebih baik melalui puisi atau cerpen, dan tidak hanya itu, kamu juga bisa mengungkapkan sejatuh apa hatimu, sebebal apa rindumu, selangit apa harapanmu, bahkan dapat pula kamu narasikan percintaan kalian, yang mungkin lebih syahdu daripada kisah cinta yang pernah ditulis.

Jika kamu sakit hati melihat kantin kampusmu, kafetaria, atau warung kopi yang pengap oleh debat kusir yang kritiknya menggaruk-garuk langit, lalu kupingmu kumuh oleh orang lain yang baru ikut kuliah Pengantar Filsafat tapi bicaranya dari Habermas sampai Derrida, namun sia-sia dan dilupakan setelah satu-dua gelas es jeruk, kamu bisa lebih progresif dengan meringkasnya lewat esai santai, menyempurnakan diskusi kusir-kusir tadi. Siapa tahu ada yang jatuh cinta padamu lebih karena keabadian pemikiranmu daripada karena foto profil facebookmu.

Kalau kamu bosan dengan cinta karena dapat mengingatkanmu pada mantanmu atau pada kemesraan kawanmu yang kamu pikir lebih bodoh dari kamu tapi punya pacar kece, tulislah puisi atau cerpen tentang lingkungan yang makin hari makin tak diperhatikan, tentang pemulung yang kehujanan, tentang budaya hedonis kawanmu yang sebenarnya kamu pengen melakukannya tapi nggak punya uang, tentang warung-warung tetangga yang mulai tutup, tentang sawah-sawah yang tak punya pewaris, tentang kondom yang satu rak dengan kembang gula, tentang waktu yang hilang dalam arloji di lengan, tentang laba-laba yang berharap jadi spider-man, tentang anak SMP yang masuk toko obat kuat, tentang rumah yang tak memiliki kalender dan jam dinding, tentang jari yang tak bisa dikendalikan otak, tentang lubang jarum dan benang kusut, tentang….tentang apa pun, tulislah dengan sedalam perasaanmu dengan sedingin pikiranmu.

Jika kamu telah menuliskannya, Kibul.in akan turut merayakan dengan menerbitkan dan menyebarkannya. Selain itu, kami juga menerima tulisan lainnya yang masih berkitar dalam ranah sastra, seni, dan budaya. Mengapa begitu?

Sastra, seni, dan budaya seringkali dianggap sebagai sesuatu yang serius, adiluhung, dan bahkan suci. Anggapan itu tidaklah salah sepenuhnya, tapi akan menjadi buruk apabila anggapan tersebut justru menjauhkan manusia dari penghayatan akan ketiganya. Nah, Kibul.in salah satu tujuannya adalah mengajak kamu—terutama anak muda—menghayati sastra, seni, dan budaya dengan mencairkan pendekatan kepada ketiga entitas tersebut secara asyik.

Demikian sekadar perkenalan dari kami.

 

Salam Ngibul

Awak Kibul.in:

Andreas Nova, Sarjana Sastra yang tersesat di rimba teknologi informasi. Bekerja di sebuah PTPMA di Yogyakarta, sembari menggeluti dunia desain grafis. Pernah aktif di industri konveksi.

Ari Bagus Panuntun, Sarjana Sastra Prancis UGM dan akan melanjutkan studi master di bidang kajian sastra Prancis modern di Aix-Marseille University, Prancis. Saat ini tekun mengkaji sastra francophone dari benua Afrika.

Fitriawan Nur Indrianto, menempuh pendidikan di Jurusan Sastra Indonesia dan Program Pascasarjana Ilmu Sastra FIB UGM. Beberapa puisinya dimuat di surat kabar lokal Yogyakarta dan tulisannya yang lain dapat ditemukan dalam Membaca Sinema Indonesia (2010), Belati Tembaga (2013), Pada Sebuah Kamar (2014), Distopia (2014),  Angin Apa Ini Dinginnya Melebihi Rindu (2015) dan Gelombang Puisi Maritim (2016). Beberapa tahun terakhir ikut mengurus Diskusi Sastra PKKH.

Olav Iban, kerani di Dispora Prov. Kalteng. Membantu mengajar kelas filsafat dan seni untuk STAKN Palangka Raya. Sesekali menulis opini di koran lokal. Fiksi pertamanya berjudul Indulgensia Bunda (Juxtapose 2011).

Asef Saeful Anwar, aktif menulis cerpen dan esai yang dimuat di sejumlah media massa. Bukunya Lamsijan Memutuskan Menjadi Gila (PSK.UGM 2014) dan Persada Studi Klub dalam Arena Sastra Indonesia (UGM Press 2015). Selain menulis dan menyunting buku, ia aktif mengajar di sejumlah kampus di Yogyakarta.

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *