(Sekadar) Omong Kosong Setelah Nonton John Wick 3

Film ini saya tonton pada sebuah malam di bulan Ramadhan, sebuah malam yang sebaiknya orang mengaji atau setidaknya menghapal kitab suci. Jadi, apabila saya berdosa karena membuang waktu yang demikian berharga alih-alih sebanyak mungkin beribadah, maka berdosa pula mereka yang menikmati resensi omong-kosong ini.

***

Omong kosong bagi penulis resensi yang mengatakan dialog dan aksi pada film ini disajikan berimbang, sebab nyatanya aksi lebih lebih padat dibanding dialog. Justru muatan dialog yang sekedarnya namun mengena menjadi sesuai dengan genrenya, sebab tidak banyak buang kata-kata. Artinya tiap kalimat antar tokoh begitu efektif. Maka, ketidakseimbangan tersebut justru menjadi salah satu nilai plus Parabellum yang konon memperoleh reputasi “Fresh Tomattoes” versi Rotten Tomattoes, menggeser ranking teratas jumlah penjualan tiket Avengers pada awal-awal hari penayangan (meski untuk hal ini faktornya bisa bermacam-macam, seperti promosi, dll.).

Omong kosong pula jika dikatakan tensi ketegangan menurun pada pertengahan film. Saya rasa hal ini memang kesengajaan sutradara Chad Stahelski. Jikapun menurun, agaknya kurang pas jika disebut kekurangan. Maksud saya, banyak cerita menarik yang bermaksud menampilkan ledakan ketegangan di awal cerita. Kita ingat Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan, membuka cerita dengan kebangkitan tiba-tiba Dewi Ayu dari liang kubur setelah dipendam puluhan tahun. Ini teknik yang sama yang saya pakai dalam cerpen Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup, yang langsung diawali oleh adegan seorang lelaki sekarat, tak peduli letaknya masih di awal atau pembukaan cerita. Nah, teknik ini memiliki fungsi mengikat perhatian dan rasa penasaran penonton (atau pembaca, jika media cerita melalui tulisan) agar setia menikmati kisah hingga tuntas.

Melanjutkan omong kosong lainnya, yang bisa dikatakan sebagai kritik (karena saya bisanya juga cuma mengkritik, kalau bisa bikin film tentu saya sudah bikin film!), adalah adanya beberapa jeda atau ancang-ancang musuh sebelum menyerang John Wick. Saya menangkap detail jeda tersebut sebagai keraguan para stuntman. Saya berharap adegan aksi yang lebih alami (ada benar kata pujangga jomblo: kekecewaan hanya ada jika kita pernah berharap). Menimbulkan kesadaran kembali pada benak saya: ‘it’s not real, it’s just a movie’.

Oh, shyt! Yang tadinya sudah enak-enak hanyut mengikuti alur, tiba-tiba tersadar lagi oleh hal kecil.

Juga tentang bagaimana Bang Yayan Ruhiyan dan Cecep Arif Rahman memakai pisau karambit malah muncul sebagai anak buah pengguna katana. Kalau di Indonesia, kebanyakan berlaku filosofi lawas ‘makin pendek atau makin kecil senjata, maka makin mumpuni kesaktian penggunanya.’ Prajurit keraton yang pegang pedang lebih tinggi jabatannya dari prajurit yang pegang tombak. Yang pegang keris lebih tinggi dari yang pegang pedang. Lebih sakti lagi jika tanpa senjata, alias tangan kosong (ingat John Wick malah cukup pakai pensil dan buku).

Sedikit tentang karambit, menurut saya, kiranya juga bisa mengakibatkan luka lebih ngelu dibanding katana. Bentuk pisau yang menyerupai sabit mampu menciptakan setidaknya 2 jenis luka: sayatan jika terkena searah dari pangkal menuju ujung senjata, seolah bentuknya begitu memahami karakter kulit manusia yang elastis (bayangkan plastik yang tengah direnggangkan, tentu robekannya melebar jika tersayat). Juga jenis luka cabikan jika mata pisau yang lebih dulu terbenam di kulit. Ini jenis luka yang tidak bisa diakibatkan oleh katana.

Terakhir, apakah Indonesia ditampilkan ataupun tidak dalam perfilman dunia, saya sudah bangga pada seni bela diri Indonesia sejak dalam pikiran. Jika dalam film saja sekeren itu, bagaimana di kenyataan? Artinya, bukan pasar yang kecil juga kalau perhatian netizen Indonesia (sebagai salah satu pengguna media sosial terbanyak sedunia) disedot dengan menghadirkan Bang Yayan dan Cecep Arif Rahman.

Well calculated, isn’t it?

Titis Anggalih

Titis Anggalih

Lahir di Yogyakarta pada 1989. Belum pernah menerbitkan tulisan macam apapun. Belum pernah mencoba menulis cerita hingga awal tahun 2017 bertemu teman-teman peminat tulis-menulis (yang juga belum ada yang menerbitkan karya tulis apapun) dalam sebuah komunitas bernama OMAH AKSARA.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait