In Between Seasons: Pada Sebuah Rahasia

Posted: 21 July 2018 by Muhammad Ikhsan

In Between Seasons Book Cover In Between Seasons
Drama
2018
Hwanjeolgi
115 menit
Lee Dong-Eun
Bae Jong-Ok, Lee Won-Geun, Ji Yoon-Ho

 

Ada banyak kesadaran yang saya dapatkan saat menonton film ini. Di antara hal yang banyak itu, sedikitnya dua yang saya rasa penting: 1) tidak ada manusia yang tidak pernah menyimpan rahasia dalam hidupnya; 2) tidak ada manusia yang benar-benar mengenal manusia lain, bahkan sekalipun itu adalah hubungan antara seorang ibu dan anak yang telah sembilan bulan lebih dikandung dan kemudian dilahirkannya. Dan film ini mencoba mengungkapkan kedua hal itu dengan baik dalam balutan kisah keluarga, hubungan antara seorang ibu dan anak.

In Between Seasons sebenarnya lebih dulu diputar di Festival Film Internasional Busan yang ke-21 pada tahun 2016, dan sekaligus memenangkan penghargaan KNN Award di festival tersebut. Saya bersyukur karena film ini kembali tayang di Korea Selatan pada tanggal 22 Februari 2018, hingga akhirnya saya dapat kesempatan menontonnya juga (dengan cara yang ribet dan rumit, hehehe).

Setelah menelusuri internet, mencari informasi tambahan tentang film ini, baru saya ketahui ternyata In Between Seasons adalah film debut sang sutradara, Lee Dong-eun yang diadaptasi dari novel grafis berjudul sama karangan sutradara sendiri.

Di awal kita akan disuguhkan dengan adegan kecelakaan mobil di sebuah jalan tol. Suara sirene ambulan, silau lampu-lampu kendaraan, dan derap langkah kaki gusar dari petugas penyelamat dalam rintik hujan yang berupaya mengevakuasi kedua korban kecelakaan, membawa saya pada suasana muram dan membuat saya bertanya-tanya: “ada apa ini? Apa yang sedang terjadi?” di dalam hati.

Tiap-tiap adegan memang akan sedikit sukar dimengerti, sebab film ini memiliki alur penceritaan yang tumpang tindih antara masa lalu dan masa sekarang. Tapi lambat laun saya pun akhirnya menikmati rangkaian sebab-akibat yang disuguhkan. Kita akan mengenal tokoh utama Mi-kyung (diperankan oleh Bae Jong-ok), seorang ibu yang membesarkan anak laki-lakinya Soo-hyun (diperankan oleh Ji Yoon-ho) seorang diri, sebab suaminya (yang diperankan oleh Park Won-sang) merantau ke Filipina dan lama tidak kembali.

Adegan-adegan kecil ketika Mi-kyung berjalan sendirian saat berbelanja di pasar, atau sekadar singgah ke toko pakaian, atau saat Mi-kyung makan sendirian di restoran, memberikan saya kesan bahwa Mi-kyung menjalani kehidupannya dalam kesunyian. Meski ada tokoh pendukung Hee-yeong (diperankan oleh Seo Jeong-yeon)—saya kurang mengerti dan tidak jelas apakah Hee-yeong ini adik iparnya atau adik kandungnya yang kerap menemaninya dalam suka dan duka, bahkan dalam kegiatan sederhana seperti ketika Mi-kyung berbelanja bulanan, khusus sebagai supir, lantaran Mi-kyung tidak pandai mengendarai mobil.

Lalu ada tokoh utama kedua yang saya pikir paling banyak mengambil porsi dalam mengacak-acak perasaan saya, hehehe:  Yong-joon (diperankan oleh Lee Won-keun, saya suka kepiawaian doi memerankan karakter Yong-joon!). Kehadiran Yong-joon membuat Mi-kyung sedikit heran lantaran selama ini anaknya—Soo-hyun, tidak pernah memperkenalkannya pada satu pun teman yang dia punya. Mi-kyung yang nantinya tahu kalau ibu Yong-joon sudah meninggal karena bunuh diri jadi dekat dengannya. Apalagi Yong-joon sangat banyak tahu tentang Soo-hyun (mulai dari makanan kesukaan, lagu kesukaan, hobi, bahkan fakta unik kalau Soo-hyun punya aturannya sendiri dalam memilih pakaian) lebih dari yang Mi-kyung ketahui selaku seorang ibu. Lama-lama Mi-kyung seperti punya dua anak laki-laki, ini sebuah hubungan yang hangat dan mengharukan buat saya.

Tetapi semuanya berubah saat massa pedemo tersinggung karikatur dan mendatangi kantor redaksi sebuah majalah, haeeeh… tepatnya, semua berubah dan tak lagi sama saat kecelakaan yang menimpa Soo-hyun dan Yong-joon terjadi. Akibat kecelakaan tersebut Soo-hyun koma dan harus menjalani perawatan panjang di rumah sakit, sedangkan Yong-joon hanya mengalami luka-luka ringan dan dirawat sebentar di rumah sakit yang sama dengan Soo-hyun. Penyebab rusaknya hubungan antara Mi-kyung dan Yong-joon—yang seperti hubungan ibu dan anak itu, bukan karena kecelakaan yang sampai membuat Soo-hyun koma, tetapi karena sebuah rahasia yang pelan-pelan terungkap di antara mereka berdua.

Kecelakaan yang menimpa anaknya hingga koma, sebuah rahasia yang tak pernah Mi-kyung duga, ditambah fakta bahwa suaminya telah punya keluarga baru di Filipina membuat cerita di dalam film ini semakin bernuansa muram, khususnya bagi Mi-kyung. Sinematografi dari Lee Kun-sol yang pas dalam pengambilan gambar interior dan eksterior makin menambah kesan muram tersebut untuk leluasa memasuki hati saya, duuh! Meski beberapa adegan memang terkesan tidak kuat dan lambat, tetapi mengingat, In Between Seasons adalah karya debut dari sutradara Lee Dong-eun yang diadaptasi sendiri dari novel grafisnya, film ini sangat bagus dan layak untuk ditonton!

Menonton In Between Seasons ini mengingatkan saya pada film Prayers for Bobby (2009). Cerita kedua film itu tentu sangat berbeda, kesamaan terletak pada sudut pandang penceritaan yaitu tokoh seorang Ibu.

Apa yang paling diharapkan seorang ibu dari satu-satunya anak laki-laki yang dia punya? Tentu kehidupan yang layak, tercapainya cita-cita, terlebih kelak ketika anak laki-lakinya itu dewasa dan memilih pasangan hidup. Satu momen di mana anak laki-lakinya akan memperkanalkan dia pada seorang perempuan yang akan menjadi menantunya, istri dari anak laki-lakinya, dan ibu dari cucunya kelak. Seorang ibu pastilah senang memikirkan tentang menyaksikan pernikahan anak laki-lakinya, menjadi tuan rumah tempat pesta digelar, menyambut tamu yang berganti-gantian menyalami dan memuji betapa tampan anak laki-lakinya dan betapa cantik sang calon menantu saat mereka menjadi sepasang mempelai.

Tetapi tontonlah film ini, maka akan kau dapatkan sebuah pengetahuan baru, bahwa yang diinginkan setiap orangtua terutama seorang ibu terhadap anaknya hanyalah agar anaknya bisa selalu hidup bahagia. Itu saja, tak kurang dan tak lebih.

Pendapat Anda: