Anomalisa: Menilik Kedalaman Sisi Humanisme Melalui Film Stop Motion

Anomalisa Book Cover Anomalisa
90 menit
Duke Johnson, Charlie Kaufman
David Thewlis, Jennifer Jason Leigh, Tom Noonan

Apa yang membuat kita tertarik untuk menonton sebuah film? Apakah faktor pemain, cerita, kecanggihan efek visual, sisi kedalaman cerita, hidup tidaknya dialog setiap tokoh, kualitas akting pemain, saran dari teman, atau campuran dari semua? Kalau saya, sutradaranya.

Charlie Kaufman bukan nama sembarangan bagi saya. Ia tekenal dengan film-film yang mengangkat sisi humanis secara mendalam dan ciri khas gaya bertutur yang jenius. Itu membuat film-film Charlie Kaufman mudah terhubung dan dekat dengan satu bagian jiwa kita. Jika bukan Kaufman, barangkali enteng saja melewatkan film stop motion ini. Stop motion sering diidentikkan film untuk anak-anak; setidaknya itu yang saya yakini sebelum menikmati Anomalisa (2015). Begitu yakinnya hingga hampir-hampir saya menambahkannya sebagai salah satu rukun iman. Bahkan yang pertama terlintas dalam benak saya jika disebut kata stop motion adalah Shaun The Sheep (mbeeek !). Seanomali itu.

Di awal film, kita disuguhi layar gelap total dengan suara banyak orang mengobrol bersamaan, dengan tekanan yang sama, ritme yang sama, volume yang sama, dan bahkan (semua) suara orang itu sama. Itu berlangsung beberapa saat. Tokoh utama kita, Michael Stone, adalah seorang pakar customer service paruh baya yang berwajah kaku kalau bukan murung. Diceritakan ia sedang dalam perjalanan ke luar kota untuk keperluan promosi buku terbarunya. Jangan mengajaknya bicara karena cara dia menjawab bukan jenis gaya bicara yang menyenangkan. Beberapa menit awal itu sungguh membosankan. Tapi tunggu sebentar, saya beri sebuah petunjuk: jika Anda sudah merasa bosan padahal baru beberapa menit menonton Anomalia, itu justru artinya Kaufman berhasil menghipnotis Anda! Memang itu tema besar film ini, rasa bosan!

Setelah bosan, perasaan yang kita alami selanjutnya ialah keganjilan; selain Michael semua orang suaranya sama. Bahkan suara anak dan istri Michael dimainkan oleh pengisi suara yang sama dengan sopir taksi (Tom Noonan). Ada scene yang semua wajah orangnya juga sama. Baru sedikit terjelaskan secara tersirat melalui nama hotel tempat Michael menginap: The Fregoli. Delusi Fregoli adalah gangguan langka seseorang mengalami delusi yang merasa bahwa semua orang pada dasarnya hanya satu orang yang hanya berganti penampilan atau sedang menyamar (Wikipedia). Hingga akhirnya Michael tidak sengaja mendengar suara Lisa (Jennifer Jason Leigh) di lorong hotel. Suara Lisa berbeda dengan semua orang di dunia. Michael terkejut lantas mengajaknya berkenalan sekaligus bercinta pada malam yang sama. Lisa seakan keajaiban di tengah kebosanan dan kesepian yang parah.

Hmm… apa yang bikin suara Lisa berbeda dari semua orang?

Agar tak disebut spoiler, terutama jika Anda mulai tertarik nonton Anomalisa, saya hanya bisa bilang bahwa Lisa memiliki sifat yang tidak dimiliki orang-orang yang dikenal Michael. Sebuah ketidaknormalan (anomali) bagi kebanyakan orang namun justru kenormalan di mata Michael.

Sedikit tambahan saja, Anomalia memang film stop motion anti mainstream. Saya hampir tidak pernah terpengaruh oleh tontonan yang menggunakan adegan seks sekedar gimmick untuk menarik perhatian penonton. Tapi dalam Anomalisa, yang bahkan bukan diperankan oleh orang sungguhan, adegan seks bisa demikian menyentuh. Nilai kemanusiaan ternyata bisa diungkapkan dengan sedekat dan sesederhana itu: terkadang manusia membiarkan cinta kasih hilang dari dalam diri mereka ketika mereka dikendalikan oleh ketakutan yang membawa mereka pada kesepian.

Nah, tidak berlebihan jika Anomalisa dinominasikan untuk Film Fitur Animasi Terbaik Academy Award dan Golden Globe Award, juga menjadi film animasi pertama yang memenangkan Grand Special Jury Prize di Festival Film Internasional Venesia ke-72.

Titis Anggalih

Titis Anggalih

Lahir di Yogyakarta pada 1989. Belum pernah menerbitkan tulisan macam apapun. Belum pernah mencoba menulis cerita hingga awal tahun 2017 bertemu teman-teman peminat tulis-menulis (yang juga belum ada yang menerbitkan karya tulis apapun) dalam sebuah komunitas bernama OMAH AKSARA.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait