Surat Pernyataan

Posted: 11 February 2019 by Titis Anggalih

Perihal : Surat Pernyataan
Lampiran : 4 (empat) halaman

Kepada Yth. Segenap Asatidz Pengampu Pesantren.
Di tempat.

Yang bertanda tangan di bawah ini:

Nama : M. Sukri Fatahillah
Kelas : XII B IPA
No. Absen : 21

Dengan ini menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Kardi Kayun tidak bersalah dan tidak selayaknya dikeluarkan dari pesantren. Berikut saya sertakan kronologi peristiwa pada Hari Jumat pekan kedua Bulan April pada bagian lampiran.

Demikian surat pernyataan ini saya buat dan bersedia dikenakan sanksi apabila terbukti tidak menulis kejadian sebenarnya.

Yang membuat pernyataan,

M. Sukri Fatahillah

Kronologi

Hari Jumat pekan kedua di Bulan Agustus Kardi Kayun dikeluarkan dari pesantren, saya bersaksi adalah Hari Jumat yang sama ketika para pengampu pesantren, pemandu, dan segenap santri dipertanyakan keabsahan Salat Jumat berjamaahnya sebab secara celaka dipimpin oleh seorang imam salat yang tak juga sempat bersuci dari jilatan anjing Wak Sachi yang tak kalah celaka: meski Wak Sachi menamai anjing kampung itu dengan nama yang layak, yakni Pungki, saya bersama Kardi Kayun justru secara istikamah memanggilnya Hasu, dan barangkali Hasu tak begitu menyukainya hingga sekonyong-konyong mengejar kemudian meraih ujung sarung serta kaki saya dengan moncongnya persis saat saya belum juga sempat memasuki halaman masjid dan bertemu Ustadz Jafar Sodik yang segera menagih kesanggupan saya selaku santri budiman untuk menjadi imam pada kesempatan Salat Jumat siang itu. Sebagai santri budiman, lekas saya sanggupi amanah Ustadz jafar Sodik, tentu saja.

Itulah ketika Kardi Kayun tampil sebagai terlapor oleh Ummi Salmah selaku penguasa dapur pesantren, ditemukan meromok di balik deretan tungku dan bukannya mengikuti Salat Jumat berjamaah, tak sudi bagi Kardi Kayun mengikuti Salat Jumat dipimpin imam yang kaki kirinya terkena najis mughallazah secara positif, sebagaimana tak sudi pula sebagai sahabat karib melaporkan kelakuan yang bakal berakibat saya kehilangan citra budiman saya, setidaknya dihukum menguras selokan pesantren yang tersumbat.

Lebih dari itu, Kardi Kayun, meski berasal dari keluarga yang entah dan hanya atas kebaikan hati para asatidz berhasil diterima di pesantren ini, nyatanya tak sebodoh mimik asali yang selama ini ia tampilkan (selalu memakai setelan koko berkerut tak lebih rapi daripada handuk yang kusut). Maksud saya, hanya karena ia tak berani angkat bicara, nyatanya saya beberapa kali bersedia mewakilinya menanyakan sesuatu yang sejujurnya adalah pertanyaan cemerlang nan berkualitas hasil olah nurani yang bening Kardi Kayun sendiri, meski malahan berakhir dengan pujian serta kebanggaan tak pura-pura Ustadz Jafar Sodik kepada saya, bukan Kardi Kayun.

Apa boleh buat, bukan?

“Tidak semua pengetahuan menjadi ilmu, kecuali pernah dikerjakan dan diterapkan melalui pengalaman. Jika setidaknya manusia terdiri atas tiga hal: rasa, pikir, dan jasmani, maka pengalaman atau ilmu tentang hal apa yang mungkin menjadi batas terjauh sebuah ilmu yang jika pengalaman itu dialami oleh ketiganya maka tiada lagi ilmu sesudahnya?” Demikian pertanyaan itu pernah saya tanyakan pada Ustadz Jafar Sodik diikuti ekspresi kagum tak karuan beliau bagai telah saya menangkan Olimpiade Menghafal Qur’an tingkat dunia dan akhirat.

Pertanyaan itu mengawali pertanyaan-pertanyaan cerdas lainnya, bikin saya layak betul disebut budiman jika bukan pembelajar sejati sejak hari itu dan sesudahnya.

Pujian lain saya peroleh tak hanya dari Ustadz Jafar Sodik salah satunya atas tulisan saya berjudul ‘Sebaik-baik Manusia Ruang, Semulia-mulia Manusia Perabot’. Tulisan itu memenangkan lomba esai yang diselenggarakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan secara nasional pada tahun yang telah lalu. Nampak membanggakan kedua orang tua saya sebagaimana mengharumkan nama pesantren.

Walau saya telah berjasa membagi seperempat uang hadiah lomba kepada Kardi Kayun (sebab sejatinyalah ide esai berasal dari batok kepala Kardi Kayun), sebagai sebaik-baik teman saya patut berbangga lantaran apalah arti ide Kardi Kayun yang dalam berdebat saja hanya mampu menang jika ditandingkan dengan pohon ketapang, sebab tak banyak perbendaharaan kata nan gagu menyusun frasa apalagi menulis sebuah karya. Tak jadi soal, seperempat jatah hadiah tak begitu buruk, terbukti Kardi Kayun tak mengeluh mengenai itu dan pesantren beroleh nama baik yang layak.

Orang-orang mencintai esai itu, bagaimanapun. Terutama bagian pembukaan yang memikat dan mengikat, “…baik mereka yang kaya atau miskin, muda dan tua, sehat maupun sedang sakit, merasa bahagia sebagaimana pernah merasa sedih, doa yang dibaca dalam salat adalah sama: ‘alhamdulillahirabbil’alamin’, terkandung dalam Al Fatihah nan mulia.” Sebagian menganggap pembukaan itu semacam wahyu jika bukan bisikan langsung para malaikat, membuat sebagian orang bersyukur tiada putus dan menghafalkannya lebih lancar dari menghafal ilmu-ilmu fiqih. Anggapan yang mengada-ada.

Disadari, tanpa bantuan tulisan saya, tak seorang bakal tercerahkan dan ide-ide Kardi Kayun yang berharga bakal menguap seolah tak pernah ada.

***

“Mengapa surga dibanjiri sungai-sungai yang terbuat dari susu? Bagaimana kalau aku tak suka susu? Maksudku, apa kau pernah melihatku minum susu?”

“Kardi Kayun, itu kau, ya?” Saya bertanya sebab seseorang dengan sosok penampakan segelap bayang-bayang di tengah malam dalam hutan pastinya menimbulkan sensasi penasaran tak dibuat-buat.

“Apa surga tidak diciptakan untuk orang-orang yang tak suka minum susu? Atau bukan tentang susu sesungguhnya ayat itu bertema?” Sosok berbayang hanya bertanya mengenai sejenis pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban. Sejujurnya ada benar itu suara Kardi Kayun, menjadi misterius sebab Kardi Kayun tak pernah bicara lebih panjang dari tiga kata macam itu. Dan gagu, Kardi Kayun itu, sedangkan si sosok berbayang lancar bersajak lebih mirip penyair kawakan jika bukan pujangga terlatih dan andalan.

“Apa kabar sejak pengusiran dirimu dari pesantren, Kawan?”

“Bagaimana jika surga adalah tentang aliran itu sendiri, bukan apa yang mengalir? Tentang sifat atau kata kerja dan bukan kata benda?”

“Kau sedang menghukumku dengan kebingungan.”

“Apa Tuhan suka bercanda? Aku tak habis pikir. Kau habis, tidak?”

“Atau menghukumku dengan rasa bersalah.”

Percakapan itu segera berakhir secepat ayam-ayam jantan menggonggong dan Hasu berkokok, bersamaan dengan subuh yang sejenak bakal pasti. Yang tersisa selanjutnya ialah kesadaran bahwa pertemuan ganjil dengan Kardi Kayun tersebut sekedar mimpi dan orang-orang tua bijak pernah berkata bahwa sebagian mimpi tentu memiliki arti.

Itu tak dapat saya biarkan apalagi lupakan terkecuali menyampaikan kebenaran mengenai kronologi yang sejati. Dan atas kejujuran saya ini, kelak saya harap Kardi Kayun dimaafkan dan dibebaskan dari segala bentuk hukuman untuk kebingungannya meninggalkan Salat Jumat berjamaah yang berakibat pengusiran dirinya dari pesantren.

Demikian surat ini saya sampaikan, sebab sebagaimana orang budiman lainnya, penyesalan dan rasa bersalah adalah urusan yang menggelisahkan.***

Cerpen ini diikutkan dalam Lomba Cipta Cerpen Nasional, Pesantren Menulis 4 yang diselenggarakan Pesantren Mahasiswa An Najah Purwokerto pada tahun 2018


Pendapat Anda: