Sebuah Taktik Perang, Bersifat Pribadi

Posted: 18 September 2018 by Martina Ariel

Bebekel apa sampai kau begitu bebal dengan segala keinginanmu? Kau tidak pernah mengalami peperangan di desamu. Setahuku, perang tidak pernah dilangsungkan di pedesaan. Setidaknya, orang tuamu selalu mengatakan bahwa daun ketapang hancur karena digerogoti ketam, bukan terkena luncuran meriam sandang dari arah kota. Kau pun meyakininya. Desamu adalah sajak alam, alasan setiap insan membuat pondasi ingatan.

Aku, yang belum pernah kau ajak menikmati pokok kayu yang selalu kau banggakan, kau paksa untuk ikut larut dalam nuansa alam yang masih menggantung. Aku selalu ingat ceritamu. Kau selalu bilang, berulang kali pula, pohon di desamu dapat mencapai tinggi lima puluh meter, diameternya hingga satu meter. Daunnya bersirip tunggal, dengan bentuk bundar telur. Warnanya cokelat merah karat. Buahnya bersudut lima. Hingga aku mengamini segala keputusanmu, jangankan bentukannya, bau pohon itu pun tak pernah bisa muncul dengan baik di batang bayanganku.

“Itu pohon apa?”

“Sampai setua ini, aku juga tidak tahu itu pohon apa. Orang tuaku hanya bilang, namanya Ketapang”

“Tapi Ketapang bukan begitu! Aku pernah melihat di Google.

“Ya sudah. Setidaknya, kita punya bahan perdebatan.”

“Kau belum pernah lihat pohonnya?”

“Belum. Aku hanya meyakini bahwa pohon itu memang ada. Kalau aku pulang nanti, yang pertama kulakukan adalah memeluk pohon itu. Menyadap getahnya. Kudiamkan. Kubentuk lingkaran sejari manismu.”

“Macam-macam saja. Sekalian saja kau buat daluang untukku. Tulis lamaranmu untukku.”

**

Kami menikmatinya. Melantunkan satu kata, untuk kemudian dibahas, dan dibuktikan. Semuanya, termasuk cinta, kami benar-benar butuh pembuktian. Panjang lebar kami membahas perang dunia. Siapa yang kalah dan karena apa. Siapa yang menang dan karena apa. Sekaleng bir dingin, sebotol ciu murni, kenapa tidak? Makin tinggi, makin asyik. Makin tinggi, makin kami tahu sejauh mana cinta kami. Sebatas  cium mesra anak SMA, atau ditambah wawasan yang menggairahkan.

Aku sering mengeluh tentang pekerjaanku, dan dia sering bimbang kenapa uang tak selalu datang jika tak bekerja. Kami pusing. Ia menciumku. Obat lara paling mujarab. Aku menciumnya. Aku dipeluknya. Hangat. Rasanya runtuh semua keberanianku. Aku, yang selalu mengaku bahwa dunia akan selalu tunduk di bawah kakiku, tiba-tiba berubah menjadi dalu, buah yang terlalu masak, dan siap diremat habis.

“Bisa apa aku kalau kau tidak ada?”

“Kita harus begini. Berpisah sejenak. Kau harus selesaikan semua urusanmu, aku juga. Kewajibanku bukan tak penting untuk dikhatamkan.”

Giliran aku menyapa bibirnya. Mengapa sedih justru menyapa hasrat? Sekuat itukah tali batin kami diikat?

Semuanya menjadi berurat dan berakar di tempat yang seharusnya. Aku menggodanya. Mencoba untuk meraih kancing celananya. Menariknya kecil, sambil tetap mencium bibirnya. Siapa sangka bahwa kegembiraan juga bisa dihasilkan di atas ranjang reyot?

Aku suka bau badannya, ketika ia mengaku kalau hanya mandi sekali. Harum, campur sedikit bau matahari. Aku menciuminya, menikmati sisa racun tembakau di bibirnya. Jika saja aku tahu bahwa bahagia bisa semudah ini, tentu sudah kuiris bibirnya. Kubawa di dalam tasku, ke mana saja aku pergi. Jika sedih, aku tinggal mengeluarkannya. Kupagut mesra, kadang kasar.

Dia berbohong. Aku tahu dia sering berbohong. Dia sering bilang padaku bahwa ini pengalaman pertamanya dengan wanita. Tidak kugubris. Masa bodoh. Aku cemburu, tapi bahagiaku terlalu menumpuk ketika dihadapkan dengan bibirnya.

Aku rasakan tangannya di balik punggungku. Dia menarikku ke arahnya. Sedikit kasar, tapi jantan. Tangannya naik dan turun. Seperti buta aksara yang menjajakan koran, ia buta akan tubuhku, tapi tahu bagian mana yang harus disentuh. Ramah, tangannya berhenti di kancing kutangku. Tanpa usaha banyak, terbukalah penyangga dadaku. Aku menikmatinya.

Tegang, sama dengannya.

Senyumku mewakili semuanya.

**

Kabar perang yang selalu menghantui desa, membuatnya makin jauh ingin berlari. Namun tidak begitu situasinya. Kami sama-sama tahu, dia melarikan diri jauh-jauh dari keterikatan, bukan perang yang sering disembunyikan orang tuanya. Meski kalau mau jujur, dia justru sedang mundur. Mengulang segala keinginan masa kecilnya, untuk membahagiakan angan-angan. Berlari jauh, untuk mundur pada angan.

Pada bulan-bulan lalu, setelah dia merasa kalah, dan merasa kehilangan harga diri karena tak kunjung mendapati kepastian hidupnya, aku masih mencium bau kesombongan dari mulutnya. Dia masih saja bergumam tentang lagu  folk dan kejayaannya. Tidak terlihat aneh di depan kawan sejawatnya, tentu saja. Justru yang tertangkap adalah kesan bahwa ia berhasil melakukan apa saja yang diinginkan manusia sebayanya. Orang tua yang kaya, tanggung jawab yang selalu selesai, wanita yang tak pernah berhenti memuja, kenalan penting yang membuatnya memiliki jaringan berharga, apa saja yang membuat semua orang menjadikannya kaca.

Tidak bagiku.

Dia mengacak rambutku, dan ketika itu juga, dia kehilangan separo bendera kejayaannya. Aku merasakannya. Bendera yang berhasil dikibarkannya, sobek bersama rasa khawatirnya. Badannya yang tinggi besar bagaikan patung maskot kapal, mematung begitu saja. Angannya makin jauh. Terbentur asa dan rasa.

Aku bisa bagaimana?

Malam kami semakin lama semakin habis. Langit kami sebentar lagi akan berbeda. Ketika aku melihat matahari, dia baru bersiap tidur. Ketika badanku sudah lelah, dia baru memulai hari. Pertemuan kami terhambat benua.

Dia bisa bagaimana?

Perang yang diceritakannya, getah pohon yang dijanjikannya, sepertinya sengaja membawa kami pada masa depan, yang tidak sering kami bahas. Memang sudah benar begitu: kami harus berpisah sementara waktu. Akan ada hari, di mana kami semakin rindu, tapi tak tahu apa yang harus dilakukan untuk membunuh jarak. Aku tahu, bahwa ada masa di mana janji harus dibuktikan, seperti cerita-cerita yang pernah kami perdebatkan.

Kami bisa bagaimana?

Tidak seperti batang kayu yang selalu tak berhasil kubayangkan, aku bisa mencium bau rumah kayu yang ingin kami bangun. Sebuah rumah di perbatasan, dengan atap tinggi di bagian tengah, dan atap sedikit lebih rendah di bagian kamar. Panggilan surau mungkin tidak akan kami dengar dari jarak dekat, pun dengan lonceng gereja. Dari kejauhan, kami bisa melihat kembang kuning dan pantat burung megal-megol dari jendela bundar yang tak biasa dibangun di tempat asal kami. Jendela itu seperti turbin tanpa kain penutup. Biarkan saja semua terbuka lebar. Biarkan dunia pada akhirnya melihat kami berdua menang atas perang yang berkecamuk di pikiran kami masing-masing. Kami ingin menari di dalamnya.

“Apa sekarang kau merasa lebih baik?”

“Asal bibir dan kemaluanmu masih tegang, aku baik-baik saja”

“Sesederhana itu?”

“Iya. Kalau kau pulang, dan bau wanita lain, apa jari manisku masih sudi kau pasangi getah pohon sesuai janjimu?”

“Kau tahu, aku madat.”

“Saat kau belum pulang, aku akan cari pohon yang kau ceritakan. Akan kusuntikkan apiun ke dalamnya. Kau tak akan tahu, bahwa getah kering yang kelak akan kau pasang di jariku, menjadikanmu pemadat ulung, atasku.”

**

Pendapat Anda: