Orang Gila yang Sesekali Memikirkan Kenangan

Posted: 6 November 2018 by Aflaha Rizal

Barangkali, seperti itulah ketika kita melihat orang-orang gila yang setengah kehidupan mereka yang membuat kita bertanya-tanya: apakah tetap hidup dalam keadaan gila dengan putusnya kepala yang berakal, atau mati bunuh diri? Kita melihat orang-orang gila di kota maupun di perkampungan yang tidak pernah bermain ke kota, atau memang mereka hidup dalam pelukan kampung mereka yang sunyi dan sepi. Beberapa kali aku datang ke tiap kampung untuk menikmati sunyi semilir angin yang mengurai tiap-tiap mataku dan dadaku.

“Bagaimana orang gila mampu bertahan hidup?” tanyamu. Kau, seorang perempuan yang berkali-kali menemukanmu dalam keadaan mabuk. Kau mabuk dalam bir alkohol tinggi, begitu juga aku. Aku tengah mabuk di saat aku menceritakan cerita perihal ini. Dengan kepala yang pusing dan banyak hal ganjil keluar dari kepalaku, kepadamu.

“Perihal mereka bertahan hidup,” aku berdehem, merapikan tenggorokan dari penghalangan setiap bicaraku. “Mereka hidup hanya tidur-tiduran, lalu makan sisa dari orang lain yang dibuang ke tempat sampah, lalu buang air kecil dan besar.” Hanya itu. Mungkin, kau tahu bagaimana alur hidup orang gila yang setiap hari datang di jalan-jalan, rumah-rumah, dan kota yang pernah kita lewati di tiap sibuknya kerja dan sekolah. Orang-orang tidak peduli, selain egosentrisme mereka sendiri yang berakal sehat. Tetapi, mereka juga bisa gila, salah satunya, gila kekuasaan dan jabatan lalu uang yang menyerangnya.

“Apakah bertahan hidup mereka ada yang lain?” tanyamu kembali. Aku pernah menyisipkan satu cerita di dalam laptopku, ketika kutulis di kamar sepi bersama kopiku. Lalu kulanjut di perpustakaan kecil milik seorang temanku yang berkali-kali meneduhkan kesedihannya di tiap cangkir kosong. Ya, orang gila itu sesekali memikirkan kenangannya sendiri dan mengenangnya sendiri. Sebenarnya, orang gila di jalan tak sepenuhnya gila, melainkan masih dalam keadaan setengah waras. Termasuk kenangannya sendiri.

***

Orang gila itu, bernama Marlan, adalah orang gila yang telanjang bulat dan hitam kulitnya. Aku selalu melihat orang gila telanjang bulat itu menyusuri tiap jalan yang pernah membuat mata orang lain terpana sebagai tanda menjijikkan. Atau sarat kebencian melekat. Begitulah, ketika orang gila itu telanjang bulat berjalan kaki sendirian, orang-orang dan aku yang masih waras, akan menganggapnya gila. Tetapi, aku punya hal lain. Aku mencoba mendekatinya dengan satu kameraku yang tergantung. Barangkali, foto akan melahirkan sosok orang gila telanjang bulat yang belum pernah kulukiskan dan kuambil tangkapannya.

“Aku terkenang pada jiwa muda ini, sayangku. Duka dalam darah yang berkali-kali serupa peluru,” ia bersuara seperti itu. Tiap di jalan-jalan, atau ia tiduran di pinggir jalan saat malam telah mampir pada matanya untuk tidur. Orang gila, meski dalam pikiran mereka adalah orang yang tidak punya akal, mereka masih menikmati tidurnya di malam hari. Istirahatlah wahai gila, seperti itu slogannya yang kubuat sendiri. Kata-kata miliknya yang terlontar, serupa puisi yang tidak ditulis, dan langsung disuarakan bagi para pendengar.

Orang gila, masih mampu memikirkan perihal kenangannya sendiri, sebelum menjadi gila. Saat sedang waras dalam kepala dan tubuhnya. Saat gelombang besar belum mampu merusak seluruh dirinya yang menyebabkan ia gila. Atau gila di antara kehidupan yang penuh kegilaan. “Kekasihku, apakah kau menikmati cumbu itu dengan suami barumu? Apa ia puas padamu? Lalu bagaimana denganku?” ketika berangkat menuju kesibukan, dan pulang menuju haribaan keberatan, orang gila itu selalu menatap mataku dengan penuh duka.

Duka yang menelan dirinya sendiri, hingga berujung gila. Aku menduga-duga, barangkali ia gila karena perihal penyakit cinta yang selalu mendominasi pada sebuah penipuan. Cinta memang menipu, banyak yang terbunuh dan tidak mampu mengurai kebahagiaan. Serupa pembunuhan manusia, tetapi banyak yang rela berdarah. Ketika ia melihatku, aku tersenyum, memanggilnya sesekali. “Sudah minum kopi Mas?”

Ia hanya tersenyum saja. Tersenyum yang masih membekas di kepalaku. Senyum itu, senyum di antara jangkit kegilaan yang menimpa dirinya. Ketika kegilaan muncul dari lingkungan, senyuman adalah cara yang paling baik. Seperti manusia lain yang kutemui, yang bukan dari kalangan orang gila. Ketika pulang, orang gila itu masih terngiang-ngiang di kepalaku. Aku mengetahui namanya itu dari seorang lain, seorang penjaga warung yang pernah sesekali memberikannya minuman dingin padanya. Aku mengangguk, pada suatu itu, aku mengumpulkan keberanian untuk mendekatinya dan berbicara banyak padanya.

Esoknya, pada hal yang selalu kau ingat, di kota ini tak ada manusia waras yang mau berbicara dengan orang gila. Dengan tubuh tanpa sehelai kain menutupinya, dan rambut berantakan miliknya itu. Orang waras, akan menyimpulkan tak ada kerjaan jika berbicara dengan orang gila. Kau tahu bukan, di kota ini, orang waras bisa menjadi gila. Ia bisa melakukan hal lain demi kepentingannya sendiri. Seperti koruptor yang bersih wajahnya dan pakaiannya. Ia mampu menjadi gila dalam beberapa menit untuk mengkorupsi uang itu.

Ketika aku ingin mengetahui riwayatnya lebih jauh, Marlan, orang gila telanjang bulat itu, menatapku saat sampai di sebuah warung dan seorang penjaga itu yang tersenyum di sebuah lagu dangdut. “Selamat pagi,” kusapa ia dengan tersenyum. Kuputuskan untuk tidak pergi ke kota, perihal kesibukan dan jadwal yang tak boleh telat. Kuberi sepenuhnya untuk orang gila itu. Barangkali, aku bisa menulis obituary atau riwayat atau cerita mengenai perihal dirinya. “Selamat pagi,” kusapa kembali. Orang gila itu mulai menatapku, dengan menggaruk rambut kotornya sendiri dan tubuh tanpa sehelai kain.

Ia tersenyum. Jarinya menunjuk ke langit. “Iya, itu burung sedang terbang disana,” kuberi pernyataan padanya.

Lagi-lagi tersenyum. Ternyata, orang gila adalah sebuah kesabaran untukku dan memakluminya, dan harus menemaninya agar tidak menjadi manusia yang pemilih. “Langit itu, kemudian, bersedih dan menitihkan air mata serupa perempuan yang berkali-kali dihantam kesakitan pada sebuah harapan menuju ketidakpastian.” Aku berkata. Sebelah tanganku, memberi aba-aba kepada penjaga warung untuk mengambil minuman kaleng dingin. Diambilnya kemudian dua kaleng. Satu bir dingin untukku, dan satu minuman biasa untuknya. Akhir-akhir ini, bir adalah penyelamat bagi kehidupan dari kegilaan yang lain, dan penenang daripada minuman lain.

“Satu untukmu,” kuberi padanya. Tangannya mulai menerima minuman pemberianku. “Kau tidak kedinginan jika tidak memakai pakaian begini?” tanyaku, setelah menengguk pertama bir kaleng dingin.

Ia tidak menggeleng. Hanya terdiam. Kedua matanya menatap ke arah bawah. Terlihat begitu sendu. “Tetapi, begitulah, jika kau memakai pakaian, kau akan terlihat lebih keren.” Kalimatku, kutoreh sebagai jalan pujian baginya.

“Kenangan begitu menyakitkan bukan?” aku serupa mendengar pertanyaan dari orang yang masih waras. Orang gila itu, Marlan, bertanya padaku tentang itu dan aku terpana mendengar pertanyaannya.

“Ah, kau punya kenangan? Apa kenanganmu?” tanyaku. Aku akan membalas dan memberikan kenangan padanya, jika ia mau.

Tubuhnya yang telanjang, mata orang-orang yang terheran padaku yang bercakap dengan orang gila yang tak waras, mulai duduk menyender di tembok dan menghembuskan napasnya. Ia tengah menyiapkan beberapa kata untuk menceritakan perihal kenangannya sendiri. “Aku memiliki kenangan kisah cintaku, kisah cinta yang paling menyakitkan. Kenanganku bersama istriku, ketika aku dahulu berada di satu atap rumah yang rentan bocor karena selalu di serang hujan. Lalu orang-orang yang menghantamku, menindakku, mencari kesalahan padaku, agar mereka berhasil dalam tujuannya untuk menjatuhkan harga diriku. Bahkan, lebih parah lagi, mereka akan merebut istriku yang cantik dari tangan haus birahi perburuan mereka. Mereka tak segan-segan berkata tepat di wajahku, ‘Aku ingin menyetubuhi istrimu yang cantik dan mendesah kemudian, dan kau menderita sebagai penonton’. Aku meraung-raung, istriku menenangkan, tetapi ia mulai jengah dengan kehidupannya bersamaku.

Dahulu, juga sewaktu aku kecil, aku tidak memiliki teman. Temanku, ialah pohon yang kukupas batangnya dengan pisauku. Aku bisa menggambarnya disana, menggambar matahari, menggambar hujan dengan celana kerennya, dan menggambar orang berjas yang hidupnya dalam kungkungan neraka. Ya, orang-orang terdekat Ibuku, menganggap bahwa aku sudah gila, dan akan gila di masa dewasa nanti.”

Aku terpana, bukan orang gila sebenarnya, jika lancar bercerita seperti ini. Aku menduga-duga, Marlan masih dalam keadaan waras, hanya keadaan yang membuat ia menjadi orang gila. Hidup yang semakin menggusarkan, hidup yang semakin rusak dari perilaku manusianya. Sesekali, aku merasakan betapa terhimpitnya aku di hadapan orang-orang yang menindakku, bahkan menindasku untuk menjatuhkan tubuhku. Aku tidak mampu mengerti, mengapa usia semakin hari semakin menyebalkan dan tidak pernah berubah menjadi baik? Barangkali, jawaban tidak pernah kutemukan dimana-mana. Tidak di dalam buku. Tidak di dalam lingkungan dan orang-orang yang masih mau bicara padaku.

Orang gila itu mulai menarik napas, siap-siap mengurai cerita kenangan miliknya sendiri. “Aku juga pernah membunuh seseorang, ketika tuduhan padaku, dan menganggapku gila kepadaku, semasa umur remajaku. Aku bekerja sama dengan orang yang mampu membuatnya terbunuh, tetapi tidak akan mampu ditemukan oleh polisi siapa pelaku pembunuhnya dibalik kejadian itu.”

Seperti pembunuhan tokoh-tokoh yang mati karena benar, pikirku. Tanpa ia sadar, aku merekam setiap percakapan miliknya melalui ponsel selularku yang masih memiliki daya untuk merekam suara. “Aku membunuhnya dengan pisau bekas permainan imajinasi masa kecilku di pohon. Pohon itu masih ada, bahkan tak jauh dari tempatmu berdiri dan bicara padaku. Disana.” Jarinya menunjuk, aku bisa melihat pohon itu. Pohon tua yang lebat rambutnya, dan batangnya yang semakin besar dan gemuk. “Konon, pohon itu tidak bisa ditebang. Ada suatu cerita, pohon itu mau ditebang demi sebuah kepentingan. Ada juga yang bilang pohon itu akan ditebang untuk menggusur wilayah dan membangun proyek dari pemodal kota demi keuntungan. Akhirnya, tempat itu tidak bisa dijinakkan.” Jelasnya.

Ia mulai tertawa-tawa sendiri, mengetuk kedua tangannya sendiri ke tanah. Gilanya kembali kumat. Aku memandanginya dengan diam. Menatapnya dalam-dalam. Aku memiliki pandangan, ia tidak gila sepenuhnya. Ia masih waras, terutama pada kenangannya sendiri, yang bagiku, begitu menyakitkan dan menderita. Kulihat tubuhnya mulai pergi, menuju jalan raya, disaksikan orang-orang berteriak dan meledekinya. Dibalas oleh Marlan sebagai bagian lelucon orang-orang yang menghinanya.

***

Kuberi waktu kemudian di hari libur, untuk bertandang ke pohon yang pernah orang gila itu tunjukkan padaku, dari tempat obrolan yang tak jauh darinya. Sebelum bertandang, kubeli bir dingin kaleng yang masih menyisakkan penjual itu dengan tertawa. “Semakin hari, kau semakin akrab dengan orang gila itu. Apa jangan-jangan kau akan menjadi gila selanjutnya?” aku membalasnya dengan tersenyum, ia mulai kembali dengan mendengkur sambil mendengarkan lagu dangdut, sekaligu menunggu seorang pembeli.

Tiada hari tanpa minum bir kaleng, begitulah slogan yang kubuat. Sebagai penenang paling baik. Lantas menuju pohon yang menjadi saksi masa kecil Marlan, orang gila itu, yang sejak pagi kutemui, ia tidak ada di depan warung ini. Ia biasa berada disini, sedang tidur, atau sedang memainkan imajinasi sendiri, atau berbicara sendiri dengan kalimat puitisnya. Pohon tua itu kini berada dihadapanku, begitu tua. Lalu tercetak jejak dari tangan Marlan itu, yang berada di sana-sini. Lukisan dari pisau Marlan yang tidak tenggelam oleh waktu dan usia, abadi yang bermekar berbunyi. Desas-desus mulai terdengar, saat menatap pohon yang menenangkan itu sembari menghabiskan bir dingin. Lalu suara bicaranya, yang amat kukenal. Sangat amat kukenal.

Seorang itu berada di belakang pohon, sosok itu Marlan. Sedang membopong seorang perempuan yang tertidur itu. Atau mati? Sejenak, Marlan, orang gila itu, menatapku dengan giginya yang kuning. Tetap tanpa pakaian dengan kulit hitamnya atas jejaknya matahari panas menyengat. “Ini mantan istriku, kuselamatkan ia. Ia mati karena perlakuan suaminya padanya. Aku merasa tak tega. Meski mati, aku ingin merawat mantan istriku ini, mungkin akan menikah lagi dan tinggal di rumah yang pernah ditinggalkan.” Mulai ia tertawa-tawa sendiri, berbicara sendiri, lantas mengecup pipi istrinya yang cantik itu. “Suaminya itu, sedang di kejar polisi. Aku menemuinya di jalan, dengan sawah yang berkembang padi bibitnya. Aku mengenalinya, dan aku masih mengingatnya dan mencintainya.”

Wajah mantan istrinya itu, setengah lebam. Tetapi tidak mengguras kecantikannya, yang membuat lelaki ini gila ditinggalkan, dan gila atas tekanan hidupnya di dunia yang makin hampa ini dan sia-sia. Aku terdiam, tidak bicara dengannya, menatap pergerakan tubuh orang gila yang telanjang bulat itu, dengan disamping mantan istrinya yang berpakaian lengkap. Tidak ada perekaman suara atas pikirannya tentang kenangan. Diam-diam, aku mengambil foto orang gila itu, sebagai data bukti untuk kusimpan sendiri di kamar.

“Pergilah, aku ingin menyetubuhi mantan istriku dulu. Aku sedang birahi,” ucap orang gila itu.

Tetap, aku tidak memikirkan apa yang ingin ia lakukan, menyetubuhi mantan istrinya itu. Yang kupikirkan, tidak ada orang gila yang benar-benar masih setengah waras sepertinya seperti yang kutemui, perihal menyangkut kenangan yang masih ia ingat.

***

“Kisah yang menurutku aneh,” katamu.

“Ya, memang.”

“Dimana ia sekarang?”

“Aku sudah tidak melihatnya, tidak terlihat batang hidungnya. Antara mati, atau ia kembali menikah dengan mantan istrinya yang ia rawat itu. Dengan jantung yang tidak berdetak dan tidak bernapas.” Kau, kemudian, merenung atas cerita perihal orang gila ini padamu.

Pendapat Anda: