Narapidana

Posted: 22 January 2019 by Sobrun Jamil

Ruangan begitu samar. Udara seakan diserap seluruhnya oleh dinding-dinding tebal yang mengitari tubuhku. Tak ada celah untuk sejengkal pun lambaian cahaya matahari menelusup ke dalam ruangan ini. Satu-satunya sumber yang masih memungkinkan untuk mataku mengedarkan pandangannya adalah sebiji bohlam yang berpijar remang dan tergantung di atas kepalaku. Aku terduduk di sebuah bangku besi dengan tangan terborgol, tanpa alas kaki. Dingin menyeruak dari lantai ruangan ini. Menembus kulit telapak kakiku yang usang dan dipenuhi kerak-kerak kasar. “Ruang Interogasi 112”, hanya itu satu-satunya tulisan yang tertera di ruangan ini.

Kini apa yang harus kulakukan? Menyesal bukanlah pilihan baik untuk seseorang yang telah mengambil keputusan. Mati? Itu juga bukan pilihan. Meski seorang bajingan, aku tetap pernah mendengar kata ‘Tuhan’, sesekali. Dan apabila kuputuskan untuk meregang nyawaku sendiri, apakah bukan berarti aku membuat dua kesalahan? Satu kuukir di dunia, satu lagi kuletakkan di kehidupan yang selanjutnya. Itu berarti aku berurusan dengan dua pihak. Manusia dan Tuhan. Tidak, aku tidak sepemberani itu untuk menciptakan banyak musuh dalam kehidupan. Semua sudah terjadi. Dan atas segala yang terjadi aku hanya perlu menutup mata dan telinga, kemudian melangkahkan kakiku ke depan.

Tetapi aku tak mungkin menutup pikiranku. Otak adalah benda padat, tetapi isi otak adalah sesuatu yang lain. Ia yang bermukim di dalam otak adalah suatu kelembutan yang tak mungkin dipagari oleh apa pun. Ia sanggup berlari, menyusur, merangkak, meninju, merambat, menampar, membelah, menepis, atau merasuk tanpa peduli terhadap apa pun. Lalu, bagaimana kini nasib istriku di luar sana? Adakah yang menggodanya ketika berjalan pulang sehabis mengajar di sekolah dasar? Apakah ia menantiku? Apakah ia justru marah kepadaku? Apakah ia meninggalkanku? Apakah ia mencari penggantiku? Kemudian bagaimana dengan nasib putra sulungku? Bagaimana perkembangannya setelah terakhir kulihat ia sudah bisa menggenggam botol susu? Apakah ia akan menanyakanku? Apakah ia sudah mengenaliku sebagai ayahnya? Apa yang akan istriku ceritakan padanya suatu saat nanti, tentang kejadian yang menimpaku hari ini?

Pertanyaan terus mengalir membanjiri tempurung kepalaku. Tak habis-habisnya pertanyaan muncul. Bagaikan lempeng-lempeng jatuh kemudian tersusun menumpuk sehingga memberati kepalaku. Kepalaku yang memang besar. Kepalaku yang terlalu besar dengan angan-angan. Kepalaku yang senantiasa membesar karena dihamili impian-impian. Impian semu yang mengantarku memilih keputusan itu. Impian semu yang menuntunku masuk ke dalam ruangan ini. Impian yang kini menyekat cintaku kepada anak dan istriku.

Buuug! Sebilah pipa besi yang diayun oleh seorang petugas menghantam perutku. Tetapi aku tetap bertahan dalam diam. Rasa sakit seakan kulempar entah ke ruang hampa yang sebelah mana. Setiap kata yang keluar dari mulutku kini akan menjadi sangat krusial bagi kelangsungan hidup orang banyak. Di langit-langit mulutku terdapat nasib dan nyawa ribuan manusia. Sehingga ia harus tetap kukunci rapat. Meski setelahnya datang benda-benda yang lebih kejam mendera tubuhku. Cambuk dari selang karet, alat setrum, gagang pistol hingga kaki dan kepalan tangan petugas itu sendiri.

“Dari mana kau dapatkan semua itu?”, pertanyaan itu terus diulang-ulang bersamaan dengan siksaan demi siksaan fisik yang dilancarkan kepadaku. Namun peduli apa aku pada tubuhku? Remuklah tulang-tulang! Pecahlah seluruh organ! Toh orang-orang yang nasibnya kukunci di pangkal lidahku ini nasibnya sama denganku. Mereka hanya korban dari tidak becusnya sekumpulan orang mengatur lalu lintas uang dalam bingkai negara. Aku dan mereka yang berdiri di balik punggungku adalah bukti nyata betapa segelintir manusia tega berlaku culas terhadap banyak orang. Sungguh ngeri menyaksikan jutaan orang dihadapkan pada satu pilihan yang menjijikkan: berkubang dalam lumpur. Lumpur yang diciptakan oleh orang-orang yang mengaku paling pintar, paling baik, paling mulia dan paling mengerti segala hal!

Ooh, jadi memilih diam? Memilih jadi pahlawan? Hai bung bangunlah! Pahlawan adalah buku dongeng yang sampulnya penuh timbunan debu! Sudah tak ada yang ingin jadi pahlawan hari ini. Pahala-wan. Pahala? Apa itu pahala! Hahaha! Sadarlah bajingan! Pikirkan anakmu, pikirkan istrimu. Tidakkah engkau ingin pulang ke rumah dengan kondisi fisik yang utuh? Agar tetap bisa kau setubuhi dengan normal tubuh istrimu yang seksi itu. Uuh, bokongnya yang besar, payudaranya yang kenyal membusung serta bibirnya yang tipis membuat libido setiap pria menanjak! Pikirkan itu! Juga anakmu. Jemputlah, gendonglah! Sebelum ia menjadi anak idiot setelah mengetahui kisah masa silam ayahnya yang malang ini!”

Pikiranku mulai goyah mendengar rentetan kalimat yang keluar dari mulut sampah petugas bajingan ini. Pikiranku mulai bergolak, mulai mendidih dan meletup-letup. Akan kusangga berat dunia beserta seluruh isinya. Pundakku akan sanggup memanggul alam semesta. Asal jangan ada siapa pun yang berani menginjak martabat keluargaku. Keluarga adalah pusat titik cakra di balik dadaku. Tak kuizinkan seseorang pun untuk meludahinya. Keluarga adalah kandungan tenaga yang bersemayam di jagat inti kesadaranku. Tak ada yang berhak menyentuhnya! Tidak untuk ujung jari Iblis, apalagi hanya segumpal daging tengik berwujud manusia yang kini berdiri di hadapanku.

“Baiklah, setan alas, akan kuberitahukan kepadamu dari mana aku mendapatkan itu semua. Tapi satu hal, jangan lupakan janjimu!”

“Bagus kalau begitu. Masalah janjiku, tenang saja, aku tak akan ingkar. Aku berdiri di sini tidak untuk ragamu, tapi untuk pernyataan-pernyataanmu.”

“Pergilah ke daerah paling utara di barat pulau ini. Mereka adalah generasi penerus dari seorang tokoh dunia gelap yang berhasil menyingkirkan kartel terkenal milik Pablo Escobar. Rata-rata dari mereka adalah orang dari bangsa yang sama dengan kita. Yang mereka transfer dari orang-orang benua di mana tokoh gelap itu hidup hanyalah sebatas ilmu peredarannya saja. Sementara barang-barang haram itu dipasok oleh benua lain. Benua yang terletak di utara benua ini. Begitulah, semua yang kuketahui sudah kuungkap. Sekarang, tunaikan segera janjimu!”

***

Pagi ini langit berisi gugusan awan mendung. Angin sangat kencang menerpa dahan-dahan pohon di luar sana. Dan ini hari minggu. Pastilah aku hanya akan menghabiskan sepanjang hari ini dengan istri dan anakku. Sambil duduk di sofa ruang tengah yang menghadap ke teve, aku merangkul istri juga anakku. Menikmati sebuah film yang sedang diputar oleh channel kesayangan kami.

Lihatlah adegan film itu. Ribuan orang berwajah datar berjalan perlahan. Melangkah dan terus melangkah. Menuju arah kamera. Melangkah lagi dan lagi dengan irama yang teratur. Semakin dekat. Lihatlah. Ribuan orang itu melangkah keluar dari layar teve. Masih tetap melangkah. Perlahan. Pasti. Melangkah dengan tempo yang tertata. Lihatlah. Ribuan orang melangkah menuju pelupuk mataku. Lihatlah! Lihatlah! Ribuan orang terus melangkah mendekat ke permukaan wajahku. Lihatlah! Lihatlah! Ribuan orang itu membelah keningku! Ribuan orang itu masuk ke dalam kepalaku!

Pamulang, Desember 2018.

Pendapat Anda: