Mpantung

Posted: 6 March 2018 by Arupa Sagafi

“Sebaiknya kau segera pulang minggu ini. Orang-orang di kampung benar-benar menunggumu. Kalau tidak kau bakal kena kutukan. Dibuang, dianggap mati!”

Begitulah desakan Beko kepada kawan seperantauannya, Lanur. Sebenarnya itu lebih menjadi ajakan yang dibayang-bayangi dengan sebuah kecelakaan kepada Lanur. Tapi Beko merasa iba juga dengan sahabat atau tepatnya saudaranya itu. Bukan soal pulang atau tidak, Beko lebih mendoakan agar Lanur Leros, demikian sapaan masa kecilnya, bisa menentukan keputusan dengan bebas.

Kisah ini sesungguhnya tidak pernah menjadi buah bibir jika dua orang lelaki putus asa tersebut serempak mendarat ke kampung halamannya pada musim kering, tepat saat padi walanai1)Sejenis padi yang biasa ditanam oleh para petani di Manggarai, NTT yang memiliki keunggulan dan daya tahan tinggi untuk tumbuh dengan baik.siap dipanen.

Secara turun-temurun orang-orang di kampung Lago merayakan upacara teing hang2)Ritus memberikan sesajian kepada para leluhur di daerah Manggarai, NTT kepada Ѐmpo Mpantung3)Salah seorang leluhur yang berhasil mendirikan kampung Lago, di Manggarai. tiap empat tahun sekali. Itulah alasan Beko mengajak saudaranya itu sebab ia pernah mendengar kabar bahwa orang-orang yang ada di kampung tidak lagi terlalu peduli dengan acara adat tersebut. Beko merasa bertanggung jawab menjaga nilai-nilai tradisi, tetapi ia merasa cukup sulit karena takdir justru menyuruhnya menjadi kuli pelabuhan di sebuah kota metropolitan. Sementara Lanur sendiri merupakan keturunan langsung Ѐmpo Mpantung tepatnya generasi keseratus lima puluh tiga.

***

Dua puluh empat tahun yang lalu Beko tiba-tiba muncrat begitu saja ke dunia. Tepatnya di sebuah kampung yang belum tersentuh cahaya dan aspal. Kenyataan ini kemudian masih berlangsung hingga puluhan tahun kemudian. Ia lahir dari seorang ibu tanpa ayah yang jelas. Bahkan, tragisnya ia sendiri tidak pernah merasakan pelukan dan air susu ibu kandungnya. Malam itu setelah kemaluan ibunya memuntahkan dia ke dunia, di atas sebuah tikar bekas menjemur padi, Beko seolah-olah merasa asing dan menyesal dan memang itulah yang berkelindan di hatinya selama belasan tahun kemudian. Tak tahu diuntung, ibunya malah melarikan diri ke sebuah dunia yang tak pantas diceritakan di sini.

Sebuah cerita berkembang kemudian bahwa ibunya tidak tega menggorok anaknya setelah dilahirkan karena tertimpa trauma diperkosa oleh seorang lelaki keturunan Kraeng4)Gelar yang diberikan kepada orang yang masih memiliki darah bangsawan.. Ibu Beko tidak ingin menjadi lalat yang menyebarkan penyakit bagi orang-orang di sepenjuru kampung. Bagaimanapun ia sadar waktu itu bahwa seekor lalat tidak dibutuhkan dalam kehidupan manusia. Ia sadar betul tentang hal itu. Jelaslah nasib Beko terluntang-lantung begitu saja. Ajaibnya ia, setelah dilahirkan tidak memekikan tangisan apa pun.

***

Pagi harinya ada seorang lelaki paruh baya hendak mencari pakan sapi di perkebunan salah seorang warga, yang konon tidak habis-habisnya meski dibabat berkali-kali oleh hampir seluruh warga yang punya piaraan ternak. Seperti biasa, lelaki itu selalu menggulung selembar tikar berukuran sedang untuk menyimpan rupa-rupa pakan ternak. Namun, pagi itu ia merasa ada sesuatu yang aneh. Diciumnya aroma darah segar dan menemukan beberapa gumpalan darah membeku di bagian tepi tikar itu. Ia sempat menduga barangkali semalam ada babi hutan yang terluka dan memilih beristirahat sejenak sebelum melarikan diri. Bukan babi hutan! Serentak lelaki paruh baya itu hampir terguling setelah menyingkap ujung tikar yang digulung itu dan menemukan orok bayi sedikit kaku. Awalnya ia mengira bahwa orok itu sudah putus napasnya. Ternyata tidak. Diperhatikannya mata bayi itu, masih berkedip. Dirabanya pula nadi pergelangan tangannya, masih berdenyut. Lantas, ia segera mengumpat sekeras-kerasnya: anjing siapa yang memuntahkan orok yang masih bernyawa ini di atas tikar pakan sapinya yang juga sesekali menjadi alas padi yang dijemurnya?

Keharuan tiba-tiba meliputi relung hati lelaki paruh baya itu. Ia bertekad memelihara bayi berkelamin lelaki itu dan segera memungutnya. Sepanjang perjalanan pulang ke rumah, lelaki itu berusaha menghibur bayi yang ditemukannya, yang sebenarnya lebih menjadi hiburan untuk dirinya sendiri tersebab rasa prihatin yang membludak dari hatinya. Tentu saja bayi itu tidak meneteskan air mata sedikit pun seakan-akan ia sudah terbiasa menanggung rasa sesal untuk dilahirkan ke dunia sejak dalam kandungan ibunya.

Bertahun-tahun kemudian bayi yang nyaris menjadi santapan serigala itu, bisa tumbuh dengan baik seperti anak-anak lainnya. Ia tidak kenal putus asa, tidak malu atau tersinggung sedikit pun juga tidak. Sesekali saja ia merasa sedih, itupun kalau ayah dan ibunya pergi ke kota kabupaten selama beberapa hari. Sifat-sifat itu dibentuk berkat tangan dingin seorang lelaki yang menyelamatkannya dulu, yang sekarang menjadi ayahnya.

Suatu waktu ia memiliki nama Beko, yang artinya permata, tetapi ia sendiri baru mengetahui arti namanya setelah setahun di tempat perantauan.

***

“Kalau kau tidak ingin pulang atau hatimu sudah benar-benar tidak berisi lagi, biar aku sendiri saja yang pulang”, tegas Beko kepada saudaranya itu. Sudah berkali-kali ia melontarkan permohonan agar Lanur bisa bersamanya pulang ke kampung halaman.

Tak ada jawaban yang meluncur dari mulut Lanur sampai esok harinya. Tiba-tiba sebelum Beko benar-benar berangkat meninggalkan gubuk peristirahatan mereka selama hampir empat tahun itu, Lanur mendekati Beko dan memeluknya.

“Tentu kau tahu, Beko. Aku ini tidak lagi memiliki ayah dan ibu seperti dirimu karena kita sama, bersaudara. Sampaikan saja salamku kepada paman yang menjabat sebagai tu’a golo5)Pemimpin tertinggi dalam sebuah beo atau kampung yang bertugas mengakomodasi kepentingan warga kampungnya. saat ini. Sempatkan dirimu ke makam ayah dan ibu dan bakarlah surat ini bersama arang hitam tepat di kaki mereka,” Lanur tak sanggup lagi berbicara terlalu banyak dan menyelipkan sepucuk surat kusam ke telapak tangan Beko. Kelopak matanya menerjunkan aliran air mata sederas-derasnya. Dalam hati ia sungguh berduka atas peristiwa lima tahun lampau ketika ia diam-diam meracuni ayah ibunya karena sebuah desakan yang mengharuskan dirinya menjadi pemangku tu’a golo, sesuatu yang sama sekali tidak dikehendakinya. Ia juga mengingatkan kepada Beko untuk tidak boleh membuka dan mengetahui isi surat itu sampai habis terbakar api.

***

Orang-orang di kampung telah menunggu kepulangan Lanur dan Beko, tetapi seturut kebijakan yang diambil, hanya Beko-lah yang memilih pulang. Seolah-olah sosok Lanur terwakili dalam diri Beko dan orang-orang di kampung sungguh-sungguh terkejut menyaksikan hal itu. Begitu pula tu’a golo yang pura-pura menayangkan kesabaran meskipun di dalam hatinya telah meradang perasaan benci sebenci-bencinya.

Beko langsung bergegas menjumpai tu’a golo untuk menyampaikan kondisi Lanur, sang pewaris keturunan Ѐmpo Mpantung perihal ketidakpulangannya. Tu’a golo mengangguk perlahan dan memaklumi alasan keponakannya itu. Tapi itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja seorang lelaki paruh baya menghampiri Beko dan mencekik lehernya sekuat-kuatnya. Ia tidak berdaya untuk membebaskan diri sebab cengkeraman telapak tangan lelaki itu benar-benar membuatnya sesak napas. Lantas dalam cekikan itu ia kembali teringat sejarah hidupnya ketika pertama kali lahir dan dibesarkan oleh lelaki paruh baya, ayah Lanur, yang menjadi ayahnya juga bertahun-tahun kemudian.

Sebelum tersungkur pingsan, samar-samar ia mendengar umpatan dan kata-kata kutukan para tetua adat. Bakar saja orang ini. Anak durhaka. Jahanam. Tak tahu diuntung. Pembawa sial bagi keselamatan kampung.

Sampai langit malam tersingkap Beko kemudian tersadar dan memperhatikan bajingan-bajingan tengik yang menyiksa dan mengelilingi dia selama sepanjang hari tadi. Ia hanya seorang diri saja di tengah halaman kampung. Ia berdiri terseok-seok dan duduk bersandar di atas susunan batu penyangga ngadu6)Pelataran yang ditumbuhi pohon beringin besar dan berada di tengah-tengah kampung. Biasanya penempatan sesajian dan acara adat lainnya berlangsung di tengah pelataran ini.. Tubuhnya tercabik oleh luka. Darah membeku di sekujur dada, pipi, dan punggungnya.

Sisa-sisa tenaga yang masih menempel menyeret tubuh Beko pergi ke makam ayah dan ibu Lanur untuk membakar sebuah surat yang dititipkan anak mereka, Lanur. Di tengah malam dan kesunyian yang mencekam kampung terpancar kilatan api yang menghanguskan sepucuk surat itu tepat di kaki makam kedua orangtua Lanur yang juga memeliharanya dengan penuh kasih sayang.

Tidak ada gunanya menjadi lelaki sial di muka bumi ini. Menanggung sial meskipun hati berniat lurus. Sebuah rasa penasaran sekaligus sebagai hiburan setelah tertimpa kecelakaan, Beko ingin mengetahui isi surat saudaranya itu, tetapi ia baru sadar bahwa surat itu telah halus menjadi serpihan abu hitam. Tidak butuh pertimbangan terlalu lama, Beko akhirnya ikut membakar dirinya bersama sisa surat itu tepat di kaki makam kedua orangtua Lanur.

Perlahan-lahan isi surat Lanur bisa dibacanya bersamaan dengan jilatan api yang menghangsukan tubuhnya dan ia baru paham bahwa maksud Lanur mempertahankan diri untuk tidak pulang tidak lain karena para tetua adat di kampungnya sama sekali tidak menginginkan Lanur pulang membawa segepok gaya hidup atau ideologi yang berseberangan dengan tradisi kampung. Sebab di mata para tetua adat dan atas persetujuan tu’a golo, setiap lelaki yang tidak betah di kampung halaman dianggap pengkhianat dan harus disingkirkan kalau berani untuk pulang.

***

Lanur tetaplah Lanur meskipun arti nama itu berasal dari keturunan langsung Ѐmpo Mpantung yang keseratus lima puluh tiga. Dan Beko sendiri tidak punya nilai apa-apa di hadapan orang-orang yang telah dianggap sebagai saudara-saudara sedarahnya meskipun ia punya niat luhur menjaga nilai-nilai kehidupan di kampungnya itu. Baginya kehidupan yang damai dan jauh dari pertentangan merebut kekuasaan adat lebih mulia standarnya ketimbang menghabiskan waktu dengan mempertebal dendam dan persengkongkolan kejam. Tidak salah jika Lanur memilih untuk tidak kembali meskipun ia pernah melakukan kesalahan terbesar membunuh ayah dan ibunya hanya untuk menjauhkan diri dari desakan mempertahankan kekuasaan. Tapi Beko lebih permata dan lebih bercahaya di tengah kampung itu sebelum dan setelah dirinya hangus dimangsa api menjadi abu pekat.*

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. Sejenis padi yang biasa ditanam oleh para petani di Manggarai, NTT yang memiliki keunggulan dan daya tahan tinggi untuk tumbuh dengan baik.
2. Ritus memberikan sesajian kepada para leluhur di daerah Manggarai, NTT
3. Salah seorang leluhur yang berhasil mendirikan kampung Lago, di Manggarai.
4. Gelar yang diberikan kepada orang yang masih memiliki darah bangsawan.
5. Pemimpin tertinggi dalam sebuah beo atau kampung yang bertugas mengakomodasi kepentingan warga kampungnya.
6. Pelataran yang ditumbuhi pohon beringin besar dan berada di tengah-tengah kampung. Biasanya penempatan sesajian dan acara adat lainnya berlangsung di tengah pelataran ini.