Kunang – Kunang di Tondano

Posted: 21 November 2017 by Pinkan Kurnia Dewi Siswantoro

Angin datang seakan menderu – deru mengibaskan langit yang kala itu memancarkan cahaya sinar yang hampir kelam. Seolah harum cahaya yang bening keemasan dapat ku hirup dan tercecap di setiap rasanya yang manis, bagai diluluri madu sekalipun kabut tipis masih tertinggal.  Di pelataran basah seperti kupu-kupu,  mereka mengitari sebagian tanaman perdu yang liar dengan gulungan benang yang menjuntai di setiap garis awan yang mulai menipis. Masih sama ku ingat ketika aku merentangkan setiap gulungan benang di antara daun – daun basah bersama bapak di saat musim layangan. Kala itu aroma tanah selepas hujan dan langit yang mulai terhalang kabut menggiurkan dahaga yang berkecamuk, bapak lebih semangat menemaniku bermain dan mengulur – ulur gulungan benang yang menjuntai. Ketika aku bertanya padanya tidakkah lebih indah jika layangan dinikmati ketika langit cerah. Namun sekali lagi bapak selalu berkata bahwa lebih indah jika layang – layang yang menari di langit jauh lebih berkilau jika diikuti serombongan kunang-kunang di saat langit mulai petang.

Kali ini aku dibawa pada bangku murung yang lelah. Sambil menatap ke arah bapak yang tiada habisnya, memandangi sebuah foto lawas yang selama ini disimpannya dengan rapi. Rasanya aku ingin menagih janjinya, untuk dapat menemaniku lagi saat musim layangan. Sekalipun tangan rentanya tidak dapat lagi membantuku menjuntai benang.  Namun, kedua mata bapak seperti diserang rasa kering yang tidak lagi memancarkan binar di matanya, yang ada justru makin menyesakkan yang membuatnya terpasung dan diam. Entah untuk yang kesekian kalinya, selesai menatap foto itu bapak menjanjikanku untuk pergi bersama sambil membawa serta layang-layang yang akan dimainkan di tempat itu, tempat yang sama seperti di foto yang ia selalu perlihatkan padaku dan ibu. Entah apakah masih sama persis ketika ia berjanji untuk pertama kalinya, hingga sampai ibu telah tiada. “Nanti bapak ajak ngana ke tempat ini ya.” Begitulah kiranya bapak selalu mengajakku. Ke tempat yang belum pernah ku sambangi, namun seperti melekat erat di mataku ketika menatap foto itu. Sungguh nampak jelas terlihat di foto itu, pesona kilauan cahaya fajar dari balik pegunungan, yang menembus permukaan danau, menambah keindahan danau dengan perpaduan warna perak dan orange berkilau indah. Refleksi permukaan danau yang terlihat di foto, seakan teduh karena menggambarkan kembali refleksi bukit dan langit berawan yang tipis di atasnya. Aku mulai membayangkan, mungkin saja terkadang hamparan itu berpendar, dan terbelah oleh perahu-perahu nelayan yang sedang menangkap ikan. Terlintas di otakku, bisa saja aku pergi kesana jika saat itu bapak pergi dengan pamit.

“ Aney, besok pagi ngana ikut mapalus neh? Agar ngana baku beking pande.” Pinta bapak sembari menyeruput kawangkoang.

Di tengah taman liar dengan aroma semak yang menyengat, semua orang nampak melangkah dengan cepat, hanya aku yang malas sambil menatap bapak dari jauh. Raut wajahnya yang sumringah tidak bisa membohongiku, bahwa sejatinya hatinya telah diambil dan terbawa oleh kekasih dari pulau yang jauh. Garis keturunan bisa saja berbeda dengan cara hidup yang dilakoninya. Bapak tidak pernah menolak takdir bahwa garis keturunan jawanya telah diselewengkan dengan mudah disaat bapak diasuh oleh pakdhe di ujung pulau harapan. Harapan dimana seorang bayi yang baru saja lahir lalu dipisahkan oleh ibunya karena harus dilakukan, agar terjamin masa depannya. Harapan seorang bayi dimana dapat tumbuh dewasa, hingga beranak pinak di kampung yang menjadi tempat jalan pulangnya. Pakdhe tumbuh dewasa mengajak serta bapak di pinggiran Danau Tondano, bersama kakak nenek yang lebih dahulu beranak pinak disana. 25 tahun bukan waktu yang singkat untuk menanamkan identitas bahwa ia saat itu menjadi laki-laki Tondano. Bersaudara mereka dengan baik tanpa adanya konflik etnik yang meradang.

Di tepi danau Tondano dimana terdapat hamparan sawah menghijau, rumah kayu dengan arsitektur Eropa dengan cerobong asapnya yang menyembul. Dengan sekeliling jalan yang berkelok terlihat dihiasi oleh pemandangan hutan tropis yang lebat dan menyejukkan. Bapak seringkali bercerita padaku begitu sejuknya ketika ia bersujud seraya mengumandangkan kalimat takbir. Meskipun terdengar pula beberapa lonceng dari gereja saling menyahut. Beberapa kawan dari suku minahasanya dan beberapa dari etnik jawa tondano pun dengan sabar menunggu sambil melambungkan layang-layang yang berwarna abu.

“ Manjo Edi… torang  terbangkan layangan ini.” Teriak salah satu khawan gerejanya usai bapak menunaikan ibadah.

Kota ini mungkin menjadi tujuan exodus dari daerah bertikai di wilayah Indonesia Timur. Ketika menjadi rumah baru bagi orang dari daerah bertikai, kampung halaman tempat Bapak tumbuh hingga kini mampu menjaga citra tersebut.

Suatu malam ketika bapak dan pakde singgah sebentar di tepi tondano, lebih indah dari angkasa segerombolan kunang-kunang yang bernyala berjajar jauh menjulang sampai tinggi, berkejaran dengan susah payah membuat danau biru jernih ini nampak indah meski tidak berombak. Sambil memandang ke langit Pakde berkata akan menikahi Marta anak pendeta dari gereja tua di desa sebelah. “Ka, ngana  serius? Ingat status kalian berbeda.” Kata bapak yang saat itu mengingatkan. “Kita sayang itu perempuan dengan tulus Ed. Apapun kita perjuangkan untuk dapatkan.” Dan jawaban itulah yang hanya dapat di dengar bapak seakan bertubrukan dengan suara desis angin malam itu. Nyatanya gadis dari anak pendeta itu telah dapat menjatuhkan hati kakak bapakku. Bapak bercerita bahwa malam itu adalah malam yang paling gelisah hingga matanya tidak bisa terpejam. Dan rasanya ia lebih memilih digigit kepinding yang banyak bersarang di tikar alas kasurnya atau rela digigiti nyamuk seakan ia rela membagi darahnya.“Kita memang bersaudara kak, tetapi tidak seharusnya ngana kaweng dengan gadis itu, tapi semua keputusan ada di tanganmu kak.”

Andai saja toleransi sebagai wujud nyata sekalipun nantinya pakde pada akirnya menjadi pendeta di gereja pesisir Tondano. Aku pun mulai melipat sajadah yang biasanya berada sedikit di depanku, ketika mengumandangkan takbir di pinggiran danau Tondano bersama. Pergolakan hebat pun terasa, ketika ku dengar langsung  sang romo membaptis pakde yang berbaur haru biru. Bapak bertanya-tanya pada tubuh yang membawanya tumbuh. Akankah bernasib sama ketika arus sudah berkata. Tidakkah seharusnya kita berfikir untuk lebih memilih calon pendamping dari etnis jawa tondano, yang secara keyakinan sama lantaran keturunan dari Kyai Mojo. Sekejap wangi aroma aren dari saguer lebih kental terngiang di tengah pesta pernikahan pakde kala itu. Bapak pun ikut menghirup aroma saguer sambil menyeruputnya pelan-pelan demi menghangatkan tubuhnya yang mulai dingin akan angin malam. Hingga akhirnya ia larut dalam pesta adat dan terdampar di pinggiran tondano menghadap ke danau. Malam itu kunang-kunang tidak lagi terlihat menggerombol, seperti saat mereka menemukan serimbun bunga liar di tengah-tengah bunga yang terawat. Hingga bapak sering kali tersenyum, seakan merasa kalau kunang-kunang itu tengah menemaninya. Namun kala itu, bapak harus mulai membiasakan untuk menatap Tondano sendirian, sekalipun beberapa perahu nelayan silih berganti dan mereka menyapa sesekali.

Seringkali ketika aku mulai disebut dewasa, aku pernah memberanikan diri untuk bertanya pada bapak, bagaimana cantiknya gadis – gadis Tondano disana. Sambil  menahan tawa bapak bercerita tentang keeolakan gadis Tondano, dimana wajahnya seakan ada sedikit percampuran dari ras Belanda. Disebutnya salah satu nama bernama Nensi si gadis suku Minahasa, ketika pertemuan pertamanya di sebuah adat perkawinan dan bapak membantu prosesi nya dengan membawa hantaran mas kawin dari pengantin pria, yang saat itu ialah khawannya sejak kecil.  Pertemuan pertama disaat upacara toki pintu di kediaman calon pengantin wanita rasanya pernah menjadi debaran tersendiri bagi bapak, apalagi pertemuan yang berlanjut ketika bapak mengikuti prosesi pesta nelayan di Tondano. Di tengah munculnya banyak sekali perahu bolotu yang bercorak warna – warni di tengah danau, nampaknya si gadis minahasa ini mampu merebakkan wewangian yang menyebabkan ketidak warasan. Namun hati tidak hanya ingin berlabuh lalu pergi bukan? Seakan menghidupkan lensa mata, lalu membuangnya dalam kalut yang meronta. Dan tetap saja alih-alih bapak akan pergi meminang, justru yang ku tahu hingga saat ini bapak pulang ke tanah kelahirannya.

“Aney, ngana mengapa tidak turut serta mapalus bersama warga, ini mumpung tidak sedang hujan?” Tanya bapak ketika melihatku hanya termenung dan tidak mengikuti kerja bakti bersama.

Tapi aku hanya tersenyum, seakan bapak tau aku lebih suka bermalas-malasan. Aku kagum dengan bapak. Ia laki-laki jawa yang justru dalam hidupnya, tidak pernah melupakan tradisi dan kebiasaan yang telah dibangunnya sejak kecil. Sekalipun ia pulang ke tanah kelahirannya. Tradisi yang ia bawa dari pulau harapan itu mengajarkannya akan hidup bertoleransi. Dan ia pun tidak pernah mengingkari jati dirinya, sebagai manusia muslim yang taat dan membaur dengan adat istiadat nya sebagai manusia keturunan jawa. Aku bertanya pada bapak yang saat itu masih menatap foto lawas yang ia bawa di sakunya. Mengajaknya untuk terbang sembari menagih janjinya untuk bermain layangan. Setidaknya uang dari pensiunan bapak masih cukup jika hanya sekedar membawa ku dan bapak untuk terbang.

“Ayo pak kita pergi ke tempat yang selalu bapak lihat itu.”

“Nanti saja ya Aney.”

“Mengapa harus tunggu nanti? Bukankah lebih cepat itu lebih baik?”

“Bapak hanya merasa bersalah karena bapak pergi tanpa pamit.”

Jawaban terakir bapak itu sungguh menyiksaku, aku tidak pernah tau mengapa bapak memutuskan pergi dan memilih untuk tidak meneruskan hidup nya di sana. Bukankah ia selalu rindu untuk pulang. Hampir 27 tahun lamanya aku tidak pernah mengenal satupun keluarga bapak yang berada di Tondano.

Kurang lebih seminggu sudah  jalanan basah karena hujan. Entah sudah berapa kali ku hitung tetesan embun yang masih saja hinggap di daun – daun itu. Ku lihat langit yang merendah masih saja dipenuhi dengan kabut.  Secarik kertas ku tulis dengan pena kesedihan, ingin rasanya ku beranikan diri untuk pergi tanpa pamit ke bapak. Rasa ingin tahuku yang besar ternyata tidak dapat menahanku untuk terus melihat sembilu di wajah kuyu bapak sampai saat ini. Masih saja bapak setia dengan foto lawasnya. Duduk di sofa yang hangat sambil mengikuti kebiasaan bapak menyeruput kawangkoan, kopi khas yang selalu ia minum ketika sedang bercengkrama dengan padhe sebatas sebagai penahan kantuk. Sembari menonton televisi, mengutak – atik remot tv sampai bapak merasa kesal karena acara tv yang selalu ku ganti.

“ Tunggu Aney, stop di channel ini.” Kata Bapak sedikit mengeraskan suaranya.

“ Yang ini pak?”

“ Ya Allah… entah cobaan apa yang Kau beri, mengapa harus Tondano?” Teriak bapak kali ini sambil menangis histeris. Sesekali ia menyeka air matanya, namun kedua mata nya masih tajam untuk terus menatap lurus di televisi.

Aku pun ikut larut dalam kesedihan, ketika hatiku tidak dapat acuh kala mendengar bapak berteriak menangis histeris. Ku lihat di berita tingginya curah hujan sejak akhir – akhir ini, menyebabkan  permukaan air Danau Tondano di Kabupaten Minahasa naik hampir satu meter.

Luapan air danau yang menimbulkan banjir besar telah meluluh lantahkan beberapa pemukiman warga setempat. Alat pengukur ketinggian air pun tidak akurat lagi. Bapak berkata ia masiih ingat betul jika warga disana hanya berpatokan pada sebuah plat besi, yang telah dipasang dekat meteran. Namun, lihat saja di televisi hampir semua plat besi telah tenggelam. Kedua mata bapak semakin membengkak dan sayu. Kerutan di wajahnya dan gigi nya yang masih bergetar tidak dapat membohongi hatinya, bahwa saat ini bapak sangat gelisah. Di pegangnya erat-erat foto lawas  dan di lihatnya lamat-lamat masih sangat cantik alam danau Tondano jika dibandingkan dengan situasi saat ini. Tanpa berfikir panjang kecemasan bapak tidak dapat lagi tertahankan. Meski ia mencoba menahan diri di setiap denyut nadinya, nyatanya kedua tangannya mulai mengemas beberapa baju yang ia tata rapi di tas ranselnya.

“ Bapak mau pergi?”

“ Kemarin ngana ajak bapak terbang kan? Ayo sekarang Aney, uang pensiunan bapak masih mampu jika hanya sekedar terbang dan beberapa hari disana. ”

“ Eh, bapak yakin?”

“ Aiiihh… satu nilai yang ngana harus tau Aney… Torang Samua Basudara.”

Kami pun segera bergegas mencari penerbangan paling awal hingga akhirnya kali ini kami berada di ketinggian  40.000 kaki dari permukaan air laut. Beberapa penerbangan menuju Manado memang di tutup dengan alasan cuaca yang tidak menentu. Sesekali ku longok di luar jendela pesawat, gumpalan  awan yang sedikit abu-abu hampir gelap karena di selimuti kabut. Beberapa kali kami berdoa agar dapat tiba dan mendarat dengan selamat. Sekalipun sesekali goncangan badan pesawat sangat terasa di tubuh kami yang sedikit bergetar.

Tiba di pulai harapan yang biasa disebut bapak sedari aku masih disapih ibu. Ku pijakkan kaki ku untuk pertama kalinya. Baru ini ku lihat kedua mata bapak berbinar. Namun kemudian ia menjadi gugup di tengah lalu lalang orang – orang yang bergegas. Bising lalu lintas membuatnya cemas, mungkin hampir puluhan mobil yang berdengung mirip sengatan serangga yang hampir mematuknya. Adanya banjir membuat jalur lalu lintas banyak yang terputus. Setelah kami berani menerobos jalan melalui jalur alternatife, tibalah kami di sebuah tempat masa lalu yang selalu membuatku bertanya-tanya. Danaunya tidak lagi sejernih yang di foto, justru yang tersisa hanyalah ranting-ranting kayu dan beberapa perahu yang ikut terdampar di tepian danau. Beberapa rumah yang terendam air mulai surut dengan meninggalkan jejak lumut dan sampah yang menyarang. Terlihat kubah gereja tua  dan menara masjid besar yang masih utuh, karena letaknya sedikit berdampingan dan agak sedikit naik dari batas danau. Namun cat dan beberapa tiang penyangganya sudah pudar dimakan usia dengan gumpalan tanah akibat banjir.  Wajah bapak nampak temaram karena ratusan air mata yang membasahi pipi nya yang nampak sudah berkerut.  Segera mungkin ia bergegas berlari bersama warga setempat menarik perahu – perahu untuk di tempatkan lagi ke asalnya. Membuat simpul dari tali untuk dikaitkan ke perahu dan ranting-ranting pohon besar yang menutup jalan agar dapat segera di pindahkan.  Akupun terpacu untuk ikut membersihkan sampah yang bersarang di sekitaran rumah warga.

“Aney ngana tetap bantu di sana. Jangan terpisah jauh dari bapak.” Teriak bapak dari jauh ketika ku lihat dia sedang membantu warga sekitar.

Penglihatanku menerawang lebih jauh menyusuri situasi perkampungan yang saat ini tengah luluh lantah akibat terjangan banjir. Danau yang dulu riaknya tenang, nyatanya meluap bagai amukan gelombang yang siap menghantam siapa saja di hadapannya. Riak – riaknya tak lagi tenang, mungkin masih tersisa sedikit ketika hujan mulai turun kembali. Ku lihat beberapa warga yang biasa bapak sebut dengan etnik jawa tondano yang hampir semua warganya mayoritas muslim sedang melakukan  muraja’a bersama dengan warga desa minahasa sekitar yang menyenandungkan puji-pujian. Rumah – rumah panggung dari kayu yang roboh mulai dibangun kembali oleh warga, dengan meletakkan beberapa bambu sebagai penyangga yang dihujamkan ke dalam tanah dimana ujung atasnya turut menyanggah kuda kuda atap. Atap – atap seng yang sudah agak longgar pakunya akan terdengar berderit – derit mempertahankan kedudukannya di atas kuda – kuda. Beberapa ritual yang diyakini sebagai penguat kekokohan rumah ikut turut serta dalam mapalus berbagai macam benda, disertai doa-doa mengiringi tegaknya bambu penguat rumah,  asap kemenyan pun menyebar dengan aroma yang sangat khas.

“Ngana bukan orang sini eh?” tanya salah satu Bapak tua yang sedang ku bantu memilah milih bambu.

“Ooo… saya Aney dari Jawa.”

“Jawa Tondano?” Tanya lagi si bapak tua.

“Bukan bapak, saya dari jawa tengah, kemari dengan bapak saya, dulu besar disini.”

“Oooh… Bapak ngana siapa punya nama?”

“Edy, Edy Ering”

“Aiiihhh, Edy si Jaton? Jawa Tondano itu? adik dari Bapa Obi? Dimana dia sekarang nak? Bertahun – tahun Edy pergi kita pikir dia sudah mati”

“Bapak ini siapa?”

“Kita khawan lama Edy ketika masih muda, sangat lama.”

Aku pun langsung bergegas berlarian mencari dari sela-sela kerumunan orang yang sedang membereskan kampung akibat banjir. Ku temukan bapak sedang sesenggukan sembari sesekali menyeka air matanya dan memeluk lelaki yang lebih tua darinya. Ku picingkan kedua mataku dan ku buka lebar-lebar daun telingaku. Mengamati apa yang terjadi dan mendengar permintaan maaf bapak pada laki-laki tua itu. Yah…aku yakin dia adalah pakdhe Obi. Keduanya seperti pertemuan si anak ayam yang kehilangan induk. Ku dengar pakdhe obi kecewa, dengan sikap bapak yang pergi tanpa pamit.

“Ngana tega dengan kita Ed. Seharusnya ngana tunjukkan sebagai laki-laki, apa kita pernah memaksa ngana untuk ikuti arus seperti kita?”

“Maafkan saya kak, kita rindu ingin pulang. Tapi kita takut jika harus berpindah keyakinan.”

“Ed, ketika sakramen ketiga ngana tidak kunjung datang. Nensi menunggu ngana ber jam-jam berhari – hari duduk diam di dalam gereja. Paman Nensi hampir saja bunuh kakak dan hampir saja ada pertikaian. Jika saat itu ngana jujur dan berani bicara ngana tidak perlu menyakiti hati siapapun.”

“Maafkan kita kak, Kak…kita rindu… rindu sekali dengan kakak, bertakbir di Tondano. Kak.. masih adakah kunang-kunang itu?”

Suara adzan terdengar syahdu dari pengeras suara di puncak menara mesjid Al Falah, mesjid terbesar di Tondano. Tangis haru begitu riuh ketika bapak saling berpelukan dengan saudara lama, keriuhan yang menggema bersama adzan yang masih dapat dilantunkan sekalipun warga tengah disibukkan memperbaiki desa. Di pinggiran danau tondano, yah… bapak bertakbir menyerukan Allahu Akbar…Allahu Akbar… Allahu Akbar… diikuti segerombolan kunang-kunang yang masih sama kilaunya ketika terakhir bapak pergi tanpa pamit. Kunang-kunang yang mungkin sudah beranak pinak dan telurnya menetas bersama tetesan embun ketika hujan. Meskipun kali ini layang – layang masih tak dapat diterbangkan.

“Kak…kita dan ngana sama – sama sudah tua ya.” Sambil terbahak – bahak ditemani segelas kawangkoan.

“Ngana yang tua, kita masih muda toh akibat minum saguer.”

“Tidak kawangkoan lagi?”

“Masih, kalau kita merasa sudah tua.”Mereka pun tertawa bersama.

“Kak? Dimana Nensi sekarang?”

“Ooohh… Jika ngana berenang ke danau Tondano, mungkin saja ngana bisa dipertemukan.”

Tiba – tiba saja bapak terdiam dengan pandangan menatap Tondano bersama kunang-kunang.

 

Catatan Belakang :

Ngana : kamu // 
Mapalus : sebutan adat gotong royong Minahasa //
Baku beking pande : Bagi orang Minahasa bermakna agar menjadi cerdas //
Kawangkoang : Kopi khas Sulawesi //
Manjo : Ayo //
Torang : kita //
Kaweng : Kawin //
Saguer : Minuman khas manado berasal dari pohon aren //
Toki pintu : mengetuk pintu prosesi lamaran //
Torang Samua Basudara : kita semua bersaudara (semboyan) //
Muraja’a : berdoa bersama //
Jaton : Jawa tondano ( sekumpulan desa jawa tondano keturunan kyai modjo beragama muslim) //

* Cerpen ini adalah Cerpen Pemenang Ketiga Lomba Sastra dan Seni UGM 2017
** Gambar adalah lukisan Chasing Firefly karya Leah Fitts

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *