Kepala Tiga

Posted: 25 September 2018 by Gary Ghaffuri

Goffar menghisap sebatang Marlboro di depan minimarket sambil mengamati kendaraan yang lalu lalang. Pada embusan ketiga ponselnya bergetar. Beberapa pesan Whatsapp masuk. Kebanyakan pesan dari grup Whatsapp kantor yang memberikan ucapan selamat ulang tahun kepadanya. Selebihnya ucapan selamat dari teman dekat, keluarga, dan ibunya. Goffar membaca sebentar pesan-pesan tersebut lalu kembali melihat lalu lalang kendaraan yang seakan tidak ada habisnya. Malam itu adalah malam Minggu dan lalu lintas lebih padat dari biasanya.

Meskipun Goffar merasa asing dengan dengan kota ini, dia masih bisa meraba urat nadi jalan-jalan utama hingga gang-gang yang pernah dia jelajahi sewaktu kuliah di kota ini. Telah banyak hal yang berubah, namun dia masih ingat dengan baik lokasi angkringan paling enak di kota ini, ruko-ruko mewah yang dulunya adalah deretan warung Lamongan, hingga lokasi kos-kosan nakal yang membolehkan penghuninya untuk menyelundupkan perempuan dengan bebas. Semuanya masih terekam dengan baik di ingatannya meskipun kota ini telah berubah rupa.

“Habis ini beli bensin dulu ya,” kata Arief sambil duduk di sebelah Goffar. Arief baru saja membeli minuman di minimarket. Goffar hanya menoleh padanya dan mengacungkan jempolnya.

“Sekarang kalau malam Minggu selalu macet,” kata Arief sambil menyesap larutan penyegar yang baru saja dibelinya. “Rasa-rasanya kota ini makin sumpek.”

“Filmnya mulai jam berapa?” tanya Goffar tanpa memedulikan keluhan Arief.

“Nanti  jam 9, sekarang baru jam 7. Kita di sini dulu ya, kalau di lobi bioskop nggak bisa ngerokok,” jawab Arief sambil melihat jam di pergelangan tangannya.

Arief menyambar sebatang Marlboro milik Goffar, menyalakannya dan mulai asyik dengan ponselnya. Goffar hanya memperhatikan tingkah sahabatnya sambil membayangkan bahwa waktu berlalu begitu cepat tanpa disadari. Sewaktu kuliah, Arief adalah seorang mantan vokalis sebuah band punk yang terkenal di skena lokal dengan lagu berjudul provokatif  “Alcohol Is The Answer”. Sekarang dia bekerja sebagai seorang analis kredit di sebuah bank BUMN. Pemuda gondrong pembangkang yang gemar memakai kaos Ramones, celana jeans ketat, dan sepatu Vans Slip On telah berubah menjadi pria dewasa setengah bapak-bapak dengan rambut pendek yang mulai menipis, perut yang mulai menggembung, jenggot dan kumis yang terpelihara dengan baik, serta gaya busana yang makin jauh dari kesan fashionable.

“Makan-makan lah, kamu hari ini ulang tahun kan?” tanya Arief sambil memasukkan ponsel ke dalam saku jaket.

“Haha kupikir kamu nggak ingat. Ya nanti deh habis nonton,”

“Pokoknya jangan angkringan.”

“Warmindo?”

“Bangsat, yang berkelas sedikit lah, kepala tiga nih, perlu dirayakan.”

Holy Cow?”

Nah gitu, bayarin bir sekalian di Spiegel ya.”

“Katanya sober?”

“Wah, khusus untuk malam ini nggak ada kata sober.”

Alcohol is the answer!” Goffar berseru menyanyikan lagu lama milik band si Arief.

“Bangsat, masih ingat aja! Hahahaha. Eh si Rozi katanya mau kawin bulan depan tuh,” kata Arief.

“Anak-anak pada datang?”

“Kayaknya sih datang, tapi nggak tau sih kalau yang rumahnya jauh,”

“Makin susah aja kumpul-kumpul kalau udah pada kawin.”

Goffar dan Arief adalah bagian dari sebuah komplotan beranggotakan sepuluh orang mahasiswa Sastra Inggris. Mereka bersepuluh berkenalan pada hari pertama masuk kuliah dan sejak itu mereka tidak terpisahkan hingga wisuda.  

Setelah lulus kuliah, kesepuluh orang tersebut masih sering berkumpul hingga jumlah anggota yang bisa diajak berkumpul mulai berkurang karena pekerjaan atau sibuk dengan keluarganya masing-masing. Di antara kesepuluh anggota komplotan tersebut, hanya tinggal Arief dan Goffar yang belum menikah. Goffar belum menikah karena dia belum menemukan pasangan yang baru sejak berpisah dari pacarnya dua tahun yang lalu. Sedangkan Arief memiliki cerita yang agak mengenaskan.

Arief baru saja berpisah dengan pacarnya setelah hampir lima tahun pacaran. Alasan mereka berpisah karena perbedaan agama. Biasalah Indonesia. Seminggu sebelum hari ulang tahun yang ke-30 Goffar, Arief menelpon dan bercerita bahwa dia sudah berpisah dengan pacarnya karena keluarganya dan keluarga mantan pacarnya keberatan dengan pernikahan beda agama. Arief mengajak Goffar untuk bertemu di kota S, kota di mana Goffar kuliah sekaligus kota tempat Arief tinggal.   

“Aku benar-benar lagi stres nih, butuh teman, main ke sini bisa nggak?” pinta Arief via telepon.

“Akhir pekan ini kayaknya bisa. Nanti aku main ke situ deh. Awas, jangan gantung diri dulu, utangmu yang gocap belum dibayar. Sebelum mati lunasin dulu.”

“Anda pancen asu hahaha,” jawab Arief sambil mematikan sambungan.

Ketika bertemu tadi siang, Arief menceritakan semuanya. Dia dan mantan pacarnya sama-sama tidak ingin mangkir dari agama yang mereka anut sehingga mereka memutuskan untuk tetap menikah walaupun berbeda agama. Arief berasal dari keluarga yang konservatif sehingga keputusan untuk menikah beda agama tidak disetujui. Pada akhirnya semua usaha untuk mempertahankan hubungan dengan mantan pacarnya harus berakhir karena tidak ada lagi jalan yang bisa ditempuh. Meskipun mereka bisa saja menikah tanpa sepengetahuan keluarga masing-masing, mereka berdua sepakat bahwa keluarga adalah harga yang terlampau mahal untuk dikorbankan. Arief bercerita bahwa yang membuatnya tidak meneruskan rencananya menikah adalah ibunya. Arief sangat menyayangi ibunya yang merupakan orangtua tunggal. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih SMA. Dia rela mengorbankan kebahagiannya sendiri demi kebahagiaan ibunya. Sewaktu dia selesai bercerita, Goffar hanya terdiam. Goffar merasa tidak bisa memberikan nasihat apa-apa soal percintaan karena kisah cintanya sendiri tidak kalah mawutnya dengan kisah cinta sahabatnya.

Hubungan Goffar yang terakhir hanya bertahan sekitar setahun saja. Goffar dan mantan pacarnya sebenarnya sudah berencana akan menikah. Goffar dan mantan pacarnya sudah sama-sama kenal dengan orangtua masing-masing. Mereka hanya tinggal menunggu waktu untuk mempertemukan orangtua untuk membicarakan masalah lamaran dan lain-lain. Tepat seminggu sebelum pertemuan antar orangtua dilaksanakan, mantan pacarnya tiba-tiba saja meminta untuk bertemu. “Penting, Mas,” katanya.

Goffar tidak akan pernah lupa pertemuan itu. Mereka bertemu di sebuah warung kopi sekitar jam 7 malam. Goffar bergegas pulang dari kantor untuk menemui mantan pacarnya. Dengan masih berkemeja kerja Goffar harus menerima kenyataan bahwa mantan pacarnya ini mengaku belum siap menikah. Goffar tidak terlalu memperhatikan alasan yang dikemukakan oleh mantan pacarnya karena telinganya mendadak berdenging dan kepalanya sedikit pening. Bodohnya, Goffar hanya mengatakan bahwa jika memang itu keputusannya, maka dia akan berusaha menerima dengan lapang dada. Sakitnya baru terasa setelah Goffar berbaring di ranjang menjelang tidur. Goffar menangis sampai subuh sambil memutar berulang kali lagu-lagu patah hatinya Adhitia Sofyan di Sportify. Keesokan harinya Goffar bolos kerja dan naik motor keliling kota tanpa tujuan dari pagi hingga magrib untuk menghilangkan pikiran buruk.

Tiga bulan setelah mantan pacarnya mengakhiri hubungan, Goffar mendengar kabar bahwa mantan pacarnya akhirnya menikah. Teman-temannya mulai ramai bergosip soal kemungkinan adanya perselingkuhan. Goffar sendiri tidak mau ambil pusing mengenai hal itu. Jika memang benar ada perselingkuhan, maka dia malah bersyukur sudah dihindarkan dari calon istri yang buruk. Terdengar sok tabah memang, namun bagaimanapun juga, penghiburan kepada diri sendiri perlu dilakukan agar jiwa tidak digerogoti kesedihan terlalu dalam.

Goffar masih bisa merasa beruntung jika dibandingkan seorang teman yang akhirnya batal menikah setelah segala persiapan selesai dilakukan. Calon mempelai pria membatalkan pernikahan setelah undangan selesai dicetak, katering sudah dibayar, dan gedung sudah dipesan. Setidaknya masih ada yang nasibnya lebih sial darinya.

Hal yang paling menyakitkan sebenarnya bukan soal betapa cepat si mantan pacar menikah dengan pria lain atau gosip mengenai adanya perselingkuhan. Hal yang paling menyakitkan adalah dia memberi nama anak pertamanya dengan nama anak yang kalian cari bersama-sama sewaktu masih pacaran. Bangsat memang.

“Katanya, di umur-umur memasuki kepala tiga kita bakal dihadapkan pada sebuah kejadian penting yang bisa mengubah hidup kita,” kata Arief sambil mengepulkan asap Marlboro ke udara. “Mungkin sekarang kita sedang menghadapi kejadian penting itu.”

“Mungkin. Tapi sejak putus itu hidupku nggak terlalu banyak berubah tuh,” jawab Goffar.

Semenjak gagal menikah, hampir tidak ada yang berubah dalam hidup Goffar. Dalam pekerjaan memang dia sempat naik jabatan dari semula pegawai biasa akhirnya dipercaya memimpin sebuah tim kecil. Mungkin ini ada hubungannya dengan keputusan Goffar untuk tetap bertahan di kota Y, sebuah kota liburan dimana segala hal berjalan tidak terlalu tergesa gesa.

Banyak orang percaya bahwa kota J adalah satu-satunya kota di mana karier bisa melesat cepat, kota metropolitan yang menjanjikan semua kesempatan dan kemungkinan yang ada. Tapi Goffar berpikir bahwa dalam setiap keputusan yang diambil dalam hidup, maka ada pengorbanan yang harus dibayarkan. Jadi manusia tinggal memutuskan hal apa yang ingin dikorbankan dan hal apa yang ingin dipertahankan. Jika Goffar pindah ke kota J, mungkin rekeningnya sudah gemuk dan kariernya bisa lebih baik, namun harga yang harus dibayar adalah kemacetan parah, stres yang tinggi, hidup yang serba terburu-buru, dan paru-paru yang perlahan tergerus oleh polusi udara yang begitu buruk.

Banyak teman kuliahnya yang menyarankan Goffar untuk pergi dari kota Y. Namun Gofffar sudah bertekad untuk mengorbankan kesempatan mendapatkan penghasilan dan karier yang bagus demi mendapatkan ketenangan dan hidup yang tidak melulu dipacu waktu. Sebagian pembaca cerpen ini mungkin bakal mencibir habis-habisan keputusan ini namun Goffar memegang teguh prinsip bahwa hidup hanya sekali, maka lakukan saja hal-hal yang bisa membuat bahagia. Tidak perlulah menantang diri terlalu keras karena toh pada akhirnya manusia bakalan mati juga.

“Kamu mah terlalu nihilis orangnya,” komentar rekan kerja Goffar suatu saat ketika mereka makan siang bersama.

“Ya tapi benar kan, mau jadi apa pun di dunia ini toh pada akhirnya kita bakalan mati,” jawab Goffar.

Untuk urusan yang satu ini Goffar memang belum tergoyahkan.

Kembali soal cinta, Goffar juga belum merasa siap untuk memulai hubungan baru meskipun sempat dekat dengan beberapa perempuan. Meskipun dicap sebagai seorang nihilis dan keras kepala dalam memegang prinsip hidup, Goffar merasa bahwa jiwanya lembek, mudah merasa sakit hati sehingga dia sangat pemilih dalam menentukan pasangan. Semacam sistem pertahanan diri yang sudah terlatih dari pengalaman-pengalaman cinta yang buruk. Goffar sudah merasa cukup merasakan beberapa kali sakit hati dan dia tidak ingin hal itu terulang lagi. Menyebalkan memang jadi seperti ini. Kadang dia merasa ingin santai saja macam rekan kerjanya yang bisa sesuka hati berganti-ganti pacar dan patah hati berkali-kali namun tidak pernah takut untuk memulai hubungan baru.

Beberapa minggu lalu Goffar sempat berpikir untuk membuat perubahan dalam hidup. Karena sudah bosan tinggal di kamar kos, dia sempat ingin mengajukan kredit kepemilikan rumah. Namun begitu mengetahui harga properti di kota Y, nyali Goffar menciut. Setelah dikalkulasi dengan menghitung jumlah cicilan setiap bulan ditambah perkiraan biaya listrik, air, dan pengeluaran lain-lain, nampaknya penghasilan Goffar yang sekarang masih kurang. Memang ada pilihan rumah murah dengan subsidi dari pemeritah yang lokasinya berada jauh dari pusat kota. Namun di mata Goffar, rumah-rumah bersubsidi itu kondisinya sangat mengenaskan. Seorang rekan kerja dengan setengah bercanda menyarankannya untuk segera menikah sebab jika penghasilan Goffar dan penghasilan istrinya digabung, maka cicilan rumah yang dia idamkan bisa ditanggung berdua sehingga lebih ringan. Dan permasalahannya kembali ke urusan mencari pasangan. Goffar hanya bisa geleng-geleng kepala.

“Aku kayaknya bakal menjomblo seumur hidup nih haha,” seloroh Arief.

“Fasenya memang begitu, awal-awal memang berat karena kita ngerasa nggak bakal ada yang bisa gantiin dia, tapi lama-lama bakal normal sendiri. Yah setidaknya yang aku alami seperti itu sih.”

“Kamu nggak nyobain pakai aplikasi buat cari pasangan? Temen kantorku ada yang nyaranin buat pakai itu soalnya.”

“Haha udah pernah, tapi nggak lama. Cuma pakai beberapa bulan aja. Perempuan yang umurnya di atas 30 kebanyakan sudah putus asa sedangkan perempuan yang umurnya 25-an sedang berada dalam puncak kecantikannya, mereka nggak tertarik sama pria uzur macam aku.”

“Tapi aku pernah baca di The Telegraph, katanya perempuan muda sekarang lebih tertarik sama pria yang lebih tua.”

Kok bisa?”

“Para perempuan muda menyukai pria yang lebih tua karena alasan finansial dan kemapanan.”

Asu, kita nggak termasuk kalau begitu.”

Mereka berdua tertawa.

“Tapi sudah pernah ada yang ketemu langsung? Maksudku dari kenalan lewat aplikasi.”

“Cuma dua orang. Itu pun sekarang nggak kontak lagi.”

“Orangtuamu nggak mendesak?”

“Iyalah. Mereka sih cuma mau tahu beres aja, nggak mau tahu gimana kita jatuh bangun nyari pasangan haha.”

“Tobat aja cuk, ngikutin kiai. Habis itu minta dijodohin.”

“Bangsat,” umpat Goffar sambil tertawa.

“Tiga puluh ya. Tiga bulan lagi aku juga bakalan nyampe tiga puluh nih,” gumam Arief. “Kayaknya aku bukannya nambah bijak tapi nambah bingung aja nih.”

“Sewaktu masih 20-an, aku rasanya pengen cepat-cepat jadi tua biar segera paham kehidupan. Di umur yang sekarang aku malah ngerasa makin bingung.”

Gitu ya.”

Setelah hening yang lumayan lama, Goffar bertanya, “Jadi bagaimana sekarang?”  

“Sekarang kita nonton dulu, yang lain bisa menunggu. Sudah jam 8 nih,” jawab Arief sambil melihat ke arah jam tangannya. Arief berdiri, mengisap batang rokok yang sudah pendek untuk yang terakhir kali dan membuangnya ke tempat sampah. Goffar berjalan membuntuti Arief menuju ke tempat parkir sambil berpikir bahwa kadang dalam hidup, tidak semua pertanyaan bisa terjawab.

Pendapat Anda: