Hamsa Tamura

Pada acara sastra ke-66 yang ia ikuti di kotanya, Hamsa Tamura memboyong sebuah novel tebal berbahasa Inggris dengan kedua tangannya. 2666 karya Roberto Bolano. Itu bukan miliknya pribadi, tentu saja. Buku itu dipinjamnya dari Axiko yang baru memborong buku-buku sastra berbahasa asing secara online. Axiko membeli sepuluh buku dari toko buku online yang bertempat di Jakarta. Biasanya ia membeli satu atau dua. Berhubung ia baru memenangi sebuah sayembara kepenulisan, Axiko menghabiskan sebagian besar hadiah sayembara untuk membeli buku—untungnya, ada potongan harga jika membeli lebih dari 5 buku. Axiko punya perpustakaan pribadi yang kecil saja, tapi padat dengan karya-karya para pemenang Nobel dan buku-buku yang masuk daftar 1001 Buku yang Harus Kamu Baca Sebelum Kamu Mati. Sampai di sini tentang Axiko. Sementara itu, Hamsa Tamura tampak memasuki sebuah gedung dengan pendaran lampu yang samar. Langkahnya terlihat angkuh. Kemeja kremnya tampak gombrong untuk ukuran tubuhnya yang mirip tiang listrik. Kemeja itu ia pinjam dari—siapa lagi memang kalau bukan—Axiko. Ia sudah duduk di suatu kursi dan menyapa beberapa orang—sambil mengacung-acungkan buku 2666.

“Wow, kau baca karya monumental Bolano?” takjub lelaki berambut klimis dengan setelan necis. Lelaki itu bahkan sampai melepas kacamatanya.

Hamsa Tamura tersenyum-senyum bangga. Ia mengangguk-angguk dan mengangkat alisnya tinggi-tinggi. Kemudian, sebagaimana biasa, ia mengobral kata-kata sifat. “Buku ini bagus banget. Keren. Aku sampai kehilangan kata-kata untuk mendefiniskan kehebatannya. Luar biasa!”

Percakapan keduanya berhenti sampai di situ. Sebab, seseorang di atas panggung mengambil mik dan mengatakan acara akan dimulai.

Acara pertama adalah pembacaan puisi. Seorang lelaki ceking dan gondrong membacakan Aku-nya Chairil Anwar dengan ekspresif—ia mengepalkan tangan, menunduk-nunduk, tersedu-sedu dan sesekali menutupi mukanya. Setelahnya ada dua orang lain membacakan dua puisi yang lain. Tepuk tangan membahana selepas acara pembuka.

Memasuki acara utama, tiga orang duduk di sofa berukuran sedang dengan seorang yang lain duduk di sofa terpisah. Mereka semua adalah penulis. Salah satunya bertindak sebagai moderator, satu adalah penulis buku yang bakal dibedah, dan dua sisanya adalah pembedah. Buku yang dibedah kala itu adalah novel mengenai pelacur di suatu desa pedalaman di pulau Jawa. Penulisnya adalah orang melarat dan tak terkenal sampai kemudian ia menjuarai sayembara novel yang diselenggarakan Dewan Kesenian Ibukota. Pasca itu namanya melejit dan ia diundang ke mana-mana. Pada acara bedah buku tersebut, ia bilang tengah menyusun novel tentang kehidupan seorang pesepakbola lokal yang kakinya patah dan ditinggalkan istrinya yang menikah lagi dengan pesepakbola dari klub rivalnya.

“Sejauh mana progress penulisan novel tersebut?” tanya moderator.

“Ah, baru sampai tahap ide,” seloroh si penulis sambil terkikik.

Acara utama berlangsung hampir dua jam. Dan selama itu kita belum tahu apa saja yang Hamsa Tamura lakukan di kursinya yang terletak di baris kedua paling belakang.

Banyak hal yang bisa Hamsa Tamura lakukan selama kira-kira 7200 detik. Namun, sebelum itu, ada yang patut kita pertanyakan: Mengapa Hamsa Tamura membawa bukunya Bolano alih-alih buku yang akan dibedah? Untuk menjawab hal tersebut, sebenarnya kita tak perlu pusing-pusing. Dari 65 acara sastra (maksudnya acara bedah buku) yang telah ia ikuti ia tak pernah membawa buku yang menjadi objek pembedahan. Ia selalu membawa buku yang lain. Buku-buku yang sebelum ia renggut dari perpustakaan mini Axiko, ia tanyakan dulu pada Axiko, “Ini buku bagus atau bukan?”. Kalau Axiko bilang itu bagus atau ungkapan-ungkapan pujian sejenisnya, Hamsa Tamura akan dengan bungah dan pongah membawanya. Kemudian ia akan tunjukkan kepada kenalan-kenalannya, di berbagai acara sastra. Kebanyakan mereka mengagumi dan menyangjung Hamsa Tamura dan selera bacaannya (tepatnya selera bawaannya). Sebagai pemuda pengangguran dan kesepian yang jomlo bertahun-tahun, sanjungan semacam itu membuatnya merasa layak untuk tetap melanjutkan hidup. Tiap pulang dari acara-acara sastra itu, Hamsa Tamura akan berterimakasih kepada Axiko dan meletakkan buku yang ia pinjam pada tempatnya. Ia akan meletakkannya dengan rapi dan hati-hati karena ia tak mau mengecewakan Axiko yang telah berbaik hati meminjamkannya.

Sepanjang acara itu, sebagaimana pada acara-acara sebelumnya, Hamsa Tamura tak banyak menyimak. Ia lebih banyak berbincang dengan orang-orang sebelahnya, menjelajahi internet, bermedia sosial, membuka-buka buku 2666 dan membacanya seolah ia memahami isinya (padahal ia sama sekali tak mengerti Bahasa Inggris dan tak pernah membaca Bolano). Teman sebelahnya, si rambut klimis, juga tak beda jauh dengan Hamsa Tamura. Ketimbang menyimak kata-kata para pembedah, ia lebih banyak menatap layar ponselnya yang bersinar terang di ruangan yang berpendar samar.

Acara selesai dan ditutup dengan sorak-sorai tepuk tangan dan foto-foto dan minta tanda tangan dan semacamnya dan semacamnya.

Hamsa Tamura pulang ke rumah mungil peninggalan orang tuanya. Rumahnya berdampingan dengan rumah Axiko. Ia mampir ke tempat Axiko untuk mengembalikan buku. Axiko tampak sedang serius membaca sebuah buku tebal dengan secangkir kopi dan sebungkus kudapan di atas meja.

“Kapan-kapan, kau ikutlah bersama datang ke acara sastra,” ajak Hamsa Tamura.

“Aku tidak punya waktu. Masih banyak antrean buku yang mesti kubaca,” balas Axiko tanpa memalingkan matanya dari buku.

“Ah, kau ini. Katanya suka sastra, tapi enggan mendatangi acara sastra.”

Axiko tak memedulikan kata-kata Hamsa Tamura. Ia tetap asik dengan bukunya.

Sebelum Hamsa Tamura balik ke rumahnya, setelah ia meletakkan 2666 ke rak buku baru, Axiko memandangi tubuh ringkih Hamsa Tamura sesaat, lalu membatin, “Ah, kau ini, suka datang ke acara sastra, tapi jarang membaca buku-buku sastra sampai tamat.”

Hamsa Tamura sudah sampai di depan pintu rumahnya, dan ia tak pernah mendengar suara batin Axiko.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait