Dia yang Mengaku Termiskin di Dunia

Posted: 9 January 2018 by Asef Saeful Anwar

M senantiasa memandang dirinya sebagai seseorang yang serba kurang dibandingkan dengan orang-orang di sekitarnya. Kalau bertemu abang becak, ia merasa tak punya becak. Kalau bertemu pemulung, ia merasa tak punya karung. Kalau bertemu tukang parkir, ia merasa tak punya peluit. Pekerjaannya sebagai operator player di sebuah tempat karaoke tak membuat dirinya merasa memiliki usaha karaoke dengan tiga cabang di kotanya dan belasan cabang di kota lainnya.

Anggapan yang terlalu merendahkan dirinya sendiri itu berakibat buruk pada cara bergaulnya. Secara tak sadar ia telah menganggap kemiskinan sebagai penyakit menular yang membatasi pergaulannya. Untuk bergaul seperti teman-temananya, ia merasa tak mampu. Ia tak pernah jenak diajak bercakap tentang jenis-jenis burung, batu akik, atau sekadar bisik-bisik rencana mabuk-mabukan sambil bergunjing tentang perempuan. Baginya harga kandang burung atau batu akik termurah sekalipun bisa untuk menyambung hidup keluarganya barang sehari. Ia pun merasa tak baik mabuk-mabukan sementara kedua orangtuanya di rumah sedang pusing memikirkan hutang yang belum kunjung lunas kepada sejumlah tetangga dan saudara. Dialah yang tengah berupaya untuk melunasi hutang-hutang itu sekaligus membantu mencukupi kebutuhan keluarganya.

M hidup dengan kedua orangtuanya dan satu adiknya yang masih sekolah. Bapaknya tak bisa lagi bekerja setelah telapak kaki kanannya remuk tertimpa balok bangunan. Tak ada lagi yang memanggil bapaknya untuk turut bekerja dalam sebuah proyek bangunan. Bahkan, tetangga yang hendak membangun rumah pun tak ada yang menyewa lagi tenaganya kecuali hanya karena rasa kasihan. Sebulan setelah musibah itu ibunya dipecat oleh majikannya karena mencuri. Akibatnya, ibunya sulit lagi mendapatkan orang kaya yang mau mempekerjakannya.  

Sialnya apa yang dicuri ibunya itu adalah uang yang dipakai M untuk membayar biaya sekolah menengahnya di sebuah yayasan swasta. Tentu, ia tak bisa marah. Setidaknya berkat jasa ibunya ia punya ijazah SMA. Meskipun telah banyak berganti pekerjaan dengan ijazah itu, pada akhirnya ia betah bekerja di tempat karaoke dengan gaji yang lumayan cukup, setidaknya bila dilihat dari ijazahnya. Sementara ibunya kini berjualan gorengan dengan dibantu adiknya.

Kalau teman-teman kerjanya mulai ngobrol tentang jenis burung paling yahud kicauannya, tentang batu akik paling bercahaya dengan isian jin Timur Tengah atau Tiongkok, dan menyinggung rencana mabuk-mabukan dengan ciu oplosan, ia memlih mlipir, diam-diam pergi tanpa pamit. Adapun temannya mula-mula heran sampai kemudian memaklumi meskipun sebagian besar menganggapnya sebagai pribadi yang sentimentil. “Sekali waktu senang-senang masak nggak bisa sih…” demikian ia biasa mendengar keluhan yang menyerupai godaan itu. Dan ia menanggapinya dengan senyum tanpa kata (ah, mana ada orang tersenyum bisa sambil berkata?). Dalam posisi meninggalkan teman-temannya itu, hatinya kerap berujar: “Bersyukurlah kalian telah memiliki hidup sendiri, bertanggung jawablah atasnya, sementara aku masih harus….”

Saking merasa miskinnya, ia sering tak memiliki kata-kata untuk melanjutkan suara hatinya sendiri.

Kalau pergaulannya terbatas seperti itu, lalu bagaimana ia bisa bertemu dengan Camelia, perempuan kaya yang kini dekat dengannya? Di tempat macam apakah orang miskin dan orang kaya bisa saling memandang tanpa status dan jatuh hati saat pandangan mereka tersandung? Kesempatan macam apa pula yang menyilahkan kedua insan beda harta itu bisa bertemu selain kesempatan-kesempatan sebagai pelayan dan yang dilayani, selain sebagai pesuruh dan penyuruh?

Namun, Tuhan selalu merencanakan dan mengerjakan sesuatu yang harus tidak bisa ditebak oleh manusia. Tuhan menyediakan kesempatan baginya jatuh cinta pada waktu yang seharusnya ia total menghamba, dan pada tempat yang tak diduga seorang pun untuk jatuh cinta: mushola tempat karaoke.

Sebagian besar tempat karaoke di kotanya, termasuk tempat kerjanya, menyediakan mushola hanya untuk memenuhi aturan dari negara yang mengharuskan perusahaan memenuhi hak beribadat karyawan dan konsumen. Tanpa ada aturan itu pastilah para pemilik karaoke lebih memilih mengubah mushola itu menjadi room tambahan. Sebab mereka lebih sering melihat banyaknya konsumen yang mengantre untuk bernyanyi daripada yang meluangkan waktu untuk beribadat. Sementara karyawan lebih suka memanfaatkan sholat sebagai alasan untuk curi-curi waktu istirahat.

Ia tengah mengambil air wudlu ketika Camelia datang dari arah lorong room karaoke. Dengan langkah kaki yang pelan dan sepatu yang tidak ber-hak, hingga tak ada suara tak tok tak tok yang ditimbulkannya, tapi entah mengapa itu cukup mampu membuat M berpaling menatap wajah perempuan itu sekitar tujuh detik hingga ia tak sadar urutan wudlunya sampai di mana. Apakah telah membasuh tangannya atau telinganya? Mulutnya melafalkan bacaan pengampunan. Ia hendak mengulang wudlunya ketika tiba-tiba perempuan itu berdiri di sampingnya dan mulai membasuh tangannya. Hanya ada dua kran untuk wudlu di samping ruang mushola. Ketika perempuan itu berkumur, ia telah membasuh kakinya pada bilangan ketiga, dan entah mengapa air kumuran dari perempuan itu, yang terasa menyiprat ke betis kakinya, tak mau ia basuh.

Ia buru-buru masuk ruang ibadat. Berusaha mengheningkan hati dan pikiran. Tapi tak bisa-bisa. Mencoba konsentrasi. Masih belum bisa. Ia memaksa mengucap niat dalam hati sambil bertakbir mengangkat kedua tangannya, tapi suara lembut perempuan itu terdengar olehnya. Menghentikan gerakan takbirnya karena perempuan itu memohon ia menunggu sejenak agar mereka bisa berjamaah. Ia menunggu. Dan jadilah Maghrib itu sebagai sholat yang paling tidak khusyuk sepanjang hidupnya.

Ketika M diminta oleh manajernya untuk masuk ke sebuah room yang pelantangnya tiba-tiba tidak berfungsi, ia kembali bertemu dengannya. Camelia sendirian dalam room yang harusnya diisi oleh enam orang. Sebagai pelayan ia tersanjung ketika diajak berkenalan. Sebab baru kali ini ada pelanggan yang mengajaknya berkenalan. Meskipun orang miskin dan tidak mengerti persoalan merek barang, ia mengerti betapa Camelia adalah perempuan kaya hanya dengan melihat apa yang dikenakannya: busana dengan bahan tipis, halus, dan sedikit terbuka di bagian dada dan bahu (pasti punya mobil, tak mungkin dengan busana macam itu ia naik motor kecuali mau masuk angin), batu giwangnya yang mengkilat terkena cahaya lampu menyimbolkan huruf C (ia menduga itu berlian asli dengan merek ternama meskipun pengetahuannya yang miskin tak dapat mengerti kalau C itu menyimbolkan Channel, yang ada dalam pikirannya hanyalah inisial Camelia, nama yang barusan didengarnya), dan rambut panjangnya yang menggerai di punggungnya terpotong amat rapi, halus, dan wangi (pasti rutin ke salon kecantikan dan rajin keramas setiap kali mandi meskipun tidak sedang junub).

“M,” panggil Camelia, sementara ia memaksa untuk tak berpaling dan berpura-pura mengotak-atik sound system setelah mencabut kabel pelantang yang memang terbukti tak berfungsi lagi. Mendapati panggilannya tak diacuhkan, Camelia tetap melanjutkan: “Besok malam aku akan di room ini lagi. Sekitar jam 8. Kamu kerja shift malam kan?”.

Ia mengerti arah pertanyaan itu dan hanya mengangguk untuk menjawabnya tanpa perlu menjelaskan kalau ia bekerja sepanjang karaoke itu buka.

“Besok aku tunggu ya,” kata Camelia ketika M beranjak hendak meninggalkannya, “aku mau belajar bacaan sholat”. Langkah kaki M terhenti. Ketika hendak menutup pintu, ia mengangguk dan memberi senyum.

Esok harinya dunia seolah berubah baginya. Manajer dan teman-temannya memandangnya dengan cara berbeda. Beberapa melempar pertanyaan dan basa-basi yang tak ia mengerti apakah itu bentuk perhatian atau ledekan. Tak ada yang berani berterus terang ketika ia bertanya sebenarnya ada apa karena mereka menganggap ia tengah berpura-pura. Sampai akhirnya bertemu Camelia sebagaimana janjinya kemarin, ia mulai mengerti segalanya.

Di monitor yang ada di hadapan mereka, terlihat menu yang menunjukkan beberapa pilihan bacaan sholat dan surat-surat pendek. Mengapa bisa ada menu seperti itu? Siapa yang memasukkannya?

“Tak usah heran, aku yang meminta mereka untuk memasukkan menu itu.” M langsung membayangkan siapa saja yang dirujuk “mereka” dalam ucapan itu: teman-temannya. Tapi masakah manajernya mengizinkannya? Jika mengizinkan, siapa sesungguhnya perempuan ini? Ah, bukannya ia juga diizinkan, bahkan seperti disuruh, menemani perempuan ini? Pertanyaan itu menggaung selama hampir dua jam ia menemani Camelia belajar membaca sekaligus menghafal bacaan sholat dengan baik dan benar.

“Hidup ini penuh liku-liku ya,” kata Camelia seusai merasa lelah dan terasa ingin mencurahkan isi hatinya, “ada suka ada duka.” Ia  menghela napas amat dalam. Sementara M kebingungan hendak menanggapi dengan apa dan bagaimana.

“Minumlah,” kata Camelia yang melihat segelas es teh yang masih utuh sejak disuguhkan dan tak ada lagi pecahan esnya. M menurut dan mulai mendengarkan keluhan Camelia. Sebulan yang lalu, ibu Camelia—yang saat itu juga diketahui oleh M sebagai istri pemilik karaoke tempatnya bekerja—meninggal  dunia setelah dua hari dirawat di sebuah rumah sakit. Selama sepekan seusai dikuburkan, ibunya berturut-turut datang ke dalam mimpinya, memintanya untuk mendoakan.

M mulai mengerti mengapa perempuan itu belajar menyempurnakan sholatnya.   

***

Dari pertemuan ke pertemuan mereka kian akrab. M merasa rikuh meskipun manajernya senantiasa mengizinkannya bila ia harus meninggalkan pekerjaannya demi menemani Camelia. Sementara teman-temannya makin sering meledeknya.

Sebagai seorang lelaki miskin, M kini khawatir Camelia menaruh hati kepadanya. Ini tentu kekhawatiran yang berlebihan tapi bisa dimaklumi mengingat demikianlah karakter lelaki perasa sepertinya, yang begitu mendapatkan sedikit saja perhatian—yang sebenarnya respons wajar—dari seorang perempuan lalu menganggap itu adalah bentuk penerimaan.

Kekhawatiran M berujung pada ketakutan karena pengalaman cinta satu-satunya kepada Lilis. Pengalaman kegagalan cinta yang membuat ia bertahan hingga empat tahun menjaga jarak dengan perempuan agar tidak jatuh cinta. Cinta yang membuatnya trauma dan senantiasa berkaca sebelum mengungkapkan isi hati.

Lilis adalah pelayan warteg tempatnya sering makan bila ada kelebihan rezeki. Setiap kali M datang, perempuan itu menyambutnya dengan senyum dan tatapan penuh harap. Lilis akan bertanya dengan ramah dan sedikit mesra ia akan makan dan minum apa. Awalnya, M menyangka Lilis tengah menjalankan tugasnya sebagai penjaja menu belaka. Namun, lama-kelamaan ia mengerti kalau ada perlakuan khusus padanya. Merasa mendapatkan celah, M mengajaknya jalan ketika mereka sama-sama tidak sedang bekerja. Pada pertemuan-pertemuan awal mereka bercakap seputar pekerjaan, kegemaran, dan menggunjing majikan. Pertemuan-pertemuan berikutnya mulai membicarakan masa depan, keluarga, dan pernikahan. Dan di sinilah masalah itu timbul.

Lilis acap ogah-ogahan ketika M menyinggung pernikahan. Karena kerap tidak diacuhkan padahal M serius ingin membicarakan soal itu, mereka bertengkar. Saling diam. Lumayan lama sebelum Lilis mengirimkan ajakan bertemu kepada M melalui sebuah pesan pendek. M dengan gembira menyambut ajakan itu karena ia mengira kekasihnya itu akan serius membicarakan pernikahan. Benarlah dugaan M bahwa Lilis membicarakan pernikahan dengan amat serius:

“Aku sangat senang ketika kamu mengajakku menikah. Aku ceritakan pada bapak dan ibu bahwa ada lelaki yang mengajakku menikah. Bapak kemudian bertanya: siapa? Ibu bertanya: apa pekerjaannya? Bapak bertanya lagi: apakah aku siap hidup miskin terus-menerus? Ibu bertanya lagi: apakah aku tidak punya pilihan lain? Setelah itu, aku merenungkan jawaban-jawaban yang aku berikan kepada bapak dan ibuku. Aku ingat-ingat pula ceritamu tentang keluargamu, tentang bapakmu yang tidak bisa bekerja lagi, tentang ibumu yang jualan gorengan, dan adikmu yang masih sekolah itu. Bila nanti kita menikah, tentu bertambah lagi tanggung jawabmu. Aku tak ingin menjadi tambahan bebanmu. Aku ini cuma pelayan warteg. Tapi, sebagai pelayan warteg aku punya keinginan untuk hidup yang lebih baik dengan suami yang mampu mengangkatku jadi majikan, bukan terus-menerus jadi pelayan. Apakah kamu bisa?”

Alih-alih menerima pertanyaan itu sebagai sebuah tantangan, M justru memilih mundur. Ia justru menyuntuki keadaan dirinya sebagai seorang miskin dan kembali pada kesibukannya memenuhi tanggung jawab pada keluarganya. Ia dapat mengerti mengapa Lilis secara halus menolak pinangannya. Lilis anak tunggal buruh tani dan tukang becak yang hendak mengubah peruntungannya. Tak ada salahnya ia ingin hidup kaya. Memang kebahagiaan tidak selalu datang dari harta. Namun, kepercayaan itu lebih banyak diyakini oleh orang kaya yang menderita daripada oleh orang miskin yang bahagia. Sayangnya, Lilis termasuk orang miskin yang tidak bahagia.

Sudah tahu jalannya licin, kenapa engkau pakai sepatu? Sudah tahu aku orang miskin kenapa engkau cinta padaku? M menggumam sambil meninggalkan Lilis.

Bila dengan Lilis yang sama miskinnya saja ia tak bisa meminang, bagaimana dengan perempuan yang memiliki status sosial lebih tinggi? Itulah pertanyaan yang mengeram di kepalanya hingga empat tahun, yang selalu membuatnya menundukkan kepala ketika bertatapan dengan perempuan. Dan apabila ia tergetar karena tak sengaja memandang atau berpandangan dengan perempuan, apalagi yang turun dari mobil, ia sering buru-buru ambil air wudlu lalu bercermin dan langsung merasa merasa tak pantas.

***

Camelia kian mendekat dan semakin menaruh perhatian padanya. Ketakutannya terbukti benar ketika perempuan itu menyatakan perasaan kepadanya, dan ia sudah jauh hari mempersiapkan penolakannya.

“Jadi kamu menolakku?”

Bukan kumenolakmu untuk mencintaiku, tetapi lihat dulu siapakah diriku.”

“Aku sudah melihatmu. Utuh. Jadi, aku sudah tahu siapa kamu.”

Kau orang kaya, aku orang tak punya.”

“Aku tidak peduli itu. Aku butuh kamu.”

Sebelum terlanjur pikir-pikirlah dulu.”

“Aku sudah memikirkan itu sejak kita bertemu. Kamu pantas jadi imamku, pembimbingku.”

Sebelum engkau menyesal kemudian…”

“Aku justru menyesal bila kamu sekarang menolakku.”

“Sekali lagi aku tidak menolakmu.”

“Lalu kenapa kau tak mau?”

“Aku pun mau, sangat-sangat mau.”

“Terus apa lagi masalahnya?”

“Aku… Pokoknya aku ini orang miskin.”

“Aku sudah tahu itu. Jangan kamu ulang-ulangi lagi!”

“Tapi…aku memang orang miskin.”

“Memangnya kalau miskin nggak boleh dicintai? Sialan, harusnya kamu yang ngomong kayak gitu, bukan aku. Kamu nggak pernah mikir betapa beruntungnya kamu? Banyak cowok ngejarngejar aku, tapi aku pilih kamu.”

“Aku tidak menolakmu. Aku sangat-sangat mau menikah denganmu. Tapi sungguh aku tidak bisa.”

“Tidak bisa menafkahiku?”

“Bukan, bukan itu….”

“Jujurlah…jika memang seperti itu, aku punya banyak modal. Kita bisa buka usaha. Kamu pekerja yang ulet, kamu akan jadi pengusaha yang hebat.”

“Jangan merayuku.”

“Aku tidak sedang merayumu.”  

“Aku sungguh tidak bisa.”

“Setidaknya beri aku alasan mengapa kamu tidak bisa?”

“Kamu sudah pandai sholat.”

“Itu bukan alasan.”

“Setidaknya kita tak perlu bertemu lagi.”

“Kau menolakku dan kini tidak ingin bertemu denganku lagi. Kamu sungguh….”

***

Setelah pertemuan itu M tak lagi masuk kerja. Ia menyangka Camelia mengadu kepada ayahnya untuk memecatnya sehingga tak guna masuk kerja hanya untuk mendengar pemecatan meskipun sebenarnya tak pernah ada pengaduan itu.

Sungguh tak ada yang salah pada Camelia, tapi M sendiri yang memandang nasib hidupnya terlalu berlebihan. Apalagi setelah menjadi pengangguran. Kini, kepada siapa pun ia mengaku sebagai orang termiskin di dunia. Seolah-olah ia telah berkeliling dunia dan membuktikan bahwa tak ada orang lain yang lebih miskin darinya. Seandainya ia berkeliling dunia, tentu gugur pengakuannya, sebab ia tidak hanya gagal sebagai orang termiskin di dunia, tapi juga tidak tergolong orang miskin sebab mana ada orang miskin mampu keliling dunia? Wajahnya pun tak pernah terpampang di sampul sebuah majalah bisnis internasional sebagai yang termiskin dari 100 orang miskin di dunia.

Sampai cerita ini ditulis belum ada bukti tentang itu, dan ia masih saja mengeluh: aku merasa orang termiskin di dunia yang penuh derita dan bermandikan air mata.***

 

(Seluruh kalimat yang dimiringkan dalam cerita di atas berasal dari lirik lagu dangdut “Sudah Tahu Aku Miskin” dan “Termiskin di Dunia”, keduanya dinyanyikan dan dipopulerkan oleh Muchsin Alatas dan Hamdan ATT.)

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *