[Juara 1 Lomba Penulisan Cerpen Etnika Fest 2017] Menjelang Pinola Suako

Posted: 30 May 2017 by Sulfiza Ariska

pinola suako

Apa arti seorang perempuan bila sudah tidak perawan?

Bagai binatang buas yang terluka, pertanyaan itu mengamuk di dalam suo-suo yang miskin cahaya. Membuat Malahayati gamang diguncang-guncang gelisah. Ia ingin segera berlari memburu pelukan pemuda yang memasung hatinya. Tetapi, gendang keramat yang ditabuh paganda1)pawang pemukul gendang telah pecah. Pertanda gadis di dalam suo2)ruang untuk tidur (kamar) bagi peserta posuo. ‘ada’ yang tidak perawan. Bila Malahayati meninggalkan posuo3)upacara pingitan bagi perempuan Buton yang beralih dari fase remaja menuju dewasa., ia bisa dituduh melarikan diri karena takut diketahui keperawanannya telah binasa.

“Siapakah yang sudah tidak perawan?” bisik Maia dalam gulita suo.

“Semoga bukan di suo kita,” sahut Noura dengan nada panik.

“Bagaimana kalau di suo kita?” bantah Laila dengan suara gemetar.

“Tak elok saling curiga,” bisik Malahayati dengan suara tak kalah gemetar. “Biarkan rapat adat yang menentukan.”

Di kejauhan, parika4)bhisa senior yang bertindak sebagai pemangku adat., bhisa5)perempuan tua yang dipercaya untuk memberi pembinaan bagi peserta posuo., dan paganda—mendaraskan mantra-mantra dan doa-doa. Mereka memohon bantuan Tuhan dan roh-roh leluhur untuk menemukan peserta posuo yang tidak perawan. Mereka tidak menyadari, sebilah belati bersembunyi di kegelapan suo.

Di dalam ruang suo yang sempit tersebut, hati Malahayati dikepung kerinduan pada Palakka. Pemuda itu tampan, keturunan bangsawan kaya, dan berpendidikan tinggi. Setahun yang lalu, Palakka resmi meraih gelar Ph.D bidang ilmu sejarah dari sebuah universitas ternama di Amerika Serikat.

“Kau tahu, Malahayati?” tutur Palakka di bawah patung naga yang mencuat di Pantai Kamali. “Namamu mengingatkan diriku pada panglima perang Kerajaan Aceh. Dirinya memimpin laskar Inong Balee—2000 janda prajuritmenggempur kapal-kapal dan benteng-benteng Belanda. Dalam duel satu lawan satu di geladak kapal, ia menewaskan Jenderal Cornelis de Houtman. Ia perempuan pertama di dunia yang menyandang gelar laksamana. Dia-lah Laksamana Malahayati!”

Meskipun putri bangsawan, Malahayati tidak jauh berbeda dengan gadis jelata. Orangtuanya yang terlalu baik, menyumbangkan harta bagi setiap orang susah yang mengetuk pintu rumah mereka, hingga tak tersisa. Karena itu, Malahayati terbiasa hidup miskin dan melakukan pekerjaan berat sebagaimana putri buruh tani kebanyakan. Itu membuatnya sering merasa malu bila berada di antara para putri bangsawan. Tapi, sejarah yang dikisahkan Palakka membuat darahnya berdesir. Bagaimana ia tidak tersanjung bila dirinya disandingkan dengan seorang perempuan perkasa?

“Aku jatuh cinta padamu, Malahayati,” bisik Palakka di hari lain. Waktu itu, mereka menatap matahari tenggelam dari salah satu pintu gerbang Benteng Keraton Buton. “Meskipun engkau tidak bergelar Laksamana, engkaulah yang menaklukkan hatiku.” Saat Palakka meniupkan bisikan itu, Malahayati merasa menggenggam kunci pintu bahagia. Bisa ia bayangkan; bersanding dengan Palakka di pelaminan; lalu bercinta di ranjang pengantin yang disuburkan wangi kembang setaman dan doa-doa. Ia tak menduga, impian itu jauh lebih rapuh daripada kabut yang menyelimuti pagi.

“Bila cintamu padaku belum memudar dan usang,” tuntut Palakka dua minggu sebelum posuo, “kau pasti menyertai langkahku dalam pinola suako6)kawin lari.”

“Apakah kita tidak bisa menikah seperti pengantin lainnya?” tanya Malahayati.

“Tidak, Malahayati!” sahut Palakka kelu. “Orangtuaku tidak merestui kita.”

“Mengapa? Apakah karena diriku miskin?” tanya Malahayati. Palakka tidak menjawab. Tapi, perubahan raut wajah Palakka sudah cukup bagi Malahayati sebagai jawaban. Gadis itu merasa dadanya ditindih pilu seberat bukit Palatiga. Karena itu, ia kembali bertanya dengan nada risau setajam pisau,“Kapan kau menjemputku?”

“Pada waktu yang tepat!” sahut Palakka dengan mata memijarkan kemenangan.

***

Meskipun telah berusaha menjalani prosesi posuo sepenuh hati, bayangan Palakka terus menghantui Malahayati. Membuat Malahayati terus-menerus tenggelam dalam keresahan yang tak bertepi. Mantra-mantra dan ayat-ayat suci yang didaraskan para bhisa tidak bisa melindungi Malahayati dari kejaran bayangan pemuda tersebut.

Ketika bhaliana yimpo7)Sesi kedua, setelah lima hari masa posuo. diselenggarakan; paganda, parika, dan bhisa masih belum menetapkan gadis peserta posuo yang sudah tidak perawan. Selain itu, mereka juga belum menyadari belati yang bersembunyi di dalam suo. Itu membuat kabut kengerian semakin tebal mengepung suo.

Melihat kecemasan Noura dan Laila, Malahayati tidak bisa menghalau kecurigaan yang memijar dalam pikirannya. “Mungkinkah Noura dan Laila sudah tidak perawan?” tanya Malahayati dalam hati. “Bila masih perawan, mereka tentu bersikap tenang seperti Maia.”

Di mata Malahayati, Maia merupakan Putri Buton sejati. Di antara ratusan peserta posuo, hanya Maia yang sangat menjunjung adat. Maia menyerap seluruh ajaran yang diturunkan bhisa. Mulai dari paucura8)cara duduk, palego9)gaya berjalan, sampai pakole10)gaya tidur. Semuanya dapat dilakukan Maia tanpa cacat. Saat menjalani pebhaho11)perawatan kecantikan, ia melakukan pokunde12)keramas paling lama, sehingga wangi santan dan luluran kunyit campur tepung beras—diserap pori-pori tubuhnya dengan sempurna.

“Maia,” bisik Malahayati.

“Ya, Malahayati,” sahut Maia dalam gulita suo.

“Apakah arti keperawanan?” tanya Malahayati. Pertanyaan itu menyengat Maia. Seandainya setitik cahaya menetes di wajah Maia, Malahayati tentu melihat wajahnya telah merah seolah ditumpahi darah. Kebisuan sedingin es membentangkan jarak di antara Maia dan Malahayati. Untuk melelehkan kebisuan itu, Malahayati kembali menyerbu Maia dengan pertanyaan. “Apakah perempuan yang sudah tidak perawan menjadi hina di mata Tuhan?”

Dalam kegelapan suo, terdengar hembusan nafas berat Maia. Meskipun aroma nafas itu sewangi rempah-rempah, kepedihan sekental dadih seolah melumuri nafas itu. “Aku belum pernah bertemu Tuhan, Malahayati. Jadi, aku tak tahu apakah perempuan yang sudah tidak perawan menjadi hina di mata Tuhan,” tutur Maia. “Tapi, aku mengenal gadis yang sudah tidak perawan. Setelah seorang lelaki memeras darah perawan dan menanam benih di rahimnya, ia dibuang seperti sampah. Mungkin, tak lama lagi ia akan mati bunuh diri.”

“Siapakah perempuan malang itu? Siapakah lelaki bajingan itu?” tanya Malahayati. Maia tak menjawab. Kebisuan sedingin es kembali menyergap suo. Pertanyaan-pertanyaan baru terus menggempur Malahayati. Bagaimana jika Palakka hanya menginginkan keperawannya? Bagaimana bila ia dicampakkan setelah tak lagi perawan seperti yang dialami gadis dalam cerita Maia?

***

Posuo semakin meruncing tinggi. Di awal upacara ini, Malahayati ingin melarikan diri dan mengejar impiannya untuk hidup bersama Palakka, menyempurnakan cinta mereka dalam pinola suako. Tapi, kisah gadis yang dituturkan Maia, membuat Malahayati berpikir ulang mengenai cinta Palakka. Ketika fajar menyingsing di hari terakhir posuo, perlahan-lahan cinta Palakka, memudar dihalau nyanyian magis para bhisa. Melalui nyanyian-nyanyian itu, para bhisa menurunkan petuah-petuah mulia mengenai hak dan kewajiban perempuan. Ketika nama-nama perempuan agung mengaliri arus nyanyian itu, sosok Laksamana Malahayati melayang dan mengobarkan api kesadaran di dalam jiwa Malahayati.

“Maia,” bisik Malahayati seusai nyanyian bhisa berlalu bersama angin. “Bagaimana gadis malang yang kauceritakan? Masihkah ia memutuskan bunuh diri?”

“Entahlah, Malahayati,” gumam Maia gugup. Malahayati heran menyaksikan sikap Maia tiba-tiba janggal. Maia mulai tak terlihat bergairah menjalani posuo.

Meskipun para bhisa telah beranjak pergi, nyanyian mereka tetap mengalun di dalam rongga dada Malahayati. Nyanyian itu terus menuntun Malahayati memahami makna hakiki posuo. Bahwa posuo bukanlah upacara pingitan semata, melainkan tradisi yang menuntunnya untuk mengenal jati dirinya sebagai manusia sejati. Ia diajari merawat kecantikan bukan untuk menggoda lelaki, melainkan untuk menghargai dan memelihara keindahan ciptaan Ilahi. Ia diajari sopan-santun, tapi ia juga dituntun untuk berani mendengarkan suara hati. Bila ia renungkan makna hakiki posuo dalam-dalam, nuraninya berkata bahwa Palakka bukanlah lelaki yang tepat untuknya.

Perlahan-lahan bayangan Palakka yang menghantui Malahayati, mulai menjauhi suo. Lalu, berjejer bayangan pemuda silih-berganti mengunjungi hati Malahayati. Amir, Hamzah, Ahok, Hamka, Syahrir, hingga Hatta. Mereka hanya buruh tani biasa, tidak berdarah bangsawan, tidak berpendidikan tinggi, dan tidak pula setampan Palakka. Tetapi, budi pekerti terpahat kuat di otot-otot mereka yang liat. Dalam tubuh mereka yang tak bisa dilumpuhkan musim dan cuaca, tersimpan ladang kesetiaan yang ingin ditanami Malahayati dengan ribuan puisi cinta. Malahayati berharap, salah seorang di antara mereka, datang meminangnya setelah posuo usai.

“Apalah arti manusia tanpa cinta dan setia,” bisik Malahati pada malam terakhir posuo. “Esok malam, aku akan mandi air bunga cempaka dan kamboja. Lalu, aku akan memakai busana eja kolembe. Aku akan didandani secantik bidadari, tapi kurasa diriku bukan untukmu.”

“Kau meragukan cintaku?” sahut sebuah suara asing, mendesing di dalam suo bagai peluru. Bukan suara Noura, Maia, ataupun Laila. Malahayati tergeragap.

“Palakka?” bisik Malahayati dengan nada ragu berbaur cemas.

“Ya, ini aku!” sahut suara itu penuh gairah.

“Apa yang kau lakukan di dalam suo ini?” tanya Malahayati dengan nada panik.

“Menjemputmu!” jawab Palakka sambil mencengkram jemari Malahayati. “Bukankah kau berjanji menyertaiku dalam pinola suako?

“Benar, Palakka!” pungkas Malahayati, “Tapi, bila kau benar-benar mencintai diriku, kau harus setia menanti sampai posuo usai.”

“Aku tidak bisa menanti!” bantah Palakka.

“Bila kau tidak bisa menanti, tinggalkan diriku!” desis Malahayati. “Meskipun aku bukan seorang laksamana, aku bisa menentukan takdirku sendiri.”

“Aku akan membuatmu menyesal!” pungkas Palakka dengan dengus birahi. Dua potong tangan pun merenggut sarung Malahayati. Aroma mesum sebusuk bangkai, menguar dari nafasnya yang berbaur bau tuak. Malahayati meronta-ronta, menggigit, dan mencakar-cakar. Noura dan Laila yang terbangun karena kegaduhan itu, menjerit-jerit seperti penumpang pada sebuah kapal menjelang karam. Ketika kejantanan Palakka mulai menemukan celah untuk memecah keperawanan Malahayati, tiba-tiba sebilah belati di tangan Maia, menukik tajam menembus malam dan jantung Palakka.

“Terkutuklah kau, Palakka!” seru Maia.“Setelah menghamili dan memaksaku aborsi, kau paksa pula perempuan lain untuk menampung benih liar-mu itu!”

Anyir darah Palakka membanjiri tubuh telanjang Malahayati yang pualam. Dengus birahi Palakka berganti rintihan sekarat. Dalam waktu sekejap, rintihan sekarat itu menjelma sekuntum sunyi.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

References   [ + ]

1. pawang pemukul gendang
2. ruang untuk tidur (kamar) bagi peserta posuo.
3. upacara pingitan bagi perempuan Buton yang beralih dari fase remaja menuju dewasa.
4. bhisa senior yang bertindak sebagai pemangku adat.
5. perempuan tua yang dipercaya untuk memberi pembinaan bagi peserta posuo.
6. kawin lari
7. Sesi kedua, setelah lima hari masa posuo.
8. cara duduk
9. gaya berjalan
10. gaya tidur
11. perawatan kecantikan
12. keramas

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *