Banu Sadikin Penyair Hebat

Posted: 5 February 2019 by Kusharditya Albi

Banu Sadikin sekarang berdiri di atas panggung yang megah. Panggung yang diimpikan para seniman kroco dimanapun mereka berada. Panggung tempat berbagi keangkuhan kaum seniman dan intelektual. Di hadapannya kini, berjajar kritikus-kritikus sastra, para seniman maupun sastrawan ternama, tak lupa seniman-seniman muda kroco yang ngiler dan menatap khayal dirinya berada di panggung itu. Panggung apresiasi sastra kota pelajar.

Banu pun mengaum lantang dengan puisinya :

Tak ada yang lebih jujur dari coretan di tembok kota
‘Pemerintah anjing !’ itu bukan kataku
Tembok kota bersuara
Tak ada yang lebih kasih daripada tembok kota
Nafas senggal rakyat miskin hilang setelah bersandar

Kira-kira begitu bunyi penggalan puisi  Banu Sadikin, yang akhir-akhir ini karya-karyanya menjadi perbincangan para seniman di kota Jogja. Usai puisi dibacakan, penonton yang hadir serempak tepuk tangan dengan meriah. Sangat meriah seolah-olah ini adalah sebuah kontes tepuk tangan. Di depan sudut kiri Banu, terlihat Emon Supriyadi, kritikus sastra terkenal itu melongo melihatnya. Banu jadi bangga hati. Senyumnya melambung memenuhi mata penonton.

“Sungguh hebat ! Benar-benar karya monumental bung ! Lebih kena kalau saya mendengar bung Banu membacanya !” Karno Bujel menyalaminya seusai Banu turun dari panggung.

“Ah bukan apa-apa, sudah tugas penyair menyampaikan keresahan di negeri ini bukan ?” Jawab Banu dengan nada rendah.

“Tidak Bung tidak ! Menurut saya. Ehem. Ini bukan sekedar puisi bung ! Ini  adalah semangat yang menggugah, persis seperti Chairil dengan puisi Karawang-Bekasinya yang membangkitkan semangat kemerdekaan, tapi kali ini Chairil tak ada apa-apanya bung ! Betul ! Dia cuma jiplak puisi orang, bung Banu kan tidak” kata Emon Supriyadi mendekat.

“Ehem, Sastra Indonesia hari ini begitu lembek bung, hanya mengejar estetika saja, tidak ada yang mau menyuarakan keadaan rakyat kita” tambah Emon dengan tenang sambil sesekali batuk. Ia bukan pengidap penyakit TBC, cuma begitulah cara bicara yang intelek dari seorang kritikus ternama ini.

“Saya sepakat bung! Ya, ya, seniman-seniman hari ini hanya mencari nama saja, munafik semua! Betul bung, siapa yang tidak saya kenal?” Karno menanggapi sambil menyulut sebatang Lucky Strike yang terselip di mulutnya.

“Anda termasuk bukan ?” Balas Emon ketus.

“Ya bisa jadi, saya ini cuma bohemian bung!” Kata Karno sambil tertawa lebar.

Dan ketiga orang itu pun tertawa sejadinya.

“Sudah Bung sudah, karya saya hanyalah kegelisahan saya saja, tidak usah dilebih-lebihkan!” Banu menutup tawa mereka serupa volume radio yang diputar perlahan.

Malam itu, Banu Sadikin  dibanjiri pujian dari para seniman.

*

Ini malam kesepuluh aku berjalan mengelilingi kota Jakarta. Kemana pun itu aku harus tetap melangkah. Punggungku lemah namun aku tetap tak mau bersetubuh dengan lantai. Jakarta malam hari adalah jam akrobat para kriminal kota rendahan. Wajah kemewahan ibu kota sedang dipaksa tidur. Aku yang memaksakan diri untuk berjalan akhirnya kalah juga oleh haus yang menghantam kerongkonganku dan memaksa kaki untuk berhenti. Maka aku pun bersandar pada tembok rumah yang penghuninya lelap.

Seorang bapak yang terjaga, terlihat cemas menggendong anak balita yang menangis. Aku yang duduk setengah sadar merasa sakit juga mendengar tangisan itu. Setan macam apa yang mengganggu bocah pada tengah malam begini.

Setelah aku minum setengah botol air yang kuambil dari kran masjid tadi. Mataku sedikit demi sedikit mulai jelas terbuka. Aku mendekati bapak-bapak itu.

“Kenapa anak bapak ?”

“Eh, Mas, nganu lapar kayaknya Mas… Sssstt cup cup Nang” jawab bapak itu sambil terus menenangkan anaknya.

“Kenapa tidak disuruh makan ?”

“Lha wong saya juga gak ada uang Mas, mudah-mudahan besok saya bisa dapat uang”

Bapak-bapak itu menjawab sambil memelas. Setelah bertanya apa pekerjaannya, kenapa ia tak punya uang, dimana ibu anak ini. Bapak ini malah ikutan menangis. Sialan! Setan macam apa yang mengganggu bapak ini sampai menangis di tengah malam begini. Meskipun menangis ia cukup murah hati untuk membagi ceritanya.Ternyata, bapak ini seorang tukang sapu jalanan. Namun hari ini sedang tidak ada kerjaan. Karena upahnya harian, kalau ia tidak bekerja ya tidak ada upah. Apesnya, upah kerja kemarin ia habiskan begitu saja. Ibu anak ini katanya minggat balik ke kampung. Nasib memang menyerupai setan batinku. Karena merasa iba aku menyerahkan uang sepuluh ribu yang aku punya. Satu-satunya. Dan arlojiku yang mungkin bisa dijual untuk bekal makan dua hari.

“Lho Mas, terima kasih Mas, beruntung masih ada orang baik seperti mas.” Bapak itu tak henti-hentinya berterima kasih, seumpama ucapan terimakasih itu adalah kebahagiaan, maka langit Jakarta akan dipenuhi kebahagiaan dari bapak ini. Aku hanya tersenyum melihat bapak ini, namun anaknya masih menangis. Satu setan sudah kutumpas. Aku seperti dukun saja jadinya.

“Mas, kelihatannya mas baru di Jakarta, mari ke tempat saya sebentar,kita makan sama-sama” ajak bapak itu.

“Maaf Pak tapi saya harus pergi,” kataku.

“Pergi kemana? Ini sudah malam, tolong bantu menggendong anak saya, supaya saya bisa masak, nanti kita makan sama-sama,”

Karena bapak itu meminta tolong, aku tak bisa menolak dengan argumen apapun lagi. Maka aku pun memasuki tempatnya yang hanya rumah kardus dan kayu, mirip seperti sinetron di televisi yang menjajakan kemiskinan. Aku tak tahu apa nama tempat dimana aku berada sekarang, sejak kedatanganku kemari aku hanya berjalan di Jakarta, dimana sengsara menjejali sudut kota. Aku pun menggendong anak bapak itu, ia sudah tak begitu rewel, anak ini tahu ayahnya akan membuatkan makanan. Maka diriku yang tak pernah punya jabang bayi ini tak kerepotan menghadapi bocah rewel, tak ada setan lagi mengganggunya. Ia diam saja duduk dekat denganku.

Ayahnya kembali setelah membeli beberapa bungkus mie instan, ia memasaknya sambil bercerita tentang keadaannya, dan keadaan kota Jakarta. Setelah mie untuk kami bertiga matang bapak dan anak itu memakannya. Aku tidak memakannya, aku bilang aku.sudah makan, nanti akan aku makan kalau sudah lapar lagi.

“Nama mas siapa? Saya Suwandi” tanya bapak itu.

“Saya Banu pak, Banu Sadikin”.

*

Kafe Aksara, adalah kafe tempat para seniman biasanya berkumpul. Biasanya kafe itu sering digunakan untuk seniman Jogja untuk mengadakan pertunjukan atau membuat pameran tunggal kecil-kecilan. Kalau untuk pameran dan pertunjukan besar biasanya pengunjung kafe sepi dan migrasi ke tempat dimana perhelatan seni digelar.

Banu Sadikin, dan Robby Kusuma  sedang berbincang di kafe sambil mabuk dan membicarakan apapun yang bakal keluar dari kepala mereka. Mereka adalah seniman-seniman yang baru punya nama di kota Jogja. Sudah resmi mendapat label penyair dari seniman lain.

“Bulan ini kan bukumu meledak tuh, susul karya yang lain dong supaya gak keenakan,” ujar Robby kepada Banu.

“Ah, santai lah! Karya harus ada esensinya dong, berkarya itu kan proses pikiran dan perasaan,” jawab Banu sambil mengempaskan asap rokok.

“Kawanku bilang sastra juga bisnis, Ban, ya macam kerja kantoran itu lah kalau sudah ada koneksi gampang masuknya! Kawanku itu, yang karyanya sering terbit di Koran Matahari kamu pikir karyanya bagus? Biasa! Klise! Tapi dia kan punya orang dalam di Koran jadi ya bisa, paham maksudku? Karyaku aja baru dilirik setelah dapat ulasan dari pak Sasono, brengsek kan?” Kata Robby dengan wajah serius.

“Hahaha, ya, ya aku tahu ini kesempatan,” jawab Banu sekenanya, ia sedang mabuk.

Di sebelah kiri Banu dan Robby duduk segerombolan orang yang mabuk, mereka membaca puisi bergantian. Kafe ini memang membolehkan pengunjungnya mabuk, karena kafe ini juga menjualnya. Sudah jadi hal biasa, tiap malam ada pembacaan puisi dari orang-orang mabuk.

Biasanya seniman-seniman muda atau mahasiswa yang gandrung dengan buku-buku sastra berkumpul di kafe sambil melihat seniman yang punya nama dalam satu ruangan. Mereka berharap tertular kepopulerannya serupa santri yang berharap mendapat berkah ketika sering bertemu kyainya.

Salah satu gerombolan itu melihat Banu, Banu tertawa melihatnya karena salah satu pemabuk itu benar-benar tolol tingkahnya. Kemudian pemuda yang tolol itu mendekati Banu. Banu dan Robby menanggapinya dan sedikit mengerjainya. Kawan-kawan pemuda itu tertawa melihat tingkah pemuda yang mabuk parah.

“Ba… nu… Ndak salah saya, Banu Sadiiiikin hahaha hebat-hebat.. lihat ini, ini buku puisi-puisimu, tak baca ya Mas Banu, boleh? Pasti boleh!” Kata pemuda itu sambil memegang buku Banu Sadikin, Ayat Perlawanan sebuah kumpulan puisi dengan gambar api di seluruh sampulnya.

Banu terkekeh saja melihatnya, karena ia juga sedang mabuk.

“Baca puisi Banu kesukaanmu, dia bakal bayar minumanmu ! Cepat ayo hahaha !” Robby menanggapinya.

“Sabar mas sabar hmmm…. nah  iki aku suka iki!”

Pemuda itu akhirnya membaca puisi.

: “Di sepoi angin malam bulan menangis tiada juntrungnya

“Di sepoi angin malam bulan menangis tiada juntrungnya
Perempuanku sendu dipeluk tangan-tangan para jahanam
Kemiskinan adalah tubuh telanjang perempuan itu
Perempuan yang berbaju kebinalan!”

“Haha… Bagus-bagus terima kasih!” Kata Banu.

“Nggg… Hehe mas, saya pikir ini tentang pelacur ya mas Banu, mas nyeritain diri sendiri to ?” Kata pemuda mabuk itu.

“Apa maksudmu?” Tubuh Banu mendadak panas, bukan karena efek alkohol tapi kata-kata pemuda itu.

“Ban, sudah dia mabuk!” Robby menyela.

“Ya benar mas, karya-karyamu ini saya pikir cuma jualan idealisme saja to, miskin-miskin sekarang menjual lho mas Banu! Ehehe….” kata-kata pemuda itu kali ini membuat meledak Banu. Banu mengambil gelas besar yang dipakainya minum, dihantam juga kepala pemuda itu.

Pyaaaarrr!  Gelas yang pecah di kepala pemuda itu berhamburan ke lantai serupa musik. Darah keluar dari kepala pemuda itu mengalir dan menetes ke lantai seperti merindukan serpihan kaca yang membuatnya keluar.

“Aduuuuh! Bajingan!” Pemuda itu menjerit kesakitan dan sempoyongan lalu jatuh. Belum puas Banu meluapkan amarahnya diinjak pula muka pemuda itu dengan sepatu Doc.Mart kesayangannya.

“Anjing! Woy sudah!” Robby mencoba menghentikan Banu yang kerasukan setan.

Kawan-kawan pemuda itu membantunya yang kesakitan dihajar Banu. Seluruh pengunjung kafe berusaha menghentikannya. Kata-kata pemuda mabuk itu benar-benar menancap di hati Banu. Ia pun resah.

*

Aku meninggalkan bapak dan anak itu setelah mereka tertidur, mie instan yang disediakan untukku tak kumakan. Biar saja mereka yang makan, lagipula aku benar-benar tidak ingin makan. Nafsu makanku hilang bersama gairahku yang juga hilang di hingar bingar dunia kesenian. Aku sedang kacau. Sudah dua hari aku tidak makan paling-paling jika rasanya ingin mati aku hanya membeli roti di warung kecil.

Aku berjalan melewati tepi sungai menuju ke arah keramaian pemuda-pemuda malam kota Jakarta. Sepuluh hari ini aku tidak pernah mandi, aku sengaja meninggalkan kota Jogja, meninggalkan rumah yang berupa bangunan maupun manusia. Tak ada niatku pulang ke Surabaya. Kenapa aku ke Jakarta. Entah. Aku ingin merasakan keadaan yang paling sengsara. Kalaupun aku mati di sini, semoga saja aku mati serupa filsuf yang dimakan anjingnya. Diriku sudah terhina.

Dua pemuda dari gerombolan yang kulewati mendekatiku, mereka sedang mabuk. Sudah kukatakan malam di Jakarta adalah waktu akrobat bagi para kriminal kelas bawah. Aku pasrah jika mereka memukulku atau membunuhku saat ini juga. Dan benar mereka memukulku, mencoba mengambil barang berharga milikku, ambillah, bahkan harga diriku pun sudah tak ada.

Aku Banu Sadikin sedang menghukum diri dalam kesengsaraan.

Yogyakarta, 2018

Pendapat Anda: