Ngibul

kedai

[Ngibul #15] Bertikai di dalam Kedai

Seorang pendekar tidak akan dapat menemukan tempat pertarungan yang sedang dituju bila ia tidak singgah di sebuah kedai seperti halnya pendekar lain yang tidak akan menemukan seseorang yang telah membunuh

[Ngibul #14] Mozes Gatotkaca

Tulisan ini didedikasikan untuk saudara sepupu saya, Ferry Lawin Iban. Satu dari ratusan nyawa tidak berdosa yang tewas dalam rangkaian kerusuhan 1998 menggulingkan hegemoni Orde Baru.   *** Hari ini,

[Ngibul #13] Sungguh-Sungguh, Chairil!

Dasar mau bebas dan mau menikmati hidup itulah sudah membikin Chairil dengan sadjaknya “aku” itu suatu lambang adanja dan hidupnja kemauan dan tjita-tjita seperti itu djuga di kalangan bangsa kita

[Ngibul #12] Lerok, Seking, dan Kendeng

Lerok Namanya Lerok, sebuah desa di ujung utara Provinsi Jawa Timur, yang pada awal era 1980-an menjadi desa penghasil gamping dan bengkuang dengan kualitas jempolan bin jempolan. Rakyat desa itu

[Ngibul #11] Anak Panah

You are the bows from which your children as living arrows are sent forth —Kahlil Gibran, On Children   Kahlil Gibran, penyair berkebangsaan Lebanon – Amerika menuliskan puisi On Children dalam

[Ngibul #10] Waktu dalam Akhiran

Dari Sebuah Janji Suatu waktu, teman saya berjanji untuk bertemu dengan mengatakan: “jam 11-an (sebelasan) ya”. Saya datang pukul 11.05 lalu menunggunya sampai pukul 11.30. Ia tidak kunjung datang, saya

[Ngibul #9] Setelah Tuhan

Dalam buku The Girl Who Saved The King of Sweden karya Jonas Jonasson, terkisah seorang figuran bernama Ingmar, seorang rakyat jelata gila tapi lucu yang seluruh masa mudanya dihabiskan untuk

[Ngibul #8] Komunistophobia: Wacana yang Terus Direproduksi

Suasana pasar itu tampak lengang lengang saja. Transaksi jual beli sebagaimana adanya. Keramaian hanya soal tawar menawar dan geguyonan di antara sesama pedagang atau dengan pembeli. Seorang ibu-ibu, menenteng tas

Tulisan Terbaru