Usaha Membaca Buku Foto Flock Vol.1

Posted: 1 March 2017 by Anis Mashlihatin

Flock Volume 01
Kurniadi Widodo, Aji Susanto Anom, Arif Furqan
Buku foto
Flock Project
2016
Rp 180.000

 

Tulisan ini adalah hasil pembacaan singkat terhadap tiga buku foto dari fotografer-fotografer yang menggabungkan diri dengan nama Flock. Flock vol.1 terdiri dari Surat untuk Bapak (Kurniadi Widodo), They Came For The Flower (Aji Susanto Anom), dan Effusion (Arif Furqan). Pembacaan ini tidak berfokus pada teknik fotografi dan lain sebagainya karena saya sungguh tak paham tentang hal itu. Saya lebih menempatkan foto-foto yang ada dalam ketiga buku tersebut sebagai teks, sebagai dunia yang disodorkan oleh sang fotografer. Untuk itu, pembacaan ini lebih sebagai usaha memandang foto-foto, memandang dunia, dari kacamata sang fotografer.

 

Surat untuk Bapak: Usaha Menemukan Pesan Bapak

Secara personal, Surat untuk Bapak cukup “mengusik” saya. Ini bisa jadi karena judulnya yang seketika membikin deg di dada atau karena foto-foto dan surat sentimentil yang ditempelkan Kuniadi Widodo (selanjutnya Wid) untuk bapaknya. Dalam bukunya

yang secara dominan menampilkan foto-foto tanaman, Wid mengawali dengan sebuah pengantar yang seolah menjadi alasannya memotret daun-daun, reranting, akar, dan batang-batang tanaman itu.

 

Ia pergi begitu saja secara tiba-tiba, tanpa

memberi pertanda, tanpa meninggalkan pesan.

Ia hanya sempat menyirami tanaman-tanaman

di halaman rumah kami.

Tanaman-tanaman yang dipotret Wid ternyata adalah tanaman di halaman rumah yang dulu sering disirami oleh Bapak yang kini sudah pergi. Kepergian Bapak yang tiba-tiba meninggalkan ruang kosong yang tak mampu dimaknai oleh Wid. Seolah segala yang tiba-tiba itu tak mengizinkan satu pesan pun tersampaikan.

Namun, benarkah Bapak tidak meninggalkan pesan?

Dalam suratnya, Wid mengaku selama duapuluh tahun hidup bersama, dirinya tak mengenal Bapak. Banyak hal yang belum diketahui Wid tentang Bapak. Ia pun berusaha mengenalinya. Hal pertama yang dia lakukan adalah membuka-buka lagi album foto keluarga. Wid menemukan beberapa foto dirinya dengan Bapak yang juga ditempelkan dalam buku foto ini.  Foto-foto itu menunjukkan Wid dan Bapak dalam kurun waktu tertentu. Penyertaan foto-foto itu dapat dimaknai sebagai upaya memahami yang masih abu-abu di masa kini dengan menggali memori dari masa lalu. Adakah pesan terselubung di sana?

 

Foto pertama (yang ditempel) menampilkan Bapak bersama Wid yang masih balita. Bapak menopang tubuh Wid agar bisa berdiri di pangkuan Bapak. Pada tahap ini, Wid masih bergantung sepenuhnya pada Bapak. Mengingat lokasinya yang ada di dalam rumah, dapat diartikan bahwa pada tahap ini Wid masih membutuhkan perlindungan ekstra.  Foto kedua memperlihatkan Wid dalam usia kanak yang sedang bermain di pantai bersama Bapak. Pada tahap ini, Bapak masih menggandeng tangan Wid. Tangan Bapak adalah tangan yang selalu siap menjaga.

Sementara itu, dalam foto ketiga, di dalam mobil Bapak menatap Wid—yang beranjak remaja—dengan sorot mata bahagia dan bibir yang mengulum senyum. Bapak tak lagi memegang tangan Wid. Jika mobil dapat dimaknai sebagai hidup yang terus bergerak, pada tahap ini Bapak mulai melepas tangan Wid. Bapak hanya memandangi Wid dengan senyum dalam perjalanan  hidup Wid selanjutnya. Intinya, dalam ketiga foto tersebut, Bapak selalu menemani Wid bertumbuh.

Foto-foto yang ditempel—yang berasal dari masa lalu—tersebut memiliki keterhubungan dengan foto-foto tanaman—dari masa kini—yang dibuat oleh Wid. Di masa kini, seiring tangan Bapak yang tak lagi menggandeng tangan Wid, yang selanjutnya mendapat giliran perhatian tangan Bapak adalah tanaman di halaman rumah. Melalui kegemarannya menyirami tanaman itulah sesungguhnya Bapak memberi pertanda dan meninggalkan pesan.

Saya menganggap bahwa tanaman adalah makhluk yang terus bertumbuh. Seperti yang dipotret oleh Wid, daun-daun itu menyimbolkan hati dan pikiran yang terbuka pada dunia, reranting adalah harapan dan impian, batangnya  adalah ketegaran, akarnya adalah  kekuatan (untuk menghadapi segala suka duka). Maka, melalui tanaman, Bapak seolah berpesan kepada Wid: “Bertumbuhlah, Nak, seperti tanaman-tanaman itu. Bapak akan tetap menemani dari jauh (tapi sesungguhnya dekat)”.

Lalu, bagaimana dengan foto Bapak—tanpa Wid—yang hanya ditemani meja dengan tumpukan kertas dan dua kursi kosong? Juga bagaimana dengan foto Bapak yang tengah bercengkerama dengan tanaman-tanamannya? Ketika tak bersama Wid, di luar rumah, Bapak berada dalam dunia kerja. Ketika di rumah, Bapak adalah seorang yang merawat tanaman, yang dalam hal ini sama artinya dengan merawat Wid.

Nah, jika Surat untuk Bapak adalah usaha Wid untuk menemukan pesan dari Bapak, melalui tanaman-tanaman di halaman rumahnya itulah Wid menerima pesan Bapak yang berharga.

 

They Came For The Flower: Perjalanan Para Burung

They Came For The Flower menampilkan foto-foto yang, bagi saya, menggetarkan. Foto-foto di dalamnya adalah sepenggal kisah tentang sekelompok besar burung dalam kurun waktu tertentu. Aji memotret ratusan atau bahkan ribuan burung di sebuah persimpangan jalan besar di Solo. Ada burung-burung yang bertengger di kabel-kabel tiang listrik, ada yang beterbangan di bawah cahaya lampu, juga ada burung-burung yang menclok di pepohonan. Perpaduan antara malam dan burung-burung itu memang puitis, sekaligus mistis. Bagi saya, timbul getar tersendiri ketika melihat foto burung-burung itu dalam jumlah yang sangat banyak.

Ngomong-ngomong, burung sebanyak itu, dari mana mereka berasal?

Tak jelas dari mana mereka berasal. Menurut Aji, semula, burung-burung itu tak ada di sana. Mereka baru muncul ketika masyarakat sekitar menaburkan bunga di sekitar persimpangan jalan itu. Sebut saja bunga itu sesajen. Sesajen biasanya adalah persembahan kepada bumi atau kepada leluhur yang ditebar di jalan atau diletakkan di bawah pohon-pohon dengan diiringi doa-doa yang tulus agar siapapun yang melintasi jalan itu diberi keselamatan. Karena burung-burung ini tidak memiliki titik asal (yang jelas), titik pergi pun sulit ditentukan. Bisa jadi persimpangan jalan itu adalah titik berangkat sekaligus titik kembali kawanan burung itu.

Beberapa foto dalam They Came For The Flower memperlihatkan burung-burung yang berbaris rapi dalam silang sengkarut kabel. Mereka terlihat begitu anteng seolah menunggu sesuatu. Entah apa. Saya membayangkan burung-burung itu beterbangan memenuhi langit malam. Lalu bertengger di kabel-kabel dan di pohon-pohon. Lalu terbang lagi. Bertengger lagi. Berulang-ulang seperti itu. Malam demi malam.

Saya menerka bahwa burung-burung itu sedang berada dalam perjalanan panjang dengan tujuan tertentu. [Atau jangan-jangan, seperti dikisahkan Fariduddin Attar dalam Musyawarah Burung, di persimpangan itu mereka hanya singgah menuju perjalanan panjangnya menghadap Simurgh?] Dalam perjalanan itu, mereka memerlukan “bandara” untuk beristirahat, untuk mengamati cuaca, sebelum kemudian terbang lagi. Nah, mereka menjadikan persimpangan itu sebagai bandara karena adanya daya magis bunga sesajen. Di persimpangan itu, mereka merasa aman dan nyaman karena doa-doa yang menebar dari wangi bunga.

Perihal perjalanan atau bepergian, biasanya pertanyaan yang lebih sering diajukan adalah “ke mana?” daripada “untuk apa?”. Saya rasa, meskipun burung-burung itu lebih condong pada yang kedua, mereka tidak mengabaikan yang pertama. Dalam perjalanannya, mereka memang singgah—yang dengan demikian perjalanan juga tentang persinggahan-persinggahan—di “bandara-bandara”. Namun, dalam persinggahannya, burung-burung itu tidak singgah di sembarang lokasi geografis satu ke lokasi geografis lain. Mereka mencari persinggahan yang melampaui lokasi geografis, yakni persinggahan yang bermakna, yang tersaji bunga-bunga.

Karena perjalanannya adalah perjalanan bersama, di persimpangan jalan itu mereka tidak singgah sebagai individu, tetapi sebagai kelompok. Identitasnya adalah identitas komunal. Akan tetapi, They Came For The Flower takhanya memperlihatkan sekelompok burung yang beterbangan di langit terbuka, tetapi di bagian akhir juga menampilkan burung yang tersungkur mati dan sendirian. Kontras yang menyakitkan. Namun, justru  dalam kematian inilah mereka baru tampil sebagai individu, sebagai diri. Mereka terbang bersama-sama dalam keramaian, hiruk pikuk,  untuk menuju pada diri masing-masing yang sunyi.

Sementara satu burung telah “rampung” dalam perjalanannya, burung-burung yang lain tetap terbang melanjutkan perjalanan (terlihat pada foto paling akhir). Meskipun mereka tahu suatu saat akan rampung juga, mereka tidak berhenti melakukan perjalanan. Melalui burung-burung itu, setidaknya kita bisa menjawab pertanyaan “untuk apa” melakukan perjalanan? Ya, untuk menghayati perjalanan itu sendiri.

 

Effusion: Kembali ke Asal, ke Kesejatian

Untuk memahami Effusion, saya lebih mengandalkan “apa yang saya rasakan” daripada “apa yang saya lihat”. Karena jika saya hanya mengandalkan indera penglihatan, saya kebingungan. Foto-foto dalam Effusion tak berjudul atau bernarasi. Untungnya, kebingungan saya sedikit terselamatkan dengan bantuan judul buku foto ini: effusion (‘a sudden and uncontrolled expression of strong emotion’). Maka, seperti bagaimana foto-foto ini tercipta, seperti itulah saya harus memahaminya: merasakan.

Foto-foto dalam Effusion tercipta ketika Furqan menjalani studi di Australia. Saya membayangkan Furqan berjalan-jalan di suatu tempat yang asing, tiba-tiba ia tersentak oleh suatu hal yang biasa saja, cenderung banal malah, tapi tiba-tiba menuntut perhatian lebih, menuntutnya meresapi lebih dalam. Sesuatu yang mampu membuatnya diam mematung, memandang begitu lama, dan tak bisa berkata-kata. Daya getar yang misterius. Momen itu adalah momen yang entah mengapa tak bisa ditolak atau dilawan. Momen yang menyeretnya jauh ke dalam. Furqan tak bisa lain selain memotretnya. Dengan demikian, foto-foto dalam Effusion adalah luapan emosionalnya terhadap momen-momen itu.

Alasan mengapa suatu hal/benda yang biasa saja bagi orang lain bisa begitu berharga buat orang tertentu bisa jadi adalah adanya kepingan diri kita dalam suatu hal/benda itu. Atau sebaliknya, benda itu telah lama bersemayam dalam diri kita tanpa kita sadari. Ketika diri dan benda/hal itu akhirnya berjumpa, terciptalah momen itu. Yang awalnya hanya dirasakan, kemudian dilihat, lalu diputuskan untuk masuk ke dalam diri. Yang asing menjadi familiar, yang banal menjadi berarti. Yang biasa menjadi baru. Yang di luar itu menyerbu ke dalam, yang di dalam menyeruak ke luar. Dunia yang eksternal menjadi internal.

Namun, betapapun foto-foto itu tercipta secara tiba-tiba, tak terencana, foto-foto dalam Effusion ini ternyata berulang pada hal-hal dan suasana-suasana tertentu. Foto-foto itu saya masukkan dalam tiga kategori besar: air, cahaya, tumbuhan. Air mewujud pada debur ombak yang bergelora lalu meninggalkan buih yang berserak, juga riak air laut yang tenang dan tertimpa cahaya matahari. Cahaya mewujud pada lampu warna-warni yang berpendar, cahaya matahari yang menerobos sela-sela daun dan ranting. Tetumbuhan diwakili oleh bunga-bunga berwarna kuning hangat, bunga sewarna persik, rerumputan hijau yang menyejukkan, pepohonan yang meranggas, juga pohon kelabu dalam sisa hujan. Antara air, cahaya, dan tetumbuhan itu seringkali bercengkerama dengan intim.

Saya mencoba merasakan mengapa ketiga hal itu yang berulang-ulang dalam Effusion. Saya sering bertanya-tanya, mengapa memandangi lautan membuat diri merasa tenang meski ada kengerian? Mengapa memandang bunga-bunga yang bermekaran seketika membuat kita bergembira atau setidaknya bibir menyunggingkan senyum? Atau, mengapa menatap pohon yang meranggas seketika ada yang gerowong di dalam dada? Semacam nglangut yang tiba-tiba?

Tetumbuhan dapat mewakili sebagai diri yang terus bertumbuh dalam segala kondisi. Dalam upayanya untuk tumbuh, diri membutuhkan air dan cahaya. Diri yang dahaga akan mencari air, diri yang berada dalam kegelapan akan mencari cahaya. Air akan menghampiri diri yang dahaga, cahaya akan menghampiri diri yang dalam kegelapan. Dalam dahaga itu, yang dicari bukan air keran, bukan air teh, melainkan laut.

Laut adalah muara segala aliran sehingga laut dapat diartikan sebagai tempat pulang. Saya mengartikan, perjumpaan dengan air laut membuat diri kita merasakan pulang, merasakan rumah. Bukankah rumah awal diri sebelum terlahir ke dunia adalah rahim yang juga berisi air? Dengan demikian, perjumpaan dengan air juga dapat diartikan pulang ke rumah awal. Kembali ke asal. Jika jauh dari air, jauh dari rumah, diri adalah pohon yang meranggas, jika dekat rumah ia akan berbunga indah.

Diri yang jauh dari cahaya akan layu dan tak dapat bertumbuh dengan baik, bahkan lambat laun akan mati. Cahayalah yang menegakkan daun-daun (jika dihubungkan dengan daun dalam foto Kurniadi Widodo, maka cahaya di sini menegakkan hati dan pikiran). Dalam konteks diri yang sedang melakukan pencarian, cahaya adalah penunjuk jalan bagi diri yang tersesat yang belum menemukan jalan pulang. Diri yang sedang bertumbuh membutuhkan cahaya untuk menuntunnya pada jalan pulang ke rumah. Ke kesejatian.

Itulah kira-kira yang saya rasakan ketika memandang foto-foto dalam Effusion. Bagi saya, foto-foto dalam  Effusion seolah ingin menyampaikan: seringkali yang terpenting bukan apa yang terlihat, tapi apa yang terasa.

 

***

Sebenarnya saya tidak terlalu suka meromantisasi rumah dan pulang, seperti orang-orang meromantisasi hujan dan senja. Namun, apa boleh buat, ketiga buku foto itu dengan caranya masing-masing mengingatkan saya untuk tidak lupa pulang ke rumah di dalam diri.

 

This slideshow requires JavaScript.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

 

Pendapat Anda:

1 Comment

  • Danu Saputra 3 March 2017 at 23:43

    Pulang, mengasah perasaan, mengenali apa-apa yang dekat namun sekaligus berjarak, paling tidak itu yang saya dapat dari tulisan ini. Hal-hal yang tiba-tiba membuat saya merasa berada dalam kereta,  seperti yang pernah diceritakan Ramayda dalam tulisannya, Kereta dan Melankolia. Ah, beginikah melankolia itu?

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *