Skip links

Surat untuk Parang Jati

Bilangan Fu
Ayu Utami
Gramedia Pustaka Utama
2018 (Cet. 2)
Paperback
560 hlm
Rp 120.000

Kasus - kasus ganjil di Sewugung. Mayat hilang dari kubur. Pembunuhan guru ngaji. Sirkus manusia aneh...

Menjadi saksi rangkaian kejadian itu adalah Sandi Yuda, seorang pemanjat tebing yang melecehkan gaya hidup urban maupun takhayul pedesaan. Ia bertemu dengan Parang Jati, seseorang yang perlahan menyingkapkan misteri maupun kerentanan, dan mengubah cara berpikir Sandi Yuda.

Persahabatan mereka berjalin demikian erat, hingga ia tak keberatan berbagi kekasihnya, Marja, andaikan itu harus terjadi. Tapi, dalam cinta segita yang istimewa, eros tak harus selalu menjadi erotisme.

Ketiganya terbelit dalam ketegangan antara spiritualitas lokal dan modernitas yang ternyata dogmatis.

Parang Jati,

Kutulis surat ini untuk menghibur diriku sendiri, sebenarnya. Sebab aku kerap membayangkan kau masih ada di sini dan aku bisa sesekali berbincang denganmu di Goa Hu. Betapa akan menyenangkan. Aku bisa bercerita apa pun padamu kan? Meski aku tak terlalu suka banyak bicara. Aku lebih suka mendengarkan. Tapi, baiklah. Biar kini giliranku bercerita padamu.

Jati, banyak yang terjadi setelah kepergianmu. Bilangan Fu—ruang pertama aku berkenalan dengan pemikiran-pemikiranmu—dicetak ulang setelah sepuluh tahun. Mengapa sepuluh dan bukan dua belas atau tiga belas? Aku tak tahu. Mungkin tak penting juga kita memikirkan itu dan tidak semua hal harus kita tahu. Aku sudah cukup senang bahwa terbuka kemungkinan pembaca-pembaca baru akan mengenal dan mengagumi pemikiranmu.

Jati, Sandi Yuda dan Marja masih bersedih atas kepergianmu. Marja tak bisa tak menyalahkan Yuda yang dianggapnya membuka pintu bagi kepergianmu: militer. Militer, Jati, kau yang tak bisa kompromi dengan segala hal yang berbau militer akan punya banyak kesempatan menambah daftar panjang dosa-dosanya. Biar kuceritakan sedikit.

Belum lama ini mereka menyita referensi-referensi kiri karena dianggap sebagai “hantu” yang menakutkan, lebih menakutkan daripada hantu Kabur bin Sasus. Perbuatan yang hanya mencerminkan ketakutan penguasa sekaligus mengekang hak politik warga negaranya. Jati, negeri yang minat bacanya belum tinggi ini harus dikerdilkan dan dimiskinkan pemikirannya. Lagi dan lagi.

Di hari-hari ketika agama dijadikan sebagai alat politik ini, barangkali kau akan semakin yakin bahwa ajaran-ajaranmu, aliran kepercayaanmu, sangat sangat relevan untuk dijalani. Laku kritis. Laku spiritual yang selalu kritis pada kebenaran yang dipanggulnya. Kritis, bukan skeptis. Kritis, bukan anti.

Jati, pemuda Kupu-Kupu seperti berkembang biak tak terkendali. Sama seperti pemuda Kupu, mereka mengatasnamakan agama dan menganggap diri dan kelompoknya sebagai yang paling benar. Mereka begitu kukuh memperjuangkan kebenarannya, bukan memanggul kebenaran agar tak jatuh hari ini. “Kebenaran yang jatuh hari ini akan menjelma kekuasaan”. Itu yang selalu kau tekankan, bukan?  

Oh ya, seperti si Kupu-Kupu, mereka juga berkostum. Tapi sayangnya bukan harajuku seperti si Kupu. Oplosan kostum Samurai X dan Pangeran Diponegoro, menurut deskripsi Yuda. Aku selalu tak bisa menahan tawa atas gambaran itu di kepalaku. Andai mereka mengenakan kostum itu, pasti akan semakin lucu.

Tahu kau apa yang lebih buruk, Jati? Mereka menolak segala penghormatan pada bumi.  Sedekah laut pun dilarang. Laku orang-orang yang ingin berterima kasih pada alam dicap sebagai musyrik. Di sinilah, Jati, orang perlu diajari pentingnya hormat pada pohon, laut, tebing, gunung, alam raya. Semata-mata mencintai alam tanpa takut dan menguasai. Jika kita menghormati alam, niscaya kita tak akan menghancurkannya, bukan?

Jati, apakah kau baik-baik saja di sana? Yang entah di mana? Atau kau masih di sini? Meski kau bersemayam di lautan, aku kerap membayangkan kau kembali hidup sebagai sebatang pohon yang kukuh dan teduh.

Kau yang begitu menghormati ibu bumi barangkali akan berang jika melihat banyak sekali persoalan alam. Tak jauh beda dengan di Sewugunung, daerah di sekitar Pegunungan Kendeng hendak dibangun pabrik semen, Jati. Akibatnya pun akan sama seperti di Sewugunung. Cadangan air akan semakin susut dan keruh, juga rusaknya ekosistem. Jika kau masih ada di sini, aku yakin kau akan berada paling depan dalam usaha perlawanan itu.

Tapi, kabar baiknya, Jat, perlawanan terus dilakukan. Bahkan perempuan-perempuanlah yang tampil ke depan. Kau sering mengibaratkan alam adalah perempuan, adalah ibu. Bukankah kau selalu takjub pada sifat-sifat feminin? Pada kekuatan perempuan? Perempuan-perempuan ini mempertahankan bumi, mempertahankan dirinya, demi kehidupan yang akan dilahirkannya. Aku pun takjub, Jati.

Sialnya, dalam kasus-kasus seperti itu, selalu saja ada Pontiman Sutalip-Pontiman Sutalip dalam berbagai wujud, yang selalu akan menjawab persoalan-persoalan itu dengan berbelit-belit. Padahal hanya tak mau mengambil risiko. Pun dalam kasus-kasus itu, militer tak pernah absen.

Parang Jati, matamu yang nyaris bidadari itu mungkin akan murung melihat orang-orang yang tersenyum tertawa-tawa di depan kamera dengan latar belakang batu-batu putih yang dibentuk oleh penambangan karst. Mungkin prosesorku yang lamban karena tak kunjung bisa mengerti mengapa ada orang-orang yang bisa menikmati tempat seperti itu.

Ya, daerah bekas penambangan itu memang mencoba memanfaatkan apa yang sudah telanjur rusak karena penambangan memang tak terelakkan, dengan cara memberikan sentuhan seni. Tapi ada dampak lain yang menyerang secara langsung, bahwa penambangan besar-besaran itu adalah suatu hal yang wajar (dan indah). Pikirku, harusnya dihijaukan kembali, bukan dijadikan objek wisata.

Atau mungkin kau tak akan murung. Kau akan maklum sebagaimana kau maklum mengapa orang-orang masih saja menonton program-program di televisi, benda persegi yang paling dibenci Sandi Yuda.  

Jati, apakah kau masih menyimak ceritaku?

Maafkan aku, Jati, karena melulu mengabarkan kemuraman. Biar kuberi kabar yang  menenangkan. Semoga bisa sedikit menghibur hatimu. Ada secercah senyum di wajah ibu bumi. Ada sesosok penyelamat lautan tempat abumu dilarung. Ia seperti muncul dari lampu ajaib Aladin. Ia perempuan juga, Jati. Begitu pemberani. Tanpa ampun pada setiap pelanggaran yang dilakukan kapal-kapal asing di lautan kita. Tenggelamkan, katanya.

Jati, terima kasih engkau telah mewariskan ajaran yang begitu berharga. Sama seperti yang terjadi pada Yuda, kehadiranmu membawa perubahan cara pandang dan lakuku pada dunia, pada alam raya. Aku sedang mencoba menjalani laku kritik. Semoga aku mampu.

Demikianlah ceritaku, Jati. Lain kali giliranmu bercerita. Tentang apa saja. Aku akan  senang hati menyimaknya.

Terima kasih, Parang Jati. Beristirahatlah, dalam kalbuku.

Resensi ini adalah Pemenang Kedua Lomba Resensi Bilangan Fu. Dipublikasikan pertama kali di blog pribadi penulis yang tidak bersedia menyebutkan alamat blognya.

Pendapat Anda: