Selasa Bersama Morrie (Mitch Albom)

Posted: 15 February 2017 by Olav Iban

Selasa Bersama Morrie Book Cover Selasa Bersama Morrie
Mitch Albom
Memoar, Semi-biography, Philosophy
Gramedia Pustaka Utama
10 Oktober 2016 (terbit pertama tahun 1997)
209
Rp. 45.000
Tuesdays With Morrie
Alex Tri Kantjono Widodo

Bagi kita mungkin ia sosok orangtua, guru, atau teman sejawat. Seseorang yang lebih berumur, sabar, dan arif, yang memahami kita sebagai orang muda penuh gelora, yang membantu kita memandang dunia sebagai tempat yang lebih indah, dan memberitahu kita cara terbaik untuk mengarunginya. Bagi Mitch Albom, orang itu adalah Morrie Schwartz, seorang mahaguru yang pernah menjadi dosennya hampir dua puluh tahun yang lampau.

Barangkali, seperti Mitch, kita kehilangan kontak dengan sang guru sejalan dengan berlalunya waktu, banyaknya kesibukan, dan semakin dinginnya hubungan sesama manusia. Tidakkah kita ingin bertemu dengannya lagi untuk mencari jawab atas pertanyaan-pertanyaan besar yang masih menghantui kita, dan menimba kearifan guna menghadapi hari-hari sibuk kita dengan cara seperti ketika kita masih muda?

Bagi Mitch Albom, kesempatan kedua itu ada karena suatu keajaiban telah mempertemukannya kembali dengan Morrie pada bulan-bulan terakhir hidupnya. Keakraban yang segera hidup kembali di antara guru dan murid itu sekaligus menjadi sebuah "kuliah" akhir: kuliah tentang cara menjalani hidup. Selasa Bersama Morrie menghadirkan sebuah laporan rinci luar biasa seputar kebersamaan mereka.

 

 

Coba kita mulai dengan gagasan berikut. Setiap orang tahu mereka akan mati, tapi tak seorang pun percaya itu akan terjadi pada mereka sendiri. Kalau saja kita percaya, kita akan mengerjakan segala sesuatu secara berbeda. (hlm. 86)

~

Mitch Albom adalah nama tenar yang sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengundang pembaca agar membeli buku Selasa Bersama Morrie (Tuesdays With Morrie) tanpa perlu membaca resensi tentangnya. Namun, saya gatal ingin membuat resensinya karena alasan sederhana: resensi-resensi yang telah ada menyebutkan bahwa buku ini termasuk kategori buku ringan, dalam artian mudah dipahami —yang menurut keyakinan saya tidaklah demikian. Entah apakah karena otak saya tak sepintar pembaca lain, atau mereka yang terlalu meremehkan gagasan dalam buku ini.

Selain Tuesdays With Morrie (1997), karya-karya Albom yang telah saya baca adalah Five People You Meet in Heaven (2003),  Have A Little Faith (2009), dan The Time Keeper (2012). Mengambil sampel dari buku-buku tersebut, saya berpendapat tulisan Albom rasanya cocok untuk orang-orang sengsara yang butuh motivasi. Orang-orang minder yang inferior, yang di satu sisi butuh teman tapi di sisi lain malu berteman. Tulisan-tulisan Albom dapat diibaratkan versi berat dari buku-buku jenis Chicken Soup for the Soul, penyemangat jiwa-jiwa kurang gizi yang butuh nasehat namun tidak punya guru. Mungkin inilah yang membuat sebagian pembaca meresensikan buku Selasa Bersama Morrie sebagai buku ringan, buku yang memberi nasehat seakan-akan nasehat itu adalah makanan cepat saji yang siap santap tanpa perlu dikunyah dengan benar.

. . .

Seorang profesor Sosiologi emiritus di Brandeis University, Massachusetts, bernama Morrie Schwartz sedang menjalani hari-hari terakhir di kehidupannya. Kebetulan dia adalah profesor favorit Mitch Albom yang sudah 16 tahun tidak dijumpainya. Profesor tempat Albom berteman, bersaudara, dan berguru. Dalam pertemuan-pertemuan masa lalu mereka, Morrie kerap memberi nasehat bagi Albom, yang kemudian dikenang dan dirindu sampai mereka bertemu kembali di setiap Selasa, 14 minggu menjelang kematian Morrie.

. . .
Sambil menunggu maut datang, Albom dan Morrie berbincang banyak hal tentang kehidupan: tentang emosi, tentang uang, tentang kebudayaan, tentang perkawinan, tentang keluarga, dan tentang kematian itu sendiri sebagai bagian dalam kehidupan. Setiap tema dipandang dari sudut pandang unik yang bijak.

Buku ini begitu santai menjabarkan nasehat-nasehat klise yang awam (dan mungkin tidak ada yang baru) namun sebenarnya mengandung makna filosofis yang rumit. Oleh karenanya saya skeptis bila ada peresensi yang menyebutkan Selasa Bersama Morrie sebagai buku ringan. Tidak sembarang orang dapat menemukan makna terdalam dari setiap nasehat Morrie. Setahu saya, Goenawan Mohamad pernah mengulas buku ini pada Catatan Pinggir-nya (31 Juli 2000). Saya sendiri sempat membaca Catatan Pinggir tersebut —setelah membaca buku ini— dan terkejut betapa dangkalnya saya memahami nasehat Morrie.

. . .

Di usia 60-an, Morrie divonis mengidap penyakit syaraf langka: ALS (amyotrophic lateral sclerosis), penyakit yang sama yang diderita Stephen Hawking.  Mulanya hanya kaki, kemudian menjalar ke bagian atas, akhirnya seluruh tubuh tidak bisa lagi digerakkan. Morrie beruntung masih dapat menggerakan tangan dan berbicara. Keuntungan ini dimanfaatkannya dengan sangat baik dengan berbagi kearifan bersama Albom.

Ada pepatah ‘si dungu juga yang berbahagia. Bertambah tahu orang bertambah celakalah ia.’ Keniscayaan pepatah ini tidak berlaku bagi Morrie. Ia tahu ALS tidak ada obatnya. Ia tahu umurnya sebentar lagi habis. Ia tahu harapan sembuh untuk bisa kembali berdiri, berdansa, berkeliling komplek rumah menikmati suasana pagi sudah tiada lagi. Namun Morrie tetap bahagia.

Tidak iri? Tanya Albom kepada Morrie. Senyumnya mengembang, “Mitch, rasanya mustahil bagi sosok tua seperti aku untuk tidak iri kepada orang yang masih muda. Akan tetapi masalahnya adalah menerima diri apa adanya dan menikmati kenyataan itu.”

Morrie —seperti orangtua lainnya— membagikan kata-kata bijak, hanya saja ia tidak melepas kebajikannya begitu saja tapi juga mengarahkan, seperti dosen membimbing mahasiswanya. Bedanya, buku ini tidak menggurui, akan tetapi lebih seperti teman duduk. Dan duduk bersama seorang profesor sosiologi setiap kalimatnya tidak sesantai seperti yang nampak di permukaan. Ia lebih dalam, lebih mengkhawatirkan.

. . .

Ketika bicara cinta, Morrie berkata, “Cinta adalah satu-satunya perbuatan yang rasional.” Dari kalimat ini, saya yakin pembacanya akan terbelah menjadi tiga. Pertama, mereka yang melewatinya begitu saja. Kedua, mereka yang bingung —seperti saya. Dan ketiga, mereka yang merenunginya dan perlahan paham bahwa apa yang diucapkan Morrie pada halaman 56 itu merangkum ke-208 halaman lainnya.
Bagi Morrie, cinta adalah perkara nilai. Pada pemaknaan cinta universal, ia menangis menyaksikan orang-orang mati ditembaki di Afrika. Cinta ialah perasaan terlibat. Pada pemaknaan yang lebih lokal, ia melarang kedua anaknya turut berduka atas ALS-nya. Cukup aku saja. “Jangan menghentikan hidup kalian. Sebab dengan demikian, penyakit ini akan menghancurkan kita bertiga, bukan hanya aku.” Pada pemaknaan cinta yang lebih intim, Morrie memberi nasehat tentang perkawinan, bahwa cinta adalah keyakinan tentang pentingnya komitmen sebuah perkawinan.

Bagi Morrie, cinta bukan lagi sebatas keterkaitan kasih antar-dua pihak. Cinta adalah ketika kau peduli dengan situasi yang tengah dihadapi oleh seseorang dengan kepedulian sama seperti terhadap situasimu sendiri. Satu-satunya cara agar hidup ini menjadi bermakna adalah mengabdikan diri untuk menyayangi orang lain, mengabdikan diri bagi masyarakat di sekitar kita, dan mengabdikan diri untuk menciptakan sesuatu yang memberi kita tujuan serta makna.

. . .

Mitch Albom tidak perlu kata-kata indah dengan kosakata sok puitis dalam buku Selasa Bersama Morrie, semata-mata karena memang tak ada drama dalam perbincangannya dengan Morrie. Seluruh nasehatnya berdasarkan pengalaman hidup dan perenungannya menjelang kematian. Membaca buku ini kau akan bersyukur. Hanya sedikit orang bijak yang menyadari kematiaannya, lalu membagi pikirannya pada yang masih hidup.

“Mitch”, katanya, “budaya kita tak mendorong kita memikirkan hal-hal semacam ini sampai kematian hampir menjemput kita. Kita begitu terbelit dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan kepentingan sendiri, karir, keluarga, uang cukup banyak, melunasi hipotek, membeli mobil baru, memperbaiki radiator kalau rusak —sibuk dengan triliunan perkara kecil dalam rangka mempertahankan keberlangsungan semua itu. Maka kita tidak biasa berdiam diri sejenak untuk merengungkan hidup kita dan berkata, Hanya inikah? Hanya inikah yang kuinginkan? Adakah sesuatu yang hilang?”

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *