Sebuah Kenangan Di Kota Tuhan

Posted: 15 September 2018 by Jessica Karsten

Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah
Stebby Julionatan
Kumpulan Puisi
Indie Book Corner
2018
xiv + 130 hlm
Rp45.000

Izinkan aku mengenal lekukmu, menyemai gurat-gurat masa lalu yang semi di sekitar matamu. Menyusuri kenangan yang merambat lewat putih rambutmu. 


– Midrash I Pasal 3 (hal. 5).

Buku kumpulan puisi berjudul Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah ini merupakan pengembangan dari manuskrip berjudul “Rabu dan Biru” yang masuk dalam shortlist Siwa Nataraja Awards 2016 dan Sayembara Dewan Kesenian Jawa Timur 2017. Ditulis dengan sangat menarik oleh penulis muda dan berbakat asal kota Probolinggo, Stebby Julionatan. Buku ini adalah prekuel dari kumpulan sajak Biru Magenta yang terbit di tahun 2015. Jika Biru Magenta bercerita soal kasih Eros, maka kali ini Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah mengangkat tema tentang kasih Agape. Sekalipun prekuel, buku ini tetap akan dapat dibaca dengan nyaman walaupun belum membaca karya terdahulu.

Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah dapat dikatakan sebagai buku kumpulan puisi pertama tentang sebuah kota yang ditulis dalam bentuk rangkaian pasal dan ayat sebagaimana Kitab Kejadian dan Mazmur. Kumpulan puisi ini terbagi dalam 2 Midrash (istilah Yahudi untuk suatu cara penelaahan kitab suci secara homiletik, bentuk jamak dari midrashim dalam bahasa Ibrani berarti cerita) yaitu, Midrash Pertama dan Midrash Kedua. Midrash Pertama mengambil bentuk Kitab Kejadian sebagai teknik penulisannya sedangkan Midrash Kedua menggunakan bentuk Kitab Mazmur. Jalan cerita Midrash Pertama dimulai sejak September 2015 hingga Mei 2016, sementara Midrash Kedua dimulai dari Mei 2017 hingga September 2017.

Hari keempat dalam sistem penanggalan Masehi adalah awal pertemuan kami. Rabu yang alfa. Rabu yang permulaan ini mengawali Rabu-Rabu setelahnya (hal. x). Kisah perjalanan Rabu dan Biru dimulai tepat pada suatu Rabu dan kemudian mereka mulai membawa pembaca berkeliling menyusuri kenangan di masa lalu. Bagi saya, penduduk asli yang lahir dan besar di Probolinggo, membaca Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah, membuat saya merasakan nostalgia. Tempat-tempat yang digambarkan bukan melulu situs terkenal dan bersejarah, melainkan tempat yang akrab dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Kota Probolinggo. Pun bagi pembaca di luar penduduk Kota Probolinggo, buku ini dapat menjadi panduan dan kamus kecil untuk mengenal kota kecil di sebelah timur Pulau Jawa ini. Melalui buku kumpulan puisi ini pembaca akhirnya dapat mengetahui bahwa Probolinggo bukan hanya tentang BJBR atau Gunung Bromo atau bahkan Mbah Jiwo yang bertahun-tahun lalu sempat terkenal dan ditakuti, bukan juga kota yang didominasi oleh etnis Madura, tetapi sebuah kota penuh sejarah yang perlahan mulai menunjukan pesonanya.

Rabu, datanglah ke kotaku di bulan Juli. Bukan, bukan karena aku berulang tahun. Tapi di masa itu, guguran kuning angsana mewarnai halaman museum. Berjalanlah di sepanjang jalannya. Suroyo, yang dulu rimbun oleh gugusan asam Jawa. Sembul klangenan noni-noni pada negerinya.


Midrash I 3:16-21 (hal. 6)

Buku ini menceritakan perjalanan Biru menyusuri rangkaian kenangan masa kecilnya. Pada Rabu, Biru menuturkan kisahnya yang tidak selalu bahagia dalam bentuk puisi indah. Saya sepakat dengan Dewi Lestari yang beranggapan bahwa buku ini niscaya membuat kita rindu pada puisi dan mungkin menggerakkan tangan kita ikut menulis sebaris atau dua. Rabu, dapatkah kita mati dari beberapa pasang mata yang membayang? Rabu, kau adalah doa yang tak ku tahu harus kualamatkan pada Tuhan yang mana. Bersemayamlah dalam ingatanku. (Midrash I 20:15,18-20, hal. 35).

Sekalipun selalu disebutkan, rupanya Rabu bukanlah teman perjalanan yang selalu menyenangkan. Kau seperti menara, menjulang di antara mega-mega. Rabu, kita bertemu kembali di Minggu Palma, tapi kau tak menyapa. Kata Opa, tinggi Menara Air ini adalah permukaan Ronggojalu. Kira-kira setinggi apa permukaan hatimu? (Midrash I 23:1-5, hal. 38). Dinamika perjalanan Biru terasa sangat menyentuh untuk diikuti, dituliskan dengan jujur membuat pembaca ikut merefleksikan diri ketika membaca puisi demi puisinya.

Dibuka dengan potongan puisi menarik, Midrash II yang berisi 10 puisi ini membawa pembaca masuk pada fase refleksi. Remukkan aku, Tuhan, remukkanlah aku; hingga taat tanpa tapi dan patuh tanpa nanti (Midrash II, hal. 55). Midrash II ini pun masih sarat akan sejarah Kota Probolinggo, puisi yang ditulis seumpama Mazmur membuat sejarah terdengar indah. Tidak banyak buku yang menerangkan tentang sejarah Kota Probolinggo, penggalan puisi dalam buku ini akhirnya menarik minat saya untuk mencari tahu lebih dalam mengenai sejarah kota ini.

Di Probolinggo, dengan persekot 200 gulden,
Han Kek Koo membeli kota itu seharga sejuta ringgit.
Dan hendak menguasainya
Selama sepuluh tahun dari 1810.
Apakah yang palsu memang selalu demikian?
Pria sipit itu lebih kejam ketimbang kompeni.
Meremas puting begitu rupa
Hingga memancing kemarahan Saridaka.
Di 1813, kekuasaannya digulingkan.
Terungkit lepas sebuah batu yang menimpa patung emas.
Begitulah ia mengajar melalui raja-raja;
Mengutusnya sambil terus menguji kesetiaan kita.


Midrash II 4:5-7 (hal. 62-63)

Secara keseluruhan, puisi-puisi dalam buku Di Kota Tuhan, Aku Adalah Daging yang Kau Pecah-Pecah ini ditulis dengan baik. Pemilihan kata yang digunakan pun berkelas dan tidak lazim sehingga dapat menambah wawasan karena membuat saya membuka kamus untuk mencari arti kata tersebut. Pun membaca puisi-puisi ini membuat saya terinspirasi dan tergelitik untuk menuliskan puisi saya sendiri. Silakan baca dan buktikan sendiri jika Anda tidak percaya. Setiap puisi dalam buku ini dilengkapi dengan sebuah ilustrasi yang sayangnya tercetak kurang begitu jelas, seandainya dicetak dengan baik pasti akan dapat menambah feel dari puisi-puisi tersebut.

Menurut saya, buku ini wajib dimiliki oleh warga Kota Probolinggo sebagai bentuk support kepada putera daerah dan juga bentuk kebanggaan akan lingkungan Kota Probolinggo. Pun bagi para perantau yang jauh dari kehangatan Kota Probolinggo, buku ini bisa menjadi obat kerinduan. Bagi Anda yang bukan penduduk Kota Probolinggo, bacalah, maka saya yakin Anda akan merasakan keinginan untuk mengunjungi kota ini suatu hari.

Aku akan belajar dari luka. Mengenang panen perdana kita. Benih sulung yang jatuh untuk memberi semai pada tunas yang baru. Hanya ada satu kata: Kenang! Dan semoga doaku, cukup layak untuk menjangkaumu.


Midrash I 33:10-11 (hal. 52).
Pendapat Anda: