Menyuarakan Kebisuan: Resensi Buku Antologi Puisi Tuhan dari Hal-Hal Bisu

Posted: 17 June 2017 by Fitriawan Nur Indrianto

Antologi Puisi Tuhan dan Hal-Hal Bisu Book Cover Antologi Puisi Tuhan dan Hal-Hal Bisu
Nur Fitri Rahdiktya Putri, Innezdhe Ayank Marhaeni, Ahmad Zulkarnain, Faiz Pranawestu, Kartina, Ari Wijayanti, dan Kamaludin Yahya
Antologi Puisi
Gambang Buku Budaya
Mei 2017
xxii+146 hlm

 

“… But there are times when a critic truly risks something and that is the discovery and the defense of new. The world is often unkind to new talent, new creation. The new needs friend.”

(Anton Ego – Film Ratatouille)

 

Beberapa bulan yang “lampau”, saya disodori manuskrip antologi puisi Tuhan dari Hal-Hal Bisu oleh perwakilan penulisnya untuk memberikan endorsement. Tentu dengan senang hati saya menerima permintaan tersebut. Ada kebanggaan tersendiri ketika mengetahui telah muncul bakat-bakat baru, penulis puisi dari  mahasiswa Sastra Indonesia FIB UGM. Bisa dipastikan, mahasiswa Sastra Indonesia FIB UGM memang sedikit tertinggal dari mahasiswa kampus-kampus sastra lainnya dalam urusan penciptaan karya kreatif (namun unggul dalam penelitian sastra). Agaknya keresahan itu pula yang kemudian ditanggapi oleh Dr. Aprinus Salam. Beliau dalam beberapa tahun belakangan mengampu mata kuliah penulisan kreatif di FIB UGM. Dan, setelah sekian tahun, wacana penerbitan hasil dari mata kuliah tersebut akhirnya muncul hingga benar-benar terealisir. Aprinus Salam perlu beberapa tahun untuk bisa menemukan bakat-bakat baru tersebut, meskipun sebenarnya, pasca-generasi Ramayda Akmal, Saeful Anwar dkk., sudah muncul segelintir mahasiswa yang juga menulis karya kreatif, hanya saja mungkin pada saat itu belum begitu menonjol karya-karyanya.

Ada tujuh nama penulis yang karya-karyanya termuat dalam antologi puisi Tuhan dari Hal-hal Bisu. Mereka adalah Nur Fitri Rahdiktya Putri, Innezdhe Ayank Marhaeni, Ahmad Zulkarnain, Faiz Pranawestu, Kartina, Ari Wijayanti, dan Kamaludin Yahya. Masing-masing  dengan 15 puisi (kecuali Ari Wijayanti yang hanya 14 puisi). Sayangnya, saya tidak tahu bagaimana kuratorial karya-karya yang dimaksud. Apakah Aprinus Salam sendiri yang memilih semua puisi itu, ataukah ada orang lain yang menyeleksi karya-karya yang akhirnya dimuat tersebut? Entahlah. Dengan jumlah rata-rata karya yang sama dari masing-masing penulis, saya sudah menduga bahwa ada karya yang memang bagus (terseleksi), tapi ada juga karya yang memang semata dimuat untuk melengkapi jatah jumlah karya per orang tersebut.

Tulisan saya ini merupakan ekspresi analitik sederhana dari hasil pembacaan saya pada buku tersebut secara (mencoba) menyeluruh, mulai dari sampul buku, puisi-puisi di dalamnya, hingga catatan-catatan yang diberikan oleh para “ahli” terhadap buku ini. Meski begitu, tentu pembacaan saya yang tertuang dalam tulisan ini tidak akan begitu detail, mengingat tulisan ini memang tidak saya maksudkan sebagai sebuah esai panjang yang memuat analisis dan kritik tetapi hanyalah sebuah catatan kecil serupa resensi,  atau apalah namanya.

Hal yang terkesan remeh tapi penting adalah sampul bukunya. Harus saya katakan desainnya cukup menarik. Dari kombinasi warna dan pilihan font secara subjektif saya katakan bagus, memuat dua warna saja yakni warna putih dan kuning. Sementara warna sampul buku tersebut adalah merah. Untuk ilustrasi gambar, saya menduga adalah sebuah lukisan abstrak. Hanya saja saya agak kecewa tidak menemukan sumber gambar tersebut, sehingga saya tidak dapat mengetahui gambar itu karya siapa. Saya tidak tahu, dalam dunia penerbitan, apakah tanpa menyantumkan sumber gambar untuk sampul itu sebuah pelanggaran hak cipta atau bukan. Tapi ada kemungkinan juga saya salah, bahwa sebenarnya gambar tersebut adalah kreasi dari sang desainer sampul. Hal itu bisa saja terjadi, mengingat kemajuan teknologi desain grafis saat ini begitu tinggi. Entahlah.

Sebelum membahas karyanya, ada bagian yang paling menarik buat saya, yakni catatan pembuka yang diberikan oleh Aprinus Salam. Tulisan Aprinus Salam itu diberi judul “Kamu Membuatku Cemburu: Catatan Kecil untuk Antologi Tuhan dari Hal-Hal Bisu”. Judul ini cukup menggelitik, terkesan begitu santai walau secara substansial mengundang pemaknaan yang bisa didalami lebih lanjut. Dari judulnya terlihat bagaimana Aprinus Salam mencoba untuk melakukan pedekatan personal dalam rangka merespon karya-karya penulis. Penggunaan kata “kamu-aku” setidaknya menunjukkan hubungan relasional sekaligus oposisional. Sementara itu, dari segi hierarki justru penggunaan kata “cemburu” menjadi menarik. Aprinus Salam mencoba untuk menunjukkan diri bahwa ada hal-hal yang tidak dimilikinya (dalam penciptaan puisi) tetapi dimiliki oleh para penulis puisi tersebut. Cemburu bisa menyiratkan bahwa “aku ingin seperti dirimu, tapi tak bisa”. Hubungan itu mungkin saja menyiratkan hierarki bahwa karya-karya penulis lebih tinggi dibandingkan karya puitik Aprinus Salam. Tetapi paling tidak, dapat kita lihat bahwa sebagai “kritikus”, Aprinus Salam mencoba untuk menunjukkan kesan pada pembaca bahwa ada kelebihan dari puisi-puisi dalam buku ini.

Hal tersebut juga tersirat dari bagaimana di setiap bagian dari tulisan Aprinus Salam selalu dimulai dengan menyebut nama penulisnya. Saya kira, Aprinus Salam memang mencoba bertindak bukan sebagai kritikus belaka, melainkan sebagai “bapak” yang sedang mendekati dan menasehati anak-anaknya. Meskipun hanya berisi ulasan singkat dalam setiap bagian tulisan, tampak bahwa Aprinus Salam tidak hanya mencoba masuk untuk memahami dan menilai puisinya saja, melainkan juga masuk ke dalam dunia batin para penulis. Dalam tulisan sebanyak tujuh halaman tersebut, Aprinus Salam menunjukkan kelebihan dan kekurangan masing masing penulis. Tapi nuasanya yang paling kental adalah bagaimana Aprinus Salam mencoba melihat “humanitas” pada karya-karya penulis. Pada tahap ini, terlihat bahwa Aprinus Salam ingin menjadikan karya-karya yang ada hanya sebagai jembatan untuk menemukan sisi kemanusiaan tersebut. Karya-karya tersebut  dipandang telah menyuguhkan banyak subjek yang memposisikan diri, baik sebagai subjek individu, subjek magis, subjek sosial, atau universal yang masing masing berhubungan dengan persoalan cara pandang terhadap kehidupan.

Bisa saya katakan, apa yang dilakukan Aprinus Salam di atas merupakan cara paling “bijak” untuk mengomentari karya-karya para penulis “baru” tersebut. Dengan tidak terlalu bermain-main pada pembacaan objektif dan menyeluruh terhadap karya-karyanya, tidak terlalu mempersoalkan bentuk, serta lebih pada menyoal pemaknaan, Aprinus Salam terkesan memberikan ruang bagi karya dan penulisnya itu untuk lahir, tumbuh, dan berkembang. Oleh sebab itulah, di atas tadi telah saya kutipkan kata-kata Anton Ego dalam film Ratatouille. Cobalah baca lagi, namun sambungkan kalimat ini di awalnya: “…in many ways the work of critic is essay. We risk very little, yet enjoy a position over those who offer up their work and their selves to our judgement. We thrive on negatove criticism, which is fun to write and to read.”

Jalan di atas sepertinya tidak diambil oleh Aprinus Salam. Barangkali seperti Anton Ego ketika menemukan bakat baru, Aprinus Salam juga sampai pada pemahaman kesimpulan yang dimiliki oleh Gusteau (dalam film Ratatouille) bahwa “siapapun bisa memasak”, bahwa tidak semua orang dapat menjadi seniman besar, namun seniman besar bisa datang dari mana saja. Melalui tulisannya, Aprinus Salam seolah berdiri sebagai pengantar sekaligus penyambut tamu bagi para pendatang baru di dunia penulisan puisi tersebut. Apa yang dilakukan oleh Aprinus Salam tampaknya juga dilakukan oleh para pemberi endorsement. Raedu Basha, Iqbal H.Saputra, Kedung Darma Romansha, S.Arimba, Ramayda Akmal dalam endorsement mereka tampak menaruh harapan pada para penulis muda ini untuk tidak berpuas diri dan terus mengembangkan diri dan karya-karyanya. Kelahiran buku antologi ini bukanlah akhir, melainkan awal dari perjalanan panjang para penulis memasuki dunia rimba sastra yang lebih menantang dan “kejam”.

Lalu, bagaimana dengan karya-karya dalam buku tersebut? Sebagai informasi, antologi Tuhan dari Hal-Hal Bisu memuat 104 puisi. Bagian pertama diisi oleh puisi-puisi Nur Fitri Rahdiktya Putri, lalu diikuti oleh puisi-puisi Innezdhe Ayang Marhaeni, Akhmad Zulkarnain, Faiz Pranawestu, Kartina, Ari Wijayanti, dan terakhir puisi-puisi Kamaludin Yahya.

Dari kesemuanya, puisi yang paling saya suka adalah puisi berjudul Doa-doa Medan Laga karya Innezdhe Ayang Marhaeni. Puisi ini mencoba menyelami kisah Bambang Ekalaya, seorang ksatria yang mengorbankan dirinya demi harga diri. Kisah Ekalaya, sebagaimana kita tahu, sangatlah tragis. Menjadi salah satu ksatria yang sesungguhnya merupakan terbaik (bahkan lebih baik dibandingkan Arjuna). Ekalaya yang jago memanah ditolak berguru oleh Guru Drona yang memang hanya mau mengajar pada murid-murid dari Astina Pura (Kurawa dan Pandawa). Bambang Ekalaya pun kemudian belajar sendiri dengan bayang-bayang guru imajinatifnya: Drona itu sendiri. Kisah tersebut diceritakan kembali oleh penulis dalam puisinya berikut.

 

Doa-Doa Medan laga

1/

Yang terbang ke angkasa, berhamburan memangkas panah

Lalu berubah menjadi camar dengan ekor yang berjumbai

Tanpa ada seorangpun yang mau membaca tanda

Di kulit wanita ada kemarau yang menumpas kebas

Menelusuri jejak-jejak diapit perdu tiada tinggi

Tumpah-menumpah yang marah

Memanggang habis kaki-kaki yang aus di antara panji-panji

Kemegahan ini siapa punya, tiada yang tanya

Kemenangan ini siapa sangka, tiada yang selera

Lalu untuk apakah kau menggapit anak panah yang

Akhirnya kau lepas tanpa ibu jari?

Ekalaya, Matimu tiada

 

Sebenarnya saya agak terkejut ketika Innezdhe Ayank Marhaeni menulis puisi ini. Sungguh dalam perkenalan saya sebelumnya secara pribadi, saya tidak menyangka bahwa ia memiliki bakat menulis puisi. Apalagi sebuah puisi yang mengandung unsur-unsur pewayangan di dalamnya. Bahkan ketika sejenak berdiskusi dengan Kedung Darma Romansha, penyair itu juga menyanjung bakat “Ini potensial sekali, hanya perlu diasah,” kata Kedung. Dan puisi tersebut, meskipun mengulang kembali cerita pewayangan, namun sangat tersusun dengan baik. Yang membikin saya sedikit mengernyitkan dahi adalah ketika membaca banyak tumpukan cerita dalam puisi ini. Pada bait pertama saya menafsirkan bahwa puisi tersebut menceritakan tentang bakat cemerlang seorang Ekalaya. Tapi pada bait kedua saya menemukan diksi “wanita”. Siapakah yang dimaksud wanita dalam puisi ini?

Dari beberapa kemungkinan siapa wanita ini, menurut saya, yang pertama adalah Drupadi. Drupadi adalah wanita yang menjadi penyulut pertempuran antara Pandawa dan Kurawa. Drupadi adalah korban dari keegoisan kaum laki-laki. Ia dipertaruhkan dalam permainan dadu oleh para suaminya hingga ia pun dipermalukan di depan umum. Dalam sebuah kisah, hanya Kresna-lah orang pertama yang mau diajak bicara oleh Drupadi. Dan dalam narasi yang saya baca, Ekalaya memang mati dalam peperangan melawan pasukan Arjuna yang dibantu Sri Kresna. Tapi sampai titik ini, saya tidak menemukan korelasi antara Drupadi dan Ekalaya. Maka selanjutnya saya mencari wanita lain. Ternyata ada kisah mengenai Dewi Anggraeni. Ia adalah istri Bambang Ekalaya. Dalam sebuah narasi yang saya dapat, ternyata Dewi Anggraeni merupakan perempuan yang cantik jelita. Konon, Arjuna sang Lelanangin Jagat tertarik padanya. Dewi Anggraeni pun mengadukannya pada sang suami sehingga terjadi perselisihan antara Ekalaya dan Arjuna. Arjuna sempat hampir kalah dalam pertarungan tersebut. Tetapi atas sebuah muslihat, kesaktian Ekalaya sirna, karena cincin saktinya lepas bersama ibu jarinya sehingga ia pun akhirnya kalah dalam peperangan.

Saya melihat kekecewaan dalam puisi ini. Dalam baris berikut.

 

Kemenangan ini siapa sangka, tiada yang selera

Lalu untuk apakah kau menggapit anak panah yang akhirnya kau lepas tanpa ibu jari?

Ekalaya, matimu tiada.

 

Puisi ini bagi saya tidak saja merekonstruksi narasi mengenai Ekalaya saja, namun puisi ini juga menyuarakan suara subaltern. Melalui tokoh wanita, yang mungkin Dewi Anggraeni itu, puisi ini juga menyuarakan suara perempuan yang tak berdaya. Ketakberdayaan  melihat ketidakadilan di mana seorang ksatria gagah berani, pekerja keras, yang mencintai istrinya dengan sepenuh hati namun harus mati di bawah kelicikan kekuasaan. Hal tersebut sesuai juga dengan judul puisi ini: Doa-Doa Medan Laga. Agaknya doa sang wanita itu tidak didengar. Puisi ini sekaligus membawa kita dalam konteks wacana kekinian. Sering kita lihat, banyak orang-orang baik, jujur, dan memiliki integritas harus menjadi korban keganasan politik. Kisah Ekalaya yang diangkat dan diolah dengan baik oleh sang penulis, menunjukkan bahwa kendati ditulis oleh seorang pendatang baru, apabila dibaca lagi, memiliki dimensi yang kompleks.

Puisi lain yang hendak saya tunjukkan adalah Tuhan dari Hal-Hal Bisu, judul puisi yang akhirnya dijadikan judul antologi ini. Puisi ini adalah karya Kamaludin Yahya.

 

Tuhan dari Hal-Hal Bisu

Merdekalah mereka empunya suara

Berkuasa atas telinga

Jika domba-domba yang disembelih pada hari adha dapat

berbahasa

mungkinkah mereka akan menyampaikan derita?

Tapi kemanakah tuhan dari hal-hal bisu?

karena dipanggil lewat mantra dan doa dia tetap tiada

mungkin dia mendengar sesuatu di atas makna?

Ah celakalah manusia

 

Secara singkat, saya membaca puisi ini sebagai suara dari keresahan penulis yang mempertanyakan ritual keagamaan. Dengan mengambil kisah penyembelihan hewan kurban, penulis mencoba untuk memasuki dunia binatang. Ia mempertanyakan apakah hewan yang disembelih itu akan menderita dan sebagainya. Ritual penyembelihan hewan kurban untuk sebagian orang, khususnya para pecinta binatang ataupun para vegetarian, barangkali adalah sebuah tindakan yang sadis. Tentu akan ada pro-kontra dalam menyikapi hal tersebut. Agaknya, penulis juga mempertanyakan segi kemanusiaannya sendiri, sekaligus mempertanyakan kehadiran Tuhan. Tapi yang pasti, puisi ini mencoba untuk menyuarakan suara-suara mereka yang tak bisa didengar, dan dalam hal ini disebut sebagai “hal-hal bisu”. Apakah Tuhan memang hadir dalam ritual tersebut untuk menyelamatkan sang domba? Doktrin agama sendiri menyuguhkan narasi bahwa Tuhan hadir dalam ritual tersebut. Domba yang hadir dalam ritual tersebut hakekatnya adalah bukan domba biasa. Sebab ia dikirim oleh Tuhan untuk menyelamatkan manusia, menjadi pengganti kurban atas perintah yang diberikan oleh Tuhan sendiri.

Entah sebuah kesalahan ataukah memang disengaja, Tuhan dalam bait puisi tersebut menggunakan huruf  “t” kecil. Apakah memang dimaksudkan bahwa penulis sengaja menyangsikan kehadiran tuhan, sehingga tidak menyebutnya dengan “Tuhan” sebagai yang agung dan merajai semuanya? Dalam ritual kurban, memang manusialah yang kemudian memotong sendiri hewan kurban, bukan Tuhan. Jika yang dimaksud “tuhan” dengan “t” kecil adalah kuasa manusia, pada akhirnya memang manusia tidak memiliki kuasa apa-apa untuk menyelamatkan sang domba disebabkan oleh adanya Tuhan sendiri yang mahakuasa.

Kekuasaan yang besar dari “tangan yang tak terlihat” juga terlukis dalam puisi berjudul Catur karya Ahmad Zulkarnaen. Dalam puisi itu tergambar sebuah kepasrahan dalam menerima nasib. Berikut puisinya.

 

CATUR

Pada akhirnya kita hanya dapat

menjadi diri sendiri

Pion menjadi pion

Kuda menjadi kuda

raja menjadi raja.

Sementara Pemain Catur tetap bergerak, tak terlihat.

 

Ketika dihadapkan pada kekuasaan (Tuhan), manusia nampak tidak memiliki kekuatan apa-apa. Tetapi dalam ketakberdayaan itu justru manusia menemukan hakikat kemanusiaannya. Dengan menerima takdir (yang seringkali berat), justru manusia harus berjuang keras hingga menemukan kekuatannya sendiri. Tidak peduli menjadi pion, raja, atau kuda, sebab hakekatnya mereka adalah sama-sama digerakkan. Dan dalam permainan catur, semuanya memiliki peran masing-masing yang satu sama lain saling mengisi. Dengan keterbatasan itulah manusia menemukan kelebihannya.

Masih banyak suara-suara kemanusiaan yang terdapat dalam puisi-puisi lain dalam buku ini. Masing-masing karya tampaknya merefleksikan permenungan yang cukup dalam akan kehidupan. Ada yang masih mempertanyakan kembali mengenai takdir, menggugat ketidakhadiran Tuhan, atau mencari Tuhan seperti dalam puisi Percakapan dengan Alam karya Kartina, tetapi ada juga yang menemukan Tuhan dalam wujud yang lain, seperti dalam puisi Amanat Ibu karya Nur Fitri Rahdiktya Putri.

Sayangnya dalam keterbatasan tulisan ini, tidak bisa saya tunjukkan semuanya. Oleh sebab itu, saya menyarankan pembaca untuk bergegas membaca buku ini. Anda mungkin akan senang membacanya, tetapi bisa juga kecewa. Namun, dari apa yang saya baca, baik dari pengantar yang diberikan oleh Aprinus Salam, maupun beberapa contoh puisi di atas, saya yakin buku ini menarik untuk dibaca.

Saya melihat buku ini telah benar-benar menjadi suara bagi subaltern. Aprinus Salam, melalui pengantarnya, hadir sebagai seorang yang menyuarakan suara-suara dari penulis muda, para pendatang baru. Ia menjelma tokoh Anton Ego di film Ratatouille yang tidak serta-merta menjadi kritikus sadis, tetapi membukakan jalan bagi para penulis baru dengan tidak mematahkan karya-karya mereka. Sementara itu, para penulis puisi ini sebagian besar juga menjadi suara-suara bagi yang bisu itu. Buat saya, mereka merupakan representasi Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang. Sebab kita tahu, Tuhan kadang menjelma menjadi mulut bagi hal-hal bisu.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

2 Comments

  • Dina 21 August 2018 at 15:36

    Kibul.in juga menjual buku2 yg diulas di website ini?

    Reply
    • Redaksi Kibul 23 August 2018 at 16:57

      Sebagian bisa didapatkan di warungsastra.com kak 🙂

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *