Pengaruh Portugis di Indonesia

Posted: 25 November 2017 by Tyassanti Kusumo

Pengaruh Portugis di Indonesia Book Cover Pengaruh Portugis di Indonesia
António d'Oliveira Pinto da França
Pustaka Sinar Harapan
2000
vii+144
A Influência Portuguesa na Indonésia
Pericles Katoppo

Pengaruh Portugis di Indonesia merupakan sebuah survei yang didokumentasikan dengan baik tentang interaksi antara dua bangsa yang walaupun ada perbedaan agama dan kebudayaan yang hakiki, juga mempunyai beberapa persamaan dalam sifat mereka, seperti dikemukakan Duta Besar António d'Oliveira Pinto da França secara begitu meyakinkan.

 

Jauh sebelum Belanda dan kongsi dagangnya, VOC, datang dan menghegemoni Nusantara, Portugis telah terlebih dahulu datang dan menjalin kontak yang harmonis di hampir tiap pulau. Hebatnya, Portugis bisa menjalankan kepentingan dagang, kepentingan politik, dan kepentingan agamanya secara bersamaan tanpa konflik berkepanjangan seperti yang dilakukan oleh Belanda di kemudian hari. Yang lebih mencengangkan lagi, budaya Portugis yang dicerminkan dalam arsitektur-arsitektur, artefak, serta budaya lisan pun banyak yang membekas dan menyebar merata, terutama di wilayah timur Nusantara.

Antonio Pinto da França, Duta Besar Portugal untuk Indonesia (periode 1970-an), melalui buku setebal 144 halaman ini mencoba mengurai tentang kesan yang didapatnya selama bertugas di Indonesia. Ia mulai menuturkan kesannya ketika pertama kali menginjakkan kaki ke Indonesia. Begitu banyak hal baru yang tidak ia temui di daerahnya yang membuatnya tercengang. Ditambah ketika ia sering berinteraksi dengan warga dan menemukan fakta bahwa banyak sekali kosakata dalam Bahasa Indonesia yang mirip dengan Bahasa Portugis. Pinto da França terkesima membayangkan jurang waktu ratusan tahun rupanya tidak menghapus begitu saja akulturasi yang ada.

Berangkat dari kesan yang menggugah rasa ingin tahu itu, Pinto da França pun melakukan survei kecil-kecilan terhadap persebaran pengaruh Portugis di Indonesia, mulai dari bahasa, arsitektur, hingga artefak-artefak yang ditinggalkan.

Semua dimulai pada pertengahan Abad ke-14. Kala itu Portugal sudah memiliki batas-batas negara yang sama seperti sekarang dan telah aktif pula mengarungi lautan untuk melihat dunia guna menemukan Dunia Baru. Hingga suatu ketika para penjelajah Portugal melewati wilayah Goa dan menemukan rempah-rempah yang sangat penting untuk dijadikan komoditas dagang. Mereka melihat geliat dagang bangsa Turki dan Arab yang kala itu juga sedang berdagang rempah-rempah jauh lebih dahulu dari mereka. Pihak Portugal kemudian berusaha mengambil alih daerah Malaka yang merupakan jalur sekaligus tempat berdagang yang ramai. Akhirnya, setelah melalui konflik senjata, pada tahun 1511, Malaka pun jatuh ke tangan Portugal, dan kemudian melakukan ekspansi lebih jauh ke daerah Maluku untuk mencari rempah-rempah, melewati pantai Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, dan Flores.

Perjalanan jauh di wilayah yang asing tentu tidak dilewatkan oleh bangsa Portugis dengan hanya diam. Mereka menyempatkan mampir dan kadang membuat padrao, sebuah batu pancang mirip lingga yang berfungsi sebagai penanda bahwa wilayah tersebut telah dilewati penjelajah Portugal. Pinto da França menjelaskan secara rinci kontak antara Pulau Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Sumbawa, Kalimantan, Sulawesi, Maluku,  dan Kepulauan Nusa Tenggara. Seperti semisal di Pulau Nias, sebelah barat Sumatra. Rumah-rumah di sana beberapa ada yang memiliki unsur-unsur yang terdapat pada kapal Portugal. Begitu pula di Sumatra Barat, pakaian pernikahan mempelai laki-laki jelas tampak mirip dengan pakaian bangsa Portugis yang banyak digunakan pada Abad ke-17. Pula di Jawa terdapat satu kampung di wilayah Jakarta yang bernama Kampung Tugu, yang dahulu dihuni oleh orang Goa dan mestizo Portugis yang ditawan di Jakarta selama perang. Di daerah ini budaya Portugis tumbuh subur, mulai dari bahasa hingga Musik Keroncong Mourisko.

Pinto da França juga menuliskan suatu kala, ketika ia dan keluarganya datang ke Kampung Tugu, ada seseorang yang mengumumkan kedatangan mereka kepada para tetangga dengan Bahasa Portugis, “Tem gente quer bir casa!” (Ada orang yang ingin melihat rumah). Bayangkan saja bagaimana Pinto da França terkejut sekaligus terharu mendengar bahasa ibunya dipergunakan secara fasih di wilayah yang jauhnya entah berapa ribu kilo.

Selain budaya-budaya intangible, Pinto da França juga memperlihatkan tinggalan artefak Portugis. Artefak itu berupa baju adat, topi, bangunan (arsitektur), dan juga senjata, seperti yang ada di daerah Solo. Meriam Setomi (Pinto da França menduga istilah ini mungkin diturunkan dari kata dalam Bahasa Portugis: Sao Tome—Santo Thomas) merupakan meriam koleksi Museum Keraton Surakarta. Meriam ini diyakini sebagai senjata yang identitasnya ialah perempuan, dan asal usulnya belum jelas, apakah merupakan sebuah hadiah untuk Sultan Mataram, atau jarahan suatu pertempuran, atau mungkin diangkut dari kapal yang karam. Di Jogja pun sampai sekarang masih dapat dijumpai sisa-sisa ideofak bangsa Portugis yang diwujudkan dalam konstruksi bangunan Taman Sari. Bangunan yang dibangun pada Abad ke-18 ini, menurut Pinto da França, sekilas mirip dengan gaya bangunan Indo-Portugis Abad ke-17. Melengkung dengan nuansa warna serta lorong-lorongnya yang sangat khas arsitektur Portugis.

Menuju ke arah timur, pembaca seakan diajak Pinto da França untuk ikut merasakan suasana berada di tengah penduduk asli Indonesia dengan akulturasi budaya yang lebih banyak mendapat pengaruh dari asing, seperti di Ambon, Flores, Makassar, dan Manado. Pengaruh budaya Portugis di daerah tersebut sangat kental. Saya sendiri bisa membayangkan bila diri saya adalah Pinto da França, dan sedang berada di tengah-tengah orang daerah itu yang secara fisik terasa dekat dan kenal, namun ketika berbicara dan melakukan ritus, terutama keagamaan dan adat pemerintahan, seperti sungguh berbeda! Bagaimana tidak, baju kebesaran dan gelar rajanya saja masih dalam Bahasa Portugis. Tengok saja di daerah Flores, di sana ada Raja di wilayah Maumere yang bernama Dom Sentis Aleixu da Silva (belakangan saya tahu bahwa nama Dom memang disematkan sebagai awalan nama orang-orang penting di daerah tersebut). Ketika ditemui Pinto da França, Raja Sika mengenakan semua lambang kekuasaan yang telah diberikan kepada pendahulu-pendahulunya di Abad ke-17, yang kesemuanya terbuat dari emas. Benda-benda kebesaran itu terdiri dari sebuah helm bertuliskan angka tahun 1607, dua kalung dari bola-bola emas, dan sebuah tongkat lambang kekuasaan. Beranjak ke ritus keagamaan, di Larantuka, doa-doa yang dilantunkan masih dalam bahasa Portugis asli. Bahkan liturgi perayaan paskahnya, seperti jalan salib (via dolorosa), juga amat mirip dengan yang ada di Portugal.

Benda-benda artefak, sosiofak, maupun ideofak ini sungguh fantastis. Usianya sudah berabad-abad, namun masih tetap terjaga, bahkan masih hidup hingga sekarang. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Portugis telah berhasil melewati rentang waktu yang sangat panjang, terlebih bila diingat bahwa justru bangsa Belanda yang lebih lama menghuni Indonesia.

Buku ini saya rekomendasikan untuk dibaca kawan-kawan yang selama ini masih samar tentang akulturasi budaya Indonesia, dan yang sudah sering mendengar bahwa beberapa wilayah di Indonesia memiliki budaya yang sama dengan wilayah lain di luar Indonesia. Buku ini mencerahkan dan membuka mata bahwa kita sungguh sangat beragam. Buku ini menunjukkan bahwa sebuah budaya bisa bertahan sebegitu lamanya, dirawat oleh penduduk setempat, dan diolah dengan kearifan lokal penduduk masing-masing wilayah. Memang buku ini sekilas mirip seperti catatan harian, tetapi fakta-fakta yang disajikan di dalam buku ini telah diringkas dan dicoba disajikan dengan padat oleh Pinto da França dengan dilengkapi lampiran berisi tentang kosakata-kosakata Bahasa Indonesia yang secara etimologis berakar dari Bahasa Portugis. Bukan sebuah kesia-siaan jika mampir sebentar, menilik barang dua-tiga halaman. Mampir sekalian!

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *