Skip links

Orang Dewasa Memang Selalu Merasa Benar

Aku Radio Bagi Mamaku
Abinaya Ghina Jamela
Gorga Pituluik
2018
93
Rp55.000

Aku jadi ingat papaku. Papaku selalu merasa benar. Jika sedang bicara tidak bisa dihentikan. Dia bisa marah. Aku pikir karena dia papaku dan karena dia orang dewasa. Anak-anak harus mendengarkan saja semua perkataan orang dewasa (hlm 9).

Abinaya Ghina Jamela menulis kalimat-kalimat di atas pada cerpen pertama dalam buku kumpulan cerpennya yang berjudul Aku Radio Bagi Mamaku.  

Saya langsung terkagum-kagum sekaligus tergelitik setelah membacanya. Naya (panggilan akrab penulis) adalah penulis yang baru berusia sembilan tahun pada Oktober lalu. Ia mengkritik dengan sangat polosnya kebiasaan orang dewasa yang selalu merasa diri paling benar. Melalui 10 cerpennya, Naya melalui sudut pandang seorang anak menggambarkan bagaimana orang dewasa dalam kehidupan sehari-hari yang kerap tidak ingin disalahkan.

Alinka, tokoh anak perempuan yang diciptakan Naya sering kali tak habis pikir dengan sikap papanya. Papanya selalu merasa benar ketika bicara. Ia bahkan tidak bisa dihentikan apabila sedang bicara, ia bisa-bisa marah.

Di sisi lain, Alinka terbentur dengan pola pikir Mamanya yang mengatakan bahwa dirinya harus menjadi seorang pemberani dan tidak boleh takut meski masih anak-anak. Bagi Mamanya, orang dewasa juga sering melakukan kesalahan, sehingga anak-anak juga perlu mengingatkan. Sementara papanya sulit diingatkan lantaran ia seperti makhluk yang paling benar di dunia (hlm 9).

Tak hanya Alinka, saya kira banyak anak di luar sana yang tak memiliki kesempatan mengingatkan orang tuanya yang bisa saja melakukan kesalahan. Orang tua yang sedang marah besar bahkan hampir tidak pernah memberi kesempatan bagi anaknya berpendapat atau meluruskan hal yang keliru. Anak yang menanggapi kerap dianggap melawan dan semakin disalahkan.

Orang tua seperti itu mungkin merasa bahwa ia paling benar sedunia. Padahal tindakan seperti itu bisa memberi dampak buruk bagi anak di kemudian hari. Anak sering diajarkan untuk menjadi pemberani. Sementara di dalam keluarga orang tua tidak mencontohkan hal tersebut. Tanpa sadar orang tua justru seperti menjilat ludahnya sendiri, dan parahnya mereka tak sadar.

Nasehat yang diberikan orang tua atau orang dewasa memang kerap kontradiksi dengan contoh atau tindakan yang mereka lakukan. Misalnya, soal telepon genggam yang sering dibatasi bagi anak-anak. Orang tua melarang anak memainkan gawainya. Tapi, anehnya orang tua justru sering terlihat sibuk dengan gawainya sendiri di depan anak-anak.

Kenapa para orang tua tidak mencontoh Steve Jobs, Mantan CEO Apple Inc, untuk membatasi penggunaan ponsel kepada anak-anaknya? Caranya adalah dengan melarang semua orang di rumah bermain ponsel saat sedang makan malam bersama. Mereka dibiasakan menikmati makan malam sambil mendiskusikan hal yang menarik. Steve Jobs tidak hanya membatasi, namun ia memberi contoh nyata dan mengajarkan arti waktu bersama keluarga.

Di dalam cerpen Aku Bosan dengan Menu Bekalku, Naya menampilkan kontradiksi peraturan di dalam keluarga. Alinka tidak memainkan gawainya lantaran Mamanya berpesan bahwa permainan di telepon genggam tidak baik untuknya. Namun, masih di pagi hari Alinka sudah menyaksikan papanya sibuk dengan permainan di gawainya hingga lupa waktu.

Orang Dewasa Sering Melanggar Aturannya Sendiri

Membaca Aku Radio Bagi Mamaku seperti melihat realita kehidupan sehari-hari yang sering tidak kita sadari. Kita sering diajarkan oleh orang dewasa agar menjawab panggilan atau pertanyaan dengan kata-kata, bukan dengan hanya mengangguk atau bahkan diam saja. Itu tidak sopan. Tapi, entah sadar atau tidak orang dewasa sering hanya mengangguk saja saat menjawab orang lain. Padahal anak-anak sering dimarahi jika menjawab orang dewasa dengan hanya mengangguk atau sekadar mengatakan “Hu’um”. Aneh bukan?

Hal serupa dialami Alinka di dalam cerpen Hukuman Dari Mama. Alinka dilarang Mamanya menjawab pertanyaan tanpa ada suara. Tidak boleh hanya mengangguk atau menggeleng. Padahal Alinka sering mendapati Mamanya menjawab pertanyaannya tanpa suara. “Jika aku protes, Mama langsung marah dan menyalahkanku.” (hlm 51)

Aturan yang dibuat orang dewasa justru sering mereka langgar sendiri. Dan anak-anak menyaksikan itu. Pelanggaran lain yang dilakukan Mama Alinka adalah saat ia keluar dari kamar mandi dalam kondisi rambut dan kakinya basah. Air akhirnya menetes ke lantai. Kalimat Alinka yang mengatakan bahwa “Ah, Mama lupa aturannya sendiri,” seolah menunjukkan kalau Mama pernah melarang Alinka melakukan hal seperti itu, namun Mama melanggarnya sendiri (hlm 69).

Agak aneh memang melihat kritik terhadap orang dewasa yang berasal dari anak-anak. Naya seperti mewakili perasaan dan pandangan anak-anak lain yang merasakan kontradiksi yang dilakukan orang dewasa, membuat aturan tapi melanggarnya sendiri. Meski ini adalah karya fiksi, saya yakin bahwa apa yang ditulis Naya kemungkinan besar mewakili perasaannya sebagai seorang anak.

Cerita yang ditulis Naya tidak jauh-jauh dari kehidupannya. Ia bisa jadi menulis tentang apa yang ia rasakan, alami, dan saksikan. Entah direncanakan atau tidak, Naya dengan kepolosannya sebagai seorang anak seperti mengutarakan kegelisahannya akan tingkah laku orang dewasa yang sering merasa paling benar dari anak-anak.

Mengkritik Orang Dewasa Tanpa Menggurui

Pada buku kumpulan cerpen karya penulis anak kelahiran Padang ini, tidak tercantum kategori sastra anak. Sebagai pembaca, saya tidak menemukan maksud tertentu dibalik tidak dikategorikannya Aku Radio Bagi Mamaku sebagai karya sastra anak. Namun, berdasarkan pengertiannya kumpulan cerpen ini masuk dalam kategori sastra anak lantaran ditulis oleh anak dan menggunakan sudut pandang atau kaca mata anak-anak.

Saya kira buku terbitan Penerbit Gorga ini direkomendasikan bagi orang dewasa karena banyak kritik terhadap orang dewasa yang digambarkan secara sederhana. Ceritanya juga sangat bisa diterima oleh hati orang dewasa tanpa harus kesal dengan penulisnya. Iyalah, wong penulisnya sangat apa adanya dan jujur mengisahkan cerita. Melalui buku ini setidaknya kita bisa belajar bahwa orang dewasa tak selalu benar dengan ucapannya dan sering juga melakukan kesalahan.

Naya mungkin hanya menulis cerita kesehariannya yang dipoles dengan imajinasinya, kemudian menjadi cerita. Namun, ada pemikiran kritis yang terselip hampir di setiap cerpennya. Pemikiran pada tulisan-tulisan Naya jauh berbeda dengan pemikiran yang sering saya temukan pada penulis cerita anak lainnya (baik penulis anak maupun tidak). Majalah Bobo misalnya, rata-rata penulis cerita anak cenderung mengarahkan pembaca untuk belajar nilai-nilai kebaikan dan keburukan dalam tumbuh kembang anak-anak. Isi cerita hampir semua berisi nasehat pada anak.

Sebaliknya, Naya di buku ini seperti sedang menasehati orang dewasa dengan gaya yang sangat tidak menggurui. Pemikiran penulis anak seperti Naya sangat langka. Meski demikian, anak-anak yang ingin membaca buku ini baiknya melalui bimbingan orang dewasa. Kenapa? Karena tidak semua anak memiliki pemikiran seperti Naya. Tidak semua anak pula memiliki respon yang sama terhadap kejadian atau kisah yang mereka baca. Terlebih setiap anak memiliki pengalaman pertumbuhan yang berbeda-beda.

Saya jadi teringat cerita seorang teman yang khawatir jika setelah membaca tulisan Naya, adiknya justru malah semakin nakal.

Pendapat Anda: