Nasruddin Hodja yang Ngibul

Posted: 24 February 2018 by Andreas Nova

Nasruddin Hodja; Kumpulan Humor Book Cover Nasruddin Hodja; Kumpulan Humor
Kakatua
September 2017
xiv + 220
The Pleasantries of the Incredible Mulla Nasrudin
Nurul Hanafi

Nasruddin Hodja adalah figur legendaris, seorang sufi bijak yang banyak melontarkan pernyataan aneh pemancing tawa, namun sekaligus mengandung teka-teki. Manuskrip berisi kisah-kisah humor Nasruddin pertama kali terbit tahun 1571. Adapun 200 kisah dalam buku ini akan membuat kita tersenyum sambil merenung-renung, betapa Nasruddin menggunakan logika berpikir yang tidak lazim.

 

Ketika buku ini terbit bulan September 2017 lalu, mau tak mau saya langsung teringat logo Kibul. Logo tersebut memang terinspirasi dari salah satu kisah Nasruddin Hodja yang kebetulan ada dalam buku ini. Lantas, apa yang membuat Kibul terinspirasi oleh Nasruddin. Nasruddin adalah sosok yang dikenal sebagai seorang sufi. Masyarakat memandangnya sebagai orang yang memiliki pemahaman akan agama lebih dari masyarakat umum. Namun ia tidak serta merta dihormati dan dipuja-puja karena ia sufi. Dalam kisah-kisahnya Nasruddin justru lebih dikenal karena suka bercanda, usil, dan humoris. Tapi apakah usilnya sekadar usil? Tentu tidak. Lazimnya seorang guru, kisah-kisahnya sering mengandung pesan tersirat. Beberapa humornya mendekatkan pemahaman mengenai metafisika yang digeluti oleh para sufi dan dianggap berat oleh masyarakat awam. Sedikit banyak, hal ini mirip dengan apa yang menjadi tujuan Kibul, yakni mendekatkan masyarakat awam dengan sastra yang seringkali dianggap berat. Nah loh.

Membaca kisah-kisah Nasruddin dalam buku ini, juga mengingatkan saya kepada tokoh-tokoh yang bijak tapi konyol seperti Abu Nawas (dalam budaya Arab), Kabayan (dalam budaya Sunda), Til Eulenspiegel (dalam cerita rakyat Jerman), atau Hershel of Ostropol (dalam budaya Yahudi). Tokoh-tokoh tersebut seringkali digambarkan usil, pandir, konyol, namun jika kita mencermati kisah-kisah mereka yang sudah tersebar luas dalam berbagai versi, selalu ada pesan, petuah, dan kebijaksanaan dari diri mereka. Hal ini yang barangkali membuat figur seperti mereka menjadi legendaris. Petuah-petuah yang dibalut dalam kisah yang sederhana lebih mudah untuk diingat, dipahami, dan dicerna oleh masyarakat. Ketika sebuah kisah sudah menancap di benak masyarakat, kisah tersebut akan diceritakan ulang dari generasi ke generasi, sehingga tokoh-tokoh seperti mereka tak lekang oleh waktu.

Salah satu cerita yang saya sukai dalam buku ini adalah Nasruddin Berjumpa Sang Maut. Cerita tersebut menjadi cerita yang mengajak kita untuk berpikir di luar kelaziman. Berpikir out of the box kalau kata anak zaman sekarang. Kisah tersebut menceritakan Nasruddin Hodja yang dalam perjalanan menuju pasar, dicegat oleh sosok yang memperkenalkan diri sebagai Sang Maut dan datang untuk menjemputnya. Nasruddin yang merasa belum tua, malah bertanya apakah Sang Maut tidak menemui orang yang salah. Sang Maut pun menyahut kalau dia memang hanya mencabut nyawa orang yang belum siap mati. Tapi Nasruddin tetap yakin pada pendiriannya bahwa Sang Maut salah orang dan mengajaknya bertaruh. Ia mempertaruhkan hidupnya dan meminta Sang Maut mempertaruhkan seratus keping uang perak. Sang Maut mengiyakan ajakan tersebut. Setelah itu, seketika sekantung keping uang perak berada di tangan Nasruddin. Sang Maut merasa menang, dan menganggap itu taruhan yang bodoh. Namun Nasruddinlah yang tersenyum, karena ia tahu bahwa ia akan dicabut nyawanya dan siap mati, sedangkan Sang Maut hanya mencabut nyawa orang yang belum siap mati. Akhirnya Sang Maut pergi karena pertaruhan tersebut justru membuatnya tidak bisa mencabut nyawa Nasruddin Hodja yang tersenyum sembari menimang sekantung uang perak. Kurang ngibul apa coba?

Sementara di kisah lain, kita diajak untuk berpikir secara sederhana namun tepat sasaran. Seperti dalam kisah Mengusung Keranda. Seseorang bertanya pada Nasruddin posisi mana yang paling utama ketika seseorang mengusung keranda? Kanan depan, kiri depan, kanan belakang, atau belakang kiri? Pertanyaan tidak penting itu kemudian dijawab dengan sebuah kalimat. “Terserah mana yang kau mau, asalkan jangan berada di dalamnya”. Hak desh!!

Kisah-kisah Nasruddin dalam buku ini saya kira masih banyak yang relevan dengan keadaan kekinian. Misalnya jika kita memposisikan diri sebagai Nasruddin yang bertemu dengan Sang Maut, saya yakin tidak ada manusia yang berpikir dengan kepala dingin ketika nyawanya mau dicabut. Jangankan bertemu dengan Sang Maut. Berhadapan dengan seabrek permasalahan hidup saja kadang kita tidak bisa berpikir dengan tenang. Padahal pikiran yang tenang itu yang membuat kita mampu untuk mencari penyelesaian dalam tiap-tiap permasalahan hidup. Dan seringkali, penyelesaian masalah kita harus dilakukan dengan pemikiran yang out of the box. Pemikiran yang di luar kelaziman itu tentu saja tidak hanya semata-mata berhulu dari pikiran yang tenang saja. Dalam buku ini banyak sekali dikisahkan bagaimana Nasruddin melihat suatu masalah tidak hanya dari satu sudut pandang. Kita seolah diajarkan bagaimana melihat suatu permasalahan dari perspektif yang berbeda. Dengan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda, bisa jadi masalah yang kita lihat sebagai hal yang rumit, ternyata adalah hal yang sederhana.

Menariknya lagi, dalam beberapa kisah Nasruddin Hodja, ia tidak selalu digambarkan sebagai “subjek” yang pandir, namun seringkali ia meletakkan dirinya sebagai “objek” yang terlihat pandir. Lalu ketika dia menjadi pandir, apakah ia kehilangan kebijaksanaanya? Justru tidak. Ketika kisah itu kita baca secara utuh, pesan cerita itu justru menjadi sangat kuat. Sebagai contoh, dalam kisah Resep, diceritakan seekor gagak mencuri sekerat daging yang baru saja dibeli oleh Nasruddin. Ketika burung itu terbang semakin tinggi dan hilang dari pandangan, Nasruddin bersikap santai karena resep untuk mengolah daging itu masih ada di tangannya. Dalam kisah ini Nasruddin nampak pandir, tapi di balik kepandirannya itu justru muncul sikap legawa yang patut kita contoh. Toh daging masih bisa dibeli lagi. Selo saja to?

Cukup banyak kisah Nasruddin Hodja dalam buku ini. Ada 200 kisah yang rata-rata panjangnya cuma satu sampai tiga paragraf pendek. Hanya beberapa cerita yang panjangnya satu halaman atau lebih. Hal tersebut membuat buku ini tidak membosankan untuk dibaca berkali-kali dan menemukan insight yang berbeda setiap kali membacanya. Sedikit kekurangan yang sedikit mengganggu bagi saya adalah, penerjemahan buku ini mungkin sedikit kurang nyaman untuk anak-anak. Bukan berarti terjemahannya tidak baik, hanya saja ada beberapa kosakata yang saya pikir terlalu berat bagi anak-anak. Bagi saya, hal ini cukup disayangkan karena kisah-kisah Nasruddin Hodja ini cocok untuk dibaca oleh semua umur, termasuk anak-anak.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *