Skip links

Mata dan Rahasia Pulau Gapi: Novel Anak Rasa Dewasa

Mata dan Rahasia Pulau Gapi
Okky Madasari
Gramedia Pustaka Utama
2018
256 hlm
Rp79.000

Mata dan Rahasia Pulau Gapi yang merupakan seri kedua perjalanan Mata di penjuru nusantara, memotret jejak ilmuan Alfred Russel Wallace dan juga Charles Darwin di Maluku Utara. Matara adalah tokoh utama yang digunakan penulis untuk berkisah tentang kisah sejarah di Pulau Gapi saat masa kejayaan kesultanan dan saat penjajah berdatangan.

Sastra anak memang sebaiknya tidak melulu mengangkat tema-tema yang religius, melainkan tema yang bisa mengantarkan anak agar terus berpikir kritis atas kehidupannya.

Satu tahun belakangan, novelis Okky Madasari memilih fokus menerbitkan karya sastra anak melalui terbitan serial perjalanan Matara di penjuru nusantara. Keluarnya Okky dari tema yang kritis pada karya-karya sebelumnya seperti diskriminasi, korupsi, dan intoleransi—isu-isu kemanusiaan—, lalu menulis sastra anak patut kita acungi jempol. Pasalnya, belakangan kita jarang mendengar terbitan sastra anak berbentuk novel atau kumpulan puisi. Meskipun belum lama ini kancah sastra Indonesia sempat ramai karena lahirnya penulis anak Abinaya Ghina Jamela yang menerbitkan buku kumpulan puisi yang ditulisnya sendiri.

Okky berangkat dari kegelisahannya akan terbatasnya keberagaman tema dalam sastra atau cerita anak. Sastra anak memang kerap kali tak jauh-jauh dari tema moralitas maupun religius. Menurut penulis yang pernah meraih Penghargaan Sastra Khatulistiwa pada novelnya Maryam di tahun 2012 itu, anak-anak butuh bacaan yang bisa membangkitkan keberanian, sikap kritis, toleransi, bahkan pluralisme. Hal itulah yang menjadi salah satu alasan Okky menulis novel anak.

Sejak awal menulis karya sastra anak, Okky sudah bertekad menghadirkan realisme dan utopia anak-anak dalam karya sastra. Ada fantasi dan juga kenyataan. Salah satu novel seri anak hasil kreativitasnya yang menarik perhatian saya adalah Mata dan Rahasia Pulau Gapi.

Mata dan Rahasia Pulau Gapi yang merupakan seri kedua perjalanan Mata di penjuru nusantara, memotret jejak ilmuan Alfred Russel Wallace dan juga Charles Darwin di Maluku Utara. Tokoh Alfred dengan nyata digambarkan dengan nama Alfred yang datang ke Maluku untuk meneliti ribuan spesies hewan di hutan Maluku. Okky juga menggambarkan kondisi saat Portugis dan Belanda menginjakkan kaki ke Maluku Utara. Dengan terang-terangan mereka mengambil rempah-rempah di Maluku dan mengirimnya ke negeri seberang.

Dalam Mata dan Rahasia Pulau Gapi, Okky berusaha mendobrak tema-tema lama (moralitas dan religius) dengan melahirkan tokoh Matara. Mata, panggilan akrabnya. Ia adalah sosok anak yang selalu mempertanyakan dengan kritis hal-hal yang ia alami. Mata terlibat dalam konflik kebudayaan di Pulau Gapi antara masyarakat adat dengan pendatang. Ia selalu penasaran dengan sejarah pusaka-pusaka peninggalan kerajaan di Gapi. Mata bahkan ditampilkan sebagai sosok anak yang memiliki jiwa kemanusiaan tinggi.

Dalam buku ini, Okky juga dengan jelas ingin menceritakan kisah sejarah di Maluku Utara melalui sudut pandang atau kaca mata anak. Menariknya, ia menggunakan anak sebagai tokoh utama dan dua hewan (laba-laba dan kucing) sebagai tokoh pendukung.

Dilihat dari sejarahanya, menurut Dhita Hapsarani (penulis artikel ilmiah tentang sastra anak) perkembangan sastra anak di pertengahan abad 18 dipengaruhi oleh pemikiran Jean Jacques Rousseau. Menurut filsuf, penulis, sekaligus komposer di abad itu, anak-anak sesungguhnya masih murni dan polos, masyarakatlah yang menurutnya korup. Anak-anak bagi Rousseau mempunyai cara pandang yang lain atau berbeda dari orang dewasa. Pemikirian Rousseau ini yang menurut Dhita Hapsarani memengaruhi karya-karya sastra yang lahir setelahnya. Misalnya, The Secret Garden (1910) karya Frances Hodgson Burnett, yang melahirkan tokoh Mary Lennox. Tokoh utama itu mampu belajar sendiri dari alam dan kemudian bisa menyelesaikan masalah di dalam hidupnya, hingga masalah keluarganya yang lain.

Bisa dikatakan pemikiran Rousseau masih relevan dengan kisah Mata yang dihadirkan Okky sebagai tokoh utama yang bekerja sama dengan Kucing dan Laba-laba untuk menggagalkan pembangunan di atas benteng pusaka di Gapi. Mata hadir sebagai sosok anak yang meski dengan kecengengan dan ketakutannya, tapi ia memiliki tekad untuk mengatasi masalah yang mungkin menurut orang dewasa tidak masuk akal dan tidak mungkin dilakukan seorang anak.

Bagi saya, cerita sejarah yang menggunakan kaca mata atau sudut pandang anak merupakan sebuah tawaran menarik dalam dunia sastra anak. Terlebih tokoh dalam cerita diberi sikap kritis oleh penulis. Melalui karya sastra anak seperti ini, anak-anak sejak dini bisa belajar sejarah dengan cara yang lebih menyenangkan. Dalam rilisnya di Yogyakarta, Okky mengatakan bahwa tema sejarah dari daerah timur memang diangkatnya lantaran baginya kisah dari timur jarang diangkat dalam karya sastra.

Novel Anak Rasa Dewasa

Dilihat dari tebal halamannya, Mata dan Rahasia Pulau Gapi seolah ditujukan bagi orang dewasa. Apalagi, kertas yang digunakan adalah book paper, mirip dengan kertas yang biasanya digunakan Gramedia (penerbit novel-novel Okky Madasari) pada novel Okky yang bukan sastra anak. Okky mengakuinya, bahwa novel ini juga ditujukan untuk orang dewasa. Baginya, cerita anak yang baik juga bisa dibaca orang dewasa.

Mengingat novel yang ditulisnya bergenre anak, ada 13 ilustrasi yang ditambahkan dalam buku ini. Ilustrasi memiliki peran penting dalam sastra anak. Burhan Nurgiyantoro dalam bukunya  Sastra Anak, Pengantar Pemahaman Dunia Anak bahkan menuliskan, Bahkan salah satu yang membedakan buku bacaan sastra anak dengan buku orang dewasa yang paling mudah dikenali adalah ilustrasi yang menyertai teks verbal itu (2016:90). Artinya bahwa ilustrasi adalah elemen wajib di dalam setiap karya sastra anak.

Bagi Burhan keberadaan ilustrasi akan menentukan daya tarik anak-anak terhadap sebuah karya sastra anak, begitupun sebaliknya. Rasa ingin tahu anak-anak akan terangsang dengan keberadaan ilustrasi yang menarik. Dalam banyak contoh, ilustrasi berupa lukisan maupun gambar memang sengaja dimaksudkan untuk menarik perhatian anak. Lihat saja buku pelajaran untuk anak-anak, buku pengenalan benda, hewan, angka, hingga alfabet untuk anak-anak, semunya didominasi dengan gambar berwarna-warni.

Penerapan ilustrasi bisa kita lihat juga dalam Alice’s Adventures In Wonerdland karya Lewis Carroll yang terbit pada 1865. Hampir di setiap halamannya terdapat ilustrasi yang merupakan visualisasi dari sebagian teks di halaman tersebut. Buku-buku anak yang sering kita jumpai di perpustakaan atau toko-toko buku juga ditandai dengan warna sampul depan yang mencolok penuh warna hingga bagian isi yang dipenuhi ilustrasi dan gambar.

Keberadaan gambar memang disadari akan sangat membantu anak-anak dalam memvisualisasikan kata-kata yang sulit dipahami. Ketika membaca cerita yang diungkapkan lewat teks verbal, anak juga akan melihat gambar-gambar yang menyertainya dan mempertimbangkan keterkaitannya (Burhan, 2016: 91). Sayang sekali, Mata dan Rahasia Pulau Gapi hanya menyajikan 13 ilustrasi dari halaman setebal 256 halaman. Padahal masih banyak lembaran kosong yang bagi saya bisa digunakan untuk ruang ilustrasi. Terlebih jumlah halaman setebal itu belum tentu akan dilahap habis oleh anak-anak.

Okky berencana akan menerbitkan dua novel lagi untuk melengkapi serial Mata. Agar novel genre anak yang ditulis Okky tidak dominan berasa dewasa, baiknya ada penambahan ilustrasi yang lebih banyak pada karya berikutnya. Agar tujuan untuk membentuk sikap kritis dan keberanian anak-anak melalui sastra bisa terwujud, setidaknya anak-anak harus dipikat terlebih dahulu dengan tampilan novel.

Pendapat Anda: