Kisah-Kisah yang Terkoneksi: Tentang Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul

Posted: 20 October 2018 by Anis Mashlihatin

Antologi Cerpen dan Penulis Pilihan Kibul 2017: Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup Book Cover Antologi Cerpen dan Penulis Pilihan Kibul 2017: Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup
Achmad Hidayat Alsair, Andreas Nova, Arie A. Nasution, Asef Saeful Anwar, Cucum Cantini, Dima Hana Mahsunah, Dwi Rahariyoso, Faruk HT, Gemi Mohawk, Hadi Winata, Innezdhe Ayang Marhaeni, Irwan Apriansyah, Muhammad Ikhsan, Muharwi Mukal, Neng Lilis Suryani, Pinto Anugrah, Raedu Basha, Retno Darsi Iswandari, Rinandi Dinanta, Suci Wulandari, Sukandar, Sulfiza Ariska, Syafri Arifuddin, Thoriq Aufar, Titis Anggalih, Wahyu Budi Utomo
Antologi
Interlude dan Kibul.in
2018
vi+209 hlm.
Rp65.000

Adalah sebuah kabar yang menggembirakan ketika semakin banyak nama baru yang tampil di panggung kesusastraan Indonesia. Sekumpulan cerpen dan puisi yang dibukukan dalam antologi Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup ini adalah karya penulis-penulis (yang rata-rata) baru yang sungguh memancing keingintahuan saya untuk menyelami kisah-kisah yang dituturkan di dalamnya. Terlebih lagi, karya-karya ini adalah hasil seleksi ketat para redaktur dan polling pembaca setia web kibul.in.

Alih-alih membahas apa pentingnya tulisan-tulisan yang dimuat dalam web itu dibukukan dan pemuatannya melibatkan polling pembaca, atau menggugat mengapa media web seolah tidak mencukupi untuk menjadikan sebuah karya sebagai karya sastra (yang dengan demikian sebuah karya hanya sah menjadi karya sastra jika sudah berbentuk buku), saya lebih memilih melihat dengan pandangan positif bahwa terbitnya antologi ini adalah bentuk apresiasi yang tinggi pada para penulis sekaligus pembaca. Meskipun saya sudah membaca karya-karya ini ketika masih dimuat di web kibul.in, toh saya sulit mengelak bahwa saya lebih senang membacanya dalam bentuk buku yang bisa diraba, dibaui, dicorat-coret, difoto lalu diunggah ke media sosial, bahkan dipakai modus pada orang yang ditaksir. Romantika membaca buku fisik, bagi saya, belum tergantikan. 

Sebelum saya menguraikan lebih jauh pengalaman-pengalaman yang saya rasakan dalam proses pembacaan, salah satu hal yang saya syukuri ketika membaca buku ini adalah tidak adanya pengantar. Sebagai pembaca pemula, kadang keberadaan pengantar di sebuah buku fiksi membuat jarak pandang saya terbatasi, untuk tidak mengatakannya terarahkan. Tak adanya kata pengantar ini membuat saya lebih leluasa dalam menyelami cerita dan memungkinkan saya untuk bermain-main dan bersenang-senang dengan apa yang saya baca.

Secara garis besar, cerpen-cerpen dalam antologi ini masih bergerak di seputar cinta dan dendam, oposisi biner antara desa dan kota, lokalitas, dan jejak-jejak komunisme. Tema-tema yang jamak kita temukan dalam karya-karya terdahulu. Hanya, dalam antologi ini, ada cara-cara pengisahan yang memikat, yang membuat saya terseret dalam arusnya yang deras maupun yang tenang.

Ada gejolak emosi yang meluap-luap ketika saya membaca cerpen “Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup” karya Titis Anggalih yang sekaligus menjadi judul antologi ini. Diceritakan bahwa seorang gadis diliputi dendam pada sang ibu telah membunuh kekasih hatinya. Tak ingin membuat ibunya senang, si gadis bahkan rela membalurkan kotoran sapi di kemaluannya daripada harus dijamah oleh laki-laki yang bukan pilihannya. Seumur hidup! Dan tindakannya yang revolusioner ini kemudian diikuti oleh banyak perempuan. Saya seolah bisa merasakan dendam yang membatu di hati si gadis indo, meski diksi-diksi yang sarkas dalam cerita ini masih terasa nanggung.

“Warok Saimun” karya Wahyu Budi Utomo menimbulkan gejolak emosi yang berbeda. Semacam harus merelakan meski enggan. Masih ada sedikit dendam pada diri Saimun tetapi perlahan bergerak menuju kerelaan ketika sudah ada yang bersedia merawat anggota kelompok reognya. Lalu, gejolak emosi yang membuncah ketika membaca kisah gadis indo dan Saimun seketika mereda digantikan aliran yang lebih tenang ketika saya membaca “Zubaedah dan Para Lelaki yang Tak Dipilihnya Sebelum Meninggalkan Rumah” karya Rinandi Dinanta. Cerpen ini terasa tidak terburu-buru mengungkapkan peristiwa demi peristiwa. Karenanya, ia leluasa menguraikan detail dan sedikit bermain-main dengan alur.

Cerpen-cerpen lain menimbulkan suasana murung, seperti “Seseorang yang Memilih Tinggal dan Berbagi dengan Kesepian” karya Muhammad Ikhsan dan “Lelaki yang Memintal Pelangi” karya Sulfiza Ariska. Kedua cerpen ini membicarakan orang-orang yang tersingkirkan dan sengaja menyingkirkan diri. Yang murung itu bergerak pada kepiluan ketika saya membaca “Perempuan-Perempuan yang Ditinggal Lelakinya” karya Cucum Cantini.  “Percakapan dalam Rahim” karya Irwan Apriansyah menimbulkan perenungan yang dalam dan mengajak kita menengok dunia yang tampak akrab. Sebaliknya, cerpen “Lelaki yang Bersepeda Melintasi Waktu” karya Andreas Nova mengajak kita bergerak liar menuju dunia yang tak terjangkau nalar.

Setelah merampungkan kesepuluh cerita, saya merasa masih ada tertinggal sayatan-sayatan perih pada akhir cerita yang sedih, peristiwa-peristiwa yang masih mengganjal di benak, dan suara-suara tokoh yang masih berkelindan di kepala. Saya biarkan saja sembari beranjak membaca puisi-puisi. Satu hal yang tidak pernah saya sangka, adanya cerpen dan puisi dalam satu antologi ini ternyata membuat saya menemukan keasyikan tersendiri yang belum pernah saya temukan ketika hanya membaca kumpulan cerpen atau hanya membaca kumpulan puisi.

Saya merasa bahwa puisi-puisi dalam antologi ini tidak berdiri sendiri, tetapi bertautan dengan kisah-kisah lain dalam cerpen. Hal-hal yang tak terkatakan oleh si tokoh dalam cerpen, misalnya, tiba-tiba terejawantah dalam puisi. Semacam ada spektrum yang mengaitkan keduanya. Atau, dengan kata lain, antara cerpen dan puisi dalam antologi ini saling terkoneksi. Saling merespons.

Misalnya, ketika saya membaca “Gondolayu” karya Faruk, seketika ingatan saya melesat pada sosok Gabak dalam cerpen “Gabak Hulu” karya Pinto Anugrah. Cerpen ini mengusung lokalitas berkaitan dengan pawang hujan. Gabak adalah seorang pawang hujan yang suatu kali pernah gagal menjalankan tugasnya. Tanpa sengaja, ia melemparkan celana dalam ke atap. Sesuatu yang tak terduga ini justru dipercaya orang dapat menangkal guyuran hujan. Akhir cerita cerpen ini menyisakan perih yang menyayat. Gabak hilang. Ia tak pernah kembali ke rumahnya dan orang-orang tak pernah mencari tahu keberadaannya. Yang mereka pentingkan hanyalah hujan tak mengguyur ketika mereka sedang punya hajatan. Dari Gabak kita tahu bahwa manusia tak lebih berharga dari selembar celana dalam. Meski disuguhkan dengan tenang dan tertata, “Gabak Hulu” terasa begitu ngilu.

Saya lalu membayangkan istri Gabak yang cemas karena suaminya tak kunjung pulang, dengan lirih menggumam Kasihku,/ adakah kau di selatan atau utara/ kenapa tak pernah ada lagi suara/ kenapa tak ada lagi sasmita atau kupingku yang tak terbuka/ Kasihku,/ kenapa tak ada lagi kiriman angin dari sana/ karena, di sini, di tempat mayat yang terbuang ini/ aku tak mencium apa-apa (hlm. 108). Penggalan puisi “Gondolayu” ini serasa menyuarakan benak istri Gabak dengan sempurna. Saya bayangkan istri Gabak tenggelam dalam penyesalan karena dirinya kerap memarahi Gabak.

Puisi-puisi yang lain terhubung dengan cerita-cerita yang lain pula. Saya pun teringat Zubaedah ketika membaca puisi “Kahanan”. Kehidupan kota menjadikan gadis desa bernama Zubaedah tak lagi sama. Ia tergerus pergaulan kota besar dan nilai-nilai yang ditanamkan orang tuanya perlahan luntur. Ketika pulang ke desanya, ia menjadi begitu asing. Desa jadi terasa begitu sunyi untuk Zubaedah “yang hanya ingin berada pada keramaian, suasana hiruk pikuk yang penuh orang” (hlm. 83).

Meskipun dalam cerpen ini kota dipandang begitu negatif, hal itu tidak lantas menjadikan desa sebagai tempat yang penuh kedamaian dengan orang-orang yang berbudi luhur. Zubaedah mendapatkan pengalaman buruk karena hampir menjadi korban pemerkosaan dua pemuda desanya. Saya pun membayangkan Zubaedah yang dipenuhi amarah itu menggugat: katamu, tak ada yang bisa kau kais dari masa lalu/ sejarah tak menyisakan apa pun bahkan untuk dikenang/ arus peradaban dari seberang dan damai yang tak kunjung datang/ hutan belantara. kakang kawah adi ari-ari mengawang/ telanjang. antara gejolak ombak yang menderu dan/ keheningan gunung yang mencoba bertahan. api yang terpendam/ dan air yang terus mencoba membuatnya padam (hlm. 110). Rasa-rasanya, bagi Zubaedah, tak ada yang bisa dikenang dari kampungnya dan orang-orang yang tinggal di dalamnya. Kita lalu bisa memaklumi mengapa Zubaedah tak lagi betah tinggal di desa. Desa memang tak melulu tentram seperti yang didengungkan orang-orang.

Gugatan Zubaedah memang tak akan segarang gadis indo. Ah, betapa nelangsa si gadis indo. Kekasihnya dibunuh oleh ibunya sendiri. Sementara membalas dendam pada ibunya ia tak sanggup. Lalu dendam perlahan menggerogoti dirinya sendiri. Saya membayangkan gadis indo yang lelah hati serta pikiran itu menghibur dirinya sendiri dengan puisi “Kemarau di Tubuhku” karya Thoriq Aufar. Di tubuhku,/ kudengar lagu kematian dinyanyikan hewan-hewan hutan/ Suara ganjil yang bergema tiada akhir./ Tak ada lagi bebunyian riang/ tak ada lagi tarian di ladang/ Tak ada lagi ritual di gubuk-gubuk bambu/ Rantang dan kendi telah kosong sebelum subuh/ Sebelum ayam pejantan memberi harap/ dan mengabarkan bahwa hari bakal panjang// di tubuhku,/ kemarau panjang ini telah menjauhkanku dari bisik leluhur, membakar kitab-kitab warisan kuno, dan menjadikan diri sebagai yatim piatu di hari yang akan datang (hlm. 185).

Puisi “Kahanan” juga rasanya mewakili apa yang tak sempat dikatakan Saimun sebelum meninggal. Saimun adalah pemimpin sekelompok warok yang dituduh berafiliasi dengan politik tertentu sehingga dirinya dianggap berbahaya bagi negara. Ia memiliki kesaktian yang menjadikan dirinya kebal senjata. Ia mati hanya ketika dirinya “mengizinkan” malaikat maut menjemputnya.  siapakah aku, siapakah kau, mana yang tabu mana yang profan/ mana ilmu mana kebatinan/ seutas benang pun tak melekat di badan// siapakah aku siapakah kau. Selamat tinggal sejarah juga peradaban/ diri adalah langit tak terjangkau dan misteri kedalaman (hlm.111). Saimun telah legowo meninggalkan segala yang diusahakannya di dunia. Ia rela mati ketika kematiannya berarti keselamatan bagi orang lain.

Andai, andai saja tokoh Ana dalam cerpen “Barangkali” karya Suci Wulandari tidak membaca Sajak Seonggok Jagung karya W.S. Rendra, tetapi “Aku Ingin Mengenalmu” karya Asef Saeful Anwar, barangkali hati Raba yang tertutup dan beku itu akan sedikit terbuka dan mencair. Betapa tidak, puisi ini begitu menyentuh, apalagi jika yang membaca adalah gadis secantik Ana. aku ingin mengenalmu lebih dalam/ membaca setiap mimpimu/ dari dalam mata semenjak kau terjaga/ mengejanya sebagai petunjuk/ langkah-langkah kecil membahagiakanmu// aku ingin mengenalmu lebih dekat/ mendengar tiap detak jantungmu/ mengikutinya hingga pergelangan// dan bertukar udara yang kau hirup-hembuskan// aku ingin mengenalmu dengan baik/ menyentuh setiap yang kau lihat/ menjaga setiap yang kau sentuh/ mewujudkan setiap harapan/ sebelum kau ucapkan (hlm. 155). Rasanya puisi ini begitu pas. Seperti rasa teh yang pernah disuguhkan Zubaedah kepada Kus: tidak terlalu kental juga tidak terlalu encer, tidak terlalu manis juga tidak terlalu pahit.

Rasa cinta yang hanya bisa dipendam seringkali mengharukan. Puisi “Biografi Matamu” karya Raedu Basha, misalnya, adalah luapan diamnya sosok aku dalam cerpen “Seseorang yang Memilih Tinggal dan Berbagi dengan Kesepian” karya Muhammad Ikhsan. aku akan pergi saat matamu merah/ menatapku tak lebih/ dari seonggok kunang-kunang/ sekerjap gelap sekerjap terang/ hinggap di batang kerontang// saat kedip matamu terbuka memandangi sepi/ menatap seekor kunang ini teronggok terbang tak pasti/ aku akan pergi melayangi udara yang bukan malam kita lagi/ karena aku tak ingin dipandang seperti ini (114). Si tokoh memilih tinggal dengan kesepian karena ia tak bisa mencintai secara terang-terangan. Sang tokoh memilih untuk diam karena ia merasa orang lain tak akan mampu memahami pilihan hidupnya.

Hati saya ambyar ketika membaca puisi-puisi Dwi Rahariyoso. Puisi-pusinya yang getir memaksa saya untuk menengok kehidupan lelaki asing pada cerpen “Lelaki yang Memintal Pelangi” karya Sulfiza Ariska. Tokoh lelaki asing dalam cerpen tersebut rasanya memendam begitu banyak hal. Ia memang digambarkan tidak banyak bicara. Bahkan, sepasang suami istri yang menampungnya selama lebih dari sepuluh tahun tidak tahu apa-apa tentang dirinya. Hingga tiba waktu ketika sekelompok serdadu menjempunya, hanya sepenggal yang diketahui orang tentang riwayat hidupnya. Seandainya ada yang ingin lelaki itu sampaikan, barangkali ia akan mengucap Ia menjahit kakiku dan menyulamnya bersama jejak-jejak/ Ingatan, jarak dari perjalanan yang mengental di kepala/ Sebuah kampung halaman yang dialiri sungai/ Betapa naif hidup yang dihabiskan sendiri (hlm. 177).

Demikianlah keterhubungan yang saya temukan ketika membaca cerpen dan puisi dalam antologi ini. Saya tak hendak menguraikan satu per satu koneksi antarkeduanya. Keasyikan itu bisa Anda peroleh sendiri ketika membacanya langsung. Atau mungkin Anda akan menemukan keasyikan yang lain, cara bermain-main yang lain. Apa pun itu, letupan-letupan emosi yang saya alami ketika membaca jalinan cerpen dan puisi ini seperti perjalanan dari satu perasaan ke perasaan yang saya sendiri tak bisa menebak muaranya akan ke mana.[]

Antologi Cerpen dan Puisi Pilihan Kibul 2017 “Kisah Perempuan yang Membalurkan Kotoran Sapi pada Kemaluannya Seumur Hidup” dapat dibeli melalui melalui tautan ini.

https://warungsastra.com/shop/sastra/kisah-perempuan-yang-membalurkan-kotoran-sapi-pada-kemaluannya-seumur-hidup/

Pendapat Anda: