Gone With The Wind: Kisah Cinta dalam 1124 Halaman

Posted: 7 June 2017 by Alangga Dwi Kusuma

Lalu Bersama Angin Book Cover Lalu Bersama Angin
Margareth Mitchell
Gramedia Pustaka Utama
cetakan ketiga, April 2014 (terbit pertama tahun 1936)
1124
165.000
Gone With The Wind
Tanti Lesmana

GONE WITH THE WIND terjual lebih dari 176.000 ekslempar dalam tiga minggu pertama setelah penerbitannya, dan pada tahun berikutnya--tahun 1937 -- memperoleh penghargaan Pulitzer. Novel ini kemudian dibeli oleh MGM dan dibuat menjadi film yang amat populer, yang ditonton oleh lebih dari seperempat miliar orang di seluruh dunia.

GONE WITH THE WIND memenangkan sepuluh Academy Award, dan tetap menjadi flm yang memesona generasi selanjutnya.

 

 

“Kisah cinta Scarlett O’Hara dan Rhett Butler yang tak terlupakan sepanjang masa.”

Kutipan kalimat di atas menghiasi sampul novel karya Margareth Mitchell cetakan ketiga dalam versi Bahasa Indonesia yang diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama pada April, 2014. Mungkin terkesan sangat terlambat ketika saya menjumpai novel ini baru pada tahun 2017, sementara novel ini sudah terbit jauh lama sejak 1936. Namun, saya rasa, saya berada pada usia yang tepat untuk dapat melahap novel yang sangat tebal ini. Pada perjumpaan pertama ini, sebuah pertanyaan langsung muncul dalam benak saya terkait kutipan kalimat di atas: “Kisah cinta macam apa yang dikandung novel ini hingga menghabiskan 1124 halaman?”

Hal yang saya lakukan sebelum membaca lembar demi lembar novel ini adalah mencari informasi terkait novel tersebut, yang nyatanya informasi itu semakin membuat saya penasaran. Novel ini terjual sebanyak 176.000 eksemplar pada tiga minggu pertamanya. Setahun kemudian meraih penghargaan Pulitzer, dan kemudian, pada tahun 1939, novel ini diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama dan menjadi film terpopuler pada masa itu. Novel ini masuk dalam daftar “1001 Books  You Must Read Before You Die”.

Kembali ke pertanyaan awal saya, “Kisah cinta macam apa yang dikandung novel ini hingga menghabiskan 1124 halaman?”

Sesungguhnya saya perlu bersabar sampai lebih dari 200 halaman, baru kemudian bisa menikmati alur yang disajikan. Perlu satu minggu untuk menyelesaikan sekitar 200 halaman awal tersebut (yang sebagian besar mengisahkan latar belakang tokoh-tokohnya), dan satu minggu lagi untuk menyelesaikan sisanya yang sekitar 900 halaman. Apa yang saya pahami dari frasa “kisah cinta yang tak terlupakan” yang terpampang dalam sampul novel ini ternyata di luar perkiraan saya. Saya membandingkannya dengan novel-novel roman yang pernah saya baca sebelumnya yang memuat kisah cinta yang “keras” dan “tak terlupakan”. Misalnya, kisah cinta antara Musashi dan Otsu dalam Musashi. Meski harus berkali-kali terpisah, bertemu, dan berpisah lagi, Musashi dan Otsu mempunyai saat-saat cinta mereka bertaut satu sama lain. Begitu pula kisah cinta antara Setadewa dan Larasati dalam Burung-Burung Manyar (karya Y.B. Mangunwijaya). Kendati Setadewa tidak pernah memiliki Larasati seutuhnya karena dipisahkan oleh perang, pernikahan, dan pada akhirnya kematian, Setadewa dan Larasati mempunyai “waktu” yang sama untuk saling mengharapkan satu sama lain.

Itulah yang tidak ditemui dalam Gone With The Wind. Scarlett O’Hara dan Rhett Butler tidak pernah sekalipun ada pada waktu yang sama untuk merasakan pertautan hati satu sama lain—bahkan setelah mereka berdua menikah. Rhett, yang berjuang keras untuk bisa mendapatkan Scarlett sejak kali pertama berjumpa, harus mengalami berbagai penghinaan dari Scarlett meskipun Rhett berkali-kali memberikan hadiah mahal dan berada di sekitar Scarlett pada saat-saat yang paling dibutuhkan. Scarlett selalu menyebut Rhett sebagai lelaki yang tidak tahu diri, seorang oportunis, bukan pria terhormat, dan sebutan-sebutan rendah lainnya yang mengungkapkan betapa buruknya reputasi Rhett di depan matanya. Itu belum ditambah Rhett harus bersabar menunggu dua lelaki yang dinikahi Scarlett tanpa pernah dicintainya mati terlebih dahulu (Rhett menjadi lelaki ketiga yang dinikahi Scarlett tanpa dicintainya terlebih dahulu). Namun, hal-hal tersebut kadarnya masih di bawah perjuangan Rhett melawan cinta buta Scarlett kepada Ashley Wilkes, teman masa kecil Scarlett sekaligus pria idamannya, bahkan setelah Ashley Wilkes menikah dengan Melanie Hamilton. Bagi Scarlett, Ashley adalah seorang gentleman, seorang pria terhormat yang selalu didambakan untuk bersanding dengannya.

Cinta buta Scarlett kepada Ashley baru padam justru ketika istri Ashley, Melanie, meninggal dengan mewariskan pesan kepada Scarlett untuk menjaga Ashley Wilkes dan anaknya. Pada saat itulah, Scarlett melihat sosok Ashley yang sebenarnya—seorang lelaki yang rapuh yang hidup dengan mimpi-mimpi dan kehormatan—lelaki yang bahkan tidak mampu menyesuaikan pandangan hidupnya ketika dunia di sekitarnya hancur (dan berubah seutuhnya) karena Perang Sipil Amerika 1861. Sosok Ashley yang diinginkan Scarlett sebagai tempat bersandar ketika situasi benar-benar sulit saat perang justru menggantungkan hidupnya (dan bahkan hidup keluarganya) kepada Scarlett. Pada titik inilah harapan Scarlett terhadap Ashley hancur, sehancur harapan Ashley untuk melanjutkan hidupnya setelah ditinggalkan Melanie.

 

“He never really existed at all, except in my imagination.”

“Keberadaannya tak pernah nyata, kecuali dalam angan-anganku.”

Begitulah yang dipikirkan Scarlett ketika menyadari bahwa cintanya kepada Ashley hanya sekadar obsesi belaka, tanpa kedalaman. Scarlett bahkan mengutarakan bahwa cintanya kepada Ashley adalah cinta kepada sesuatu yang ia ciptakan sendiri. Cinta kepada suatu kostum yang ia lekatkan pada diri Ashley—bukan kepada Ashley yang sejatinya.

Lalu, sadarlah Scarlett betapa seseorang yang sungguh-sungguh mencintainya adalah Rhett Butler. Rhett sama halnya dengan Scarlett adalah seorang yang licik, keras kepala, dan serakah namun mencintai Scarlett dengan sungguh-sungguh. Rhett berhasil menikahi Scarlett dengan iming-iming kehidupan yang mapan karena dia seorang oportunis yang kaya raya. Pada dasarnya Rhett sungguh-sungguh mencintai Scarlett, meski hal itu tidak pernah ia ungkapkan, karena Rhett tahu bahwa Scarlett selalu brutal kepada lelaki yang mencintainya; selalu memanfaatkan lelaki yang memujanya untuk kepentingan pribadinya, seperti apa yang Scarlett lakukan kepada Frank Kennedy (suami kedua Scarlett) sampai akhirnya Kennedy meninggal. Scarlett dengan licik merebut Kennedy dari adiknya sendiri untuk ia nikahi dengan tujuan mendapatkan akses seluas-luasnya untuk menjalankan usaha Kennedy demi menghidupi dirinya, keluarganya, dan tanah kelahirannya: Tara.

Ketika kemudian Scarlett menjumpai Rhett untuk menyatakan cintanya, dan bahwa ia telah membuang Ashley dari hatinya, Rhett telah berada di puncak kesabarannya dan memutuskan untuk meninggalkan Scarlett. Segalanya sudah terlanjur bagi Rhett.

“Cintaku telah sirna,” lanjut Rhett, “karena Ashley Wilkes dan sifat keras kepalamu yang luar biasa yang membuatmu mempertahankan mati-matian segala sesuatu yang kaukira kauinginkan… Cintaku telah sirna.”

Pada akhirnya, Rhett dan Scarlett tidak pernah bersatu dalam cinta di “waktu” yang sama, meski mereka berdua telah menikah dan melahirkan satu anak yang kemudian meninggal karena kecelakaan saat berkuda. Cinta Rhett kepada Scarlett terhalangi oleh impian Scarlett akan harta kekayaan dan Ashley Wilkes, sedangkan cinta Scarlett kepada Rhett yang baru terasa setelah Melanie, istri Ashley sekaligus sahabatnya harus terbentur keputusasaan Rhett, lelaki telah mencoba segala cara untuk mendapatkan cinta Scarlett sampai kelelahan dan habis kesabarannya.

Lalu apakah novel ini merupakan “kisah cinta yang tak terlupakan?”

Mungkin “kisah cinta Scarlett O’Hara dan Rhett Butler yang tak terlupakan sepanjang masa” merupakan frasa paling sederhana untuk melabeli cerita yang kompleks dalam novel klasik ini. Namun menurut saya pribadi, novel ini lebih bercerita tentang tragedi-tragedi yang menimpa tokoh-tokohnya ketimbang sebatas “kisah cinta antara Scarlett O’Hara dan Rhett Butler”, tepatnya tragedi percintaan: patah hati seorang Scarlett ketika Ashley menikah dengan Melanie; hancurnya semangat hidup Ashley karena Melanie meninggal ketika mengandung anaknya yang kedua; hingga terlambatnya Scarlett menyadari cinta Rhett yang terlanjur sirna ketika Scarlett telah mengharapkannya.

Di sisi lain, dengan saratnya muatan fakta sejarah mengenai Perang Sipil Amerika (Perang Saudara Amerika 1861-1866) dan pandangan-pandangan kritis mengenai situasi sosial, politik, dan budaya di negara-negara bagian selatan (pihak Konfederasi) pada masa itu membuat novel ini sayang rasanya bila hanya dilabeli dengan “kisah cinta” antara dua tokoh utamanya saja. Namun begitu, saya bukannya tidak setuju seutuhnya dengan pelabelan “kisah cinta”, karena, seperti yang telah saya utarakan sebelumnya, frasa itu mungkin saja ungkapan paling sederhana untuk mewakili seluruh kisah dalam Gone With The Wind. Selain itu, bisa jadi frasa yang saya maksud di atas merupakan bagian dari strategi pemasaran untuk melariskan buku ini karena mungkin orang-orang akan lebih tertarik ketika menjumpai kata “cinta” sehingga mau paling tidak mau mempertimbangkan untuk membeli novel yang sangat tebal ini yang, toh, pada dasarnya telah mempunyai reputasi yang sangat baik di dunia fiksi internasional.

Margareth Mitchell lewat masterpiece-nya ini berhasil menghipnotis pembaca dengan kisah tentang orang-orang “Selatan” dalam menghadapi situasi Perang Sipil Amerika serta masa rekonsiliasi pascaperang tersebut. Ia secara mendetail menciptakan tokoh-tokoh dengan karakter yang khas dan stabil, lengkap dengan latar belakangnya—yang harus saya lahap dengan kesabaran tinggi pada 200 halaman awal novel ini—sambil menyelipkan pandangan-pandangan orang “Selatan” mengenai Perang Sipil melalui tokoh-tokoh tersebut. Ia juga berhasil menciptakan tokoh-tokoh “kejutan” di tengah-tengah novel ketika—mungkin—pembaca mulai lelah “berurusan” dengan tokoh-tokoh utamanya.

Pengisahan mengenai renungan, konflik batin, dan keberagaman emosi para tokoh dalam novel ini turut menjadi daya tarik yang spesial yang bagi saya tidak dapat dibandingkan dengan filmnya—yang dirilis tiga tahun setelah penerbitan novel—yang konon amat popular: ditonton oleh seperempat milyar orang di seluruh dunia.

Mengenai kisah cinta, dapat disetujui bahwa Margareth Mitchell telah menciptakan “kisah cinta yang tak terlupakan”, namun tentu saja tidak sebatas pengisahan hubungan Scarlett O’Hara dengan Rhett Butler. Cinta, bagi Margareth Mitchell, tidak sesederhana hubungan kasih antara dua insan. Ia menyajikan kisah cinta dengan dihadapkan pada situasi-situasi tertentu sehingga menjadikan cinta sebagai suatu hal yang sangat problematis: cinta tidak dapat menjadi suatu pegangan hidup bilamana dunia di sekitarnya sedang bergolak; cinta tidak dapat menjadi suci karena di dalamnya terkandung hasrat purba manusia; cinta tidak dapat menjadi murni karena ada kepentingan-kepentingan manusia yang perlu dipenuhi, dengan cinta sebagai alat pemenuhannya; cinta juga tidak dapat menjadi abadi ketika segala usaha telah dilakukan untuk dapat “menikmatinya”, namun segala usaha itu terus saja menemui kegagalan; pula cinta menjadi sesuatu yang membutakan ketika hanya dilandasi dengan mimpi-mimpi tanpa melihat realitas sebagaimana adanya. Urusan cinta yang kompleks inilah yang dapat menjadi jawaban paling masuk akal—bila menyetujui Gone With The Wind sebagai “kisah cinta”—untuk pertanyaan “kisah cinta macam apa yang dikandung dalam novel ini sehingga menghabiskan 1124 halaman?”

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *