Kesederhanaan Puisi-puisi Kedung

Posted: 17 March 2018 by Friliya Aika

sepilihan puisi: masa lalu terjatuh ke dalam senyumanmu Book Cover sepilihan puisi: masa lalu terjatuh ke dalam senyumanmu
Kedung Darma Romansha
Kumpulan Puisi
Rumah Buku
Februari 2018
xx+68 hlm.
Rp 59.000

 

Puisi bisa membahagiakan kita dengan citraan-citraan yang segar dan diksi-diksi yang unik di atas perkara-perkara yang sudah lazim, dan itulah yang telah diusahakan dengan sungguh-sungguh oleh Kedung Darma Romansha. Ditambah dengan kemampuannya mengolah emosi, puisi-puisinya kemudian membawa kita dari yang romantis menuju yang kontemplatif.
(Joko Pinurbo, penyair)

 

Banyak penyair menyuguhkan puisi tentang rindu, hujan, bulan, dan cinta namun apa yang ditampilkan Kedung tentang semua itu seakan sudah mempunyai rohnya sendiri. Kedung menampilkan puisinya secara sederhana. Seakan tidak takut bila orang-orang akan menakar pengetahuannya cetek karena menampilkan puisi bertema proletar. Orang awan mungkin akan berpikir bila suatu puisi ditampilkan dengan diksi morat-marit dan susah dimengerti, di situlah puisi tersebut bisa dibilang keren atau berhasil. Hampir seluruh puisi di buku “Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu” yang Kedung tampilkan menggunakan diksi sederhana dan terkesan merakyat. Kedung tak serta merta dalam satu waktu atau dalam satu tarikan nafas mampu menyelesaikan puisinya. Ada beberapa puisi yang diselesaikan dalam kurun waktu cukup lama. Seperti puisi yang berjudul “Sehabis Hujan”, puisi tersebut ia selesaikan selama dua tahun, dari 2005-2007. Sangat terlihat bila Kedung benar-benar menunggu rasa agar puisi tersebut dapat ia selesaikan meski dalam tempo lama.

“Masa Lalu Terjatuh Ke Dalam Senyumanmu” merupakan sepilihan puisi, yang ia tulis sejak 2004-2017. Kurun waktu yang sangat lama untuk ukuran antologi puisi. Dalam antologi ini, memang banyak puisi yang Kedung tulis dengan tempo lama. Pada halaman 27 terdapat puisi berjudul “Magrib Menjemputku” yang ditulis selama 7 tahun, juga puisi “Telembuk” pada halaman 31, puisi “Ke kotamu” pada halaman 32, puisi “Di Bulan April, Aku Duduk Menatapmu” pada halaman 36, dan puisi “ Tanjung Pinang(an) pada halaman 50. Butuh meditasi cukup lama bagi Kedung untuk melahirkan sebuah puisi. Seperti Joko Pinurbo (Jokpin) yang butuh ritual khusus untuk menuliskan sebuah puisi, Kedung juga menempatkan puisi sebagai karya yang benar-benar diperhitungkan dan tidak buru-buru diselesaikan.

Terdapat kesan kejujuran pada puisi Kedung. Kesan kejujuran tersebut sepertinya hadir dari diksi yang sederhana namun mengena seperti cuplikan baris pada puisi “Barangkali Ada Yang Ingin Kau Tanyakan” ini,  pertemuan kita tersangkut di jalan. Kedung tidak mengunakan diksi neko-neko namun diksi yang ia pilih tetap terlihat indah dan elegan untuk sebuah puisi sederhana. Kedung juga hanya menampilkan apa yang ia temui sehari-hari, ia misalnya tidak menampilkan puisi tentang salju dan aurora yang ia sendiri belum menemui secara langsung. Beberapa diksi yang sering muncul dalam puisi Kedung adalah sarung, bocor, karcis kereta, seprai, kampung dan masih banyak diksi proletar lainnya.

Meskipun kebanyakan puisi Kedung sederhana namun ia tetap menyelipkan kesan-kesan yang indah dalam puisinya. Misalnya Kedung sering menggunakan imaji tentang basah seperti Sapardi, namun dengan ciri khasnya sendiri. Pada puisi “Hujan Oktober” misalnya, baris hujan memeluk kampungku menghadirkan kesan hujan yang tidak sebagai romantisme cinta melulu . Ia lebih bercerita tentang suasana kampung yang diguyur hujan serta kebahagiaan sederhana yang ia tampilkan pada baris selanjutnya, anak-anak berlari memeluk hujan.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda: