Kaleidoskop Cinta dalam Asmaragama

Posted: 11 August 2018 by Muafiqul Khalid

Asmaragama
Alfin Rizal, Daruz Armedian, Sengat Ibrahim
Puisi
LiterISI
April 2018

Mengetengahkan cinta sebagai kajian, sama dengan menolak lupa (Muhammad Iqbal, 1877-1938). Diktumnya, cinta merupakan asal kehidupan dan haram baginya kematian. Cinta menyingkirkan banjir yang datang melandai. Sebab cinta adalah air pasang mengalun, menundukkan topan dan badai. Singkatnya, asal muasal segala kehidupan adalah cinta alasan satu-satunya.

Memenangkan kehidupan dengan cinta bukanlah perkara mudah. Iqbal menjadikan realitas sebagai hutan berburu kebenaran atas nama cinta. Dengan melepas jubah nafsu dan ego, ia mendermakan hidupnya untuk cinta kepada sesama, juga pada segala kehidupan di sekitarnya.

Ada yang berbeda dengan tiga penyair—Alfin Rizal, Daruz Armedian dan Sengat Ibrahim—yang menjadikan cinta sebagai resonansi puisi-puisinya di Asmaragama. Mereka menggarap cinta (seolah) hanya sebagai bunyi yang direkam (kurang lebih begitu). Dituliskan dengan puisi tanpa prasyarat yang lain. Bahkan, cinta yang seharusnya membebaskan manusia untuk menjadi pemenang, malah menjadi peluru yang memberondong dan melukai tuannya.

Sebab itu, konsep cinta Iqbal sangat menarik jika dijadikan premis untuk melihat puisi tiga penyair muda dalam Asmaragama. Iqbal sendiri merupakan penyair yang merumuskan cinta dengan puisi dan prosa. Inilah momen siklik—antara Iqbal dengan Alfin Rizal, Daruz Armedian, dan Sengat Ibrahim—untuk mewacanakan cinta lebih jauh dan mendalam.

Puisi Cinta: Perbandingan

Iqbal menganggap cinta sebagai roda perubahan menuju kesempurnaan. Artinya, cinta sebagai instrumen menuju kematangan jiwa. Ia dalam puisinya yang bejudul Parlemen Setan berseloroh:

apakah cinta?
pengembaraan tanpa ujung
menerjang segala batas
menamatkan tujuan akhir
cinta tak kenal khatam, tak kenal akhir
ia selalu ke depan dan tak kenal gagal….

Sederhananya, cinta adalah optimisme yang tiada ujung. Perjuangan kemanusiaan yang tidak mengenal batas dan akhir. Maka haram hukumnya sikap pesimis, lemah, atau kalah bagi pecinta.

Lebih jauh, Iqbal menyatakan alasannya mengenai cinta—adalah segala puncak kemanusiaan. Dalam bukunya Rahasia-rahasia Pribadi (1953), hlm. 182:

cinta adalah nafas Jibril
cinta adalah hati Al-mustafa
cinta adalah utusan ilahi
cinta adalah gemilang hayat
cinta adalah api kehidupan

Ia menambahkan:

cinta adalah Plato yang menyembunyikan sakitnya pikiran
cinta adalah Mahmud yang merebut sommath intelek

Selain itu, Iqbal menyatakan bahwa cinta merupakan penangkal rasa takut bagi manusia. Ia menyatakan di dalam bukunya Rahasia-rahasia Pribadi (1953), hlm. 125:

cinta tidak takut kepada pedang dan belati
cinta tidak berasal dari air dan bumi
cinta menjadikan damai dan perang di dunia
sumber hidup ialah kemilau pedang cinta
tebing yang peling keras gemetar oleh tinjauan cinta

Bahkan ia menegaskan bahwa cinta merupakan pelerai konflik. Dengan optimis dan gagah ia menegaskan, Bahrum (1976):

bila pribadi diperkuat dengan cinta
menjadikan negeri bencana ini menjadi surga firdaus

Namun Alfin Rizal justru berbanding terbalik dengan Iqbal. Ia menuliskan, dalam puisinya cita-cita tentang kebohongan, bagian ke-3, di bait terakhir:

puisi-puisiku adalah cita-cita merah dan marah
yang terbaca oleh kau dengan terbata-bata, dan aku,
menjadi puisi setengah jadi saat kau berbaring
bersama warna merah pada suatu siang yang bohong.

Puisi di atas, menurut saya, pada mulanya dibangun dengan spirit dan keluhuran cinta tapi kemudian dirobohkan dengan keputusasaan si penyair.

Dalam puisi berjudul malam tanpa kau, bait ke-4, si penyair mengingkari optimisme yang dibangun dari awal puisinya:

kali ini aku menjadi penyair yang tak berhasil
menyelesaikan kata-kata sendirian.
bahkan lupa bahwa kata pernah mempertemukan dan sering mengingatkan
kota-kota yang pernah kita susuri
dari pagi hingga dinihari.

Dalam puisi berjudul untuk perempuanku yang sedang ada di mana-mana selain di sisiku, bagian ke-3, dua larik pertama, /aku tidak berharap kau membaca puisi cinta/ yang menyedihkan seperti kutulis malam ini. Sebuah pengakuan Alfin yang tidak seharusnya dinyatakan ketika mendaku dan mengaplikasikan cinta sebagai garapan ke dalam puisi-puisinya.

            Dari tiga puisi di atas, Alfin tampak putus asa dengan cinta yang seharusnya membuat perkasa dan terbang bebas. Sejatinya cinta adalah pembebas dari perasaan takut, tapi dalam puisi ini, ia justru ketakutan dengan cinta itu sendiri. Inilah yang saya tengarai sebagai sesuatu yang paradoks dengan kaidah cinta yang semestinya. Kaidah yang banyak diajarkan oleh para pejuang cinta.

Lalu bagaimana dengan puisi Daruz Armedian? Tentu, premis cintanya Iqbal masih menjadi pijakan. Setidaknya sebagai tali pengikat untuk menarik dan mengulur puisi-puisi dalam Asmaragama.

            Daruz tampak lebih gagah dengan cinta. Terkesan bahwa cinta dijadikan sebagai ruh yang menyelubungi puisi-puisinya. Dari keseluruhan puisi-puisi dalam Asmaragama, ia lebih jumawa mengelaborasikan cinta dalam bait dan larik-lariknya. Misalnya dalam puisi yang berjudul seandainya tuhan tidak wujud. Puisi tersebut dengan bernas membawa pembaca untuk memenangkan cinta. Saya kutipkan, bagian ke-1 dari 6 puisinya:

/1/
aku tak tahu
                           cara kerja rindu
cara kerja cinta
                            yang entah kenapa
menjatuhkan buah
                            dari pohon tubuhku
di hadapanmu

            Hingga bagian ke-6 dalam puisi ini, diksi dan metafor yang dibangun seolah membebaskan (pembaca) dalam memahami cinta: puisi yang mencerminkan kemenangan. Hal ini juga terdapat dalam puisi membicarakan hari ini. Daruz dengan yakin menyatakan bahwa cinta itu adalah peleburan untuk menyelesaikan segala urusan:

sejak kamu ambil hatiku, aku merasakan
segalanya. tak ada lagi kata ‘pinjam’ mulai saat
ini. buku-buku itu milikmu. lengan yang
merengkuhmu seperti merengkuh diri sendiri…

Selain puisi yang saya kutipkan di atas, beberapa puisi Daruz mencerminkan optimisme cinta. Misalnya puisi yang berjudul: di samudra asmara; berteduh; kenangan; namamu, namamu, dan namamu dan aku sengaja mencintaimu untuk kausia-siakan. Semua puisi tersebut menggambarkan sebagaimana yang dikatakan Iqbal: menerjang segala batas/ menamatkan tujuan akhir. Sederhananya, adalah menjadikan manusia—penyair sendiri dan pembaca—terbebas dari segala parasit ketakutan.

Puncaknya, Daruz menyatakan sikap di puisinya, bagaimana jatuh cinta tidak membuatku kecewa. Ia menyatakan sikapnya dengan lantang, seolah tidak gentar dengan segala persoalan cinta. Maka, cara terbaik adalah memilih ‘gila’ sebagai pecinta. Dengan begitu ia terbebas dan menjadi manusia yang memenangkan cinta:

/1/
aku ingin ‘jatuh cinta’
tanpa harus ada ‘jatuh’ di kata pertama
tapi itu mustahil, karena kau tak menyahut
meski berkali-kali kupanggil…

Ia melanjutkan di bait ke dua:

menjadi gila adalah cara terbaik
untuk mencintai tanpa rasa sakit

Sementara itu, Sengat Ibrahim bagi saya tidak lebih dari sekadar pemabuk yang benar-benar mabuk, tapi hanya sedikit menegak cinta. Sebatas limbung dan meracau tentang cinta. Ia (seolah) tidak memiliki tujuan yang jelas. Malah, lebih banyak menyoal tentang puisi sebagai jalan pembebasan. Bukan cinta. Ini tergambar dengan jelas dalam beberapa puisinya. Namun tidak dengan puisi yang berjudul, sebuah puisi yang ditulis oleh orang gila. Saya kutipkan, bagian ke-1, bait ke-2 dan ke-3:

1
ketika jatuh cinta, tak ada apa pun yang bisa
kupercaya di dunia. aku suka menjadi diam
ketika jatuh cinta. membuang ingatan juga
pikiran yang sering mengirimku neraka.
ketika jatuh cinta, aku tidak mau menjadi manusia
yang mencari ketenangan melalui agama.
menjadi manusia yang dikerubungi kegelisahan
adalah makanan pokok bagi pecinta

Menariknya, dalam puisi Sengat yang ditulis pada 2018, ditutup dengan bait yang memukau:

ketika jatuh cinta, aku memilih menjadi tuhan
bagi diriku sendiri, melengkapi segala
kebutuhan di luar materiketika jatuh cinta, aku memilih menjadi tuhan

            Pada puisi di atas, Sengat masih terlihat memiliki cita rasa yang kuat dengan cinta. Setidaknya selaras dengan apa yang dicita-citakan oleh Iqbal: cinta selalu ke depan dan tak mengenal gagal. Makanya ia mengaku Tuhan ketika sedang didera cinta. Karena Tuhan, dalam semua agama, tidak pernah gagal dalam segala urusan.

Sedangkan di beberapa puisi yang lain, ia lebih banyak menyoal optimisme ‘puisi’ bukan cinta sebagaimana Alfin dan Daruz upayakan. Meski Alfin terjebak dalam jurang gelap pesimisme. Daruz lebih terlihat punya tenaga untuk memenangkan cinta. Sedangkan Sengat mendedahkan kekuatan puisi sebagai obat penawar bagi kehidupan.

            Ini jelas dalam puisi yang berjudul, menulis malam, bait ke-2, dengan menyitir penyataan Pablo Neruda, penyair kelahiran Chili: “…puisi adalah penawar/ bagi segala jenis penyakit/”.

            Dalam puisinya yang lain, ia juga menggambarkan laku kehidupan dengan puisi, kurang lebih, sebagai kerja kegilaan yang harus dituntaskan. Kerja yang akan mengekalkan (penyair) manusia dari pusaran waktu dan sejarah. Inilah menurut saya yang disebut sebatas pemabuk: candu pada puisi. Maka cinta bukan alasan utama dalam beberapa puisi yang ia gubah di Asmaragama.

Asmaragama tetap menjadi nada penting untuk dibaca dan didengarkan. Ini karena cinta dalam Asmaragama menerima realitas sekaligus menegasi keberadaannya.

Utamanya di tengah krisis cinta kemanusiaan, Asmaragama setidaknya hadir sebagai nyanyian penyejuk  jiwa yang kerontang. Tentu dengan harapan, tidak hanya sebagai gombalan belaka.

Terlepas apakah Asmaragama hanya terkait dengan urusan sentimentalia belaka, saya tidak mau berspekulasi lebih jauh tentang hal ini. Tetapi, memahami cinta secara mendalam dan mengaplikasikannya adalah upaya menuju manusia sempurna.

Laku cinta Muhammad Iqbal—dengan tidak menafikan pejuang cinta yang lain—tidak pernah ditilap sejarah. Ia akan terus hidup dalam lumbung peradaban manusia. Misalnya, jasa Iqbal di dalam politik dan keilmuan bagi masyarakat Lahore, Pakistan, bahkan dunia.

Lalu apakah Alfin Rizal, Daruz Armedian, dan Sengat Ibrahim setara dengan Iqbal—beretos cinta dalam segala gerik hidupnya? Belum. Karena cinta bagi Iqbal adalah realitas sekitar yang diperjuangkan. Mengabdi dan menyelesaikan segala masalah sosial adalah tanggungjawab utamanya. Jadi, mari kita tunggu laku cinta dari ketiga penyair muda ini!

Pendapat Anda: