Jejak-jejak Hermenuetis di Aula Sejarah

Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah (Kumpulan Artikel Pilihan) Book Cover Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah (Kumpulan Artikel Pilihan)
Marsel Robot
Dusun Flobamora
Oktober 2018
xx + 260 hlm

Martin Heidegger penah menggagas pemahaman tentang manusia sebagai penafsir. Manusia sejatinya adalah penafsir otentik berhadapan dengan pelbagai peristiwa yang hadir (present) di hadapannya. Dengan menafsir dan memberi arti, pelbagai peristiwa didalami dan diberi makna. Dengan kata lain, peristiwa diperkaya dengan penafsiran sehingga tidak menjadi banal dan dangkal.

Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah” merupakan kumpulan artikel yang pernah diterbitkan di pelbagai media cetak baik lokal maupun nasional oleh Marsel Robot yang merupakan seorang penulis dengan rekam jejak kehidupan literasi yang sangat kaya. Artikel-artikel ini memotret dan menafsirkan realitas yang terbentang selama hampir satu dekade dari tahun 1999-2018. Ada 42 artikel dengan pelbagai varian tema sosial yang berhasil direkam dan dikaji dengan perspektif yang khas dan mendalam.

Tulisan ini akan menampilkan jejak-jejak hermeneutis yang hadir secara umum dalam tiap artikel, sekaligus melihat kiblat gejala kritisisme yang memainkan posisi kunci dalam menghadapi pelbagai realitas sosial yang hadir di aula sejarah. Dengan kata lain, mayoritas artikel hadir sebagai ungkapan hermeneutika kritik sosial.  

Kegelisahan yang Mulia

Ada suatu suasana hati dasar (Grundbefindlichkkeit) yang mendahului atau lebih primordial daripada segala suasana hati yang lain. Heidegger menyebutnya dengan kegelisahan (Angst). Kegelisahan adalah sebuah daya eksistensial yang menggerakkan manusia untuk menukik lebih dalam sehingga tidak terapung bebas dalam keseharian yang banal. Kegelisahan adalah kekuatan mulia untuk memaknai keseharian hidup dengan pelbagai dinamikanya sehingga manusia tidak lekas jatuh dalam bayang-bayang kesia-siaan hidup.

Kekuatan mulia inilah yang menggerakkan Marsel Robot untuk mencandrai pelbagai peristiwa yang hadir di aula sejarah. Ia bertolak ke tempat yang dalam (duc in altum) dari sekadar fenomena sosial yang hadir. Jaring hermeneutika telah ia tebarkan dalam arus sungai peristiwa sosial yang terus mengalir. Kita dapat menemukan ungkapan kegelisahan penulis berhadapan dengan pelbagai bentuk fenomen sosial, seperti: politik, pendidikan, agama, budaya. seni dan narasi-narasi lainnya. Kekayaan peristiwa yang bersinggungan dengan kepekaan merawat kegelisahan (Angst) yang dimatangkan dengan hermeneutika yang jernih dan cerdas mengantarkan pembaca untuk menikmati posisi pemaknaan penulis dalam mencerap pelbagai fenomen sosial.

Kita dapat menyaksikan kegelisahan itu bersalinrupa dalam sindiran terhadap praktek politik praktis yang carut marut. Marsel Robot piawai menyampaikan kritik dengan daya ucap yang metaforis namun satirik. Misalnya dalam artikel “Sebutlah Presiden Kita Ini: Ibunda Si Mulut Sunyi”, penulis mengkritik bahasa diam (silent language) Presiden Megawati sebagai bentuk kelembaman terhadap distorsi politik yang beraroma busuk.

Sebentar lagi harga BBM naik, dan semua harga barang naik, yang turun cuma tali celana dan tali rok rakyat Indonesia yang longgar karena terlalu lapar akibat kualitas makanan menurun. Jangan-jangan diamnya Megawati hanya fotokopi diamnya Soeharto yang bertahun tahun melakukan represi dan membangun istana impian para perindu kekuasaan dan pendamba jabatan yang tidak lain adalah maling-maling raksasa bergentayangan di negeri kepulauan ini? Kini DPR dan PDIP-lah yang paling banyak disorot karena hobinya menerima suap.” (hlm. 18).

Nampak jelas bahwa penulis mengambil posisi antitesis terhadap rezim penguasa yang dinilai bobrok. Kerapkali penulis merepresentasikan dirinya sebagai bagian dari rakyat yang menderita berhadapan dengan rezim penguasa. Kritik-kritik dilontarkan sebagai voice of the voiceless dari rakyat yang terluka akibat tindakan politis yang busuk. Kita dapat menyaksikan keberanian kritis ini dalam hampir seluruh artikel yang bersinggungan dengan narasi politik, misalnya: “Adolf Eichmann”, “Stereotip dan Egoisme Politik di NTT”, “Sidang Tahunan DPR-MPR, Sebuah Tanggapan”, “Gayus dan Menara Pasir”, “Mengenang Kejatuhan Soeharto”, “Parodi Kontekstual Ahok dan DPRD Jakarta”, dan lain-lain. Kritik ini menjadi lebih berwibawa karena tampil dengan model pembahasaan yang metaforis namun menukik pada titik permasalahan.

Jejak-Jejak Hermeneutis

Buku Kumpulan Artikel Pilihan “Ringkasan Kegelisahan di Aula Sejarah,” memunculkan jejak-jejak hermeneutis sosial seorang cendikiawan Marsel Robot berhadapan dengan pelbagai tampilan peristiwa yang hadir di aula sejarah. Penafsiran adalah bentuk pelibatan budi dan hati untuk memaknai kelindan peristiwa yang mengalir dalam sejarah. Penafsiran inilah yang memartabatkan sebuah peristiwa menjadi bermakna dan relevan dengan dinamika kehidupan manusia.

Jejak-jejak hermeneutis itu nampak dalam pelbagai narasi sosial, seperti: politik, budaya, pendidikan, sastra, bahkan pada semiotika tubuh dan gestur manusia. Dalam konteks budaya, misalnya, Marsel Robot memiliki sensitivitas kultural yang jeli. Sebagai seorang Manggarai, ia tidak menutup mata penafsiran sosialnya terhadap dinamika persoalan yang melanda daerahnya. Beberapa artikel yang muncul, seperti: “Manggarai Timur dan KesadaranNilok Nai”, “Mengecup Kening Manggarai pada PeristiwaLonto Leok”, “Adegan Pembangunan di Tepi Lapangan”, “Selamat Datang Manggarai Timur”, dan “Manggarai Timur, Sepanjang Jalan, ‘Aku Retang Bao’” merekam dengan baik problematika pembangunan Manggarai Timur sebagai kabupaten baru (kala itu) dengan pelbagai pelik masalah politik sosial yang menungganginya. Kita dapat merekam jejak-jejak hermeneutis kultural yang terlibat dari sisi seorang cendikiawan yang punya keprihatinan mendalam akan nasib pembangunan daerahnya.

Selain itu, yang turut memberi warna khas dalam kumpulan artikel pilihan ini adalah hadirnya beberapa artikel yang merupakan artikel polemik koran. Budaya diskursus rasional dalam ruang publik sebagaimana yang pernah dicanangkan oleh Jürgen Habermas memang belum menjadi habitus yang lazim dalam tradisi Timur, khususnya NTT. Polemik adalah bentuk perayaan kemajemukan posisi berpikir yang justeru memperkaya -jika dan hanya jika- tidak disusupi dengan gejolak emosional yang mendistorsi penalaran. Sebagaimana pengakuan Marsel Robot sendiri, “Bagi saya, perbedaan itu sangat penting. Bukankah perbedaan justeru menjadi humus yang menyuburkan pemikiran kritis? Lebih dari itu, pembaca selalu diuntungkan dari pertengkaran yang merimbunkan pengetahuan tersebut.” (“Pengantar Penulis”, hlm. iv)

Dalam artikel “Tentang Fantasi: Sebuah Pertengkaran yang Menyembuhkan,” dan “Tentang Fantasi (Sebuah Tanggapan untuk A. G Netti)” muncul polemik tentang masalah imajinasi, fantasi dan khayalan dalam jurnalisme yang sebelumnya telah menjadi polemik yang digeluti oleh A. G Netti; seorang pengamat sastra dan Maria Matildis Banda; seorang jurnalis dan sastrawan. Polemik ini memiliki kekuatan tersendiri karena dilibati oleh orang-orang yang kompeten di bidangnya. Lapisan epistemik pembaca mengenai sastra dipertebal dan diperkaya. Meski, tak dapat dipungkiri bahwa jejak-jejak emosional yang meletup-letup hadir dalam argumentum ad hominem yang terkadang mengapungkan inti pokok permasalahan yang menjadi  sentrum polemik (argumentum ad rem). Dari sisi ini, pembaca bisa melihat bagaimana penulis meredam emosinya dengan siasat metafora yang satirik. Meski dalam tanggapan artikel selanjutnya, pembaca dapat merasakan jejak-jejak emosi yang lebih nampak sehingga jarak antara penalaran kritis dan masalah yang diangkat seperti jauh panggang dari api.

Hal yang senada juga hadir dalam polemik tentang gestur rektor UNDANA yang ditafsir dalam kerangka semiotika. Dalam artikel “Tata Bahasa Tubuh Sang Rektor dan Gaya Pemikirannya,” dan “Masih tentang Gestur dan Sebagainya: Tanggapan Terhadap Yoseph Riang dan John Mai,” penulis menghadirkan polemik yang menarik dan menggemaskan pembaca. Dengan berdiri di atas fondasi teori yang kuat, tafsiran Marsel Robot menuai tanggapan dari Yoseph Riang dalam artikel “Sang Kritikus dan Gaya Pemikirannya,” (Pos Kupang, 3 Maret 2014) dan dari John Mai dalam artikel “Kritikus Mencari Posisi.” Meski kelindan argumentum ad hominem masih mewarnai wacana diskursif ini, namun pembaca diperkaya dengan model penalaran dan pembacaan wacana yang khas. Adanya wacana polemik koran yang masih tergolong minim dalam ruang publik media masa di NTT memberi relevansi bagi pembaca untuk belajar terlibat dalam diskursus rasional di ruang publik daripada terjebak dalam gosip murahan.

Pembaca juga dapat menemukan jejak-jejak hermeneutis pada narasi-narasi lainnya, seperti pendidikan (“Soverenitas Ilmiah yang Hilang dari Undana”, “Si Gogos Menggendong Problem Melintas Jalan Peradaban” dan “Banyak Anak Sekolah, Tak Banyak Pelajar.”), problematika agama dan kemajemukan (“Ambon Manise, Ambon Menangise”, “Sastra dan Agama Kemanusiaan”, dan “Mawar Berduri di Taman Pluralisme”), sastra dan jurnalisme (“Berita sebagai Fenomena Politik”, “Pers sebagai Lembaga Politik”, Ciri Ulat Sutra dalam Televisi Kita, Penghargaan yang Menggertak Sastrawan NTT”, “Peristiwa dalam Liputan Koran”, Seniman Piala dan Gerakan Kembali ke Kubur”, “Pubertas, Ruang Rangsang dan Negara” dan “Bertengkar dengan Tubuh yang Palsu.”), hingga narasi-narasi kecil lainnya, seperti: kritik terhadap pelayanan kesehatan Rumah Sakit dan gejala erotika yang hadir dalam angkutan-angkutan umum (bemo) kota.

Secara umum, nada dasar yang melingkupi seluruh tafsiran Marsel Robot atas pelbagai dinamika realitas yang hadir di aula sejarah adalah kritik sosial. Penulis adalah seorang cendikiawan dengan spiritualitas terlibat. Ia menjalankan peran yang baik dalam ruang publik (public sphere) sebagai tukang kritik yang mulia. Hal mana yang masih tergolong pada wilayah tabu bagi mayoritas masyarakat kita yang lebih nyaman dengan membiarkan kebobrokan dengan alasan sopan santun yang semu daripada bersuara keras menyampaikan kebenaran yang berpihak pada kaum lemah. Yang menarik ialah Marsel Robot menjadi tukang kritik yang pandai berkata-kata dengan siasat daya ucap yang menggairahkan. Ia menyebutnya dengan gaya bahasa gaul atau aliran hip-hop dalam konteks dunia musik (hlm. iv).

Catatan-Catatan Kecil

Tulisan-tulisan dalam Ringkasan Kegelisahan di Aula Sejarah tidak disusun secara tematis maupun dalam sistem periodik waktu yang runut. Bagi Marsel Robot, hal ini menguntungkan pembaca. Sebagaimana telah ia tuliskan pada bagian pengantar penulis, “Namun, kadang tulisan acak semacam ini penting atau menguntungkan pembaca. Pembaca bebas memilih topik apa yang sesuai seleranya. Pembaca tidak diminta, untuk, misalnya, harus membaca artikel M untuk memahami artikel N, sebab masing-masing artikel hadir dengan cara dan sejarahnya.” Namun, jika dicermati dengan saksama, tulisan-tulisan pada awalnya tersusun secara periodik sampai pada halaman 142, yakni dimulai dari artikel “Adolf Eichmann” (Pos Kupang, Jumat, 9 April 1999) sampai “Peristiwa dalam Liputan Koran” (Pos Kupang, Rabu, 9 Februari 2014). Setelah susunan artikel yang berkiblat periodik ini, dilanjutkan dengan artikel bertajuk “Anarkisme di Ruang Sejarah” yang diterbitkan pada harian Pos Kupang, Senin, 12 Desember 2011. Meski penulis sendiri mengakui bahwa artikel-artikel dalam buku ini punya independensi kontekstual, namun gejala tendensi untuk menyusun artikel berdasarkan periode waktu penerbitan tetap nampak.

Selain itu, artikel-artikel dalam buku ini tidak bisa secara steriotip diklaim memiliki independensi yang bersifat situasional dan kontekstual tanpa ada temali relasional. Misalnya, ada artikel-artikel yang ditulis dalam konteks polemik di koran seperti masalah tentang fantasi sebagai tanggapan polemik terdahulu antara A. G Netti dan Maria Matildis Banda [Bdk. “Tentang Fantasi: Sebuah Pertengkaran yang Meyembuhkan” dan “Tentang Fantasi (Sebuah Tanggapan untuk A. G. Netti)]. Tentu saja, pembacaan kedua artikel ini tidak bisa dilepaspisahkan. Dengan demikian, pembaca perlu terlebih dahulu mencerap artikel pertama sebelum tiba pada artikel kedua. Demikian pula dengan polemik tentang gestur Rektor Undana (Bdk. “Tata Bahasa Tubuh Sang Rektor dan Gaya Pemikirannya” dan “Masih Tentang Gerstur dan Sebagainya”). Jadi, ada artikel-artikel yang dalam artian tegas, tidak berdiri sendiri meskipun kontekstual dan situasional.

Bagi saya kenikmatan membaca buku ini agak sedikit tersendat dengan komposisi artikel yang terkesan seperti tempelan-tempelan kliping yang acak meski toh tak bisa dinafikan bahwa gejala periodik tetap muncul. Sehingga, buku ini akan lebih mengalir jernih jika disusun secara tematis. Misalnya, pada tulisan-tulisan kumupulan artikel K. Bertens yang sering dibukukan. Meski tulisan-tulisan itu kontekstual, namun tetap dikomposisikan secara tematis ketika dibukukan. (Bdk. “Perspektif Etika Baru; 55 Esai tentang Masalah Aktual, 2009, dll). Tulisan ini kaya secara tematis, misalnya: ada tema sastra, politik, budaya, agama dan lain sebagainya. Jika ditematisasi artikel-artikel ini akan tampil dengan elok dan merangsang konstruksi berpikir para pembaca yang lebih teratur dan tidak arbitrer. Namun, catatan-catatan minor dan periferal ini tidak meruntuhkan kualitas hermeneutika sosial yang kuat dari seorang cendikiawan terlibat yang kritis namun puitis. Ringkasan kegelisahan yang berhasil dipotret secara hermeneutis di aula sejarah menjadi sangat relevan dan signifikan bagi pembaca, tidak hanya dalam hal memperluas horizon pengetahuan sosial, melainkan juga melatih pembaca untuk menjadi penafsir yang baik berhadapan dengan pelbagai peristiwa sosial yang mengalir dalam sungai sejarah hidup manusia. Artikel-artikel yang dirangkum dalam buku “Ringkasan Kegelisahan Sosial di Aula Sejarah” memang bersifat kontekstual dan unik. Namun, tema yang melingkupinya tentu selalu akan hadir dalam peristiwa sosial hidup harian kita. Penulis berhasil mengajarkan kepada pembaca bagaimana merawat kegelisahan sosial yang mulia agar terlibat dalam pemaknaan tiap peristiwa hidup sehingga menjadi lebih bermakna dan berdaya ubah demi kesejahteraan hidup bersama.   

Giovanni Aditya Lewa Arum

Giovanni Aditya Lewa Arum

adalah seorang calon Imam Katolik Keuskupan Agung Kupang. Aktif menulis karya sastra berupa esai, resensi, puisi dan cerpen. Tergabung dalam Komunitas Sastra Filokalia Seminari Tinggi St, Mikhael dan Komunitas Sastra Dusun Flobamora.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait