Skip links

Indra Licik, Dialah Soesilo Toer

Indra Tualang Si Doktor Kopi Book Cover Indra Tualang Si Doktor Kopi
Soesilo Toer
Pataba Press
2017
136 hlm.
Rp50.000

Buku ini berkisah tentang seorang anak bernama Indra. Ia digambarkan sebagai anak yang lucu, licik, nakal, jail, agak sombong, tapi cerdik. Banyak kisah Indra yang tak terduga. Dari ia mencuri satu sendok nasi goreng milik bapaknya hingga ia dijuluki doktor kopi. Seluruh cerita dikemas sangat sederhana tapi dipenuhi makna besar yang bisa dipelajari anak-anak

Lewis Carroll menulis Alices Adventures In Wonderland setelah melakukan perjalanan bersama keluarga Henry Liddell (dekannya di universitas). Selama perjalanan Lewis menghabiskan waktu dengan menceritakan kisah omong kosong pada anaknya Henry, Alice Liddell. Alice lalu meminta Lewis menulis ulang cerita itu. Kemudian jadilah Alices Adventures In Wonderland yang mengangkat nama Lewis Carroll. Tak hanya Lewis Carroll, banyak penulis cerita anak lainnya yang terinspirasi dari kisah hidup mereka, seperti halnya Soesilo Toer.

Membaca Indra Tualang Si Doktor Kopi sama dengan membaca sebagian kisah hidup Soesilo Toer. Soes (panggilan akrabnya) mengakui bahwa buku ini sebagian besar memang bercerita tentang masa kecilnya sendiri. Soes menciptakan tokoh utama bernama Indra. Indra digambarkan sebagai anak yang lucu, licik, nakal, jail, agak sombong, tapi cerdik dan baik hati.

Salah satu momen yang sangat diingat Soes adalah ditempeleng oleh kakaknya, Pramoedya Ananta Toer karena sebuah masalah. Setelah kejadian itu, Pram lalu mengajaknya nonton ke Astoria. Selepas orang tua mereka tiada, Pram yang mendidik adik-adiknya. Ia dikenal cukup keras, termasuk terhadap Soesilo Toer. Momen ini diabadikan Soes ke dalam cerpen Sebelum Butut Terbang. Indra ditempeleng dan ditinju kakaknya karena dikira menabrak anak tetangganya dengan sepeda. Kakaknya marah besar. Ia didesak minta maaf pada tetangganya itu. Setelah itu kakak mengajak Indra nonton ke Astoria. Diakui Soes, sosok kakak di dalam cerpen adalah Pramoedya Ananta Toer.

Soes juga mengenang momen kenakalan dirinya saat masih sekolah di dalam cerpen Akibat Segelas Kopi. Indra hendak ulangan kimia di pagi hari. Namun, ia terjaga hingga pagi hari lantaran minum kopi menjelang tengah malam. Akibatnya di pagi hari kepalanya berat dan perutnya kembung karena masuk angin. Indra tidak bisa menjawab semua pertanyaan. Materi yang ia hafal sebelumnya tak lagi diingatnya.

Indra memang licik. Demi ingin naik kelas, ia lalu menuliskan namanya pada kertas ujian milik temannya yang ia temukan di laci meja. Hasilnya, Indra naik kelas. Sedangkan temannya tidak. “Kalau pada waktu itu Indra tidak minum kopi, yang menyebabkan ia tidak bisa tidur, barangkali nasibnya dalam dunia ilmu pengetahuan akan berbeda …..”. Indra kemudian dijuluki doktor kopi oleh teman-temannya. (hlm 120)

Soesilo Toer mengaku ia benar melakukan hal ini semasa sekolah. Ia menceritakannya sambil tertawa dalam diskusi di Berdikari Book pada 17 Februari lalu. Katanya lagi, ia tak akan bertemu peserta diskusi hari itu (17 Februari) jika tidak mengambil kertas jawaban milik temannya.

Anak-anak Harus Berpikir Luas

Masih banyak kisah hidup Soesilo Toer yang tergambarkan dalam buku ini. Meski demikian, buku ini tidak sebatas tentang Soesilo Toer. Ada gagasan menarik yang ia sodorkan untuk pembaca, khususnya anak-anak. Soes melalui buku ini ingin menyampaikan bahwa anak-anak mestinya bisa berpikir luas, tidak terbatas pada ajaran guru di sekolah. Baginya guru bisa saja salah. Maka dari itu anak-anak harus memiliki banyak akal.

Di dalam cerpen Akibat Segelas Kopi Indra ingin pindah jurusan. Namun, ia hendak dicegah kepala sekolah. Indra dengan segera menjawab, “Yang mau belajar itu saya atau Bapak?”. Kepala sekolah akhirnya mengerti kemauannya. (hlm 120)

Soal penentuan jurusan bagi anak di sekolah memang merupakan persoalan yang sering terjadi. Misalnya, ada anak yang ingin belajar di jurusan IPS, namun orang tua memaksa harus memilih IPA. Alasannya klasik, IPA adalah tempatnya anak-anak pintar dan masa depan menjadi cerah bila masuk IPA. Keberanian Indra dan pengertian kepala sekolah mestinya juga dilakukan oleh anak, guru, dan orang tua lainnya. Anak harus diberikan kebebasan berpikir dan orang dewasa perlu mendengarkan dan mengerti. Tidak hanya seenaknya memutuskan.

Beberapa tingkah Indra memang merupakan representasi dari seorang anak laki-laki yang mampu berpikir luas dan banyak akal. Misalnya lagi, dalam cerpen Pak Godeg Indra ingin memelihara ayam. Ia menyampaikan niat itu pada ibu dan bapaknya, namun ditolak ibunya. Bagi ibunya memelihara ayam adalah pekerjaan orang belakang, makan waktu, urusan wanita, kotor, dan tak ada hasil.

Lantaran sudah membeli alat dan bahan untuk keperluan kandang, Indra kemudian memberi syarat pada ibunya apabila tidak setuju ia memelihara ayam. Ia meminta ibunya mengganti rugi sebanyak sepuluh kali harga bahan yang telah dibelinya. Padahal total harganya sama dengan keuntungan satu tahun memelihara ayam. Ibunya kemudian menyerah karena Indra juga didukung oleh paman dan bapaknya. (hlm 19-20)

Ide Indra mengancam ibunya secara halus adalah kecerdikan seorang anak. Indra sudah mampu berpikir tentang cara agar idenya disetujui orang lain. Hitung-hitungan kerugian mengganti modal yang ia kumpulkan sangat cepat dan bisa membuat orang menyerah. Ancamannya masuk akal dan tidak membuat dirinya disalahkan karena berani memberi syarat pada ibunya. Di satu sisi ia bisa dianggap lancang, namun di sisi lain ia sangat licik dan pandai.

Seperti halnya anak-anak lain, Indra juga kerap melakukan kesalahan. Saat membersihkan lemari obat di kamar bapaknya, Indra menemukan selembar uang sobek. Ia lalu bertanya di mana letak sambungan uang sobek itu pada Bapak. Seingat Bapak, uang itu kemungkinan ia dapat dari kembalian saat membeli obat di Apotek Singa. Suatu hari, Indra mendapat tugas membeli obat di apotek yang sama. Ia teringat sambungan uang sobek tempo hari.

Saat membeli obat, Indra menyampaikan soal uang sobek yang menurut bapaknya berasal dari Apotek Singa. Setelah membawa obat ke rumah, Indra keluar rumah buru-buru. Saat kembali ia membawa banyak makanan. Rupanya makanan itu ia beli dengan uang sobek yang telah ditukarnya di apotek. “… Potongan uang itu ia bawa ke Apotek Singa. Ia ingat akan kata-kata bapaknya bahwa kemungkinan besar uang sepotong itu dulu berasal dari sana. Itu sebabnya ia mengatakan bahwa uang itu ia temu di mulut singa.” (hlm 28)

Indra sempat dinasehati ibunya agar tidak lagi melakukan hal serupa. Tindakan Indra adalah kesalahan yang masuk akal. Di satu sisi ia salah karena belum tentu uang sobek itu berasal dari Apotek Singa, namun di sisi lain ia benar karena hanya mengikuti ingatan bapaknya.

Tak hanya soal tingkah Indra. Melalui buku ini Soes juga mengajarkan tentang pentingnya membaca buku bagi anak-anak. Indra diarahkan bapaknya untuk selalu membaca buku jika penasaran tentang kebenaran suatu hal, apalagi tentang sejarah. Bagi Bapak sejarah hilang ditelan waktu, namun barangkali buku mengabadikannya. Maka dari itu kita perlu membuka buku untuk mencarinya. (hlm 33)

Di tengah wacana buku-buku sastra anak yang dianggap melulu bertemakan moral baik/tidak baik, saya kira buku ini direkomendasikan untuk anak-anak maupun orang dewasa. Sambil tertawa, kita juga bisa belajar tentang ide bahwa sejak dini anak-anak bisa berpikir luas.

Pendapat Anda: