Guyonan Kaum Berjubah

Posted: 29 September 2018 by Saddam HP

Cerita Romo dan Frater (Kumpulan Dialog Satire-Jenaka)
Romo Siprianus S. Senda, Pr
Komunitas Sastra Dusun Flobamora
Juni 2018
131 hlm
Rp50.000

Saya baru beberapa bulan menerima jubah sebagai frater di Tahun Orientasi Rohani (TOR) Lo’o Damian Atambua, ketika Romo Amanche Frank (Koordinator Komunitas Sastra Dusun Flobamora) menerbitkan kumpulan humor yang diberinya judul Humor Anak Timor. Kumpulan Humor Anak Timor yang terbit pada Mei 2011 ini menandai proses berkaryanya baik sebagai penulis, maupun pencerita lisan yang ulung dan menggelitik. Buku ini tak hanya membuat orang terpingkal karena kelucuan kisah-kisahnya yang tak jauh dari lokalitas orang Timor dengan bahasa Dawan dan Melayu Kupang yang digunakan, tetapi juga karena pribadi si penulis. Kita jarang menemukan dan membaca tulisan yang lucu sama seperti ketika dikisahkan secara langsung. Sebuah kisah bisa saja lucu ketika dilisankan, tetapi kisah itu belum tentu lucu ketika hadir dalam bentuk teks. Bisa juga sebaliknya, ada orang yang dengan baik menghadirkan kisah lucu dalam teks, tapi sangat dingin ketika melisankannya. Romo Amanche berhasil menunjukkan keduanya.

Tujuh tahun kemudian, saya membaca lagi kisah jenaka yang ditulis Romo Sipri Senda; Cerita Romo dan Frater (Kumpulan Dialog Satire-Jenaka). Sama-sama tumbuh dengan kisah jenaka yang menjadi warna keseharian, Romo Sipri lebih memilih mengangkat konteks kehidupan di seminari antara romo dan frater (calon pastor) untuk ditampilkan kepada masyarakat luas. Sebelum dibukukan, kisah-kisah satire jenaka tersebut tampil sebagai status di akun Facebook penulisnya.

Setelah muncul pertama kali pada hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2017 sebagai status Facebook, Romo Sipri lantas terinspirasi untuk secara berkelanjutan menampilkan kisah jenaka dengan pesan yang luas di akhir cerita. Buku ini bercerita tentang romo dan frater, tapi kisah ini juga berpotensi berimplikasi lebih jauh kepada masyarakat luas. Di beranda Facebook, Romo Sipri juga menampilkan kisah tentang Romo dan umat dalam bentuk dialog, dan buah-buah refleksi harian biblis yang tampil dalam bentuk puisi, dengan rima, bunyi, dan metafora yang rapi.

Sama-sama diangkat oleh rohaniawan Katolik, namun kisah lucu itu berbeda konteks. Romo Amanche mengandalkan ornamen-ornamen lokalitas orang Dawan sebagai konteks yang melahirkan kisah-kisahnya. Sedangkan Romo Sipri berangkat dari kisah-kisah di seminari secara lebih spesifik dan tematis. Romo Sipri tidak mengulang-ulang kisah yang klasik, atau mengumpulkan kisah lisan lama. Romo Sipri malah menciptakan kisah yang baru.

Di seminari, setiap hari selalu ada cerita. Setiap hari adalah cerita. Di bawah pohon, di depan kios, di lopo, di kelas, bahkan di kapela. Cerita tentang panggilan menjadi pastor, tentang kuliah, tentang politik, tentang pilpres 2019, tentang keluarga kandung, keluarga angkat, dan cerita yang tak ada habisnya. Lantas apa yang masih diharapkan dari kisah jenaka ini?

Romo Sipri berhasil dengan kontinuitas cerita, kebaruan yang diusung dan konsistensi bercerita. Jarang ada orang yang membuat humor tanpa narasi, apalagi yang berkelanjutan seperti ini. Kita simak kisah jenaka Melayu Kupang. Seperti dalam Kolom ‘Tapaleuk’di Harian Umum Pos Kupang, atau rubrik ‘Kusu-kusu’ di JurnalSastra Santarang. Kisah satire ini menggunakan struktur dialog yang membuat kisah ini menjadi kuat.   Romo Sipri mengangkat tradisi lisan, dan mengolahnya secara berbeda. Semua kisah antara romo dan frater ditampilkan dalam bentuk dialog. Kenapa dialog? Saya pikir, inilah cara untuk menyampaikan gagasan dan meruncingkannya dengan pisau analisis. Kita lihat dialog-dialog cerdas dan sarkastis dalam novel-novel Eka Kurniawan. Atau dialog-dialog yang ketat dari fiksi mini Amerika Latin. Dialog ini juga ditampilkan misalnya dalam dunia filosofis. Ada dialog terkenal antara Socrates dan Plato. Dengan menggunakan dialog, kebingungan yang ada di awal bisa mendapat penyelesaian di akhir atau bahkan menimbulkan kegelisahan yang baru. Seperti bidan membantu kelahiran, dialog Socrates dengan Plato, Eutyphro, bisa juga diadopsi oleh dialog romo dan frater untuk melahirkan ide yang menggelitik, menarik dan lucu. Lihat misalnya romo dan frater bercerita tentang ‘filokalia’ dan ‘filosofia’ dalam dialog berjudul Salah Pengertian, hlm. 58 yang saya kutip secara lengkap.

Salah Pengertian
Frater : “Romo, bisa tanya ko?”
Romo : “Bisa, Frater. Mau tanya apa?”
Frater : “Kita punya majalah sastra nama Filokalia e, Romo. Itu dari bahasa apa dan artinya apa?”
Romo : “Filokalia itu dari bahasa Yunani. Filo artinya ‘cinta’. Kalia artinya ‘keindahan’. Jadi filokalia artinya ‘cinta keindahan’.”
Frater : “Paham, Romo. Ternyata itu artinya. Waaaah, luar biasa. Terima kasih, Romo.”
Romo : “Tumben kau tanya hal itu, Frater? Pasti ada sesuatu nih.”
Frater : “Ah, Romo mulai bikin diri paranormal e.”
Romo : “Hanya feeling sa. Frater.”
Frater : “Romo pung feeling selalu jitu e. Saya su tau arti filokalia jadi sekarang bisa mengerti istilah lain yang mirip.”
Romo : “Istilah apa, Frater?”
Frater : “Filosofia, Romo.”
Romo : “Kalau begitu apa artinya?”
Frater : “Filosofia artinya ‘cinta nona Sofia’ e, Romo.”
Romo : ?#$*%

72 tahun Indonesia merdeka. Masih banyak yang menciptakan pengertian sendiri tentang kebijakan publik dan menafsirkannya untuk kepentingan diri dan golongan. Merdekaaaaaa!

***

Ini fiksi. Tokoh-tokohnya fiktif. Kisahnya fiktif. Tapi fiksi selalu berasal dari konteks. Dari kehidupan nyata. Tidak jatuh dari langit. Romo dan frater adalah identitas khas katolik yang disandang oleh laki-laki yang pernah dan sedang menjalani pendidikan di seminari. Romo adalah sebutan untuk imam diosesan, untuk membedakannya dari sebutan Pater untuk imam yang berasal dari biara. Frater adalah sebutan untuk calon pastor yang sedang menempuh pendidikan di seminari tinggi. Di lembaga pendidikan seminari, kedudukan romo adalah sebagai pendidik dan frater sebagai yang dididik. Ada perbedaan yang sangat jauh di antara keduanya. Namun, relasi Romo-Frater adalah hubungan persaudaraan yang saling mengisi, bukan relasi hierarki yang kaku. Tokoh frater tidak hanya merepresentasikan dirinya sendiri, melainkan juga merepresentasikan diri kaum marjinal yang tidak tunduk pada hegemoni kekuasaan yang hierarkis yang berupaya mendobraknya dengan jalan dialog yang terus-menerus.

Lalu kenapa satire? Cerita-cerita satire ini dinarasikan oleh romo dan frater, tapi sindiran itu berimplikasi juga terhadap masyarakat luas. Romo Sipri menjadikan kisah di seminari sebagai cermin mini dari persoalan besar. Misalnya, kisah berjudul “Sakit Setnov” (hlm. 117) yang dapat dibaca sebagai suatu bentuk sindiran terhadap pemerintah. Sebab, Sakit Setnov bisa menjalar pada semua pejabat.

Pesan kisah-kisah satire ini juga dititipkan penulis pada akhir tiap dialog. Ada pesan satu-dua kalimat yang diberi garis miring. Sekalipun tanpa diakhiri dengan pesan bercetak miring, saya pun yakin kalau setiap pembaca akan bisa menarik amanat yang ada. Bedanya, amanat ini bukan untuk memberikan kesan sok moralis, tapi untuk menawarkan pesan dengan tafsiran yang lebih luas oleh pembaca. Kita pun terbuka untuk menarik amanat masing-masing dari kisah satire-jenaka dalam buku ini.

Romo Sipri menerbitkan buku ini bukan cuma sebagai sebuah catatan harian atau dokumentasi status Facebook (supaya satu status tidak tenggelam dalam ratusan status yang lain), atau upaya untuk menuliskan budaya lisan. Bagi saya, Romo Sipri adalah seorang calon pastor atau pastor yang menjadikan sastra sebagai satu bentuk pewartaan; sastra pewartaan. Sastra membantu kaum klerus menyuarakan aspirasi kaum marjinal dan mewartakan kebaikan kepada sesama. Keterlibatan pastor atau calon pastor terhadap kondisi masyarakat adalah pertanggungjawaban terhadap tugas panggilannya dan sastra menyediakan jalan untuk itu.

            Pada akhirnya, kisah-kisah humor selalu anonim. Tanpa nama, tanpa sumber yang jelas. Kita selalu membuka satu kisah dengan, “Su dengar ini cerita atau belum?” tanpa kita tahu “Siapa pengarang guyonan ini?” Bukan tak mungkin Romo Sipri menempatkan diri pada posisi ini. Sehingga ketika kita bercerita tentang sesuatu selalu ada pembanding, “Sudah dengar guyonan kaum berjubah dari Romo Sipri tentang Romo dan Frater?

Pendapat Anda: