Gentayangan: Petualangan Perempuan Bangsa Dunia Ketiga

Posted: 1 September 2018 by Sanya Dinda

Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu
Intan Paramaditha
Gramedia Pustaka Utama
Oktober 2017
460 hlm
Rp125.000

Iblis, dalam kepalamu sebelum membaca Gentayangan, adalah sesosok makhluk bangsat yang perjanjian dengannya hanya akan menimbulkan petaka. Kematian ganjil orang-orang yang kau cinta, misalnya. Namun, Gentayangan menjungkirbalikkan tatanan yang telah ditekankan padamu sejak kau baru saja bisa membaca dan sedang semangat-semangatnya menamatkan buku “Kisah 25 Nabi dan Rasul”. Iblis dalam novel ini, tetap licik, tetapi sangat, sangat manis. Ia tidak mengambil orang yang ‘Kau’–tokoh utama dalam novel ini–cinta–barangkali karena ‘Kau’ memang tak punya cukup cinta untuk orang lain–malahan menjadi budak ‘Kau’ dan memberinya sepasang sepatu merah yang bisa membuat ‘Kau’ berkelana.

‘Kau’ tidak ingin hidupnya mengikuti tradisi kebanyakan perempuan bangsa dunia ketiga dari kalangan menengah: kuliah, kerja secukupnya, kalau bisa jadi PNS saja–kalau pangkat sudah cukup tinggi, jam kerja tidak perlu selalu penuh, dengan demikian bisa mengurus anak. ‘Kau’ menginginkan petualangan. ‘Kau’ barangkali tidak akan pernah bisa mewujudkan petualangannya jika saja Iblis Kekasih yang manis tidak memberinya sepasang sepatu merah—dan uang sebagai bekal perjalanan. Apakah ‘Kau’, dan perempuan-perempuan bangsa dunia ketiga dari kalangan menengah seperti ‘Kau’, senantiasa membutuhkan makhluk semacam Iblis Kekasih untuk, katakanlah, keluar dari tradisi? Apakah makhluk yang dimaksud bisa berupa beasiswa untuk para perempuan bangsa dunia ketiga belajar di New York, dan pulang dengan ide-ide tentang kebebasan? Ya, dari sekian banyak kota indah nan menyihir di dunia, ‘Kau’ sayangnya belum bisa melepaskan diri dari kekaguman kepada ‘Barat’; ‘Kau’ kepingin ke Amerika dan Eropa.

Ada lima belas jalan cerita yang kau tempuh dalam Gentayangan. Selama itu, pensil tidak lepas dari jari-jemarimu. Kau mencatat setiap kelokan, menandainya sehingga bisa kembali jika sewaktu-waktu tersesat. Dalam perjalan-perjalanan itu, ‘Kau’ bisa bertemu berbagai macam akhir; menikah, menetap, menjadi pembunuh, dibunuh, mati, dikutuk untuk mengulang dari halaman awal, dan ‘Kau’—atau para pembaca—juga bisa menuliskan perjalanan mereka sendiri.

Di salah satu jalan, ‘Kau’ bertemu seseorang yang bercerita padanya tentang “Si Merah Salju”. Kau ingat pernah menemukan cerita yang sama hanya saja dalam bahasa yang berbeda, “Snow Red”. Kau berpikir bahwa “Snow Red” adalah penyimpangan dari “Snow White”, dongeng legendaris tentang perempuan cantik dengan kulit seputih salju. Ternyata tidak hanya itu. Si Merah Salju adalah Hekate, dewi ilmu sihir dan persimpangan jalan. Sosoknya, barangkali karena ia adalah dewi persimpangan jalan, ambivalen; ia dingin dan menjadi pertanda ke-‘gila’-an Ismail sebelum bunuh diri di satu bagian, tetapi menjadi ramah ketika muncul di bagian yang lain.

Pada jalan yang lain, ‘Kau’ menikahi seorang laki-laki bernama Bob yang kemudian hilang. Hilangnya Bob mengantarkanmu pada “Klub Solidaritas Suami Hilang”. Dalam klub itu, para perempuan (dan laki-laki) yang kehilangan suami dari berbagai macam negara berkumpul. Cerita yang sama sebetulnya telah dipublikasikan pada tahun 2012. Dengan demikian, Gentayangan bagimu lebih seperti bongkar-pasang cerita daripada novel. Sebab barangkali hanya dengan cara itu penulisnya mampu menyampaikan sebanyak mungkin informasi; tentang dongeng-dongeng klasik, politik, musik, sejarah, film. Gentayangan, kau berpikir kemudian, sebagaimana karya-karya Intan Paramaditha lainnya, diciptakan untuk para pembaca sastra yang tidak hanya membaca untuk mendapatkan motivasi sehingga dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi atau beli baju baru saban lebaran. Gentayangan ditujukan–ini pikiran kau saja, dan orang lain boleh tidak sepakat–untuk orang-orang yang mau melakukan perjalanan, meninggalkan zona nyaman, bertemu dan membuka diri untuk ‘liyan’; untuk segala sesuatu di luar diri sendiri, juga untuk gagasan yang 180 derajat berbeda dari gagasan yang selama ini diyakini.

Pendapat Anda: