10 Alinea bersama Gaspar

Posted: 21 June 2017 by Andreas Nova

gaspar
24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif Book Cover 24 Jam Bersama Gaspar: Sebuah Cerita Detektif
Sabda Armandio
Buku Mojok
2017
Paperback
228
60000

Tiga lelaki, tiga perempuan, dan satu motor berencana merampok toko emas. Semua karena sebuah kotak hitam.

 

 

“Katanya, dari beberapa novel detektif yang dibacanya, ia menarik kesimpulan: untuk membuat cerita detektif, kau harus mahir membuat orang kebingungan. Dan dengan kesigapan serupa Yesus, tokoh detektifmu datang menjadi juru selamat untuk mengurai kebingungan yang kau buat dan memberikan penjelasan-penjelasan masuk akal yang kadang tidak memuaskan pembacamu, tetapi mereka merasa senang karena telah berhasil keluar dari kebingungan.” (hlm. 125)

Frase “Sebuah Cerita Detektif” yang disematkan di bawah judul 24 Jam Bersama Gaspar menarik perhatian saya untuk membaca novel kedua Sabda Armandio ini—selain embel-embel “Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016”. Cerita detektif merupakan salah satu genre yang saya gemari. Semasa kecil, saya bertualang dan memecahkan misteri bersama Lima Sekawan, Sapta Siaga, Pasukan Mau Tahu dalam karya-karya Enid Blyton. Menginjak remaja, saya menghabiskan waktu bersama Trio Detektif, Conan Edogawa, dan Hajime Kindaichi. Saya terlebih dahulu mengenal duet Kosasih dan Gozali dalam karya-karya S. Mara GD, sebelum akhirnya mengenal dua ikon cerita detektif: Sherlock Holmes dan Hercule Poirot.

“Sebuah Cerita Detektif” menjadi frase yang sangat menarik karena jarang sekali penulis Indonesia yang menggarap genre ini. Hal itu saya anggap wajar karena kisah detektif lokal sangat susah dibawakan secara nyata—peran detektif dibedakan dari peran polisi seperti cerita detektif luar negeri, karena hukum di Indonesia tidak melegalkan profesi detektif. Formula karakter Kosasih, yang seorang Kapten Polisi, dan Gozali, yang merupakan mantan narapidana tapi memiliki kemampuan setara detektif, dalam karya-karya S. Mara GD masih menjadi formulasi yang pas bagi saya untuk narasi detektif klasik berlatar Indonesia. Ruwi Meita, dalam Misteri Patung Garam, menggunakan formula yang sedikit berbeda dengan menempatkan Kiri Lamari sang tokoh utama dalam peran detektif sekaligus polisi. Frase tersebut memancing rasa ingin-tahu saya untuk menjawab apakah Sabda Armandio menggunakan formula yang serupa, atau memodifikasi formula yang sudah ada. Terlepas dari semua itu, saya memiliki ekspektasi untuk memuaskan kerinduan terhadap sebuah cerita detektif berlatar lokal yang sudah cukup lama absen tertelan genre romantis.

Di luar dugaan, ekspektasi saya untuk memuaskan kerinduan terhadap sebuah cerita detektif konvensional justru buyar ketika membaca halaman demi halaman novel ini. Jika kisah Sherlock Holmes dan Hercule Poirot menjadi semacam konvensi tak tertulis untuk model narasi detektif, maka kisah Gaspar melakukan pendobrakan terhadap konvensi tersebut. Lalu, masihkah pantas novel 24 Jam Bersama Gaspar ini disebut sebuah kisah detektif jika ia tidak menaati konvensi kisah detektif?

Umumnya, sebuah cerita detektif memiliki satu tokoh sentral yang berperan sebagai detektif. Namun sampai lebih dari separoh cerita, saya sebenarnya masih bingung, siapa yang memegang peran detektif dalam kisah ini. Gaspar yang merupakan tokoh sentral, sedari awal mengutarakan niatnya untuk merampok toko emas milik Wan Ali dalam waktu 24 jam ke depan tanpa persiapan, dan bahkan ia belum mengumpulkan komplotan untuk melaksanakan niatnya. Tokoh utama sebuah cerita detektif memang terkadang tidak digambarkan sempurna. Sherlock Holmes digambarkan memiliki ketergantungan pada narkotika, Gozali digambarkan memiliki masa lalu kelam sebagai seorang kriminal. Namun baru di novel ini saya menemukan cerita detektif yang tokoh utamanya malah memiliki niat jahat.

Niat jahat ini tidak sekadar diutarakan dari awal. Deskripsi tokoh Gaspar dibentuk untuk membuat pembaca bingung memilih, apakah Gaspar adalah seorang protagonis ataukah antagonis. Sabda Armandio pun meramu deskripsi tokoh Gaspar dengan kalimat-kalimat yang menarik:

Aku adalah ia yang diceritakan naga-naga dewasa kepada anak-anak mereka agar cepat tidur, “Atau ia akan mendatangimu”. Dulu Kim Il Sung menyebut namaku beserta segala kemampuanku untuk menghentikan rengekan Kim Jong Il kecil.” (hal. 1)

Garang bukan? Tentu saja, karena Gaspar adalah amunisi utama cerita ini. Karakter Gaspar yang sangat kuat ini diseimbangkan oleh lima orang lain—dan satu motor— yang menjadi komplotan Gaspar dalam rencananya merampok toko emas milik Wan Ali. Karakter Gaspar menjadi tandon bagi sinisme dan sarkasme yang diluapkan oleh Sabda Armandio dengan baik, tidak berlebihan, mengingat karakter Gaspar yang memang dibuat seperti itu.

Dialog dalam novel ini seolah seperti monolog, bergumam tak karuan, penuh dengan humor sarkas namun berbobot dalam membawa gagasan-gagasannya. Kalimat-kalimat sinis dan sarkas dari Gaspar tentang kejahatan dan kebaikan menjadi penggerak berjalannya narasi kisah Gaspar. Baginya, kebaikan yang selalu menang adalah konyol. Karena banyak orang yang memiliki kecenderungan menjadi jahat dan mencari pembenaran-pembenaran akan kejahatan yang dibuatnya.

“Ingat, Sahabat, tiada yang lebih berbahaya selain cerita yang memaksamu percaya bahwa kebaikan selalu mengalahkan kejahatan, sebab ia akan membuatmu tumpul dan zalim.” (hal. i)

 

Kisah Gaspar dilajukan dalam dua alur pararel yang saling melengkapi. Alur pertama menceritakan bagaimana Gaspar membentuk komplotan dadakan yang masih masih meragukan rencana perampokan yang absurd sampai perampokan itu sendiri terjadi. Alur kedua adalah alur wawancara polisi dengan nenek-nenek pikun nan nyinyir. Alih-alih seperti kisah detektif yang dibawakan dengan serius, kedua alur tersebut dibawakan seperti orang yang bermain-main, terkesan tidak matang tapi konsisten. Kedua alur yang sepertinya tidak menyambung ini justru saling melengkapi dan membangun misteri dan ketegangan yang membuatnya tetap pantas disebut sebagai sebuah cerita detektif.

Penulisnya tak mendongengkan kisah detektif yang heroik, yang menyingkap misteri melalui petunjuk-petunjuk yang ditemukannya. Tokoh utamanya malah bercerita tentang dirinya sendiri dan rencana jahatnya. Tidak ada detil-detil penyelidikan seperti halnya cerita detektif klasik. Hal-hal tersebut disamarkan dalam narasi dan baru dibeberkan di akhir cerita. Hal-hal yang biasanya ada di sebuah cerita detektif konvensional nampaknya tidak berlaku bagi Gaspar. Tak heran Dewan Juri Sayembara Menulis Novel DKJ 2016 menyebut novel kedua Sabda Armandio ini sebagai kritik atas konvensi cerita detektif.

Membaca novel ini seperti saya merasa memainkan game Grand Theft Auto: Vice City. Entah mengapa dari semua game GTA yang pernah saya mainkan, saya merasakan seri keenam dari GTA ini  menjadi yang paling dekat dengan Gaspar. Mungkin karena di game ini pertama kalinya tokoh utama bisa mengendarai sepeda motor. Terlintas di kepala saya, tokoh utama GTA selalu merupakan penjahat, namun karena saya yang memainkannya, semua hal yang ia lakukan di dalam dunianya adalah benar. Saya bahkan mencari pembenaran atas kejahatan yang saya lakukan di dalam sebuah permainan. Aneh, bukan? Jahat ya jahat saja, tidak perlu mencari pembenaran.

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *