[Ngibul #94] Tidak Tahu ≠ Goblok

Posted: 7 January 2019 by Asef Saeful Anwar

“…guoblok tenan!” Itu ekor kalimat yang sempat nyambar telinga Dul Kibul ketika akan duduk di bangku panjang warung burjo Kabita di depan kosnya. “Siapa yang goblok?” timpalnya sebelum meminta Aa Ujang mengambilkan piring. “Itu lho, mosok  wudlu dari air segayung ngono kuwi.” sela Lik Narto, menghisap rokok seven-six-nya, menghembuskan asapnya,…

Read more

[Ngibul #83] Sajadah Merah

Posted: 15 October 2018

Dul Kibul tengah menulis naskah dengan nama pena Syaiful Anwar, itu artinya ia sedang membuat tulisan yang berkaitan dengan agama. Dari judulnya saja sudah terlihat: Sajadah Merah. Apakah ia akan menulis cerpen atau artikel? Coba kita tengok paragraf kedua tulisannya: Semua orang yang pernah menggunakan sajadah hampir semuanya dalam rangka…

[Ngibul #78] Kekiri-kirian, Kengeri-ngerian

Posted: 3 September 2018

Malam. Bulan separuh, seperti judul lagu dangdut yang tersiar dari radio Marbakat. Marbakat melihat Dul Kibul berjalan ke arah rumahnya. Ia terpaksa matikan suara Lilis Karlina dari radionya, menyambut kawannya itu. “Barusan aku selesai nulis tentang tanda-tanda kebangkitan komunis di Indonesia,” kata Dul Kibul kepada Marbakat sambil memberikan kantong kresek….

[Ngibul #73] Dul Kibul Pengen Sekolah Lagi

Posted: 23 July 2018

Dul Kibul termenung cukup lama. Pesanan naskah drama untuk anak SMP dari seorang kepala sekolah malah ditelantarkannya. Jiwa sentimentalisnya yang kritis itu malah terbawa pada kenangan masa kecilnya. Tiba-tiba ia pengen sekolah lagi. Ya, Dul Kibul pengen sekolah lagi. Ia ingin kembali menyaksikan bagaimana bel yang berdentang mampu mengubah Pak…

Daging dimasak enak

[Ngibul #68] ‘Afiat

Posted: 4 June 2018

“Pada suatu siang yang terik dan panas,” demikian ustaz muda kita memulai ceritanya setelah membuka kultum dengan salam, sapa, syukur, dan selawat, “salah seorang panglima perang Khalifah Bani Umayyah, yaitu Al-Hajjaj bin Yusuf, meminta kepada pengawalnya untuk mengajak seseorang, siapa saja yang ditemuinya yang bukan bawahannya, menghadap kepadanya. Maka, dipanggil-lah…

[Ngibul #62] Pendidikan Membenci Bangsanya Sendiri

Posted: 23 April 2018

“Ada beberapakah di antara Engku-Engku yang ada di sini, yang sudah bersekolah pemerintah? Tahukah Engku-Engku akan maksud sekolah itu? Supaya anak-anak kita suka kepadanya dan benci kepada bangsanya sendiri.”   Perkataan itu keluar dari mulut si antagonis bernama Datuk Meringgih dalam novel Sitti Nurbaya karangan Marah Roesli. Semasa kecil saya…