Menampilkan Seluruh Sastra Inggris UGM dalam “Queen at Last, Beyond the Folktale of Lutung Kasarung”

Posted: 18 November 2017 by Redaksi Kibul

Indonesia punya berjibun cerita rakyat dan Lutung Kasarung adalah salah satunya. Kisah rakyat asal Sunda tersebut baru saja dipentaskan dalam teater musikal berjudul “Queen at Last, Beyond the Folktale of Lutung Kasarung” yang diselenggarakan jurusan Sastra Inggris UGM pada 12 November 2017, bertempat di Concert Hall, Taman Budaya Yogyakarta.

Lutung Kasarung sebenarnya memiliki cerita yang agak unik. Tak sebagaimana kebanyakan cerita rakyat yang menampilkan judul sebagai lakon utama, Lutung Kasarung justru lebih banyak menceritakan hubungan persaudaraan Purbasari-Purbararang, dua putri dari seorang raja bernama Prabu Tapak Agung. Alkisah, Prabu Tapak Agung yang sudah berada dalam usia bau tanah berniat untuk mewariskan tahtanya kepada salah satu putrinya. Akan tetapi, pilihan Prabu Tapak Agung justru jatuh ke Purbarasari, putri bungsunya. Hal tersebut menjadi plot yang kemudian membuat Purbararang bekerjasama dengan tunangannya, Indra Jaya, untuk membuat Purbasari terkena penyakit kulit dan diusir ke hutan. Maka, di hutanlah Purbasari bertemu Lutung Kasarung, monyet cerdas yang pandai ngomong dan kesengsem padanya. Lutung pun berusaha mengobati penyakit Purbasari dan membantu Purbasari merebut kembali tahta kerajaan dari Purbararang, kakaknya.

Jika kebanyakan teater Lutung Kasarung menampilkan sosok Purbasari sebagai adik yang baik, lugu dan—tentu saja— agak bloon sementara Purbararang adalah kakak yang hasad, sentimen, dan penuh siasat-, maka Queen at Last mencoba keluar dari pakem sinetron tersebut. Dalam Queen at Last, sosok kakak beradik ini ditampilkan dengan lebih manusiawi. Purbasari adalah gadis muda yang ceria, centil, dan heboh, sementara kakaknya ditampilkan sebagai sosok yang penuh kasih dan perhatian pada adiknya. Penokohan ini tentu nampak masuk akal. Dua kakak-beradik perempuan yang tinggal seatap sedari kecil lebih sering memiliki hubungan yang akrab dibanding seperti tikus dan kucing. Selain itu, teater ini juga menampilkan Purbararang yang penuh rasa bimbang. Ia justru diceritakan terus menyesal dan galau sendiri setelah berhasil mengusir Purbasari ke dalam hutan.

Penokohan yang keluar dari pakem sebagaimana dijelaskan di atas membuat Queen at Last cukup seru untuk dinikmati. Interpretasi yang berbeda menunjukkan bahwa teater ini memang dibangun dengan kreativitas. Namun itu saja tak cukup. Sebuah teater musikal yang bagus membutuhkan beragam faktor untuk membuatnya tidak membosankan. Musik yang bagus, nyanyian yang enak didengar, dan tarian yang asyik adalah syarat yang tak boleh ditinggalkan. Queen at Last beruntung. Sebab teater ini diselenggarakan oleh jurusan Sastra Inggris UGM, jurusan yang sejak lama telah memiliki Terasi (Teater Sastra Inggris), Icety (Komunitas Tari), Kombantrin (Komunitas Musik dan Band), dan Prasasti (Komunitas Musik Jawa/Gamelan). Keempat komunitas tersebut mampu menyajikan perpaduan instrumen gamelan dan instrumen modern yang selaras, lagu-lagu disney yang dinyanyikan dengan centil namun menggairahkan, dan tarian tradisional maupun kontemporer yang tidak kaku sehingga enak ditonton. Pada malam tersebut, Queen at Last benar-benar mampu menampilkan seluruh Sastra Inggris UGM dalam satu panggung.

Malam itu Queen at Last juga memiliki satu faktor X yang sangat ampuh dalam membuat penonton lupa dari rasa jenuh, yaitu humor. Siapa saja yang menonton Queen at Last sepertinya akan mengamini bahwa teater ini telah menghadirkan humor yang sangat mengocok perut. Humor tersebut sebenarnya berada dan terpusat hanya dalam satu tokoh saja. Ia adalah sosok Sloth, hewan yang diceritakan sebagai salah satu kawan dari Lutung Kasarung di hutan. Sloth, sebagaimana kita tahu, adalah hewan yang dijuluki sebagai hewan terlambat di dunia. Bayangkan saja, hewan yang dikenal hanya bergerak kurang dari 50 langkah dalam sehari namun bisa tidur 15-20 jam ini ditampilkan bersama tokoh Ayam, Kucing, Lutung, dan Babi yang punya gerakan tubuh yang cepat. Maka Queen at Last pun menjadikan hewan yang “diimpor” dari Amerika Selatan ini sebagai bahan humor yang tidak ada habisnya. Fragmen pertama munculnya Sloth saja sudah sukses memancing tawa. Fragmen tersebut menceritakan masuknya hewan-hewan ke dalam panggung satu per satu dengan gerakan atraktif dan gagah-gagahan. Fragmen ini kemudian diakhiri dengan munculnya satu hewan bertubuh coklat besar yang berjalan sangat-sangat lambat hingga membuat hewan lain nampak kesal dan ikut menariknya. Fragmen ini selain sukses membuat penonton terbahak juga membuat penonton langsung mencintai tokoh hewan berkuku tiga tersebut. Selain itu, fragmen yang paling membuat tawa pecah adalah ketika tokoh Sloth ikut dalam salah satu tarian broadway dengan tempo yang cepat. Sementara para penari lain sudah menyelesaikan lebih dari lima macam gerakan, tokoh Sloth masih saja belum kelar mengangkat tangannya.

Queen at Last jelas bukan berarti tanpa kekurangan. Salah satu dari kekurangan tersebut adalah pemeran Lutung Kasarung yang mampu menampilkan performa jempolan bin jempolan ketika menjadi Lutung namun seperti kehilangan pesona ketika berubah menjadi manusia—baca: pangeran. Ketika masih menjadi Lutung, ia mampu melakukan gerakan berjalan empat kaki, melompat tinggi, atau menggaruk-garuk kepala dengan sangat luwes yang mengingatkan kita pada sosok Sun Go Kong saat masih di gunung Huaguo. Tetapi begitu menjadi manusia, ia justru menjadi begitu canggung dan kehilangan wibawanya. Jangan lupa ketika ia terpeleset saat adegan bertarung dengan Indrajaya. Adegan terpeleset tersebut jelas membuat adegan pertarungan yang masih ala kadarnya itu menjadi semakin kurang gagah dan membuat sang lakon menjadi kurang jatmika. Kostum Pangeran yang bersayap seperti Batman dan Panji Manusia Milenium pun membuat adegan pertarungan terakhir lebih membuat penonton ketar-ketir jika sang lakon terpeleset kostumnya sendiri. Dan itu memang benar terjadi. Akan tetapi, terlepas dari berbagai kekurangan yang ada, Queen at Last benar-benar sukses menjadi tontonan yang menghibur dan menyenangkan. Lebih dari itu, Queen at Last juga berhasil membuktikan bahwa pentas acara jurusan, lebih-lebih jurusan non-teater, nyatanya tak selalu berakhir dengan medioker dan semenjana.

 

* Teks: Bagus Panuntun
Foto: Dokumentasi Panitia
Kibul adalah media partner dalam rangkaian acara English Day UGM 2017

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *