Peluncuran Buku Mata Khatulistiwa: Antologi Puisi Penyair Nusantara

Posted: 9 November 2018 by Redaksi Kibul

Lembaga Seni dan Sastra Reboeng bekerja sama dengan Kadipaten Pakualaman menggelar acara peluncuran buku Mata Khatulistiwa: Antologi Puisi Penyair Nusantara. Acara ini akan diselenggarakan pada Sabtu, 10 November 2018 pukul 18.00-21.00 di Pendapa Kepatihan Pakualaman (Akper Notokusumo), Jalan Masjid Pakualaman 5 Yogyakarta. Dalam acara ini akan hadir para penyair yang puisinya terhimpun dalam buku Mata Khatulistiwa, yakni Nermi Silaban, Indrian Koto, Irwan Segara, Kedung Darma Romansha, Dedet Setiadi, Mario F. Lawi, dan Bustan Basir Maras. Selain itu akan hadir sejumlah tokoh yang akan mengapresiasi terbitnya buku setebal 474 halaman ini dengan membaca puisi, antara lain Ganjar Pranowo, Nusyirwan Soejono, Sri Surya Widati, Dwikorita Karnawati, Paripurna, Sri Adiningsih, Sitoresmi Prabuningrat, Butet Kartaredjasa, Iman Budhi Santosa, Landung Simatupang, dan Hamdy Salad. Sebuah tembang macapat juga akan disajikan dalam acara ini oleh Muhammad Bagus Febrianto. Selain itu akan ditampilkan reportoar musik, pertama oleh Teater Eska yang akan menyajikan tiga reportoar musik puisi dari tiga penyair dalam buku Mata Khatulistiwa. Kedua, Jejak Imaji yang akan menyajikan musik puisi karya Nana Ernawati. Ketiga, Serat Djiwa akan menyajikan komposisi instrumentalia musik etnik dari berbagai daerah di Nusantara merespons keanekaragaman puisi dalam buku Mata Khatulistiwa. Acara ini akan dipandu oleh Labibah Zain.

“Lembaga Seni dan Sastra Reboeng dengan bangga mempersembahkan buku Mata Khatulistiwa: Antologi Puisi Penyair Nusantara. Buku ini merupakan perwujudan kesadaran bahwa Negara Kesatuan Repulik Indonesia kaya akan keragaman nilai budaya dan tata kehidupan di masing-masing daerah. Sudah selayaknya manakala masing-masing suku bangsa dan generasi muda di Indonesia melakukan pengenalan dan pembelajaran terhadap nilai-nilai budaya sebangsa setanah air untuk merekatkan kebersamaan dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Buku ini merupakan karya kecil bagi masyarakat sastra Indonesia dalam rangka memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-73,” ujar Nana Ernawati, Direktur Lembaga Seni dan Sastra Reboeng.

            Nana Ernawati menambahkan, “Buku Mata Khatulistiwa: Antologi Puisi Penyair Nusantara disusun oleh Iman Budhi Santosa, Nana Ernawati, Nurul Ilmi Elbana, dan Latief S. Nugraha. Para penyair dari penjuru tanah air yang puisinya dihimpun dalam buku tersebut ialah Fikar W. Eda dan Salman Yoga S.  dari Provinsi Aceh, Nermi Silaban dari Provinsi Sumatra Utara, Ahlul Hukmi  dan Marhalim Zaini  dari Provinsi Riau,  Taufik Ikram Jamil dan Yuanda Isha dari Provinsi Kepulauan Riau,  Jumardi Putra  dan Rini Febriani Hauri dari Provinsi Jambi,  Deddy Arsya, Esha Tegar Putra, dan Indrian Koto dari Provinsi Sumatra Barat, Mohammad Arfani dari Provinsi Sumatra Selatan, Valentina Edellwiz Edwar dari Provinsi Bengkulu,  Iqbal H. Saputra dan Sunlie Thomas Alexander dari Provinsi Bangka Belitung, Udo Z. Karzi dari Provinsi Lampung, Irwan Segara dan Muhammad Rois Rinaldi  dari Provinsi Banten,  Afrizal Malna, Chairil Gibran Ramadhan, dan Zeffry Alkatiri dari DKI Jakarta,  Acep Zamzam Noor, Kedung Darma Romansha, dan Soni Farid Maulana  dari Provinsi Jawa Barat, Arif Hidayat, Dedet Setiadi, Triyanto Triwikromo dari Provinsi Jawa Tengah,  Hasta Indriyana, Latief S. Nugraha, dan Nana Ernawati dari Daerah Istimewa Yogyakarta,  Dadang Ari Murtono, M. Faizi, Mashuri, Nurul Ilmi Elbana dari Provinsi Jawa Timur,  Ni Made Purnamasari dan Wayan Jengki Sunarta dari Provinsi Bali,  Fitri Rachmawati dan Kiki Sulistyo dari Provinsi Nusa Tenggara Barat, Imelda Oliva Wissang dan Mario F. Lawi dari Provinsi Nusa Tenggara Timur, Hudan Nur dari Provinsi Kalimantan Selatan, Arbendi I. Tue dari Provinsi Kalimantan Tengah,  Imam Budiman dari Provinsi Kalimantan Timur, Aslan Abidin dan Dalasari Pera dari Provinsi Sulawesi Selatan Ilham Q. Moehiddin dan Syaifuddin Gani dari Provinsi Sulawesi Tenggara Bustan Basir Maras dari Provinsi Sulawesi Barat, Jamil Massa dari Provinsi Gorontalo, Dino Umahuk dari Provinsi Maluku Utara, Mariana Lewier dari Provinsi Maluku, Aleks Giyai, Alfrida V. P. Yamanop, dan Gody Usnaat dari Provinsi Papua.”

Buku tersebut menghimpun puisi karya 55 penyair Nusantara dengan catatan penutup yang ditulis oleh Kris Budiman. Puisi-puisi dalam buku ini menunjukkan karakter bangsa dan kekayaan setiap jengkal tanah bumi Indonesia. Nilai-nilai lokalitas dari berbagai daerah disajikan oleh para penyair dalam buku ini. Agaknya buku ini menjadi buku pertama yang hadir di Indonesia dengan konsep mempersatukan puisi-puisi karya penyair di Indonesia dengan tema khusus yakni nilai-nilai kedaerahan kampung halaman para penyair. “Kenapa buku ini diterbitkan dan diluncurkan di Yogyakarta? Karena Daerah Istimewa Yogyakarta dipandang dan dikenal luas sebagai kawah candradimuka lahirnya para sastrawan terkemuka di Indonesia. Tidak sedikit sastrawan dari berbagai daerah di Indonesia lahir sebagai penyair di daerah istimewa ini. Sejumlah penyair yang puisinya terhimpun dalam buku ini pernah dan tengah bertungkus lumus melakukan proses kreatifnya berpuisi di Yogyakarta. Oleh karena itu, Lembaga Seni dan Sastra Reboeng merasa memiliki keyakinan bahwa acara peluncuran buku Mata Khatulistiwa: Antologi Puisi Penyair Nusantara ini mesti diselenggarakan di Yogyakarta,” pungkas Nana Ernawati.

Pendapat Anda: