Pameran Lukisan Amor Fati in Absentia: Mencintai Ketiadaan Yang Hadir

Posted: 23 March 2017 by Andreas Nova

pameran lukisan amor fati

Melihat pameran lukisan adalah hal yang jarang saya lakukan. Sebagai lulusan jurusan sastra yang tersesat dalam rimba teknologi informasi, saya lebih sering mengunjungi pameran gawai. Namun kali ini saya memberanikan diri untuk mengunjungi pameran lukisan Amor Fati In Absentia yang diadakan oleh Seruni Art Management di Green Art Space – Greenhost Boutique Hotel di Jalan Prawirotaman II no 629 Brontokusuman, Mergangsan, Yogyakarta. Karya yang dipamerkan di ruang tersebut adalah lukisan karya dua pelukis, Wara Anindyah dan Seruni Bodjawati, yang terinspirasi dari kumpulan cerpen Amor Fati: Cinta Yang Nihil karya Ratu Pandan Wangi yang akan diluncurkan bersamaan dengan penutupan pameran tersebut tanggal 7 April 2017.

Sebenarnya cukup disayangkan karena suatu hal saya tidak bisa menghadiri pembukaan pameran Amor Fati in Absentia yang diadakan 7 Maret 2017. Pameran tersebut dibuka oleh Elisabeth Inandiak, wartawati, penerjemah sekaligus sastrawati kebangsaan Prancis yang memiliki minat terhadap sastra jawa, terutamanya dari era Sastra Jawa Baru. Karya monumentalnya adalah penerjemahan Serat Centini ke dalam bahasa Perancis dengan judul Les Chants de l’île à dormir debout – Le Livre de Centhini (2002), yang membuatnya menerima Prix littéraire de l’Asie (“Penghargaan sastra Asia”) pada tahun 2003 dari Perhimpunan Sastrawan Berbahasa Prancis (Association des écrivains de langue française).

Amor Fati in Absentia, berasal dari dua frase bahasa latin. Amor Fati yang berarti cinta kepada takdir. Paham ini dipopulerkan oleh filsuf terkenal, Friederich Nietzsche. Sementara itu, in absentia adalah istilah bahasa Latin yang secara harfiah berarti “dengan ketidakhadiran”; ketiadaan.

Saya mengunjungi pameran lukisan tersebut pada hari ketiga setelah pameran dibuka. Lukisan-lukisan tersebut dipajang mengelilingi kolam renang yang terletak beberapa meter dari pintu masuk hotel. Ada lima belas lukisan yang dipamerkan di Green Art Space. Sepuluh lukisan karya Wara Anindyah dan lima lukisan karya Seruni Bodjawati. Lukisan Wara Anindyah diletakkan di sisi barat kolam renang. Sedangkan lukisan karya Seruni Bodjawati dipamerkan di sisi timur sebelah selatan.

Meskipun kedua pelukis ini memiliki hubungan yang dekat —Seruni Bodjawati —juga Ratu Pandan Wangi— adalah putri dari Wara Anindyah, Mereka memiliki gaya yang berbeda dalam lukisannya. Seruni berani memainkan warna —mengingatkan saya pada gaya psikedelik yang tren di tahun 1960-an. Ia menghadirkan obyek-obyek dalam lukisannya secara intens dan dramatis. Sementara Bu Wara lebih memiliki kedalaman makna, dengan pilihan warna hitam putih, atau memainkan warna pastel. Dalam beberapa lukisan saya merasakan masuk ke dalam dunia yang hampir mirip dengan imajinasi Tim Burton namun dalam versi oriental.

Masuk melalui jalur sebelah barat, saya disambut sebuah lukisan dan kata pengantar mengenai pameran lukisan tersebut dari Green Art Space. Beranjak ke selatan, terdapat dua lukisan berjudul Penantian dan Misteri Hutan Cinta. Lukisan yang saya sebut terakhir ini merupakan lukisan berukuran 50cm x 40cm yang dibuat dengan cat akrilik pada kanvas. Lukisan ini menggambarkan sesosok perempuan —kemungkinan adalah seorang ventriloquis— mencium bonekanya dengan latar belakang hutan yang suram. Seolah lukisan ini menggambarkan cinta pada sebuah benda yang tak memiliki nyawa.

Di panel sebelahnya terpampang dua lukisan lagi berjudul Hubungan Gelap dan Cinta Yang Nihil. Lukisan Cinta Yang Nihil ini adalah pemaknaan dari tajuk pameran lukisan ini. Lukisan tersebut menggambarkan seorang laki-laki yang memeluk seorang perempuan yang mengenakan gaun pengantin. Namun perempuan tersebut digambarkan seperti sesosok mayat tanpa kulit, ototnya yang merah dan kulitnya yang masih nampak terlihat pucat. Seolah si laki-laki memeluk boneka anatomi yang biasa ada di laboratorium biologi dengan latar belakang padang hijau, namun dibelakangnya bergulung mendung yang membuat suasana kelam.

Panel berikutnya terpampang satu lukisan berukuran 30cm x 22cm berjudul Perselingkuhan, dan sebuah lukisan besar berukuran 150cm x 120cm berjudul Konfigurasi Kekuatan Hati. Lukisan ini sangat menarik karena dibuat dengan tinta cina pada kanvas. Pemilihan warna monochrome tidak membuat lukisan ini membosankan, malah menurut saya menjadi menarik. Lukisan ini memadukan sosok yang ada dalam kartu remi, King of Hearts, Queen of Clubs, King of Spade, dan Queen of Diamond, dengan ornamen naga dan phoenix di antara sosok-sosok tersebut.

Panel di selatannya berisi empat lukisan yaitu Pelindung Kesucian, Romansa di Taman Hati, Senja di Musim Gugur, dan The Warmth of Family. Empat lukisan berukuran 50cm x 40cm itu terbuat dari tinta cina pada kanvas. Lukisan-lukisan ini merupakan ciri khas dari Wara Anindyah yang sering menghadirkan budaya Tionghoa pada lukisannya. Jika beberapa lukisan sebelumnya berwarna pastel namun berkesan suram, di sini justru sebaliknya. Warna hitam putih, namun nampak terlihat suasana gembira yang diekspresikan dalam lukisan tersebut.

Panel terakhir yang menghadap ke utara menampilkan lukisan berjudul Forbidden Love dengan ukuran paling besar, 200cm x 140cm. Ukurannya yang besar dan posisinya yang menghadap ke arah pengunjung yang masuk membuat lukisan ini seolah dihadirkan sebagai fokus pameran lukisan ini. Lukisan ini menggambarkan cinta yang terlarang —seperti judulnya— antara dua orang perempuan berkulit hitam. Mungkin jika ada atribut agama yang berbeda dalam lukisan akan menjadikan pasangan yang ada dalam lukisan ini menjadi pasangan yang akan sangat susah disatukan secara legal di Indonesia. Sudah sejenis, ras minoritas, beda agama pula.

Sebelum menuju ke sisi timur —area lukisan Seruni Bodjawati dipamerkan— Saya sempat mengobrol dengan Mas Nico dan Mbak Santi dari Seruni Art Management sembari mengisi lembar testimonial. Saya sempat menanyakan mengapa hanya terpasang lima belas lukisan dari enam belas lukisan seperti yang tertulis dalam press release. Satu lukisan Seruni Bodjawati yang berjudul Javanese Tree of Life memang tidak terpasang karena keterbatasan ruang. Sebagian besar lukisan adalah lukisan lama, tercatat hanya lima lukisan yang dilukis pada tahun ini.

Selepas mengobrol dengan mereka, saya meneruskan melihat lukisan Seruni Bodjawati di area sebelah timur. Hanya ada lima lukisan yang dipamerkan, namun rata-rata berukuran besar lebih dari 100cm. di sisi yang menghadap ke selatan terpampang tiga lukisan; Badai Rindu, Memoirs of Love, dan Episode Bulan Merah Jambu. Lukisan Badai Rindu didominasi warna biru pekat, seolah rindu yang berkecamuk di dalam diri.

Memoirs of Love yang dibuat dengan memadukan kolase dan cat akrilik pada kanvas dipenuhi dengan motif mata yang menggambarkan sosok filantrofi asal Yogyakarta, dr. Yap Hong Tjoen di masa pra kemerdekaan. Lukisan Episode Bulan Merah Jambu didominasi warna merah yang gelap, menggambarkan sepasang perempuan dan laki-laki yang menggunakan pakaian ala Dinasti Qing. Seruni menggambarkan Kaisar Terakhir Pu Yi yang mengalami episode-episode kehidupan yang dramatis.

Pada sisi yang menghadap ke barat, terpampang dua lukisan besar yang menjadi fokus karya Seruni Bodjawati dalam pameran lukisan ini. A Star is Born adalah lukisan yang pertama. Lukisan yang menggambarkan Salvador Dali dan istrinya Elena Ivanovna Diakonova, atau lebih dikenal dengan Gala Dali. Karya Seruni Bodjawati ini menggambarkan karya-karya Dali yang banyak terinspirasi dari istrinya.

Lukisan terakhir adalah Dunia Senyap Frida Kahlo. Karya yang dihasilkan pada tahun 2014 ini menggambarkan pelukis berkebangsaan Mexico, Frida Kahlo yang selalu diwarnai dengan berbagai konflik menegangkan antara hidup dan mati. Warna-warna mencolok di lukisan ini seolah menggambarkan sejarah hidupnya yang penuh gelombang, namun tetap mencintai hidupnya yang penuh ketidaksempurnaan.

Pemaknaan akan karya-karya tersebut tentu saja akan lebih lengkap jika membaca kumpulan cerpen Amor Fati; Cinta yang Nihil karya Ratu Pandan Wangi. Namun, bukan berarti lukisan tersebut tidak bisa dimaknai tanpa membacanya. Lukisan-lukisan yang dipamerkan banyak membawa pembongkaran gagasan mengenai keberadaan cinta dalam konteks kontemporer. Tema pameran yang filosofis, lukisan yang surealis, dan warna-warna yang magis merupakan kombinasi yang ternyata menarik.

 

 

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *