Menyimak Cara Kerja Aan Mansyur

Posted: 16 November 2017 by Redaksi Kibul

Saat kecil ia berpikir bahwa manusia adalah makhluk paling membosankan. Pikiran ini membuatnya malas bergaul. Ia tidak pernah meninggalkan rumah, dan dengan keluarga pun ia jarang mengobrol. Kepada ibunya ia justru suka menulis surat, begitu pun kepada gurunya di sekolah. Suratnya bisa amat panjang yang dapat membuatnya kena teguran.

Ia lebih suka berada di dalam perpustakaan kakeknya. Membaca buku-buku yang ada di sana. Pada satu titik ia merasa tempat paling aman dan nyaman adalah masuk ke dalam puisi. Ia amat menyukai puisi-puisi Subagio Sastrowardojo dalam kumpulan Simphoni. Melalui buku itu ia jatuh cinta pada puisi dan bertekad menjadi penulis, menjadi penyair. Ketika cita-citanya ini dikatakan di dalam kelas, ia ditertawakan teman-temannya. Ia makin menganggap manusia sebagai makhluk paling membosankan.

Awalnya ia ingin menjadi pemusik atau pelukis. Dengan musik ia dapat memperdengarkan nada yang syahdu untuk ibunya. Dengan lukisan ia dapat menunjukkan garis-garis dan laburan warna yang indah bagi ibunya. Melalui musik dan lukisan ia berharap dapat menghibur hati ibunya yang ditinggalkan ayahnya—sampai kini. Namun, alat musik dan alat lukis jauh dari kampungnya, harganya pun tak terjangkau. Ia memilih menulis dan ibunya meyakinkannya dengan mengatakan bahwa lewat tulisan ia dapat membuat seseorang menari, melalui kata-kata ia dapat melukiskan sesuatu dengan amat indah.

Ia kembali ke dalam puisi dan berlatih menulis agar bisa seperti Subagio. Namun, ketika puisinya dibaca, orang-orang malah mengatakan puisi-puisinya memiliki kemiripan dengan karya Sapardi Djoko Damono. Padahal, ketika itu ia belum mengenal Sapardi, apalagi puisi-puisinya. Ia pun mulai melahap puisi-puisi Sapardi.

Ia menyukai dunia tulis-menulis karena tidak suka bergaul dengan manusia. Ia pikir dengan menulis dapat menjaga jarak dengan manusia, dapat menghindari bertemu manusia—makhluk paling membosankan itu. Dapat berbicara atau bercerita ke banyak orang tanpa perlu repot-repot bertemu mereka tentu menjadi sesuatu yang mengasyikkan. Namun, ketika kini telah menjadi penulis ia dituntut untuk sering bertemu banyak manusia.

***

Kisah itu dituturkannya ketika mengisi acara bertajuk Mengungkap Asa Menuju Bulan “Kolaborasi 2 Semesta” bersama Aan Mansyur di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, pada Sabtu 11 November 2017. Acara tersebut dibuka dengan sambutan oleh Ketua Program Studi Sastra Indonesia FIB UGM, Dr. Pujharto, M.Hum, dilanjutkan pembacaan puisi dari buku Perjalanan Lain Menuju Bulan yang berjudul “Lelaki yang Anjing” oleh Andre Wijaya, musikalisasi puisi oleh grup Ramu Rima, dan pemutaran cuplikan film Another Trip to the Moon.

Tiba waktu diskusi, ia naik ke panggung dengan kemeja hijau kotak-kotak dipadu celana jins kasual dan sepatu hitam. Rambutnya terpangkas rapi, berbeda dengan potret dirinya yang banyak beredar di media daring, seperti pula terlihat pada layar yang menjadi latar acara tersebut. Gaya tutur lelaki berkacamata ini tenang. Tak meletup-letup. Mengalir seperti puisi-puisinya. Sesekali menyatakan kritik bernada canda dengan spontanitas yang tidak terduga.

Ketika Neng Lilis Suryani, moderator diskusi, bertanya bagaimana pengalamannya mengalihwahanakan sebuah karya dari bentuk film ke dalam buku puisi, ia langsung menampik pertanyaan itu dan menjelaskan apa yang dilakukannya bukanlah pengalihwahanaan. Kontan jawaban itu meruntuhkan asumsi sebagian orang, termasuk panitia acara, yang menggelar acara tersebut khusus untuk mengupas buku Perjalanan Lain Menuju Bulan (Bentang, 2017). Ia menegaskan buku tersebut bukanlah alih wahana dari film Another Trip to the Moon besutan Ismail Basbeth. Dengan terang ia menuturkan proses kreatif buku tersebut sebagai bagian dari proyek kerja sama lintas media yang menghasilkan tiga karya berupa film, album musik, dan buku puisi. Ketiganya dibuat dari satu ide yang sama dalam waktu yang bersamaan. Bahkan, ia menekankan, naskah puisinya sudah jadi sebelum filmnya beredar.

Ia kemudian mengisahkan kecenderungan cara kerja penulisannya yang selama ini suka berkolaborasi dengan orang dari luar dunia sastra. Ia menyebut perupa Muhammad Taufiq (Emte) yang diajaknya berkolaborasi ketika menulis kumpulan puisi Melihat Api Bekerja (Gramedia, 2013) setelah ia menyukai lukisan-lukisan Emte dari akun Instagram. Proses kerja kolaborasi itu berlangsung tanpa sekalipun mereka bertemu sampai kemudian buku mereka terbit. Ketika dirinya diminta menulis puisi untuk mengisi film Ada Apa dengan Cinta 2, ia memilih untuk menulis satu buku puisi utuh dengan mempelajari karakter tokoh Rangga. Hasilnya adalah Tidak Ada New York Hari Ini (Gramedia, 2016).

Ia mengakui bahwa salah satu alasan mengapa suka berkolaborasi dalam menulis karena merasa masih kurang percaya diri untuk kerja secara mandiri. Alasan lainnya ia hidup di sebuah daerah (Makassar) yang hampir seluruh anak mudanya terkotak-kotak dalam kesamaan: dari hobi, koleksi, minat, hingga tempat kuliah. Ia merasa perlu melawan sekat itu melalui kerja sama dengan orang lain dari bidang dan daerah yang lain dengannya. Selain itu, dengan berkolaborasi karya yang ditulisnya akan sampai pada orang-orang di luar dunia sastra, seperti para penggemar lukisan atau para penonton film.

Meskipun menurut keterangan panitia acara, Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia FIB UGM, diskusi tersebut digagas khusus untuk mengupas buku Perjalanan Lain Menuju Bulan, pada akhirnya, seperti kecenderungan acara-acara bedah buku lainnya, banyak pengunjung yang bertanya seputar proses kreatif penulis. Maka, berkisahlah ia tentang masa kecilnya dan bagaimana mulanya ia mengenal puisi sebagaimana tertuang dalam bagian awal tulisan ini, bahwa ia tidak suka bertemu dengan manusia, tapi kini ia mengalah ketika pilihannya menjadi penulis mengharuskannya sering bertemu dengan banyak manusia. Terbukti ia mampu berbicara dengan tenang dan lancar di hadapan banyak orang, dan terlihat betapa ramahnya ia ketika melayani permintaan tanda tangan dari puluhan pengunjung acara yang berbaris mengular sepanjang auditorium. Ia pun begitu luwes ketika diajak berswafoto oleh para pembaca karyanya.

Proses kreatifnya dapat dikatakan berada pada ketegangan antara apa yang disukainya (buku/tulisan) dan apa yang tidak disukainya (manusia/ucapan). Apa yang dianggapnya mampu menjauhkannya dari manusia justru telah membawanya ke tengah-tengah lautan manusia. Ia senantiasa memilih berada di sejumlah ketegangan (semisal: mandiri/kolaborasi) yang mengharuskannya menemukan siasat-siasat untuk tetap dapat menulis. Hingga kini ia masih percaya pada apa yang dikatakan ibunya bahwa sesuatu yang indah itu tidak berasal dari hal-hal yang mudah. Maka, ia senantiasa mencari cara tersulit ketika menulis.

Begitulah cara kerja Aan Mansyur, ada yang tertantang untuk ikut mencobanya?

 

*Text oleh Asef Saeful Anwar
  Foto oleh Yuni Kartikasari

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *