Menonton dan Berbincang dengan Sang Rawi Dari Seberang

Pada 20 Juli 2019, Komunitas Sakatoya Jogja kembali menghelat acara bertajuk Ruang Dalam Project #8 Intimate Room Performance. Ini adalah kali kedua saya datang ke acara ini. Yang pertama dulu saya menyaksikan Manjakani, duo asal Pontianak, Kalbar. Kali ini saya datang untuk menyaksikan Sang Rawi, yang nantinya akan saya tulis dengan Rawi saja, kelompok musik asal Kuching, Serawak, Malaysia yang menamai aliran musik mereka dengan Nusantara Folk. Rawi beranggotakan Suffian pada vokal dan rhythm gitar, Zuel memegang lead gitar dan suling, Apris memainkan alat tiup klarinet, Raffiq sang pembetot bas, Acai sang penabuh drum yang hari itu memainkan rebana.

Acara dimulai pukul 9 malam. Sesuai dengan konsep yang bertajuk pagelaran ruang intim, maka tak ada panggung tinggi, hanya ada ruangan berukuran sedang, kira-kira berukuran 5×10 meter, Rawi tampil dengan tata panggung sederhana macam unplugged, sang vokalis duduk bersila diatas bantal dan personel lainnya duduk di kursi mengelilingi, tata lampu dibuat remang temaram. Untuk penonton disediakan beberapa kursi dan tentunya tempat lesehan, bebas mau duduk di mana saja, mengingat ruang yang tersedia cukup luas dan berdiripun juga bisa kalau mau karena sangat memungkinkan.

Rawi langsung memainkan lagu-lagu dari dua album yang sudah mereka rilis, diantaranya adalah lagu “Kau” yang inspirasi lagu ini adalah rasa kehilangan sang vokalis terhadap kakaknya. Ada juga lagu “Terbang” yang berkisah tentang perjalanan dan pencarian spiritual atas hubungan manusia dengan Tuhannya. Di tengah penampilannya, Rawi banyak melakukan interaksi, merekapun sesekali melemparkan candaan-candaan yang membuat suasana jadi makin hangat dan meriah. Rawi membawakan 6 lagu dengan penutup yaitu lagu “A’la Dondang Sayang” yang berirama riang dengan alunan khas Melayu, juga tak lupa mereka mengajak para penonton untuk ikut bergoyang karena menurut mereka lagu ini harus dinikmati dengan bergoyang ria.

Secara keseluruhan penampilan mereka mulus dalam memainkan lagu-lagunya. Adanya instrumen macam rebana, klarinet, dan suling pun membuat kesan dan karakter unik terasa cukup kuat. Atmosfer yang mereka bangun dan respon penonton terhadap mereka juga berlangsung sangat baik. Dan, jadilah sebuah pertunjukan yang benar-benar menyajikan kesan intim.

* * *

Setelah tampil, acara berlanjut dengan acara bincang-diskusi bersama Rawi. Konsep ini juga saya dapatkan ketika menonton Manjakani, dan inilah salah satu hal unik yang selalu dihadirkan oleh Komunitas Sakatoya dalam acara-acara pertunjukkan mereka.

Acara dipandu dengan ciamik oleh Mas Gilbo dan Mas Jenar Kidjing. Mas Kidjing sempat memaparkan hal teknis dalam musik yang dimainkan Rawi, saat jalannya diskusi Mas Kidjing sempat melontarkan pertanyaan mengapa Rawi memakai istilah Nusantara Folk sebagai aliran music mereka. Hal ini langsung dijelaskan oleh Rawi. Mereka berkata bahwa yang mereka maksud dengan Nusantara Folk adalah perpaduan dari seluruh musik Nusantara yang mereka ketahui, seperti Keroncong dengan Melayu. Rawi sendiri secara gamblang menjelaskan jika mereka banyak terinspirasi dari musik Melayu dan Timur Tengah. Hal-hal lain yang tergali dalam bincang-diskusi ini diantaranya adalah nama Rawi merupakan serapan dari bahasa Arab yang mereka maknai sebagai Pencerita (Storyteller), bagaimana lirik mereka banyak mengambil inpirasi dari pengalaman pribadi dan sehari-hari. Dan aksi panggung yang mereka gunakan, duduk bersila, yang merupakan budaya Melayu.

Acara berlanjut dengan sesi tanya jawab penoton kepada Rawi, saat saya diminta oleh pemandu acara untuk bertanya, saya tak melontarkan pertanyaan kepada Rawi, karena semua yang ingin saya ketahui sudah saya dapatkan dari pemaparan-pemaparan sebelumnya. Di situ saya hanya melontarkan kesan tentang Rawi serta bagaimana dengan adanya pagelaran budaya di ruang sederhana seperti ini dapat memberikan sebuah paradigma baru bagi saya dalam memahami hubungan Indonesia dan Malaysia. Saya kerap terjebak dalam pemahaman bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia tidak akur, dan yang terjadi adalah seringnya narasi konflik politik identitas dimunculkan. Layaknya tetangga di komplek perumahan, maka Indonesia dan Malaysia mungkin adalah warga di perumahan itu, satu komplek namun tak pernah bertegur sapa, berbincang santai, bersanda gurau. Kita bertetangga tapi jarang ngobrol. Dan dari ruang sederhana seperti ini saya mendapatkan pemahaman bahwa semua hal ini sangat kontradiktif dari apa yang saya saksikan di ruang besar tentang konflik identitas tersebut. Lebih jauh lagi dalam pemahaman saya mungkin ini adalah suatu cara Diplomasi Kebudayaan bekerja dari ruang yang sederhana.

Dan setelah banyak pertanyaan dan kesan-kesan tentang Rawi dsb, tibalah pada akhirnya acara selesai, lalu ditutup pukul 11 malam. Saya tak langsung pulang karena ternyata panitia sudah menyiapkan santapan untuk yang hadir saat itu. Sebuah keberuntungan karena memang perut saya sudah minta makan. Kami semua makan bersama lauk Sayur Asem, Tempe, Tahu, serta Peyek Udang. Di sela acara makan bersama tersebut saya sempat berbincang sebentar dengan Suffian sang vokalis Rawi, dalam perbincangan tersebut tersingkaplah visi besar mereka yang ingin menyadarkan kembali anak-anak muda Melayu khususnya serta Nusantara pada umumnya untuk kembali menyimak dan peduli terhadap budaya tersebut. Suffian mengatakan hal ini dengan satu nada keyakinan dan semangat yang saya sendiri tak dapat percaya.

Pada akhirnya perut saya kenyang karena Sayur Asemya yang nikmat. Dan yang lebih penting lagi adalah saya terpuaskan oleh sajian musik dari Rawi dan secara tak sengaja mendapat pemahaman baru tentang bagaimana di ruang budaya yang sederhana di Komunitas Sakatoya semua asumsi ketegangan atas dua negara tadi terpatahkan.

Tabik.

Aryo Jakti Artakusuma

Aryo Jakti Artakusuma

Mahasiswa Sastra Inggris Universitas Ahmad Dahlan. Bergiat di Komunitas Selepas Senja.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait