Menjaga Api Literasi dengan Menyalakan Musik

Posted: 16 February 2017 by Syahdan Husein

Mocosik adalah festival musik dan buku bertemakan “Menyanyikan Buku, Membaca Musik”. Acara diadakan selama tiga hari berturut-turut pada tanggal 12, 13, 14 Februari 2017 di Hall A Jogja Expo Center (JEC) dari siang hingga malam.

Beberapa musisi papan atas tampil memeriahkan acara, seperti Raisa, Tompi, Glenn Fredly, Shaggydog, White Shoes and The Couple Company, Endah n Rhesa, dan sejumlah musisi indie. Presenter kondang Najwa Shihab juga hadir mengisi talk show sekaligus membedah bukunya yang baru diterbitkan. Dalam talk show tersebut ia mengaku bahwa tidak akan bisa menjadi presenter yang baik tanpa membaca buku.

Festival ini dikemas sesuai dengan selera kaum muda. Selain digelar bazar buku dan pertunjukan musik, acara ini juga dijadikan ajang silaturahmi oleh pegiat buku baik penerbit, pedagang, penulis, dan pembaca. Untuk dapat masuk ke arena panggung utama, pengunjung diharuskan membeli buku seharga lima puluh ribu rupiah. Pengunjung dapat memilih buku yang disukainya sesuai yang telah disediakan di loket dengan harga yang sama. Ini pertama kalinya bagi saya datang ke konser musik menggunakan buku sebagai tiket masuknya.

Dengan konser musik kekinian, Mocosik hadir dengan mengusung literasi di tengah keadaan indeks minat baca yang rendah, dari usia anak-anak hingga orang dewasa. Dalam daftar peringkat sistem pendidikan “Social Progress Index” yang dikeluarkan oleh lembaga The Social Progress Imperative, Indonesia berada di posisi 40 dari 40 negara yang disurvei. Sementara itu pada tahun 2030 Indonesia diprediksi mengalami bonus demografi. Jika sumber daya manusia yang dibangun menuju masa itu tidak mengalami kemajuan, bonus tersebut –alih-alih menjadi berkah— justru akan menjadi bencana, terutama bila warga negara berusia produktif terlampau banyak tapi minim keahlian, yang dikarenakan kurangnya literasi.

Membaca adalah salah satu cara meraih dan mengumpulkan pengetahuan. Menurut hasil survei UNESCO, Indonesia menempati posisi terendah kedua dari 61 negara yang disurvei mengenai minat baca. Hanya 0,001%. Artinya, dari 1000 orang Indonesia cuma satu orang yang memiliki minat baca yang cukup baik. Bahkan kini, perkembangan teknologi yang pesat semakin menjauhkan masyarakat dari buku.

Pepatah mengatakan: “Lebih baik menyalakan api daripada mengutuk kegelapan”.  Saya menilai bahwa itulah yang kini tengah dilakukan oleh Anas Syahrul Alimi, selaku konseptor acara bersama kawan-kawan literasi di Yogyakarta. Saya takjub dan salut karena festival ini berhasil mengenalkan sekaligus mempopulerkan literasi di tengah keterpurukan minat baca masyarakat Indonesia. Apalagi pada acara tersebut gambar sejumlah tokoh Indonesia terpampang dengan sedemikian besar di layar panggung utama. Tentu, menjadi hal yang tidak biasa ketika tokoh-tokoh besar Indonesia yang bahkan tidak banyak dikenal publik justru dapat dapat dipopulerkan melalui konser musik kekinian. Bayangkan saja, sosok macam Tan Malaka hingga kawan Semaun terpampang menjadi latar panggung dari penampilan Raisa, apa itu tidak luar biasa?

“Hati-hati anak cucunya bangkit!”, peringatan itu mungkin akan terdengar dari mulut seorang angkatan kolot yang gemar memakan propaganda orba bila melihat gambar Tan dan Semaun di acara itu. Namun, bagi mereka yang gemar membaca, peringatan itu hanya angin lalu, atau mungkin hanya sebuah gonggongan yang sedikit mengganggu kegiatan membaca.

Bagi saya membaca adalah salah satu bentuk perlawanan, terutama melawan pembodohan, dan acara Mocosik adalah salah satu bentuk perlawanan paling aduhai yang pernah saya lihat. Acara ini seolah juga memberi pesan kepada siapa saja yang hadir bahwa tidak ada kata terlambat untuk giat membaca dan menulis.

 

*Foto diambil dari instagram Mocosik Festival

 

Redaksi Kibul.in membuka kesempatan seluas-luasnya bagi siapa pun untuk berkontribusi dalam media ini. Kami menerima tulisan berupa cerita pendek, puisi, esai, resensi buku, dan artikel yang bernafaskan sastra, seni, dan budaya. Selain itu, kami juga menerima terjemahan cerpen dan puisi.

Silakan mengunjungi halaman cara berkontribusi di: https://kibul.in/cara-berkontribusi/

 

Pendapat Anda:

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *