Menanam Warisan: Indonesia Timur dan Mitos-mitos

Menanam Warisan dan kisah-kisah lainnya
Rosyid H. Dimas
Kepustakaan Populer Gramedia
Mei 2019
vi + 186 hlm
Rp55.000

Adat di tanah ini keyakinan kita. Kau harus memegang dan menjaganya agar keturunan kita kelak tahu asal-usul dan jati diri mereka sendiri. Menanam Warisan adalah kumpulan cerita pendek tentang pergolakan manusia ketika berhadapan dengan faktisitas-faktisitas dunia. Cinta, agama, mitos, adat, politik, dan lingkungan sosial menjadi tema pokok kisah-kisah dalam buku ini.

"Cerita selalu menyoal `apa yang diceritakan' dan 'bagaimana menceritakannya' entah dia sadari atau tidak. Rosyid, dalam bukunya ini, tampak benar ingin memadukan dua hal tersebut dalam wujud cerita-cerita dengan beragam tema, dengan bermacam-macam gaya penceritaan, dan pada akhirnya, usahanya berhasil." 
- Faisal Oddang

Sore itu, Sabtu (15/6) sekitar pukul empat tiga puluh, terlambat satu jam dari waktu yang dijanjikan di poster, Klub Buku Yogyakarta atau yang sering disingkat KBY kembali menggelar agenda bulanan rutin yaitu Bengong Bersama KBY alias BBK. Kak Rosyid, sebagai anggota KBY sekaligus penulis dari buku yang dibahas, ikut hadir di Bjong Ngopi, Nologaten. Buku baru karangan Kak Rosyid merupakan kumpulan cerita pendek setebal 192 halaman dan tersusun dari 14 judul cerpen. Judul kumpulan cerpen ini adalah Menanam Warisan.

Hadir dalam BBK sore Kak Wahyu Ratnaningsih (Ratna) sebagai pemantik, juga Kak Andreas Nova sebagai moderator. Omong-omong, kami menyukai kesetaraan makanya semua anggota menggunakan sapaan ‘Kak’, dan demi alasan keamanan yaitu menghindari kesalahan penyebutan sapaan yang tidak sesuai gender ketika diskusi di WAG berlangsung.

Obrolan dibuka dengan hasil pembacaan Kak Ratna sebagai pemantik. Dzikrun, yang dijadikan sebagai cerpen pembuka, diakui Kak Ratna menjadi daya pikat yang membawanya menyelesaikan buku tersebut, “Pembukanya menarik sih, makanya pengen nyelesain baca.” Kak Nova sepakat. Strategi penyusunan buku dengan menjadikan Dzikrun sebagai cerpen pembuka sepertinya cukup jitu.

Bicara tentang Dzikrun, Kak Nova teringat akan cerita-cerita realisme magis karangan Eka Kurniawan. Kak Rosyid mengaku cerpen tersebut tadinya dikirim untuk sayembara Kumpulan Budak Setan 2 yang diadakan oleh Mas Eka.

Kak Ratna kembali melanjutkan pembacaan kemudian sesi tanya jawab dibuka. Pertanyaan pertama datang dari Kak Gladhys, tentang mengapa bukan Ote Naus saja yang jadi judul buku mengingat cerpen itulah yang mengantarkan Kak Rosyid ke Ubud Writer Reader Festival 2018?

“Cerpen itu (Ote Naus) tadinya di sana, di dalam kumpulan cerpen itu, akan tetapi ditarik. Mungkin karena cerpen tersebut juga masuk dalam kompilasi cerita dan diterbitkan Yayasan Mudra Swari Sarawati selaku penyelenggara UWRF.”

Ada satu pendapat menarik dari Kak Nova terkait salah satu cerpen bernuansa Katolik. Sebagai pembaca dengan latar belakang agama Katolik, Kak Nova melihat ada satu hal yang agak mengganjal baginya dalam cerpen Kado Natal untuk Bapak, yaitu adegan di mana diadakan misa Natal di rumah dan seorang Pastor (dalam cerpen disebut sebagai pendeta) datang untuk memimpin misa di kediaman narator dikarenakan tokoh Bapak narator dalam kondisi sakit. Sejauh yang diketahui misa pada masa Natal dan Paskah lebih bersifat pro populi, yaitu intensi misa diperuntukkan untuk umat secara luas. Jika ada sebuah kondisi yang memang mengharuskan umat tidak dapat menghadiri misa maka Prodiakon setempat bisa menerimakan komuni pada orang yang kondisinya tidak memungkinkan untuk menerima Sakramen Ekaristi. Tapi hal itu tidak terlalu mengganggu karena makna yang ingin disampaikan penulis masih bisa ditangkap dengan baik, imbuh Kak Nova.

Selain kebanyakan mengusung tema realisme magis, hal lain yang sering diangkat oleh buku ini melalui cerpen-cerpennya adalah lokalitas Indonesia Timur beserta mitos-mitosnya. Karena Kak Rosyid sendiri tumbuh dekat dengan mitos, dan baginya, jika anak tumbuh dekat dengan mitos, imajinasi bocah-nya akan terasah. Ini sangat membantu kalau si anak kelak mau jadi penulis, katanya.

Pembahasan tentang mitos kemudian menjadi topik utama hampir dalam setengah waktu diskusi. Mitos sebagai pembangun ‘moral’, mitos sebagai budaya, mitos sebagai kisah, dan lainnya. Jika ingin tahu lebih detail dan mendalam mengenai bahasan-bahasan seru semacam ini, silakan datang langsung pada setiap BBK. Maaf, saya tetap harus promo kegiatan komunitas.

Terkait Indonesia Timur, Kak Rosyid sengaja menulis tema tersebut karena secara personal merasa tertarik dan merasa masih jarang diangkat dalam tulisan/sastra Indonesia. Meski itu artinya dia harus menghadapi gap sudut pandang, yaitu dirinya yang sebagai orang Jawa, harus menulis tentang sesuatu yang di luar dirinya.

“Tetapi itu baik, karena akan membuka dialog budaya,” kata Kak Nova sebelum mengakhiri diskusi.

Farrah Nanda

Klub Buku Yogyakarta

Klub Buku Yogyakarta

Dari Yogya, dengan buku, kita rangkul dunia.

Bagikan tulisan ini

Share on facebook
Share on whatsapp
Share on twitter
Share on email

Tulisan Terkait