Membaca Kasablanka & Ubai | Diskusi Sastra Nasional PKKH Edisi III

Posted: 24 August 2018 by Redaksi Kibul

Dinginnya malam di Yogyakarta akan dihangatkan oleh kehadiran sastrawan asal Nusa Tenggara Barat, Kiki Sulistyo. Pada 24 Agustus 2018 pukul 19.00 WIB di Hall PKKH UGM, Kiki akan membahas mengenai karya-karya Esha Tegar Putra. Pemenang penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2017 ini rencananya akan diundang dalam “Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM” yang rutin diadakan oleh PKKH UGM sebagai bagian dari bentuk apresiasi terhadap perkembangan dan kreativitas kesusastraan di Indonesia.

Tidak hanya tercatat sebagai Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra, Avesina Wisda selaku pemantik acara “Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM”, memiliki beragam kerja kesusastraan. Pria kelahiran Magelang 1 September ini, memiliki Track Record sebagai redaktur dan kontributor di jogjareview.net, Buletin Mimesis, wolez.fun, dan saat ini menjadi Pemimpin Redaksi media daring sukusastra.com, sebuah wahana kesusastraan yang dikemas melalui kemutakhiran teknologi informasi.

Dalam rangka memandu acara “Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM”, Ahmad Zamzuri akan mengawal acara tersebut dan mendampingi Avisena Wisda dan Kiki Sulistyo dalam membahas karya-karya sastrawan asal Sumatera Barat, Esha Tegar Putra. Dengan pengalaman penelitian selama dua belas tahun lamanya dalam bidang sastra dan bahasa, Ahmad Zamzuri akan mampu mengarahkan acara yang menggagas wacana kesusastraan Indonesia dari beragam daerah di nusantara tersebut.

Profil Sastrawan Nasional 

KIKI SULISTYO lahir di kota pelabuhan Ampenan, Lombok, 16 Januari 1978. Berminat pada dunia penulisan sejak masih kanak-kanak dan mulai menulis di usia remaja. Setelah tamat SMP tidak melanjutkan pendidikan formal dan memilih  belajar menulis secara otodidak dengan membaca apa saja sembari mengerjakan sembarang pekerjaan. Tahun 2012 mendapat hadiah dari Forum Sastra Bekasi untuk puisi Sepanjang Jalan ke Dasan Agung. Tahun 2014, Hikayat Lintah, buku puisinya yang pertama, diterbitkan di Surabaya. Tahun 2015, buku puisinya yang kedua, Rencana Berciuman, terbit di Yogyakarta. Di tahun yang sama, Penangkar Bekisar, diterbitkan oleh Penerbit Nuansa Cendekia, Bandung bekerjasama dengan Studio Hanafi. Buku ini masuk dalam daftar panjang Kusala Sastra Khatulistiwa 2015. Tahun 2017 terbit buku puisinya Di Ampenan, Apalagi yang Kau Cari? dan meraih Kusala Sastra Khatulistiwa 2017. Bukunya yang terbaru adalah kumpulan cerpen Belfegor dan Para Penambang (2018). Sejak 2009 mendirikan Komunitas Akarpohon yang menggiatkan kerja-kerja penulisan, penerbitan, dan pengarsipan sastra serta proyek-proyek seni lintas disiplin lainnya. Saat ini sedang menyiapkan kitab puisi Rawi Tanah Bakarti dan kumpulan cerpen Apakah Nenek Sudah Bisa Terbang?

Profil Sastrawan Mahasiswa S2 Ilmu Sastra UGM

Tidak hanya tercatat sebagai Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra, Avesina Wisda selaku  pemantik acara “Diskusi Sastra Nasional PKKH UGM”, memiliki beragam kerja kesusastraan. Pria kelahiran Magelang 1 September ini, memiliki Track Record sebagai redaktur dan kontributor di jogjareview.net, Buletin Mimesis, wolez.fun, dan saat ini menjadi Pemimpin Redaksi media daring sukusastra.com, sebuah wahana kesusastraan yang dikemas melalui kemutakhiran teknologi informasi. Bertindak sebagai pemateri dalam mengkaji puisi-puisi karya Esha Tegar Putra, ternyata prestasi Wisda tidak hanya meliputi esai sastra. Alumni Sastra Indonesia Universitas Negeri Yogyakarta ini, produktif dalam kepenulisan sastra. Terbukti dirinya memiliki hasil karya sastra yang telah diterbitkan, yakni “Mengurai Bumi Lewat Cinta” dalam “Kumpulan Cerpen Geofiksi” (2014), “Dari Gentar Menjadi Tegar” di “Antologi Seni Komunitas Bergerak Seni Indonesia Berkabung” (2015),  “Kejujuran dan Mitos Realisme” di buku “Antologi Cerpen LPM Sketsa” (2015), dan  naskah drama “Sarapan Terakhir” dalam “Antologi Naskah Drama Remaja Daerah Istimewa Yogyakarta” (2016). Selain itu, Avisena Wisda pernah mendapatkan penghargaan Cerpen Terbaik Pilihan Malam Perjamuan tahun 2015 melalui cerpen “Minggu di Taman Eden” yang merupakan hasil karyanya.

Profil Moderator

Ahmad Zamzuri, atau akrab disapa Mas Azam, merupakan seorang ayah satu anak yang ‘nyambi’ kuliah di Pascasarjana Ilmu Sastra Universitas Gadjah Mada. Lahir di Gunungkidul dan menetap di Sleman, Mas Azam aktif berorganisasi sejak kuliah S1 di Universitas Negeri Surabaya dan kini mengoordinatori Sanggar Sastra Indonesia Yogyakarta. Selain itu, Mas Azam pernah juga menjadi Pembina Teater di SMP Muhammadiyah 3 Yogyakarta, SMAN 4 Yogyakarta, dan SMAN 1 Galur, Kulonprogo. Untuk membaca kritik-kritik sastranya, dapat dibaca dalam “Bermain Drama: Perpaduan Fisik, Jiwa, dan Intelegensia” (2009) di Majalah Girli 34, “Eksistensi Perempuan pada Sosok Roro Mendut dalam Novel Roro Mendut karya Y.B. Mangunwijaya” (2009) dalam Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan, “Pribumi Vs Asing: Kajian Poskolonial terhadap Putri Cina Karya Sindhunata” (2012), “Modal-modal Majalah Pagagan: Tinjauan Sosiologi Pierre Bourdieu” (2014) di Jurnal Widyaparwa, “Strategi Kepenyairan Iman Budhi Santosa Dalam Arena Sastra” (2016) dalam Jurnal Widyaparwa, “Bengkel Sastra Balai Bahasa DIY Dalam Perspektif Sosiologi Pierre Bourdieu” (2016) dalam Jurnal Paramasastra, “Ideologi Dalam Novel Pabrik Karya Putu Wijaya” 2017 di Jurnal Atavisme, dan di Jurnal Aksara berjudul “Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang Karya Seno Gumira Ajidarma” tahun 2018.

Profil Performer: Ibu Jari

Para personil Ibu Jari terdiri dari Sukma Firmansyah, Kidung Mijil Pinilih, Yusuf, dan Indro Retno Wibowo, mereka membawakan puisi-puisi dengan iringan gitar, bass, serta ketipung. Pemilihan puisi yang dimusikkan mereka tidaklah sembarangan, Ibu Jari memiliki selera estetik dalam memilih teks puisi. Maka tak heran, karya-karya seperti “Tembang Padang Telanjang” karya Iman Budhi Santosa, ”Genderang Kurukasetra: Utari” karya Suminto A. Sayuti, ”Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar, “Malioboro” karya Latief S. Nugraha, “Prologue” karya Sapardi Djoko Damono, dan “Aide Memoire” karya Umbu Landu Paranggi pernah ditampilkan oleh mereka.

Pendapat Anda: